Author Archives: triana

About triana

humoris, aktif, ceria, positif, mempunyai 4 soulmate motivator.........

86 Hari Lagi

Standar

Ini masih kisah lanjutan dari menjelang aku berhenti kerja. Saat istimewa bagi aku karena aku berganti dari kegiatan yang bertahun-tahun aku telah lakukan.

Bagi teman-teman mungkin ini bukan hal yang spesial. Biasa saja malah, begitu kata beberapa temanku. Harapan aku sangat banyak, setelah aku stop dari kegiatan rutin bekerja. Terutama sekali, mengerjakan tugas yang penting, tapi sering aku skip karena seringkali aku terjebak dalam tutuntan pekerjaan kantor. Diantaranya yaitu :
– Membereskan barang-barang serta buku-buku aku yang masih berantakan
– Mengantar jemput anakku ke/dari sekolah
– Mengantar orang tua/ mertua ke dokter ataupun rumah sakit
– Memasak makanan sehari- hari
– Merapikan halaman

Terus bagaimana dengan pengganti gaji bulanan aku. Tipikal ibu-ibu yang mempunyai penghasilan sendiri, aku tetap ingin tidak bergantung 100% dari suamiku, untuk masalah keuangan. Namun aku tidak mempunyai sumber penghasilan lain. Berdagang atau apa, aku masih pikir-pikir dulu. Pikiran kreatif aku agak terbonsai karena sekian lama menjadi pegawai. Aku akan lihat kondisi dulu, mencari tambahan penghasilan dari mana. Prioritas aku, mengerjakan kewajiban ibu rumah tangga yang selama ini agak terabaikan. Mencari penghasilan merupakan kewajiban utama suami.

Sebenarnya aku suka mengajar anak-anak. Aku seringkali terinspirasi dengan mereka-mereka yang mendedikasikan diri untuk mendidik anak-anak dengan kondisi yang tidak memadai (misal anak jalanan, anak tidak mampu, anak di terminal dll). Nilainya bukan dalam hitungan keuntungan namun lebih kepada kepuasan hati karena bisa berbagi kepada yang membutuhkan. Aku masih mencari-cari informasi dari lingkungan sekitarku mengenai hal ini.

Baiklah,  aku masih melanjutkan menghitung hari sambil tetap mencari informasi dan membuat rencana.

image

Gambar diambil dari : https://www.graphicstock.com/stock-image/woman-thinking-thought-bubble-business-cartoons

