Perjalan Ziarah ke Yordania-Petra-Yerusalem-Bethlehem-Hebron

Standar


Aku sejak lama mengidamkan sekali mengunjungi Masjidil Aqsa dan negeri dimana banyak Nabi yang disebutkan dalam kitab suci Al-Quran berasal. Lebih tepatnya, aku ingin sekali mengunjungi Negara Palestina dan kota Yerusalem. Namun aku menyadari bahwa untuk ke negeri tersebut diperlukan pengajuan visa ke Negara Israel, yang belum tentu mudah karena Indonesia tidak ada hubungan diplomatik dengan Negara tersebut.
Pada suatu hari, suamiku menawarkan aku apakah ingin ikut rombongan teman-temannya menunaikan ibadah umroh sambil mengunjungi Masjidil Aqsa. Tentu saja aku menyambut gembira tawaran tersebut. Sudah 9 tahun sejak kami menunaikan ibadah haji dan kami belum berkesempatan untuk mengunjungi negeri Mekah dan Madinah lagi. Apalagi ditambah kunjungan ke Masjidil Aqsa, kami tertarik sekali. Yang menjadi kendala seperti biasa, apakah kami memiliki cukup dana dan apakah waktu kepergian bisa cocok dengan jadwal cuti kami. Karena kami pegawai biasa, tabungan yang kami miliki sudah punya pos tersendiri dan terus terang kami tidak memiliki pos ataupun cadangan untuk beribadah umroh. Begitupun untuk cuti selama 2 minggu, tentunya kami harus memberi tahu atasan kami jauh-jauh hari supaya tidak menghambat pekerjaan kelompok.
Ringkasnya, kami jadi berangkat, hanya dalam waktu 3 minggu menjelang waktu keberangkatan. Setelah kami membayar lunas, baru aku membaca daftar kunjungan (itinerary perjalanan). Ternyata ada juga jadwal ke Petra (Yordania) dan daerah bersejarah sekitar Yerusalem (Bethlehem, Hebron, Jerico). Masya Allah, tambah semangatlah aku mempersiapkan kepergian kami. Alhamdulillah, agen perjalanan (Malahati Tour) yang kami pilih adalah agen yang sudah biasa mengatur perjalanan ke Palestina/ Yerusalem, sehingga visa yang diajukanpun mudah didapat.
Jadwal keberangkatan bulan Februari tahun 2013 (sudah 3 tahun berlalu ternyata). Kami harus mempersiapkan diri untuk menghadapi udara dingin di Yordania dan Yerusalem. Padahal di Mekah dan Madinah, tidak begitu dingin. Di tulisan ini aku hanya menceritakan perjalananku di Yordania dan Palestina saja, karena aku ingin menceritakan perjalanan umroh di tulisan lain, berhubung antara keduanya mempunyai kesan dan pengalaman yang berbeda bagi aku pribadi.
Perjalanan pertama kami ke Yordania. Pesawat mendarat di bandara Queen Aliya, setelah kami menempuh perjalanan panjang dengan pesawat. Begitu pintu bandara terbuka, berhembuslah angin dingin dari areal luar bandara. Brrrrr…… ternyata musim dingin di kota Amman, lumayan dingin (sekitar 10 derajat Celsius), pantas banyak warga memakai jaket panjang tebal.
Jadwal kami di Yordania, mengunjungi Masjid Ashabul Kahfi, Masjid Nabi Syuaib, Death Sea, Wadi Musa dan Petra. Masjid Ashabul Kahfi dibangun di sebelah gua tempat tidurnya orang-orang penyembah Allah yang bersembunyi dari raja penguasa negeri yang penyembah berhala. Di dalam Al-Quran di surat Al-Kahfi (QS : 18), diceritakan mengenai pemuda-pemuda beriman ini, yang ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun di dalam gua tersebut. Lokasi persis gua masih menjadi perdebatan, karena di negara Turki, ada tempat yang juga diklaim sebagai gua Ashabul Kahfi. Kami juga napak tilas ke masjid yang didirikan di tempat beribadahnya Nabi Syuaib.
