Category Archives: Jalan-jalan

Perjalan Ziarah ke Yordania-Petra-Yerusalem-Bethlehem-Hebron

Standar


Aku sejak lama mengidamkan sekali mengunjungi Masjidil Aqsa dan negeri dimana banyak Nabi yang disebutkan dalam kitab suci Al-Quran berasal. Lebih tepatnya, aku ingin sekali mengunjungi Negara Palestina dan kota Yerusalem. Namun aku menyadari bahwa untuk ke negeri tersebut diperlukan pengajuan visa ke Negara Israel, yang belum tentu mudah karena Indonesia tidak ada hubungan diplomatik dengan Negara tersebut.
Pada suatu hari, suamiku menawarkan aku apakah ingin ikut rombongan teman-temannya menunaikan ibadah umroh sambil mengunjungi Masjidil Aqsa. Tentu saja aku menyambut gembira tawaran tersebut. Sudah 9 tahun sejak kami menunaikan ibadah haji dan kami belum berkesempatan untuk mengunjungi negeri Mekah dan Madinah lagi. Apalagi ditambah kunjungan ke Masjidil Aqsa, kami tertarik sekali. Yang menjadi kendala seperti biasa, apakah kami memiliki cukup dana dan apakah waktu kepergian bisa cocok dengan jadwal cuti kami. Karena kami pegawai biasa, tabungan yang kami miliki sudah punya pos tersendiri dan terus terang kami tidak memiliki pos ataupun cadangan untuk beribadah umroh. Begitupun untuk cuti selama 2 minggu, tentunya kami harus memberi tahu atasan kami jauh-jauh hari supaya tidak menghambat pekerjaan kelompok.
Ringkasnya, kami jadi berangkat, hanya dalam waktu 3 minggu menjelang waktu keberangkatan. Setelah kami membayar lunas, baru aku membaca daftar kunjungan (itinerary perjalanan). Ternyata ada juga jadwal ke Petra (Yordania) dan daerah bersejarah sekitar Yerusalem (Bethlehem, Hebron, Jerico). Masya Allah, tambah semangatlah aku mempersiapkan kepergian kami. Alhamdulillah, agen perjalanan (Malahati Tour) yang kami pilih adalah agen yang sudah biasa mengatur perjalanan ke Palestina/ Yerusalem, sehingga visa yang diajukanpun mudah didapat.
Jadwal keberangkatan bulan Februari tahun 2013 (sudah 3 tahun berlalu ternyata). Kami harus mempersiapkan diri untuk menghadapi udara dingin di Yordania dan Yerusalem. Padahal di Mekah dan Madinah, tidak begitu dingin. Di tulisan ini aku hanya menceritakan perjalananku di Yordania dan Palestina saja, karena aku ingin menceritakan perjalanan umroh di tulisan lain, berhubung antara keduanya mempunyai kesan dan pengalaman yang berbeda bagi aku pribadi.
Perjalanan pertama kami ke Yordania. Pesawat mendarat di bandara Queen Aliya, setelah kami menempuh perjalanan panjang dengan pesawat. Begitu pintu bandara terbuka, berhembuslah angin dingin dari areal luar bandara. Brrrrr…… ternyata musim dingin di kota Amman, lumayan dingin (sekitar 10 derajat Celsius), pantas banyak warga memakai jaket panjang tebal.
Jadwal kami di Yordania, mengunjungi Masjid Ashabul Kahfi, Masjid Nabi Syuaib, Death Sea, Wadi Musa dan Petra. Masjid Ashabul Kahfi dibangun di sebelah gua tempat tidurnya orang-orang penyembah Allah yang bersembunyi dari raja penguasa negeri yang penyembah berhala. Di dalam Al-Quran di surat Al-Kahfi (QS : 18), diceritakan mengenai pemuda-pemuda beriman ini, yang ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun di dalam gua tersebut. Lokasi persis gua masih menjadi perdebatan, karena di negara Turki, ada tempat yang juga diklaim sebagai gua Ashabul Kahfi. Kami juga napak tilas ke masjid yang didirikan di tempat beribadahnya Nabi Syuaib.
Di Yordania kami juga mengunjungi Danau Laut Mati (Death Sea), yaitu danau dengan kadar garam tertinggi, sehingga jika kita berenang di danau tersebut akan mengambang/tidak tenggelam. Daerah tersebut merupakan tempat bersejarah dimana kaum nabi Luth bermukim dan mendapat azab Allah karena kezaliman mereka (menyukai sesama jenis) dan tidak mau beriman kepada Allah SWT. Tempat tersebut dikenal sebagai Sodom dan Amurah. Pada suatu pagi, azab Allah menimpa mereka dimana daerah tersebut terguncang dan terbolak-balik. Sedangkan nabi Luth beserta kaumnya yang beriman, diselamatkan oleh Allah.