#MenjelangBerhentiMenjadiPegawai

Iklan

Perjalan Ziarah ke Yordania-Petra-Yerusalem-Bethlehem-Hebron

Standar


Aku sejak lama mengidamkan sekali mengunjungi Masjidil Aqsa dan negeri dimana banyak Nabi yang disebutkan dalam kitab suci Al-Quran berasal. Lebih tepatnya, aku ingin sekali mengunjungi Negara Palestina dan kota Yerusalem. Namun aku menyadari bahwa untuk ke negeri tersebut diperlukan pengajuan visa ke Negara Israel, yang belum tentu mudah karena Indonesia tidak ada hubungan diplomatik dengan Negara tersebut.
Pada suatu hari, suamiku menawarkan aku apakah ingin ikut rombongan teman-temannya menunaikan ibadah umroh sambil mengunjungi Masjidil Aqsa. Tentu saja aku menyambut gembira tawaran tersebut. Sudah 9 tahun sejak kami menunaikan ibadah haji dan kami belum berkesempatan untuk mengunjungi negeri Mekah dan Madinah lagi. Apalagi ditambah kunjungan ke Masjidil Aqsa, kami tertarik sekali. Yang menjadi kendala seperti biasa, apakah kami memiliki cukup dana dan apakah waktu kepergian bisa cocok dengan jadwal cuti kami. Karena kami pegawai biasa, tabungan yang kami miliki sudah punya pos tersendiri dan terus terang kami tidak memiliki pos ataupun cadangan untuk beribadah umroh. Begitupun untuk cuti selama 2 minggu, tentunya kami harus memberi tahu atasan kami jauh-jauh hari supaya tidak menghambat pekerjaan kelompok.
Ringkasnya, kami jadi berangkat, hanya dalam waktu 3 minggu menjelang waktu keberangkatan. Setelah kami membayar lunas, baru aku membaca daftar kunjungan (itinerary perjalanan). Ternyata ada juga jadwal ke Petra (Yordania) dan daerah bersejarah sekitar Yerusalem (Bethlehem, Hebron, Jerico). Masya Allah, tambah semangatlah aku mempersiapkan kepergian kami. Alhamdulillah, agen perjalanan (Malahati Tour) yang kami pilih adalah agen yang sudah biasa mengatur perjalanan ke Palestina/ Yerusalem, sehingga visa yang diajukanpun mudah didapat.
Jadwal keberangkatan bulan Februari tahun 2013 (sudah 3 tahun berlalu ternyata). Kami harus mempersiapkan diri untuk menghadapi udara dingin di Yordania dan Yerusalem. Padahal di Mekah dan Madinah, tidak begitu dingin. Di tulisan ini aku hanya menceritakan perjalananku di Yordania dan Palestina saja, karena aku ingin menceritakan perjalanan umroh di tulisan lain, berhubung antara keduanya mempunyai kesan dan pengalaman yang berbeda bagi aku pribadi.
Perjalanan pertama kami ke Yordania. Pesawat mendarat di bandara Queen Aliya, setelah kami menempuh perjalanan panjang dengan pesawat. Begitu pintu bandara terbuka, berhembuslah angin dingin dari areal luar bandara. Brrrrr…… ternyata musim dingin di kota Amman, lumayan dingin (sekitar 10 derajat Celsius), pantas banyak warga memakai jaket panjang tebal.
Jadwal kami di Yordania, mengunjungi Masjid Ashabul Kahfi, Masjid Nabi Syuaib, Death Sea, Wadi Musa dan Petra. Masjid Ashabul Kahfi dibangun di sebelah gua tempat tidurnya orang-orang penyembah Allah yang bersembunyi dari raja penguasa negeri yang penyembah berhala. Di dalam Al-Quran di surat Al-Kahfi (QS : 18), diceritakan mengenai pemuda-pemuda beriman ini, yang ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun di dalam gua tersebut. Lokasi persis gua masih menjadi perdebatan, karena di negara Turki, ada tempat yang juga diklaim sebagai gua Ashabul Kahfi. Kami juga napak tilas ke masjid yang didirikan di tempat beribadahnya Nabi Syuaib.
Di Yordania kami juga mengunjungi Danau Laut Mati (Death Sea), yaitu danau dengan kadar garam tertinggi, sehingga jika kita berenang di danau tersebut akan mengambang/tidak tenggelam. Daerah tersebut merupakan tempat bersejarah dimana kaum nabi Luth bermukim dan mendapat azab Allah karena kezaliman mereka (menyukai sesama jenis) dan tidak mau beriman kepada Allah SWT. Tempat tersebut dikenal sebagai Sodom dan Amurah. Pada suatu pagi, azab Allah menimpa mereka dimana daerah tersebut terguncang dan terbolak-balik. Sedangkan nabi Luth beserta kaumnya yang beriman, diselamatkan oleh Allah.