Di Yordania kami juga mengunjungi Danau Laut Mati (Death Sea), yaitu danau dengan kadar garam tertinggi, sehingga jika kita berenang di danau tersebut akan mengambang/tidak tenggelam. Daerah tersebut merupakan tempat bersejarah dimana kaum nabi Luth bermukim dan mendapat azab Allah karena kezaliman mereka (menyukai sesama jenis) dan tidak mau beriman kepada Allah SWT. Tempat tersebut dikenal sebagai Sodom dan Amurah. Pada suatu pagi, azab Allah menimpa mereka dimana daerah tersebut terguncang dan terbolak-balik. Sedangkan nabi Luth beserta kaumnya yang beriman, diselamatkan oleh Allah.
Di sekitar Danau Laut Mati banyak tempat peristirahatan/hotel dan juga toko-toko yang menjual aneka produk kecantikan yang berasal dari lumpur ataupun garam yang terdapat pada Danau Laut Mati. Sudah tentu aku ikutan membeli, untuk kenang-kenangan dan juga untuk dipakai. Siapa tahu memang membuat kulit kita halus dan mulus.
Puncak acara kami di Yordania adalah mengunjungi Petra. Petra ini cukup dikenal sebagai situs tempat wisata yang banyak dikunjungi. Karena penampilannya yang unik membuat daerah ini pernah dijadikan tempat lokasi shooting filem (yang saya ingat filem Indiana Jones dan Transformer). Petra merupakan situs yang dilindungi oleh UNESCO. Dulunya daerah Petra merupakan rute saudagar/pedagang dan tempat tinggal bangsa Nabatean yang ahli dalam membuat bangunan di batu dan pengairan. Kota tersebut didirikan pada tahun 9 sebelum Masehi dan beroperasi sampai tahun 40 Masehi.
Petra dikelilingi gunung batu dan pada salah satu gunung tersebut terdapat makam Nabi Harun AS. Penampilan situs Petra ini sangat unik, karena bebatuan di daerah tersebut berwarna merah jambu (pink) bukan kuning, coklat atau hitam seperti pada umumnya. Bangsa Nabatean membangun tempat ibadah, rumah dan ada juga teater. Masya Allah indahnya warna bebatuannya dan juga bangunan-bangunan yang dibangun. Arsitektur bangunan di Petra, sangat dipengaruhi oleh arsitektur Romawi. Dalam perjalanan kembali ke kota Amman dari Petra, kami sempat mapir di Wadi Musa yaitu 12 mata air yang terpancar dari batu merupakan berkah Allah kepada nabi Musa AS dan bani Israil.
Dari Yordania, perjalanan ziarah kami berlanjut ke negara Palestina yang berlokasi di dalam negara Israel. Walhasil untuk memasuki negara Palestina, imigrasi yang harus kami lalui adalah imigrasi Israel. Berdasarkan info dari pemandu wisata kami, kami harus tenang menanti pemeriksaan imigrasi yang kadang kala cukup memakan waktu. Terdengar juga bahwa untuk tour muslim, pemeriksaan ‘biasanya’ lebih lama dibanding tour yang lain. Agak aneh juga, apakah karena kami akan memasuki wilayah Masjidil Aqsa yang selalu menjadi perebutan berbagai pihak. Untuk wilayah Masjidil Aqsa, memang hanya bisa dimasuki oleh muslim, sedangkan untuk selain muslim, hanya bisa melihat sekeliling areal Masjidil Aqsa.
Jadwal perjalanan kami di Palestina dan Israel adalah mengunjungi dan bersholat di Masjidil Aqsa, melihat-lihat kota Jericho, mengunjungi Masjid Ibrahim di Hebron dimana terdapat makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq AS dan Nabi Yakub AS, mengunjungi tempat kelahiran Nabi Isa di kota Bethlehem, mengunjungi masjid Salman Al Farisi (sahabat Rasulullah SAW).