Di sekitar Danau Laut Mati banyak tempat peristirahatan/hotel dan juga toko-toko yang menjual aneka produk kecantikan yang berasal dari lumpur ataupun garam yang terdapat pada Danau Laut Mati. Sudah tentu aku ikutan membeli, untuk kenang-kenangan dan juga untuk dipakai. Siapa tahu memang membuat kulit kita halus dan mulus.
Puncak acara kami di Yordania adalah mengunjungi Petra. Petra ini cukup dikenal sebagai situs tempat wisata yang banyak dikunjungi. Karena penampilannya yang unik membuat daerah ini pernah dijadikan tempat lokasi shooting filem (yang saya ingat filem Indiana Jones dan Transformer). Petra merupakan situs yang dilindungi oleh UNESCO. Dulunya daerah Petra merupakan rute saudagar/pedagang dan tempat tinggal bangsa Nabatean yang ahli dalam membuat bangunan di batu dan pengairan. Kota tersebut didirikan pada tahun 9 sebelum Masehi dan beroperasi sampai tahun 40 Masehi.
Petra dikelilingi gunung batu dan pada salah satu gunung tersebut terdapat makam Nabi Harun AS. Penampilan situs Petra ini sangat unik, karena bebatuan di daerah tersebut berwarna merah jambu (pink) bukan kuning, coklat atau hitam seperti pada umumnya. Bangsa Nabatean membangun tempat ibadah, rumah dan ada juga teater. Masya Allah indahnya warna bebatuannya dan juga bangunan-bangunan yang dibangun. Arsitektur bangunan di Petra, sangat dipengaruhi oleh arsitektur Romawi. Dalam perjalanan kembali ke kota Amman dari Petra, kami sempat mapir di Wadi Musa yaitu 12 mata air yang terpancar dari batu merupakan berkah Allah kepada nabi Musa AS dan bani Israil.
Dari Yordania, perjalanan ziarah kami berlanjut ke negara Palestina yang berlokasi di dalam negara Israel. Walhasil untuk memasuki negara Palestina, imigrasi yang harus kami lalui adalah imigrasi Israel. Berdasarkan info dari pemandu wisata kami, kami harus tenang menanti pemeriksaan imigrasi yang kadang kala cukup memakan waktu. Terdengar juga bahwa untuk tour muslim, pemeriksaan ‘biasanya’ lebih lama dibanding tour yang lain. Agak aneh juga, apakah karena kami akan memasuki wilayah Masjidil Aqsa yang selalu menjadi perebutan berbagai pihak. Untuk wilayah Masjidil Aqsa, memang hanya bisa dimasuki oleh muslim, sedangkan untuk selain muslim, hanya bisa melihat sekeliling areal Masjidil Aqsa.
Jadwal perjalanan kami di Palestina dan Israel adalah mengunjungi dan bersholat di Masjidil Aqsa, melihat-lihat kota Jericho, mengunjungi Masjid Ibrahim di Hebron dimana terdapat makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq AS dan Nabi Yakub AS, mengunjungi tempat kelahiran Nabi Isa di kota Bethlehem, mengunjungi masjid Salman Al Farisi (sahabat Rasulullah SAW).
Kami menanti pemeriksaan imigrasi dengan sabar dan tenang sesuai pesan pemandu wisata kami walaupun pemeriksaan tersebut mamakan waktu lama. Miris melihat warga Palestina yang melewati perbatasan, pemeriksaannya sangat ketat, koper dan tas mereka dibuka secara terperinci. Bisa dibayangkan, betapa repotnya membereskan barang bawaan setelah dibongkar. Tambahan pula banya warga Palestina tersebut sudah cukup tua, jadi iba melihatnya. Mungkin saja petugas imigrasi Israel, lebih hati-hati terhadap bawaan warga Palestina karena banyaknya pemberontakan dan demonstrasi protes dari warga Palestina. Aku bersyukur hidup di negara damai, tidak ada curiga mencurigai seperti suasana perang.
Aku juga merenungi perjalanan panjang kota tua Yerusalem  (disebut Al Quds oleh Muslim) yang diakui sebagai kota suci dari 3 agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam). Bertahun-tahun yang lalu, kota Yerusalem sudah menjadi rebutan berbagai pihak. Salah satu tujuan dari perang Salib I (1096-1099) adalah memperebutkan kota Yerusalem dari pihak Muslim (orang Seljuk dan Turki).