Di sekitar Danau Laut Mati banyak tempat peristirahatan/hotel dan juga toko-toko yang menjual aneka produk kecantikan yang berasal dari lumpur ataupun garam yang terdapat pada Danau Laut Mati. Sudah tentu aku ikutan membeli, untuk kenang-kenangan dan juga untuk dipakai. Siapa tahu memang membuat kulit kita halus dan mulus.
Puncak acara kami di Yordania adalah mengunjungi Petra. Petra ini cukup dikenal sebagai situs tempat wisata yang banyak dikunjungi. Karena penampilannya yang unik membuat daerah ini pernah dijadikan tempat lokasi shooting filem (yang saya ingat filem Indiana Jones dan Transformer). Petra merupakan situs yang dilindungi oleh UNESCO. Dulunya daerah Petra merupakan rute saudagar/pedagang dan tempat tinggal bangsa Nabatean yang ahli dalam membuat bangunan di batu dan pengairan. Kota tersebut didirikan pada tahun 9 sebelum Masehi dan beroperasi sampai tahun 40 Masehi.
Petra dikelilingi gunung batu dan pada salah satu gunung tersebut terdapat makam Nabi Harun AS. Penampilan situs Petra ini sangat unik, karena bebatuan di daerah tersebut berwarna merah jambu (pink) bukan kuning, coklat atau hitam seperti pada umumnya. Bangsa Nabatean membangun tempat ibadah, rumah dan ada juga teater. Masya Allah indahnya warna bebatuannya dan juga bangunan-bangunan yang dibangun. Arsitektur bangunan di Petra, sangat dipengaruhi oleh arsitektur Romawi. Dalam perjalanan kembali ke kota Amman dari Petra, kami sempat mapir di Wadi Musa yaitu 12 mata air yang terpancar dari batu merupakan berkah Allah kepada nabi Musa AS dan bani Israil.
Dari Yordania, perjalanan ziarah kami berlanjut ke negara Palestina yang berlokasi di dalam negara Israel. Walhasil untuk memasuki negara Palestina, imigrasi yang harus kami lalui adalah imigrasi Israel. Berdasarkan info dari pemandu wisata kami, kami harus tenang menanti pemeriksaan imigrasi yang kadang kala cukup memakan waktu. Terdengar juga bahwa untuk tour muslim, pemeriksaan ‘biasanya’ lebih lama dibanding tour yang lain. Agak aneh juga, apakah karena kami akan memasuki wilayah Masjidil Aqsa yang selalu menjadi perebutan berbagai pihak. Untuk wilayah Masjidil Aqsa, memang hanya bisa dimasuki oleh muslim, sedangkan untuk selain muslim, hanya bisa melihat sekeliling areal Masjidil Aqsa.
Jadwal perjalanan kami di Palestina dan Israel adalah mengunjungi dan bersholat di Masjidil Aqsa, melihat-lihat kota Jericho, mengunjungi Masjid Ibrahim di Hebron dimana terdapat makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq AS dan Nabi Yakub AS, mengunjungi tempat kelahiran Nabi Isa di kota Bethlehem, mengunjungi masjid Salman Al Farisi (sahabat Rasulullah SAW).
Kami menanti pemeriksaan imigrasi dengan sabar dan tenang sesuai pesan pemandu wisata kami walaupun pemeriksaan tersebut mamakan waktu lama. Miris melihat warga Palestina yang melewati perbatasan, pemeriksaannya sangat ketat, koper dan tas mereka dibuka secara terperinci. Bisa dibayangkan, betapa repotnya membereskan barang bawaan setelah dibongkar. Tambahan pula banya warga Palestina tersebut sudah cukup tua, jadi iba melihatnya. Mungkin saja petugas imigrasi Israel, lebih hati-hati terhadap bawaan warga Palestina karena banyaknya pemberontakan dan demonstrasi protes dari warga Palestina. Aku bersyukur hidup di negara damai, tidak ada curiga mencurigai seperti suasana perang.
Aku juga merenungi perjalanan panjang kota tua Yerusalem  (disebut Al Quds oleh Muslim) yang diakui sebagai kota suci dari 3 agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam). Bertahun-tahun yang lalu, kota Yerusalem sudah menjadi rebutan berbagai pihak. Salah satu tujuan dari perang Salib I (1096-1099) adalah memperebutkan kota Yerusalem dari pihak Muslim (orang Seljuk dan Turki).