Kami menanti pemeriksaan imigrasi dengan sabar dan tenang sesuai pesan pemandu wisata kami walaupun pemeriksaan tersebut mamakan waktu lama. Miris melihat warga Palestina yang melewati perbatasan, pemeriksaannya sangat ketat, koper dan tas mereka dibuka secara terperinci. Bisa dibayangkan, betapa repotnya membereskan barang bawaan setelah dibongkar. Tambahan pula banya warga Palestina tersebut sudah cukup tua, jadi iba melihatnya. Mungkin saja petugas imigrasi Israel, lebih hati-hati terhadap bawaan warga Palestina karena banyaknya pemberontakan dan demonstrasi protes dari warga Palestina. Aku bersyukur hidup di negara damai, tidak ada curiga mencurigai seperti suasana perang.
Aku juga merenungi perjalanan panjang kota tua Yerusalem  (disebut Al Quds oleh Muslim) yang diakui sebagai kota suci dari 3 agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam). Bertahun-tahun yang lalu, kota Yerusalem sudah menjadi rebutan berbagai pihak. Salah satu tujuan dari perang Salib I (1096-1099) adalah memperebutkan kota Yerusalem dari pihak Muslim (orang Seljuk dan Turki).

Lolos dari pemeriksaan imigrasi yang melelahkan, kami menuju Yerusalem dimana hotel kami berlokasi. Sore itu juga kami sholat di Masjidil Aqsa. Yang namanya Masjidil Aqsa adalah wilayah dengan pelataran yang sangat luas. Di pelataran tersebut terdapat dua masjid yaitu Masjidil Haram dan Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock). Masjidil Aqsa adalah tempat suci umat muslim selain Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Di tempat itu, Rasulullah SAW menjejakkan kaki pada malam Isra’ Mi’raj menjelang beliau naik ke Sidratul Muntaha di langit ke 7 (Perjalanan Isra’ Mi’raj terdapat didalam Al Quran surat Al Isra). Masjidil Aqsa-pun pernah menjadi arah kiblat sholat sebelum Kabah di Mekah ditetapkan sebagai arah kiblat sesuai firman Allah pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 144.
Jadi bisa memahami kan, bagaimana mengharu birunya hatiku, bisa melaksanakan sholat di Masjidil Aqsa, bisa melihat-lihat isi masjid, bisa berinterkasi dengan jamaah masjid tersebut. Aku sempat bersholat di Masjidil Aqsa selama 3 hari (Syukur Alhamdulillah atas kehendak Allah). Aku juga amat sangat sedih dengan kondisi masjid yang sunyi senyap dengan jamaah yang tidak lebih dari 5 shaf (baris). Belum lagi para jemaah tersebut sebagian besar lansia. Apakah ini rekayasa Israel sehingga hanya kaum tua saja yang bersholat di Masjidil Aqsa.
Perjalanan ini banyak mengusik hatiku, karena aku menelusuri tempat-tempat Nabi yang disebut di dalam kitab suci Al-Quran. Kaum Yahudi mengajukan Yerusalem sebagai daerah Internasional (bukan hanya untuk muslim), karena disana juga (menurut kaum Yahudi) merupakan situs tempat kerajaan Nabi Daud (King David) dan Nabi Sulaiman (King Solomon). Namun sebenarnya raja-raja mereka tersebut adalah nabinya kaum muslim juga. Bagi muslim, daerah masjidil Aqsa tersebut, dulunya tempat yang disebut Baitul Maqdis tempat dimana Nabi-Nabi beribadah kepada Allah SWT.
Kunjungan kami selanjutnya adalah ke kota Hebron yaitu ke Masjid Ibrahim. Di dasar masjid, terdapat gua (15 meter bawah tanah) yang merupakan kuburan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq. Sedangkan areal dimana terdapat kuburan nabi Yaqub, dijadikan sinagoga oleh warga Yahudi. Tragisnya, di pintu masuk masjid, perajurit-perajurit Israel dengan senapan mesin laras panjang melakukan penjagaan. Bagaimana gitu rasanya, untuk memasuki masjid harus melalui tentara.
Di kota Hebron terdapat juga pabrik keramik yang memproduksi keramik cantik untuk alat rumah tangga maupun pajangan dengan lukisan-lukisan ciri khas kota Hebron. Ada lagi yang membuat hati saya pilu. Perbatasan area Palestina dan Israel ditandai dengan kawat berduri yang tinggi. Nyata benar beda kondisi dua wilayah. Wilayah Palestina terkesan kumuh dan tidak terawat sementara wilayah Israel bersih nyaman layaknya kota-kota di Eropa (negara maju).