Lolos dari pemeriksaan imigrasi yang melelahkan, kami menuju Yerusalem dimana hotel kami berlokasi. Sore itu juga kami sholat di Masjidil Aqsa. Yang namanya Masjidil Aqsa adalah wilayah dengan pelataran yang sangat luas. Di pelataran tersebut terdapat dua masjid yaitu Masjidil Haram dan Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock). Masjidil Aqsa adalah tempat suci umat muslim selain Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Di tempat itu, Rasulullah SAW menjejakkan kaki pada malam Isra’ Mi’raj menjelang beliau naik ke Sidratul Muntaha di langit ke 7 (Perjalanan Isra’ Mi’raj terdapat didalam Al Quran surat Al Isra). Masjidil Aqsa-pun pernah menjadi arah kiblat sholat sebelum Kabah di Mekah ditetapkan sebagai arah kiblat sesuai firman Allah pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 144.
Jadi bisa memahami kan, bagaimana mengharu birunya hatiku, bisa melaksanakan sholat di Masjidil Aqsa, bisa melihat-lihat isi masjid, bisa berinterkasi dengan jamaah masjid tersebut. Aku sempat bersholat di Masjidil Aqsa selama 3 hari (Syukur Alhamdulillah atas kehendak Allah). Aku juga amat sangat sedih dengan kondisi masjid yang sunyi senyap dengan jamaah yang tidak lebih dari 5 shaf (baris). Belum lagi para jemaah tersebut sebagian besar lansia. Apakah ini rekayasa Israel sehingga hanya kaum tua saja yang bersholat di Masjidil Aqsa.
Perjalanan ini banyak mengusik hatiku, karena aku menelusuri tempat-tempat Nabi yang disebut di dalam kitab suci Al-Quran. Kaum Yahudi mengajukan Yerusalem sebagai daerah Internasional (bukan hanya untuk muslim), karena disana juga (menurut kaum Yahudi) merupakan situs tempat kerajaan Nabi Daud (King David) dan Nabi Sulaiman (King Solomon). Namun sebenarnya raja-raja mereka tersebut adalah nabinya kaum muslim juga. Bagi muslim, daerah masjidil Aqsa tersebut, dulunya tempat yang disebut Baitul Maqdis tempat dimana Nabi-Nabi beribadah kepada Allah SWT.
Kunjungan kami selanjutnya adalah ke kota Hebron yaitu ke Masjid Ibrahim. Di dasar masjid, terdapat gua (15 meter bawah tanah) yang merupakan kuburan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq. Sedangkan areal dimana terdapat kuburan nabi Yaqub, dijadikan sinagoga oleh warga Yahudi. Tragisnya, di pintu masuk masjid, perajurit-perajurit Israel dengan senapan mesin laras panjang melakukan penjagaan. Bagaimana gitu rasanya, untuk memasuki masjid harus melalui tentara.
Di kota Hebron terdapat juga pabrik keramik yang memproduksi keramik cantik untuk alat rumah tangga maupun pajangan dengan lukisan-lukisan ciri khas kota Hebron. Ada lagi yang membuat hati saya pilu. Perbatasan area Palestina dan Israel ditandai dengan kawat berduri yang tinggi. Nyata benar beda kondisi dua wilayah. Wilayah Palestina terkesan kumuh dan tidak terawat sementara wilayah Israel bersih nyaman layaknya kota-kota di Eropa (negara maju).
Kami juga mengunjungi kota kelahiran Nabi Isa AS (menurut umat Nasrani) yaitu kota Bethlehem. Kota ini  termasuk wilayah Palestina dengan mayoritas beragama Nasrani. Tempat kelahiran Nabi Isa AS, sekarang sudah dibangun menjadi gereja yaitu Gereja Nativity. Bersyukur lagi aku bisa datang ke kota itu, kota yang begitu mendunia namanya karena yang lahir disana adalah tokoh yang sangat diagungkan oleh umat Nasrani. Bagi muslim, Nabi Isa AS adalah nabi yang banyak diberi mukjizat oleh Allah SWT dan beliau adalah nabi sebelum Rasulullah Muhammad SAW.
Salah satu jadwal kami di Palestina adalah mengunjungi kota Jericho. Kota ini merupakan kota tua yang telah berdiri sejak 9600 sebelum Masehi, terkenal sebagai penghasil kurma yang lezat. Di Jericho, kami bisa melihat biara-biara yang dibangun di gunung-gunung batu. Unik sekali pemandangannya. Tentunya kami tak lupa membeli kurma Jericho yang terkenal itu.
Pemandu wisata kami menawarkan wisata tambahan mengunjungi kota Tel Aviv, ibukota Negara Israel. Semua peserta tour sangat berminat, setelah beberapa hari kami napak tilas di kota-kota tua, tentunya akan sangat menyenangkan melihat kota modern di wilayah dengan peradaban kuno. Kami berpergian ke Tel Aviv di sore hari menjelang malam. Perjalanan melalui jalan tol mulus dan seperti biasa wilayah Israel sangat modern, teratur, bersih seperti halnya kota-kota di Eropa. Kami berhenti di daerah tua di Tel Aviv yaitu Jaffa dan dilanjutkan berhenti di pinggiran Laut Mediteranian dari wilayah Tel Aviv. Benar-benar kontras dengan perjalanan kami sebelumnya yang banyak menempuh daerah tua. Saat itu kami berjalan-jalan di kota modern.
Beruntung kami menginap di Yerusalem sehingga banyak kesempatan kami untuk melihat-lihat wilayah Yerusalem. Untuk menuju Masjidil Aqsa dari hotel kami, kami harus menempuh jalan-jalan tua berupa lorong yang telah dibangun sejak jaman Romawi. Pintu gerbang untuk menuju wilayah ibadah dari hotel kami, namanya Herodes Gate. Kami juga berkesempatan melihat Tembok Ratapan (Wailing Wall), yang merupakan tempat beribadah orang Yahudi. Tembok itu merupakan tembok Masjidil Aqsa dari sisi luar.
Yang membuat aku terkesan, perempuan Yahudi yang beribadah di pinggir tembok, memakai tutup kepala (seperti kerudung) berwarna hitam. Begitupun juga, aku bertemu dengan beberapa warga Yahudi Ortodok. Lelakinya memakai topi dan berjanggut sementara kaum perempuannya memakai tutup kepala sejenis kerudung berwarna hitam. Jadi asalnya Allah SWT memang memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup aurat (kepala/rambut), seperti biarawati Katolik, Yahudi Ortodok dan Muslim. Itu kesimpulan aku pribadi…masih bisa diteliti dan diperdebatkan lebih lanjut. Yang jelas, karena aku beragama Islam, aku mengetahui umat muslim memang diperintahkan untuk menutup aurat (diantaranya rambut) dan perintah tersebut jelas terdapat pada Al-Quran.
Perjalanan ziarah selama seminggu itu sungguh mengesankan bagiku. Terus terang aku berniat untuk melakukan perjalanan ziarah seperti ini lagi, bila memungkinkan Insya Allah. Aku bisa membayangkan perjuangan para Nabi, agar kaumnya menyembah Allah SWT semata.
Untuk menggugah teman-teman, aku menyertakan juga sebagian foto-foto perjalanan aku ini.