Lolos dari pemeriksaan imigrasi yang melelahkan, kami menuju Yerusalem dimana hotel kami berlokasi. Sore itu juga kami sholat di Masjidil Aqsa. Yang namanya Masjidil Aqsa adalah wilayah dengan pelataran yang sangat luas. Di pelataran tersebut terdapat dua masjid yaitu Masjidil Haram dan Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock). Masjidil Aqsa adalah tempat suci umat muslim selain Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Di tempat itu, Rasulullah SAW menjejakkan kaki pada malam Isra’ Mi’raj menjelang beliau naik ke Sidratul Muntaha di langit ke 7 (Perjalanan Isra’ Mi’raj terdapat didalam Al Quran surat Al Isra). Masjidil Aqsa-pun pernah menjadi arah kiblat sholat sebelum Kabah di Mekah ditetapkan sebagai arah kiblat sesuai firman Allah pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 144.
Jadi bisa memahami kan, bagaimana mengharu birunya hatiku, bisa melaksanakan sholat di Masjidil Aqsa, bisa melihat-lihat isi masjid, bisa berinterkasi dengan jamaah masjid tersebut. Aku sempat bersholat di Masjidil Aqsa selama 3 hari (Syukur Alhamdulillah atas kehendak Allah). Aku juga amat sangat sedih dengan kondisi masjid yang sunyi senyap dengan jamaah yang tidak lebih dari 5 shaf (baris). Belum lagi para jemaah tersebut sebagian besar lansia. Apakah ini rekayasa Israel sehingga hanya kaum tua saja yang bersholat di Masjidil Aqsa.
Perjalanan ini banyak mengusik hatiku, karena aku menelusuri tempat-tempat Nabi yang disebut di dalam kitab suci Al-Quran. Kaum Yahudi mengajukan Yerusalem sebagai daerah Internasional (bukan hanya untuk muslim), karena disana juga (menurut kaum Yahudi) merupakan situs tempat kerajaan Nabi Daud (King David) dan Nabi Sulaiman (King Solomon). Namun sebenarnya raja-raja mereka tersebut adalah nabinya kaum muslim juga. Bagi muslim, daerah masjidil Aqsa tersebut, dulunya tempat yang disebut Baitul Maqdis tempat dimana Nabi-Nabi beribadah kepada Allah SWT.
Kunjungan kami selanjutnya adalah ke kota Hebron yaitu ke Masjid Ibrahim. Di dasar masjid, terdapat gua (15 meter bawah tanah) yang merupakan kuburan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq. Sedangkan areal dimana terdapat kuburan nabi Yaqub, dijadikan sinagoga oleh warga Yahudi. Tragisnya, di pintu masuk masjid, perajurit-perajurit Israel dengan senapan mesin laras panjang melakukan penjagaan. Bagaimana gitu rasanya, untuk memasuki masjid harus melalui tentara.
Di kota Hebron terdapat juga pabrik keramik yang memproduksi keramik cantik untuk alat rumah tangga maupun pajangan dengan lukisan-lukisan ciri khas kota Hebron. Ada lagi yang membuat hati saya pilu. Perbatasan area Palestina dan Israel ditandai dengan kawat berduri yang tinggi. Nyata benar beda kondisi dua wilayah. Wilayah Palestina terkesan kumuh dan tidak terawat sementara wilayah Israel bersih nyaman layaknya kota-kota di Eropa (negara maju).
Kami juga mengunjungi kota kelahiran Nabi Isa AS (menurut umat Nasrani) yaitu kota Bethlehem. Kota ini  termasuk wilayah Palestina dengan mayoritas beragama Nasrani. Tempat kelahiran Nabi Isa AS, sekarang sudah dibangun menjadi gereja yaitu Gereja Nativity. Bersyukur lagi aku bisa datang ke kota itu, kota yang begitu mendunia namanya karena yang lahir disana adalah tokoh yang sangat diagungkan oleh umat Nasrani. Bagi muslim, Nabi Isa AS adalah nabi yang banyak diberi mukjizat oleh Allah SWT dan beliau adalah nabi sebelum Rasulullah Muhammad SAW.
Salah satu jadwal kami di Palestina adalah mengunjungi kota Jericho. Kota ini merupakan kota tua yang telah berdiri sejak 9600 sebelum Masehi, terkenal sebagai penghasil kurma yang lezat. Di Jericho, kami bisa melihat biara-biara yang dibangun di gunung-gunung batu. Unik sekali pemandangannya. Tentunya kami tak lupa membeli kurma Jericho yang terkenal itu.
Pemandu wisata kami menawarkan wisata tambahan mengunjungi kota Tel Aviv, ibukota Negara Israel. Semua peserta tour sangat berminat, setelah beberapa hari kami napak tilas di kota-kota tua, tentunya akan sangat menyenangkan melihat kota modern di wilayah dengan peradaban kuno. Kami berpergian ke Tel Aviv di sore hari menjelang malam. Perjalanan melalui jalan tol mulus dan seperti biasa wilayah Israel sangat modern, teratur, bersih seperti halnya kota-kota di Eropa. Kami berhenti di daerah tua di Tel Aviv yaitu Jaffa dan dilanjutkan berhenti di pinggiran Laut Mediteranian dari wilayah Tel Aviv. Benar-benar kontras dengan perjalanan kami sebelumnya yang banyak menempuh daerah tua. Saat itu kami berjalan-jalan di kota modern.
Beruntung kami menginap di Yerusalem sehingga banyak kesempatan kami untuk melihat-lihat wilayah Yerusalem. Untuk menuju Masjidil Aqsa dari hotel kami, kami harus menempuh jalan-jalan tua berupa lorong yang telah dibangun sejak jaman Romawi. Pintu gerbang untuk menuju wilayah ibadah dari hotel kami, namanya Herodes Gate. Kami juga berkesempatan melihat Tembok Ratapan (Wailing Wall), yang merupakan tempat beribadah orang Yahudi. Tembok itu merupakan tembok Masjidil Aqsa dari sisi luar.
Yang membuat aku terkesan, perempuan Yahudi yang beribadah di pinggir tembok, memakai tutup kepala (seperti kerudung) berwarna hitam. Begitupun juga, aku bertemu dengan beberapa warga Yahudi Ortodok. Lelakinya memakai topi dan berjanggut sementara kaum perempuannya memakai tutup kepala sejenis kerudung berwarna hitam. Jadi asalnya Allah SWT memang memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup aurat (kepala/rambut), seperti biarawati Katolik, Yahudi Ortodok dan Muslim. Itu kesimpulan aku pribadi…masih bisa diteliti dan diperdebatkan lebih lanjut. Yang jelas, karena aku beragama Islam, aku mengetahui umat muslim memang diperintahkan untuk menutup aurat (diantaranya rambut) dan perintah tersebut jelas terdapat pada Al-Quran.
Perjalanan ziarah selama seminggu itu sungguh mengesankan bagiku. Terus terang aku berniat untuk melakukan perjalanan ziarah seperti ini lagi, bila memungkinkan Insya Allah. Aku bisa membayangkan perjuangan para Nabi, agar kaumnya menyembah Allah SWT semata.
Untuk menggugah teman-teman, aku menyertakan juga sebagian foto-foto perjalanan aku ini.

