Memaksimalkan Manfaat Google Maps

Teman-teman tukang jalan tentunya mengetahui dan sering memakai aplikasi Google Maps. Salah satu fungsi aplikasi ini membantu kita dalam memilih jalan menuju ke tempat yang dituju. Sebagai penggemar jalan-jalan, aku termasuk pemakai setia Google Maps. Terutama untuk perjalanan melalui darat, Google Maps sangat membantu untuk mengetahui jarak, estimasi lama perjalanan, jalan yang dilewati. Walaupun manfaat Google Maps bukan hanya itu saja. Di tulisan ini, aku berbagi pengalaman dalam menggunakan Google Maps.

Sebagai pejalan/traveller yang sudah cukup umur, aku pernah merasakan jalan-jalan dahulu, kala masih memakai bantuan peta cetakan (hard copy). Aku pernah melakukan perjalanan berkendara mobil dari Jakarta menuju Surabaya, aku membawa peta cetakan terbaru dari 3 propinsi (yang bakal dilewati). Waktu di Jawa Barat, aku memakai peta Jawa Barat. Begitu sampai perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah, aku langsung ganti memakai peta Jawa Tengah. ‘Manual.com’, judulnya. Tanpa aplikasi yang membantu, kita juga sering berhenti-berhenti di jalan, minta petunjuk jalan kepada penduduk sekitar. Pengalaman lucu bila minta petunjuk arah jalan di Jawa Tengah, warga setempat kalau memberi arahan bukan kiri kanan loh, tapi empat arah mata angin. Contoh : Oo jalan itu di sebelah utara, menuju kesana lewat barat dulu. Nah, bingung kan buat yang pendatang, mana kita tahu sebelah selatan/utara/barat/timur, jadi selamat mencerna dan mencari petunjuk tambahan.

Masa-masa mencari jalan secara manual dan bertanya pada kawan itu… sudah berlalu yaa (kecuali kalau kita berada di tempat yang tidak ada signal internet atau pulsa lagi habis dan tidak ada wifi…. tetap harus mencari secara manual jadinya). Sekarang kalau pergi membawa kendaraan sendiri, aku membuka Google Maps, memasukkan tempat tujuan, aplikasi mencarikan jalan tercepat dan jalan terpendek. Kita bisa mendapatkan informasi jarak dan waktu tempuh. Kalau dihidupkan audio/suaranya, kita bisa mendengar perintah dari aplikasi, seperti 200m lagi belok kanan, ambil jalur kiri dll.

Tidak ada sesuatu yang sempurna, begitupun Google Maps. Teman-teman pernah kan membaca berita, ada mobil yang diberi petunjuk oleh Google Maps untuk melalui jalan yang sangat sempit, sehingga terperangkap tidak bisa maju atau mundur. Ada juga berita lain, lokasi yang diberikan Google Maps tidak sesuai alias tidak sampai di tujuan atau jalan yang diberikan berliku-liku, padahal ada jalan yang lebih mudah.

Akupun pernah merasakan hal yang sama beberapa kali. Pada suatu hari, aku dan keluarga berkendara dari Jakarta menuju Dieng (Jawa Tengah), seperti biasa aku membuka Google Maps sebagai penunjuk jalan. Pada suatu tempat di jalan Pantura, Google Maps mengarahkan untuk berbelok kanan. Suami yang menyetir mengikuti saja saran aku (co-pilot) berdasarkan petunjuk Google Maps. Awalnya jalan itu cukup lebar dan mulus, tetapi lama kelamaan kok semakin masuk hutan dan jalannya banyak lubang. Suamiku mulai mengomel karena jalan makin buruk dan sepi. Mau putar balik ke jalan awal, sudah terlalu jauh. Co-pilot memantapkan hati untuk terus melewati jalan itu. Setelah cukup lama tegang berjalan di jalan jelek dan sepi, akhirnya kami sampai juga di Dieng, datang dari atas bukit dan hutan… alhamdulillah. Saat itu, suamiku agak jera… mengikuti Google Maps. Namun aku tetap sering memakainya.

Sekali lagi, aku dibuat repot oleh Google Maps. Aku berkendara menuju Gunung Geulis Bogor dari Jakarta. Biasanya aku lewat Gadog, tapi Google Maps memberi jalan alternatif yang lebih pendek melalui Sentul. Aku memberi instruksi ke supirku untuk lewat Sentul sesuai aplikasi. Awal-awal melalui jalan besar, lama-lama masuk perkampungan dengan jalan sempit. Kejutan menunggu, tiba-tiba mobilku masuk jalan tanah dekat sawah dan lapangan Golf. Dari jalan tidak normal tersebut, sampai juga aku di lokasi tujuan. Satpam yang menjaga gerbang bertanya kenapa mobilku datang dari jalan tanah, yang jarang dilalui mobil. Yaa bapak tanya Google deh, sahutku dalam hati.