 

Iklan

Belitung Yang Eksotik

Standar

Semenjak filem Laskar Pelangi ditayangkan, pulau Bangka dan Belitung menjadi pulau yang populer sebagai tujuan wisata. Akupun terkontaminasi dengan gambar-gambar indah pulau tersebut. Jadi aku merencanakan untuk mengajak keluargaku berlibur ke pulau tersebut. Karena waktu yang terbatas, aku hanya memilih pulau Belitung (tidak termasuk pulau Bangka), yang menurut pengamatanku sangat indah dan berbeda dari pulau-pulau lainnya di Indonesia. Terima kasih sekali kepada Andrea Hirata (pengarang buku Laskar Pelangi) dan Mira Lesmana beserta Riri Riza (produser / sutradara filem Laskar Pelangi), yang menginspirasi kita menjadi semakin mencintai Indonesia dengan mengarang cara dan membuat filem dengan latar belakang negeri tercinta.

Kami pergi ke Belitung di liburan sekolah bulan Desember tahun 2014. Di pulau tersebut tersedia bandara yaitu bandara Tanjung Pandan, yang sangat memudahkan kita mencapai pulau tanpa harus transit. Selain itu pula, armada pesawat yang menuju kesana tidak hanya satu, sehingga kita punya pilihan. Fasilitas untuk wisatawan sangat lebih dari cukup, banyak hotel bagus, kendaraan ataupun kapal sewaan, paket wisata dll. Pulau Belitung terlihat sekali rajin berbenah diri dan menyadari bahwa pariwisata adalah sumber pendapatan daerah yang sangat mendukung kemajuan daerah.

Namun berdasarkan pengalaman dan juga info dari pemandu wisata kami, waktu paling baik ke pulau Belitung adalah bulan Juni, Juli, Agustus dimana langit cerah dan air jernih/bening. Pada bulan-bulan tersebut, kita dapat berwisata secara maksimal mengunjungi berbagai pulau sekitar, snorkeling, dll. Kami pasrah saja karena sudah terlanjur pergi di bulan Desember, ya ikut saja dengan rekomendasi pemandu. Benar saja, ketika kami sampai di pulau Belitung, cuaca mendung tebal disertai hujan. Pemandu menyampaikan, jika keesokan harinya cuaca masih hujan, kemungkinan acara berkeliling pulau tidak jadi dilakukan karena ombak dan angin akan cukup besar. Sebagai gantinya kami akan berjalan-jalan di pulau saja. Kecewa ya kecewa (kalau tidak jadi keliling pulau), tapi daripada beresiko di tengah laut dengan gelombang tinggi dan angin kencang, tidak deh.

Setelah makan siang, kami berkeliling pulau melihat pantai yang indah dengan batu besar bertebaran. Susah menggambarkan keindahaannya karena unik dan eksotik. Entah dari mana bebatuan besar tersebut berasal, karena di pulau Belitung dan sekitarnya tidak ada gunung yang biasanya tempat batu-batu besar berasal. Pemandu wisata kamipun tidak mempunyai info dari mana batu-batu tersebut berasal. Katanya, batu-batu besar seperti itu ada juga di kepulauan Natuna yang letaknya jauh dari pulau Belitung namun segaris (maaf aku tidak tahu apakah garis bujur atau garis lintang). Informasi ini tidak menjawab darimana berasalnya batu-batu besar tersebut. Yang jelas….indah, unik, eksotik dan pas sekali berpadu dengan pasir putih dan laut biru bening. Pantai yang kami kunjungi, pantai Tanjung Tinggi dan pantai Tanjung Kelayang.