 

Belitung Yang Eksotik

Standar

Semenjak filem Laskar Pelangi ditayangkan, pulau Bangka dan Belitung menjadi pulau yang populer sebagai tujuan wisata. Akupun terkontaminasi dengan gambar-gambar indah pulau tersebut. Jadi aku merencanakan untuk mengajak keluargaku berlibur ke pulau tersebut. Karena waktu yang terbatas, aku hanya memilih pulau Belitung (tidak termasuk pulau Bangka), yang menurut pengamatanku sangat indah dan berbeda dari pulau-pulau lainnya di Indonesia. Terima kasih sekali kepada Andrea Hirata (pengarang buku Laskar Pelangi) dan Mira Lesmana beserta Riri Riza (produser / sutradara filem Laskar Pelangi), yang menginspirasi kita menjadi semakin mencintai Indonesia dengan mengarang cara dan membuat filem dengan latar belakang negeri tercinta.

Kami pergi ke Belitung di liburan sekolah bulan Desember tahun 2014. Di pulau tersebut tersedia bandara yaitu bandara Tanjung Pandan, yang sangat memudahkan kita mencapai pulau tanpa harus transit. Selain itu pula, armada pesawat yang menuju kesana tidak hanya satu, sehingga kita punya pilihan. Fasilitas untuk wisatawan sangat lebih dari cukup, banyak hotel bagus, kendaraan ataupun kapal sewaan, paket wisata dll. Pulau Belitung terlihat sekali rajin berbenah diri dan menyadari bahwa pariwisata adalah sumber pendapatan daerah yang sangat mendukung kemajuan daerah.