Kami juga mengunjungi kota kelahiran Nabi Isa AS (menurut umat Nasrani) yaitu kota Bethlehem. Kota ini  termasuk wilayah Palestina dengan mayoritas beragama Nasrani. Tempat kelahiran Nabi Isa AS, sekarang sudah dibangun menjadi gereja yaitu Gereja Nativity. Bersyukur lagi aku bisa datang ke kota itu, kota yang begitu mendunia namanya karena yang lahir disana adalah tokoh yang sangat diagungkan oleh umat Nasrani. Bagi muslim, Nabi Isa AS adalah nabi yang banyak diberi mukjizat oleh Allah SWT dan beliau adalah nabi sebelum Rasulullah Muhammad SAW.
Salah satu jadwal kami di Palestina adalah mengunjungi kota Jericho. Kota ini merupakan kota tua yang telah berdiri sejak 9600 sebelum Masehi, terkenal sebagai penghasil kurma yang lezat. Di Jericho, kami bisa melihat biara-biara yang dibangun di gunung-gunung batu. Unik sekali pemandangannya. Tentunya kami tak lupa membeli kurma Jericho yang terkenal itu.
Pemandu wisata kami menawarkan wisata tambahan mengunjungi kota Tel Aviv, ibukota Negara Israel. Semua peserta tour sangat berminat, setelah beberapa hari kami napak tilas di kota-kota tua, tentunya akan sangat menyenangkan melihat kota modern di wilayah dengan peradaban kuno. Kami berpergian ke Tel Aviv di sore hari menjelang malam. Perjalanan melalui jalan tol mulus dan seperti biasa wilayah Israel sangat modern, teratur, bersih seperti halnya kota-kota di Eropa. Kami berhenti di daerah tua di Tel Aviv yaitu Jaffa dan dilanjutkan berhenti di pinggiran Laut Mediteranian dari wilayah Tel Aviv. Benar-benar kontras dengan perjalanan kami sebelumnya yang banyak menempuh daerah tua. Saat itu kami berjalan-jalan di kota modern.
Beruntung kami menginap di Yerusalem sehingga banyak kesempatan kami untuk melihat-lihat wilayah Yerusalem. Untuk menuju Masjidil Aqsa dari hotel kami, kami harus menempuh jalan-jalan tua berupa lorong yang telah dibangun sejak jaman Romawi. Pintu gerbang untuk menuju wilayah ibadah dari hotel kami, namanya Herodes Gate. Kami juga berkesempatan melihat Tembok Ratapan (Wailing Wall), yang merupakan tempat beribadah orang Yahudi. Tembok itu merupakan tembok Masjidil Aqsa dari sisi luar.
Yang membuat aku terkesan, perempuan Yahudi yang beribadah di pinggir tembok, memakai tutup kepala (seperti kerudung) berwarna hitam. Begitupun juga, aku bertemu dengan beberapa warga Yahudi Ortodok. Lelakinya memakai topi dan berjanggut sementara kaum perempuannya memakai tutup kepala sejenis kerudung berwarna hitam. Jadi asalnya Allah SWT memang memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup aurat (kepala/rambut), seperti biarawati Katolik, Yahudi Ortodok dan Muslim. Itu kesimpulan aku pribadi…masih bisa diteliti dan diperdebatkan lebih lanjut. Yang jelas, karena aku beragama Islam, aku mengetahui umat muslim memang diperintahkan untuk menutup aurat (diantaranya rambut) dan perintah tersebut jelas terdapat pada Al-Quran.
Perjalanan ziarah selama seminggu itu sungguh mengesankan bagiku. Terus terang aku berniat untuk melakukan perjalanan ziarah seperti ini lagi, bila memungkinkan Insya Allah. Aku bisa membayangkan perjuangan para Nabi, agar kaumnya menyembah Allah SWT semata.
Untuk menggugah teman-teman, aku menyertakan juga sebagian foto-foto perjalanan aku ini.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s