Suka Belanja

Standar

Disini aku ingin berbagi cerita mengenai pengalamanku berbelanja di negara orang, di tempat belanja yang direkomendasikan oleh agen perjalanan. Aku hanya bercerita pada kondisi saat aku berpergian dengan memakai agen perjalanan. Biasanya acara berbelanja ini termasuk dalam jadwal jalan-jalan yang sudah disusun (itinerary). Pemandu wisata akan membawa kita ke toko yang memang tempat turis berbelanja.

Berberapa negara memang mewajibkan wisatawan yang datang ke negaranya untuk mampir ke toko yang menjual barang-barang khas produksi lokal, jika kita berpergian memakai agen wisata disana. Seperti saat kita di Turkey, pasti oleh pemandu wisata kita diajak mampir ke toko karpet, baju dari kulit, keramik. Saat kita ke Bangkok, diajak ke pabrik/toko perhiasan batu Rubi dan toko madu. Saat kita ke Beijing dan Shanghai, ada jadwal ke toko perhiasan batu zamrud (jade), sutra, jamu untuk obat.

Berdasarkan pengalamanku, toko-toko wajib kunjung itu banyak menjual barang-barang yang lumayan mahal. Menurut pemandu wisata, memang produk yang dijual tersebut berkualitas premium (bahan dan disainnya). Biasanya, di toko-toko tersebut, aku lebih sering ‘window shopping’, melihat-lihat saja karena seringkali toko tujuan menjual barang-barang yang tidak aku perlukan dan harganya lumayan mahal.

Tujuan utama aku berpergian, ya berjalan-jalan, melihat-lihat, menikmati pemandangan berserta kisah-kisah dan informasi seputar tempat tersebut. Selain itu aku senang mengabadikan pemandangan indah, unik, spesial yang aku temukan, melalui kameraku atau ponselku. Aku juga suka mengamati kehidupan masyarakat lokal. Mencicipi makanan lokal (wisata kuliner), bukan tujuanku dalam berwisata, namun sebisa mungkin aku mencoba rasa makanan dan masakan lokal. Berbelanja di negara orang tidak termasuk prioritasku, aku lakukan juga hanya terbatas belanja cendera mata dan barang-barang khas di negara tersebut. Kalau pergi sendiri tidak melalui agen perjalanan, aku tidak khusus meluangkan waktu buat belanja, jadi aku berbelanja disambi saat melihat-lihat destinasi wisata karena disana biasanya banyak terdapat toko oleh-oleh. Porsi utama waktuku, ya jalan-jalannya.

Aku tahu ada teman-teman yang memang berpergian sambil niat berbelanja dengan berbagai alasan. Katanya, di luar negeri banyak barang yang lebih bagus, barang bermereknya lebih banyak jenis, barangnya tidak ada di Indonesia, modelnya lebih baru, harganya lebih murah dll. Wajar saja alasan-alasan tersebut, bisa dipahami. Aku pribadi tidak mau jadwal perjalanan didominasi acara belanja, jadi kalau bisa memilih, aku pilih yang lebih sedikit acara belanja-belanja. Waktu pergi ke China, aku sempat bernegosiasi dengan pemandu wisata untuk mengganti jadwal belanja dengan kunjungan lain (karena aku ikut ‘private tour’, aku pikir bisa diganti) namun mereka benar-benar tidak mau menggantinya karena ada peraturannya, kata pemandu wisataku.

Wisatawan seperti aku, rasanya bukan wisatawan yang prospek untuk ditawarkan barang-barang mahal 😀😀. Mengapa? kalau kata anakku, “bunda itu turis kelas ‘gurem’… hahaha budget perjalananku hanya cukup untuk membeli tiket pesawat, penginapan dan berwisata saja”. Utamanya aku memang berpergian untuk berjalan-jalan bukan berbelanja, jadi aku tidak mau banyak waktu habis buat belanja, sayang kan lagi di negeri orang. Kalau mau belanja, di Jakarta juga bisa, pikirku. Lantas aku juga bukan termasuk si tukang belanja yang mudah tergoda dengan aneka barang. Selanjutnya seperti kata anakku, budget jalan-jalanku terbatas. Jatah belanjaku selama berpergian hanya untuk membeli suvenir dan barang-barang khas buatan lokal.