Namun berdasarkan pengalaman dan juga info dari pemandu wisata kami, waktu paling baik ke pulau Belitung adalah bulan Juni, Juli, Agustus dimana langit cerah dan air jernih/bening. Pada bulan-bulan tersebut, kita dapat berwisata secara maksimal mengunjungi berbagai pulau sekitar, snorkeling, dll. Kami pasrah saja karena sudah terlanjur pergi di bulan Desember, ya ikut saja dengan rekomendasi pemandu. Benar saja, ketika kami sampai di pulau Belitung, cuaca mendung tebal disertai hujan. Pemandu menyampaikan, jika keesokan harinya cuaca masih hujan, kemungkinan acara berkeliling pulau tidak jadi dilakukan karena ombak dan angin akan cukup besar. Sebagai gantinya kami akan berjalan-jalan di pulau saja. Kecewa ya kecewa (kalau tidak jadi keliling pulau), tapi daripada beresiko di tengah laut dengan gelombang tinggi dan angin kencang, tidak deh.

Setelah makan siang, kami berkeliling pulau melihat pantai yang indah dengan batu besar bertebaran. Susah menggambarkan keindahaannya karena unik dan eksotik. Entah dari mana bebatuan besar tersebut berasal, karena di pulau Belitung dan sekitarnya tidak ada gunung yang biasanya tempat batu-batu besar berasal. Pemandu wisata kamipun tidak mempunyai info dari mana batu-batu tersebut berasal. Katanya, batu-batu besar seperti itu ada juga di kepulauan Natuna yang letaknya jauh dari pulau Belitung namun segaris (maaf aku tidak tahu apakah garis bujur atau garis lintang). Informasi ini tidak menjawab darimana berasalnya batu-batu besar tersebut. Yang jelas….indah, unik, eksotik dan pas sekali berpadu dengan pasir putih dan laut biru bening. Pantai yang kami kunjungi, pantai Tanjung Tinggi dan pantai Tanjung Kelayang.

Keesokan harinya pada jam sarapan, anak-anak sangat antusias memantau cuaca, walaupun sebelumnya sudah melakukan riset melalui info BMKG. Disebutkan cuaca akan mendung dan hujan, tapi boleh saja kan kami berharap mendung tipis saja dan hujan gerimis sebentar saja. Setelah mengamati keadaan cuaca dan pemandu berunding dengan pemilik kapal, akhirnya diputuskan kami berangkat juga untuk berkeliling pulau, tapi diutamakan pulau Lengkuas saja, untuk pulau lainnya tergantung cuaca. Horeeee……anak kami langsung ceria. Kami gembira juga tapi masih agak waswas melihat cuaca.

Selama di kapal, ternyata angin bertambah kencang, sehingga kapal kami terombang-ambing diatas ombak yang lumayan besar dan tinggi. Aku si penggemar petualangan, ya menikmati bergoyang-goyang di kapal dan terpaan ombak lautan yang masuk ke kapal seaakan menyambut perjalanan kami. Putri bungsu kami pucat, karena memang dia kurang suka naik kapal (mungkin karena pengalaman pertamanya naik kapal, kena ombak besar dan mabuk laut). Aku menghibur anak-anak dan berusaha menggambarkan bahwa yang kami lalui adalah pertualangan yang seru.

Akhirnya terlihat juga pulau Lengkuas dengan mercusuarnya. Bebatuan besar bertebaran di sekeliling pulau. Tidak habis kami memuji keindahan ciptaan Allah ini. Kami sibuk memanjat bebatuan yang bisa dipanjat sembari mengagumi keelokan pemandangan sekitar. Puas dengan bebatuan kami berkunjung ke mercusuar yang sudah ada sejak jaman Belanda. Menara mercusuar masih bisa dinaiki untuk yang berminat… rugi deh kalau gak naik. Diatas juga kami terpesona dengan pemandangan indah sembari kami dterpa angin kencang di ketinggian. Selain itu kami juga melihat-lihat museum kecil yang menyimpan foto-foto lama pulau Lengkuas.