Keesokan harinya pada jam sarapan, anak-anak sangat antusias memantau cuaca, walaupun sebelumnya sudah melakukan riset melalui info BMKG. Disebutkan cuaca akan mendung dan hujan, tapi boleh saja kan kami berharap mendung tipis saja dan hujan gerimis sebentar saja. Setelah mengamati keadaan cuaca dan pemandu berunding dengan pemilik kapal, akhirnya diputuskan kami berangkat juga untuk berkeliling pulau, tapi diutamakan pulau Lengkuas saja, untuk pulau lainnya tergantung cuaca. Horeeee……anak kami langsung ceria. Kami gembira juga tapi masih agak waswas melihat cuaca.

Selama di kapal, ternyata angin bertambah kencang, sehingga kapal kami terombang-ambing diatas ombak yang lumayan besar dan tinggi. Aku si penggemar petualangan, ya menikmati bergoyang-goyang di kapal dan terpaan ombak lautan yang masuk ke kapal seaakan menyambut perjalanan kami. Putri bungsu kami pucat, karena memang dia kurang suka naik kapal (mungkin karena pengalaman pertamanya naik kapal, kena ombak besar dan mabuk laut). Aku menghibur anak-anak dan berusaha menggambarkan bahwa yang kami lalui adalah pertualangan yang seru.

Akhirnya terlihat juga pulau Lengkuas dengan mercusuarnya. Bebatuan besar bertebaran di sekeliling pulau. Tidak habis kami memuji keindahan ciptaan Allah ini. Kami sibuk memanjat bebatuan yang bisa dipanjat sembari mengagumi keelokan pemandangan sekitar. Puas dengan bebatuan kami berkunjung ke mercusuar yang sudah ada sejak jaman Belanda. Menara mercusuar masih bisa dinaiki untuk yang berminat… rugi deh kalau gak naik. Diatas juga kami terpesona dengan pemandangan indah sembari kami dterpa angin kencang di ketinggian. Selain itu kami juga melihat-lihat museum kecil yang menyimpan foto-foto lama pulau Lengkuas.

Puas menikmati pemandangan indah, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya seakan air bah tumpah ke pulau. Alhamdulillah ada tempat berteduh, bangunan di sekitar mercusuar dan museum dimana kami bisa beristirahat sambil makan siang yang merupakan paket wisata. Hmmm enak benar, paket wisata sudah termasuk pemandu, sewa kendaraan, sewa kapal dan makan. Aku hanya mencari praktisnya, kalau mau lebih hemat, tentunya bisa mencari-cari dan mengatur sendiri. Setelah hujan agak reda, kami berangkat dari pulau Lengkuas menuju pulau Kepayang yang dekat saja.

Di pulau Kepayang bertemu lagi dengan bebatuan besar, tetapi selain itu di pulau tersebut terdapat penangkaran penyu. Sudah pasti anak-anak kami senang sekali melihat penyu-penyu yang siap dikembalikan ke laut. Penyu tersebut bisa juga dibelai dan diangkat, sekedar memuaskan keingintahuan anak-anak. Dari pulau Kepayang, kami kembali ke pulau Belitung untuk sekali lagi melihat-lihat dan sekaligus juga berfoto di pantai Tanjung Tinggi. Shooting filem Laskar Pelangi dilakukan di pantai ini, bahkan dibuatkan prasastinya.

Menjelang kembali ke Jakarta, kami diajak oleh pemandu ke Rumah Adat Belitung dan Pusat Oleh-oleh. Di rumah Adat, kami bisa melihat-lihat aneka kebudayaan Belitung dan juga foto-foto lama pulau tesebut. Untuk buah tangan, sempatkanlah mampir di Pusat Oleh-oleh. Ada saja yang bisa dibeli dari berbagai kerupuk, kue, kerajinan tangan, kaos/t-shirt dengan gambar/tulisan Belitung.

Ringkasnya, liburan di Pulau Belitung sangat menyenangkan dan memanjakan mata karena pemandangan indahnya. Aku juga menyertakan beberapa foto kami disana.

Bagaimana Kabar Lido ??

Standar

Sebagai penduduk Jakarta sejak lama, Lido adalah salah satu tujuan liburan keluarga aku pada waktu  aku masih kanak-kanak. Lido memang sudah ada sejak dulu. Apa keistimewaan Lido? Apakah sekarang masih bisa dikunjungi seperti dulu? Sekian lama, pertanyaan itu menari-nari di kepalaku. Terutama semenjak anak keduaku Ario bersekolah di Cibadak, Jawa Barat. Jalan menuju Cibadak melewati tempat wisata Lido.