Karena belanja tersebut sudah program acara, mau gak mau kita harus ikut juga. Paling enak kalau di rombonganku ada yang tertarik dan memang niat berbelanja, jadi pramuniaga bisa fokus ke orang-orang yang tertarik saja. Wisatawan yang tidak prospek seperti aku, boleh diabaikan, berarti aku bisa meloloskan diri dari berbagai tawaran dan duduk beristirahat dengan tenang. Aku pernah dikomentari bapak-bapak satu rombonganku, waktu aku dan anak-anak ke Hongkong, katanya ‘bu Triana paling jago meloloskan diri dari penjaga toko’. Tentu saja, bapak-bapak itu bisa berkomentar seperti itu, karena mereka juga kabur dari pramuniaga yang sibuk menawarkan barang kepada sang istri dan para suami lebih memilih menunggu atau merokok di luar toko. Aku yakin, istri mereka mau ditinggal asal diberikan ‘sangu’ yang cukup buat berbelanja 😂.

Pernah waktu aku di Turkey, kami serombongan (8 orang), diajak pemandu wisata ke toko karpet. Pemilik toko dan pramuniaga menjelaskan ke kami, kelebihan dari karpet Turkey dibanding karpet lain, kemudian mereka mulai menjelaskan harga-harganya (yang sangat mahal). Setelah itu mereka menanyakan, jenis mana yang kami tertarik. Mulailah dikeluarkan karpet yang harganya lebih murah dan ada juga yang ukuran lebih kecil. Ternyata serombongan kami belum ada yang berminat, malah mulai terlihat bosan. Biasanya penjual tidak mudah berputus asa dan berusaha menawarkan barang yang harganya lebih murah. Dalam sikon seperti ini, penjual semakin gigih menjual, membuat kami susah untuk kabur dari penjual. Akhirnya rombongan kami tak ada satupun yang terbujuk untuk membeli karpet. Berhubung tidak ada yang membeli, sayang waktunya, pikirku seharusnya waktu yang hilang bisa dipakai buat berjalan-jalan tapi karena memang wajib mengunjungi toko…. mau bagaimana lagi.

Pernah juga aku terperangkap tidak bisa menghindar dari mendengar rayuan penjual karena rombongannya cuma aku dan anak-anaku, seperti saat aku ke Shanghai. Kami harus mendengarkan penjelasan dari pemilik toko mengenai cara memilih ‘jade’ (batu zamrud) yang berkualitas baik dan selanjutnya ditawarkan macam-macam perhiasan. Kami hanya senyum-senyum sambil mengucapkan terima kasih dan berucap kami tidak tertarik. Dilalah ada cerita seru antara aku dan pemilik toko, yang akhirnya membuat aku jadi berbelanja juga, nanti aku ceritakan di postingan lain.

Tidak semua toko, aku hindarkan. Hukum alamnya, perempuan suka berbelanja kan. Aku mau sekali kalau diajak ke toko suvenir, cendera mata, barang atau makanan khas daerah tersebut. Aku ikut belanja di toko-toko yang menjual suvenir, coklat, minyak zaitun, snack khas lokal, krim/lotion buatan lokal. Barang-barang khas lokal sepert itu, tidak mudah didapat di Jakarta, kalau adapun harganya mahal. Aku juga suka ke toko factory outlet, kadang-kadang aku mendapat barang bagus dari merek terkenal dengan harga miring karena barang sudah lewat musim.

Strategi yang mewajibkan agen perjalanan untuk membawa wisatawan ke toko-toko yang menjual barang khas lokal, menurut aku keren sekali untuk mengenalkan produk lokal dan menambah penghasilan negara. Seharusnya Indonesia juga menerapkan hal yang sama, wisatawan asing harus melihat-lihat produk batik, ukiran, kain tenun, kerajinan bambu, madu, jamu, teh, kopi, penganan lokal yang unik dan enak. Indonesia kaya sekali dengan barang-barang unik dan cantik untuk ditawarkan kepada wisatawan.

Jadi bagaimana mensiasati jadwal belanja selama kita berpergian. Kalau kita tidak berminat berbelanja di toko yang direkomendasikan agen perjalanan, kita bisa melihat-lihat saja atau numpang duduk disitu. Kalau kita tidak ingin ada program acara belanja yang diatur oleh agen perjalanan, kita bisa memilih pergi sendiri saja tidak melalui agen perjalanan, jadi bebas menyusun ‘itinerary’ sendiri. Sesederhana itu saja.

Gambar diambil dari : https://pngtree.com/freepng/happy-shopping-girl-decoration-elements_4390047.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s