Puas menikmati pemandangan indah, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya seakan air bah tumpah ke pulau. Alhamdulillah ada tempat berteduh, bangunan di sekitar mercusuar dan museum dimana kami bisa beristirahat sambil makan siang yang merupakan paket wisata. Hmmm enak benar, paket wisata sudah termasuk pemandu, sewa kendaraan, sewa kapal dan makan. Aku hanya mencari praktisnya, kalau mau lebih hemat, tentunya bisa mencari-cari dan mengatur sendiri. Setelah hujan agak reda, kami berangkat dari pulau Lengkuas menuju pulau Kepayang yang dekat saja.

Di pulau Kepayang bertemu lagi dengan bebatuan besar, tetapi selain itu di pulau tersebut terdapat penangkaran penyu. Sudah pasti anak-anak kami senang sekali melihat penyu-penyu yang siap dikembalikan ke laut. Penyu tersebut bisa juga dibelai dan diangkat, sekedar memuaskan keingintahuan anak-anak. Dari pulau Kepayang, kami kembali ke pulau Belitung untuk sekali lagi melihat-lihat dan sekaligus juga berfoto di pantai Tanjung Tinggi. Shooting filem Laskar Pelangi dilakukan di pantai ini, bahkan dibuatkan prasastinya.

Menjelang kembali ke Jakarta, kami diajak oleh pemandu ke Rumah Adat Belitung dan Pusat Oleh-oleh. Di rumah Adat, kami bisa melihat-lihat aneka kebudayaan Belitung dan juga foto-foto lama pulau tesebut. Untuk buah tangan, sempatkanlah mampir di Pusat Oleh-oleh. Ada saja yang bisa dibeli dari berbagai kerupuk, kue, kerajinan tangan, kaos/t-shirt dengan gambar/tulisan Belitung.

Ringkasnya, liburan di Pulau Belitung sangat menyenangkan dan memanjakan mata karena pemandangan indahnya. Aku juga menyertakan beberapa foto kami disana.

Bagaimana Kabar Lido ??

Standar

Sebagai penduduk Jakarta sejak lama, Lido adalah salah satu tujuan liburan keluarga aku pada waktu  aku masih kanak-kanak. Lido memang sudah ada sejak dulu. Apa keistimewaan Lido? Apakah sekarang masih bisa dikunjungi seperti dulu? Sekian lama, pertanyaan itu menari-nari di kepalaku. Terutama semenjak anak keduaku Ario bersekolah di Cibadak, Jawa Barat. Jalan menuju Cibadak melewati tempat wisata Lido.

Kalau melihat sepintas dari jalan raya menuju Sukabumi, danau Lido masih ada seperti dulu. Saat ini di sekelilingnya banyak restoran atau mungkin warung. Kesannya agak penuh dan pemandangannya terhalang oleh restoran/warung tersebut. Ada juga restoran yang terletak di atas danaunya, makin penuh saja kan. Dalam ingatan saya, Lido jaman saya kecil sudah hampir 40 tahun yang lalu, lapang sekali, pemandangannya lepas. Tapi yang penting danaunya masih ada, tidak kering.  Mau disebut danau, rasanya terlalu kecil mungkin bisa disamakan dengan Situ (danau yang lebih kecil) tapi dari dulu sebutannya juga danau bukan situ.

Desember tahun lalu, kami sekeluarga menyempatkan untuk mampir ke Lido, penasaran juga penampilan terakhirnya seperti apa. Di pinggir danau ada hotel yang bagus, tetapi sebaiknya  reservasi  dulu kalau musim libur. Kami memilih kamar yang pemandangannya ke danau. Melihat danau dari jendela hotel, rasanya damai dan nyaman karena eloknya pemandangan. Di hotel, dipajang foto-foto Danau Lido di jaman dulu sekali (sebelum tahun 1950) beserta warga Belanda yang merintis bangunan di sekitar danau.
Kami juga melihat-lihat sekitar hotel, dimana dulunya ada padang golf, namun saat ini sedang direnovasi. Pemandangan dari padang golf tersebut lebih indah lagi, karena bisa melihat 2 gunung. Satu sisi, gunung Gede dan sisi lainnya gunung Salak.  Nikmat sekali pemandangannya buat kami yang biasa disekitar perkotaan dan gedung.