Kalau melihat sepintas dari jalan raya menuju Sukabumi, danau Lido masih ada seperti dulu. Saat ini di sekelilingnya banyak restoran atau mungkin warung. Kesannya agak penuh dan pemandangannya terhalang oleh restoran/warung tersebut. Ada juga restoran yang terletak di atas danaunya, makin penuh saja kan. Dalam ingatan saya, Lido jaman saya kecil sudah hampir 40 tahun yang lalu, lapang sekali, pemandangannya lepas. Tapi yang penting danaunya masih ada, tidak kering.  Mau disebut danau, rasanya terlalu kecil mungkin bisa disamakan dengan Situ (danau yang lebih kecil) tapi dari dulu sebutannya juga danau bukan situ.

Desember tahun lalu, kami sekeluarga menyempatkan untuk mampir ke Lido, penasaran juga penampilan terakhirnya seperti apa. Di pinggir danau ada hotel yang bagus, tetapi sebaiknya  reservasi  dulu kalau musim libur. Kami memilih kamar yang pemandangannya ke danau. Melihat danau dari jendela hotel, rasanya damai dan nyaman karena eloknya pemandangan. Di hotel, dipajang foto-foto Danau Lido di jaman dulu sekali (sebelum tahun 1950) beserta warga Belanda yang merintis bangunan di sekitar danau.
Kami juga melihat-lihat sekitar hotel, dimana dulunya ada padang golf, namun saat ini sedang direnovasi. Pemandangan dari padang golf tersebut lebih indah lagi, karena bisa melihat 2 gunung. Satu sisi, gunung Gede dan sisi lainnya gunung Salak.  Nikmat sekali pemandangannya buat kami yang biasa disekitar perkotaan dan gedung.

Untuk melihat-lihat sekitar lokasi hotel, kami menyewa mobil golf. Seru juga menaiki mobil itu, persis mobil mainan, tapi jangkauannya cukup jauh. Di sekitar hotel juga ada areal bermain untuk anak remaja, bisa naik motor ATV dan bermain tembak-tembakan. Di danau, kita bisa menyewa rakit untuk mengelilingi danau.  Anak-anak kami menikmati liburannya. Jadi untuk yang mencari tempat liburan yang lokasinya tidak jauh dari Jakarta dan dengan pemandangan apik dan cuaca yang cukup sejuk, Lido bisa menjadi satu alternatif.

Menurut info yang kami baca, di Lido juga tempat berolahraga terbang layang. Namun lokasi bukit tempat  terbangnya, kami tidak tahu pasti dan kami juga tidak mencari-cari karena tidak ada satupun dari kami yang pernah mencoba terbang layang.

Kabar terakhir yang aku dengar, di sekitar Lido akan dibangun Disneyland atau Theme park/taman hiburan yang besar oleh pengusaha terkenal. Kebayang kan betapa akan ramainya daerah Lido jika ada taman hiburan seperti itu. Belum lagi jalan sekitar yang bakal lebih macet dari saat ini. Semoga pemerintah daerah sudah memikirkan benar pembangunan taman hiburan tersebut beserta dampaknya.  Kami berharap keasrian daerah pegunungan yang sudah menjadi ciri khas disana tidak dirusak oleh pembangunan dan beton-beton.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Hiiiiiiii……Lawang Sewu

Standar

Bulan Juli lalu, kami sekeluarga jalan-jalan ke Surabaya dengan memakai mobil sendiri. Berhubung waktu perjalanan dari Jakarta ke Surabaya cukup lama, kami sepakat untuk berhenti dan menginap di Semarang.

Dengan berbekal peta pulau Jawa dan print-out hasil browsing yang berisi nama-nama hotel, rekomendasi hotel dan tempat-tempat menarik, kami berangkat.

Di Semarang, sebenarnya kami tidak berniat jalan-jalan, niatnya benar-benar mau istirahat dan segera berlanjut  ke Surabaya. Tapi begitu mendengar kami mampir di Semarang, anakku ribut minta untuk melihat gedung Lawang Sewu. Terutama mba Hani anak sulungku, penasaran dengan bangunan ini, karena membaca mengenai kisah-kisah seram seputar bangunan tersebut. Aku sebenarnya gak terlalu tau mengenai gedung ini, tapi kalau melihat gedung-gedung tua, aku dan suamiku sangat menyukainya, karena arsitekturnya sering unik.

Kebetulan sekali, hotel tempat kami menginap, letaknya satu jalan dengan gedung Lawang Sewu. Untuk memuaskan rasa ingin tahu anakku dan juga aku sendiri, akhirnya kami niatkan untuk mengunjungi gedung tersebut pagi-pagi sekali sebelum pergi ke Surabaya. Dengan berjalan kaki, kami datang ke gedung tersebut. Dilihat dari luar pagar, memang gedung ini tampak menarik karena pintunya yang memang banyak (sesuai namanya Lawang Sewu alias Pintu Seribu). Ternyata memang kami datang terlalu pagi, sehingga gedung tersebut belum dibuka dan belum ada petugas Akhirnya kami masuk melalui pagar samping yang memang terbuka karena ada orang yang mempunyai bangunan kecil di belakang gedung (mungkin salah satu penjaga).