Pengalaman aneh lain karena mempercayai Google Maps, terjadi waktu aku survey sekolah buat anak. Ceritanya mau melihat SMA 61 di Jakarta Timur. Oleh Google Maps, diarahkan melewati jalan samping Cipinang Indah Mall. Dilalah mobilku berujung di tembok tinggi di suatu jalan buntu, tidak ada tanda-tanda sekolah. Setelah bertanya kepada warga sekitar, baru aku tau ternyata SMA 61 berlokasi di balik tembok tinggi tersebut. Jadi aku disuruh menembus tembok ya?

Namun dari 3 pengalaman tidak enak diatas, aku lebih banyak terbantunya oleh Google Maps ini. Bicara angka, bisa dibilang 95% aku selalu tertolong oleh petunjuk-petunjuk yang diberikan, sehingga aku sampai dengan selamat di lokasi tujuan. Hingga saat ini, kemanapun aku pergi, termasuk ke luar negeri, aku sering dibantu oleh Google Maps.

Google Maps ini akan sangat membantu bila :

  • sinyal internet/wifi bagus, sehingga tidak ada kesenjangan info karena ‘loading’ yang lama
  • pulsa smartphone cukup bila tidak ada wifi, agar tidak terjadi internet mati mendadak dan hilanglah petunjuk dari Google Maps
  • lokasi yang dituju ada di Google Maps. Tergantung dari pemilik tempat atau pemakai Google Maps lain, apakah memasukkan lokasi tempat itu ke Google Maps atau tidak.
  • kita tetap memperhatikan jalanan dan penunjuk jalan yang ada di jalan. Jadi kalau kira-kira jalan yang disarankan Google Maps kecil atau meragukan, tidak usah diikuti karena Google Maps akan menyesuaikan dengan jalan yang kita pilih dan menyarankan jalan yang lain (‘reroute’). Istilahnya jangan telan mentah-mentah usulannya, tapi tetap memperhatikan kondisi lapangan.
  • lokasi yang ada di Google Maps memang benar. Karena lokasi tempat tersebut merupakan kontribusi dari pemakai Google Maps, ada kemungkinan terinput lokasi yang tidak akurat

Google Maps bukan cuma bisa menjadi penunjuk jalan saja. Kita bisa mengetahui macet tidaknya jalan yang akan kita lewati. Kita juga bisa mendapatkan info mengenai tempat yang dituju dari Google Maps (foto lokasi, nomor telefon lokasi, jam buka, review atas tempat, dll). Hal ini sangat membantu kalau kita menuju tempat yang belum pernah kita datangi.

Selain itu, ada juga fitur Google Maps yang aku suka (sebagai orang yang suka berpergian). Google Maps menyimpan ‘time line’ perjalanan kita dari waktu ke waktu, tempat-tempat mana saja yang dikunjungi, kota dan negara yang dikunjungi. Aku bisa melihat mobilitasku dan mengenang perjalanan-perjalanan yang sudah kulalui. Di Google Maps, aku bisa melihat info aku telah mengunjungi 1476 tempat (meliputi restoran, tempat hiburan, bandara, mall, musium, dll), 148 kota, 15 negara. Info nama dan lokasinya, semua tersimpan di Google Maps. Ini data sejak tahun 2014, di kala aku mulai memanfaatkan Google Maps. Agar informasi ini tersimpan di Google Maps kita, fitur ‘Location’ harus hidup terus ya teman, berarti internet selalu terkoneksi. Selain itu kita harus memakai ‘Google Account’ yang sama, sehingga tersimpanlah data tersebut di ‘Account’ kita.

Demikian pengalaman aku dalam memanfaatkan fitur dalam Google Maps. Aku juga menyertakan foto dari Google Mapsku.

2 pemikiran pada “Memaksimalkan Manfaat Google Maps

  1. Hahaha, google maps tidak memberitahu soal tembok itu yaaa… saya juga pernah masuk jalan yang pas 1 mobil sampai suami ngomel-ngomel hahaha… tapi itu salah satu serunya ya.. tapi sekarang google maps sudah semakin baik dan sayanya juga semakin mengerti dia, termasuk suka maksa reroute dan gak mau dibo’ongin sama Google hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s