Untuk melihat-lihat sekitar lokasi hotel, kami menyewa mobil golf. Seru juga menaiki mobil itu, persis mobil mainan, tapi jangkauannya cukup jauh. Di sekitar hotel juga ada areal bermain untuk anak remaja, bisa naik motor ATV dan bermain tembak-tembakan. Di danau, kita bisa menyewa rakit untuk mengelilingi danau.  Anak-anak kami menikmati liburannya. Jadi untuk yang mencari tempat liburan yang lokasinya tidak jauh dari Jakarta dan dengan pemandangan apik dan cuaca yang cukup sejuk, Lido bisa menjadi satu alternatif.

Menurut info yang kami baca, di Lido juga tempat berolahraga terbang layang. Namun lokasi bukit tempat  terbangnya, kami tidak tahu pasti dan kami juga tidak mencari-cari karena tidak ada satupun dari kami yang pernah mencoba terbang layang.

Kabar terakhir yang aku dengar, di sekitar Lido akan dibangun Disneyland atau Theme park/taman hiburan yang besar oleh pengusaha terkenal. Kebayang kan betapa akan ramainya daerah Lido jika ada taman hiburan seperti itu. Belum lagi jalan sekitar yang bakal lebih macet dari saat ini. Semoga pemerintah daerah sudah memikirkan benar pembangunan taman hiburan tersebut beserta dampaknya.  Kami berharap keasrian daerah pegunungan yang sudah menjadi ciri khas disana tidak dirusak oleh pembangunan dan beton-beton.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

102 Hari…..!!!

Standar

Hari per hari menuju aktifitas baruku setelah pensiun dini
Bisa dibilang aku semangat, ada juga sedikit kegalauan, gembira, sedih, penasaran, tegang….

Semangat -> menyambut aktifitas baru
Galau -> perasaanku bercampur aduk
Gembira -> meninggalkan rutinitas lama dan politik kantor
Sedih -> meninggalkan teman-teman lama, kehilangan gaji
Penasaran -> menghadapi lembaran hidup baru sebagai full time mom
Tegang -> apakah aku bisa melaluinya dengan baik sesuai harapan…..

102 hari lagi Insya Allah…

#MenjelangBerhentiMenjadiPegawai

My Early Retirement is Approved

Standar

Today is my new milestone, my early retirement proposal was approved. The effective date is May 1, 2016. Still 10 months to go, working,  receiving salary and being stressed and underpressured.

I know I am the one who is targeted to apply the retirement program. The company want to lay off the senior. Ok, I have a pride, I don’t want they ask me. I will apply before they ask me.

I have to move on, maybe focus in worldventures or selling batik or anything. One thing for sure, I am really a housewife and I will dedicate all my life as a wife and mother.

This is my faith, Allah always gives the best for me.

Written inTangerang, June 2016
#MyEarlyRetirement

103 Hari Menjelang….

Standar

103 hari lagi aku meninggalkan kantor ini
103 hari lagi aku berhenti dari pegawai kantor
103 hari lagi aku punya rutinitas baru
103 hari lagi aku tidak mengharap-harap terima gaji
103 hari lagi aku mulai mengatur jadwal baru
103 hari lagi ……….

Yaaay….aku mulai menghitung mundur dari saat ini, menjelang ‘resign’-nya aku.
Apa yang akan aku kerjakan, belum aku list….yang sudah pasti pekerjaan ibu rumah tangga yang banyak terbengkalai..
Kalau melihat rumah, sudah setumpuk pekerjaan menanti….persis seperti barang-barang rumahku yang bertumpuk tanpa aturan dan sistematika….

Ingin sekali membersihkan rumah dengan tangan sendiri, mengatur rumah sesuai kemauan sendiri, mengantar sendiri anak ke sekolah, memasak makanan dengan selera sendiri….hallow kemana aja aku selama 21 tahun berumah tangga…

Ya begitulah…aku malu mengakui raport aku selama berumah tangga…

#MenjelangBerhentiMenjadiPegawai