Sedikit bingung juga, karena di halaman depan ada locomotif kereta api. Saya pikir, apa hubungannya gedung ini dengan kereta api. Ternyata pernah menjadi gedung Jawatan Kereta Api, sesuai info yang aku dapat dari Wikipedia.

“Bunda, gedung ini angker” kata anakku. ‘Orang paling seneng melebih-lebihkan, mungkin kalau gedungnya dirawat dengan baik, penampilannya tidak akan seram’, sahutku. Kata anakku lagi ‘Mbak sering baca cerita-cerita seram mengenai gedung ini, katanya dibawah ada penjara bawah tanah dan banyak napi yang meninggal disitu”. Pantes, anakku tertarik, ternyata ada kisah-kisah yang membuatnya penasaran.

Tentu saja kalau bagi aku pribadi, bukan masalah seramnya yang menarik tapi penampilan gedung itu sendiri.  Dengan pintunya yang banyak dengan model yang sama, kesannya seperti asrama. Model pintunya juga unik, memakai krepyak. Gedung ini mempunyai dua sisi yang sama, dengan bentuk sisi kiri dan kanan yang identik. Tapi selain gedung utama tersebut ada lagi gedung tambahan di samping dan belakang yang terpisah, dengan model yang sama, hanya terdiri dari satu baris. Di gedung tempat pintu masuk utama, ada jendela dengan kaca patri yang tinggi, gambarnya sendiri aku kurang jelas (tapi aku posting juga gambar kaca patri di gedung yang cukup jelas, dari jepretan seseorang). Aku mengambil foto sebisanya, karena kameraku jenis pocket biasa.

Karena tidak ada penjaga, kami hanya melihat-lihat sendiri, tanpa tau sejarah gedung tersebut (belum sempat baca). Anehnya setiap ruangan ada pintu penghubungnya, jadi ruangannya tidak total terpisah oleh tembok. Informasi dari suamiku, gedung tersebut sering juga dijadikan tempat pameran. Tapi kenapa kurang bersih dan terawat ya, …, pikirku, kalau dirawat dengan ‘proper’, aku yakin gedung ini akan indah sekali dan pantas dijadikan landmark kota Semarang.

‘Serem ya bunda’, komentar mba Hani. ‘Apanya yang serem, mungkin kalau malam agak seram, karena suasana yang sepi dan gelap’, tambahku. ‘Ya sudah, bunda foto-foto saja, siapa tau ada penampakan’ kata Ario anak keduaku. ‘Hahaha, ok deh bunda fotoin’…….aku jadi geli, mendengar pendapat anakku yang sudah terkontaminasi cerita-cerita seram dari kakaknya. Disini, aku posting beberapa foto, tapi bukan cuma gedungnya saja, kami juga numpang narcis……seperti biasa……. Lain kali, kalau ada waktu lebih banyak, kami ingin berkunjung kembali ke gedung itu, untuk melihat lebih banyak.

image

image

image

image

image

image

image

Ini cerita yang aku kutip dari Wikipedia mengenai gedung ini.

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1903 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaranTugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memilikipintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampaiseribu, mungkin juga karena jendelabangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945) di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Apimelawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarangdengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Saat ini bangunan yang berusia 100 tahun tersebut kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Sesekali digunakan sebagai tempatpameran, di antaranya Semarang Expo dan Tourism Expo.Pernah ada juga wacana yang ingin mengubahnya menjadi hotel. Pada tahun 2007, bangunan ini juga dipakai untuk film dengan judul yang sama dengan bangunannya.

Foto kaca patri dari http://www.igougo.com/photos/journal_photos/sem_nis_window.jpg

image

Foto Lawang Sewu lama dari  :
http://media.photobucket.com/image/lawang%20sewu/java_89/LawangSewu.jpg

image

*pernah diposting di triajita multiply*

Jakarta – Kota Tua

Standar

Sebagai warga asli Jakarta, maksudnya lahir, besar dan mencari nafkah di Jakarta, saya sangat mencintai kota ini. Walaupun secara keturunan saya asli dari suku Minangkabau tapi saya sadar sesadarnya bahwa hidup saya banyak saya dapatkan dan habiskan di kota Jakarta. Salah satu kesenangan saya, rajin melihat-lihat berbagai sisi kota Jakarta terutama kota lama. Kali ini, saya coba mengabadikan Jakarta di bagian kota tuanya. Sebenarnya, Jakarta banyak mempunyai gedung-gedung peninggalan lama dengan arsitektur yang unik. Namun entah kenapa, sepertinya tidak ada peraturan atau mungkin peraturan sudah ada tetapi belum maksimal diterapkan untuk mengkonservasi gedung tua ini. Ingin sekali saya melihat, gedung-gedung lama yang terawat rapi, bersih dan tidak dipakai untuk kegiatan yang kurang mendukung kelestarian gedung ini.

image

Siapa lagi yang menjaga kalau bukan kita warga kota ini. Saya harap warga Jakarta tidak hanya menumpang hidup di Jakarta tetapi juga membantu merawat Jakarta.  Menurut saya, beberapa kota lain, lebih baik dalam merawat gedung dan daerah tuanya seperti Surabaya dan Semarang. Jangan dulu membandingkan dengan tetangga Asean yang kota tuanya cakep seperti daerah Raffles di Singapura atau Melaka dan Penang di Malaysia. Aih ini bikin ngiri, Jakarta juga bisa seperti itu, saya harap suatu hari.

Kalau ke kota tua Jakarta, jangan lupa mampir ke Stasiun Kota, Meseum Fatahilah, Museum Mandiri, Museum Kesenian, Museum Wayang, Museum Bahari, Menara Syahbandar, Rumah Merah, Pelabuhan Sunda Kelapa -> ini lokasinya berdekatan semua.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

2 Hari di Balikpapan

Standar

Tawaran berpergian selalu membuat aku tergoda untuk ikut. Sebenarnya undangan ke Balikpapan untuk suami dalam rangka pertemuan teman kuliah. Ternyata para istri ingin ikut serta, tentu saja aku tidak mau ketinggalan.

Kenapa juga di Balikpapan, sama sekali bukan karena suamiku kuliah di Kalimantan ataupun temannya ada yang orang Kalimantan. Sebenarnya karena salah satu teman suamiku bekerja di Kalimantan dan mempunyai banyak staff, selain itu juga banyak dari kami yang belum pernah mengunjungi Balikpapan.

Yang membuat aku lebih semangat ingin pergi karena nyonya rumah mempunyai hobi yang sama dengan aku, senang wisata alam. Jadi jadual jalannya sudah diatur ke tempat-tempat yang menarik alamnya.

Ini jadwal jalan di waktu yang cukup sempit (berangkat dari Jakarta Jumat sore dan kembali ke Jakarta Minggu sore, berarti hanya 2,5 hari) :

– Ke hutan Bengkirai

– Ke BOS (Borneo Orang Utan Survival)

– ke Teluk Balikpapan

– Kuliner di sekitar Balikpapan (udang, kepiting, ikan, roti mantau).

Di Bengkirai, kami melihat-lihat hutan yang memang dibuka untuk wisata. Yang paling menarik adalah jembatan dengan tinggi lebih dari 10 meter yang menghubungkan beberapa rumah pohon. Seru melihat pemandangan hutan dari atas. Lumayan megap-megap untuk naik ke jembatan, tapi worth it-lah dengan keindahan pemandangan sekitar.

Di Teluk Balikpapan, kami menikmati sunset dan melihat kapal-kapal pembawa minyak. Pemandangan yang indah, karena melihat yang jarang-jarang kami lihat.

Di BOS, kami melihat orang utan yang sudah pernah dipelihara,  ‘diajarkan’ untuk dapat kembali hidup di habitatnya di hutan liar. Untuk ‘pendidikan’ tersebut, orang utan dibagi beberapa tingkatan. Semakin tinggi tingkatannya, semakin dianggap siap untuk dilepas di hutan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA DSC00520 a DSC00550 a DSC00569 a DSC00582 a DSC00604 a DSC_0119 a DSC_0194 a

 

 

 

Batu yang Mengasyikkan

Standar

Pernahkah mendengar daerah  Batu di Malang Jawa Timur? Kalau warga pulau Jawa tentunya sudah sering mendengar. Berlanjut dari kunjungan ke Surabaya, aku sekeluarga berkesempatan mampir di kota Batu bahkan menginap semalam. Sesuai rencana, kami mengunjungi lokasi wisata yang pasti disukai anak-anak karena menyerupai taman bermain. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah BNS atau Batu Night Spectacular. Di BNS, kita disajikan aneka rupa lampion dengan bentuk dan warna yang memikat. Jam buka BNS dari sore hingga malam, memungkinkan kita menikmati keindahan lampion-lampion tersebut. Selain lampion, terdapat juga aneka permainan yang seru untuk anak-anak, remaja maupun orang tua sebut saja rumah hantu, kereta gantung, gokart, dll. Anak-anakku sangat senang bermain disana, belum lagi udara di Batu yang cukup dingin di malam hari sehingga terasa nyaman dan tidak terasa capek.

Malam harinya kami menginap di hotel Jatim Park yaitu hotel yang letaknya persis di sebelah Jatim Park. Jatim Park adalah tujuan kami berikutnya. Jatim Park adalah semacam theme park. Theme park ini cukup lengkap dimana terdapat aneka permainan, taman budaya, sejarah bangsa, sejenis science park, kebun binatang mini. Sudah jelas anak-anak sangat menikmatinya. Jadi jalan- jalan kami ke Batu ini memberi kesan yang menyenangkan bagi anak-anak. Aku merekomendasikan kesana buat teman-teman yang membawa anak-anak.

Ini sebagian dari foto-foto di Batu.