Kecurian di Granada, Spanyol

Standar
Pernahkah teman-teman kecurian? Aku mengalaminya sewaktu aku berpergian ke Spanyol. Bagiku ini salah satu pengalaman burukku dalam perjalanan. Sebelumnya aku pernah juga mengalami kejadian tidak enak saat berpergian, dalam postinganku yang ini. Namun pengalaman kecurian ini jauh lebih mengesalkan karena aku kehilangan barang-barang pribadi yang aku perlukan dalam perjalanan. Siapapun bisa mengalami kejadian seperti ini. Aku berbagi pengalaman ini untuk diambil pelajaran dan hikmahnya agar kita bisa menghindari kejadian seperti ini.
Saat itu,  aku sedang melakukan perjalanan ke Maroko dan Spanyol. Aku belum sempat menuliskan pengalaman perjalananku disana. Biarlah tragedi kecuriannya dulu yang aku ceritakan, agar yang pergi kesana lebih berhati-hati.
Aku berada di kota Granada, Spanyol. Aku telah melalui perjalanan dari Marrakesh, Maroko dan menyeberangi Selat Gilbratar menuju Granada, Spanyol. Aku menginap di  hotel berbintang 5 di kota Granada. Rencananya pagi itu kami akan mengunjungi Alhambra, salah satu kota terkenal dengan ilmuwan dan pengetahuannya di masa kejayaan kerajaan Islam di Andalusia, Spanyol (tahun 711 – 1492)
Walaupun hotel tempat aku menginap sangat nyaman, namun kemarin malamnya aku tidak bisa tidur nyenyak. Kakakku menelfon dari Jakarta dan memberitahu bahwa mamaku sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku kepikiran terus ingat mamaku, karena biasanya kalau dia sakit, aku yang menunggu di rumah sakit. Mamaku adalah penyintas penyakit kanker lebih dari 20 tahun dan sudah 8 bulan ini berobat lagi karena ada tumor yang tumbuh di kepalanya. Kakakku mengijinkan aku pergi, karena perjalanan ini sudah direncanakan sebelum mamaku sakit.
Pagi itu, aku lemas memikirkan mamaku. Di restoran tempat sarapan sepi sekali, tamu-tamu lain belum terlihat. Yang sarapan hanya aku dan suamiku, beserta 2 pasang teman suami, teman perjalananku kali ini. Suamiku sibuk mengambilkan aku aneka buah dan pastri untuk aku sarapan namun aku bergeming melamun dengan pandangan kosong, tidak bernafsu untuk sarapan.
Aku duduk di bangku berseberangan dengan suamiku. Teman-temanku duduk di meja sebelah dan mereka sibuk mengambil sarapan ala buffet. Kecerobohan pertamaku aku melamun dan tidak fokus. Kelalaian kedua aku menarus tasku dengan menggantungkan di senderan kursi dan aku sampirkan jaket di senderan kursi pula menutupi tasku. Padahal aku sudah diingatkan untuk berhati-hati di Spanyol karena banyak pencopet di daerah yang ramai wisatawan. Berlanjut keteledoran berikutnya, aku tidak menyadari bahwa ada orang yang sedang sibuk berbicara di handphone dan dia berdiri dekat kursiku. Ada saat-saat aku hanya sendiri di meja karena suamiku dan teman-temanku sedang memilih dan mengambil makanan di meja hidang.
Setelah semua selesai sarapan (aku hanya minum jus buah), Tour leader memanggil kami untuk persiapan berangkat ke Alhambra. Saat aku mengambil jaket, aku kaget karena tasku tidak ada. Tas yang aku bawa tersebut cukup besar dan berwarna merah terang. Bila diambil orang tentu akan terlihat. Yang namanya maling, pasti punya strategi, apalagi calon korban tidak awas dan melamun. Aku serasa mau pingsan membayangkan handphone beserta kamera kesayanganku ikut raib bersama tas.
Suamiku melaporkan kehilangan itu ke tour leader (kami panggil dia Udin, karena nama Spanyolnya sulit diucapkan) untuk disampaikan ke pihak hotel. Aku masih lemas membayangkan barang-barang berhargaku yang hilang. Hilanglah semua foto-foto dalam kamera dari beberapa perjalananku, yang belum sempat disimpan di laptopku. Udin menghibur aku karena masih bisa bersyukur passpor tidak hilang berhubung disimpan pihak hotel waktu aku check-in. Udin meminta aku tetap ikut ke Alhambra (destinasi hari itu) karena sayang sekali kalau tidak mengunjungi kota peninggalan kerajaan Islam yang sangat ikonik tersebut apalagi sore harinya kami sudah harus berangkat ke kota lain (Madrid). Jadi tidak akan ada kesempatan untuk mengunjungi Alhambra dalam perjalanan itu.
Jadilah aku berpergian dengan melenggang kankung tanpa bawaan sama sekali. Pening aku membayangkan harus melaporkan dan mengurus semua barang berharga KTP, Kartu Debet dan Kartu Kredit. Di dalam tas itu, aku juga menyimpan 2 handphone Samsungku, kamera pocket RX100 Sony, uang 1000 Euro dan lain lain.  Goodbye foto-fotoku yang di dalam kamera. Aku berharap foto di handphone terback-up di cloud. Kalau uang ya sudahlah, perjalananku tinggal 3 hari lagi. Aku tidak perlu belanja apapun.
Awalnya uang selama perjalanan, aku bagi dua dengan suamiku. Ternyata cuaca yang sangat dingin di bulan Desember itu, membuat suamiku bolak balik ke toilet. Ceritanya untuk mempermudah, jika aku ingin membeli sesuatu, uang diserahkan kembali semua kepadaku. Maksud suami, aku tidak perlu mencari dan menunggu dirinya yang sering harus ke toilet yang lokasinya jauh pas aku harus membeli sesuatu. Alhasil, uang bekal perjalan kami raib semua, hanya tinggal uang rupiah di dompet suami. Masih alhamdulillah, kami berpergian dengan teman-teman dan mereka siap menalangi kalau kami darurat perlu mengeluarkan uang.
Aku pasrah saja, memang sudah takdir dan cuma ingat bahwa semua yang kita miliki itu hanya titipan dan jika suatu saat diambil/hilang, ya harap bersabar dan mengambil hikmahnya.  Ada sedikit harapan dalam hati, tasku tersebut bisa ditemukan tapi aku berusaha menyiapkan hati jika ternyata tidak ditemukan.
Selama perjalanan menuju Alhambra aku menelfon anakku dan memberi instruksi untuk memblokir kartu debet dan kartu kredit melalui Bank penerbit. Alhamdulillah anakku sudah cukup umur untuk mewakili aku berhubungan dengan bank. Aku juga berusaha menenangkan diri agar bisa menikmati Alhambra. Kalau dipikir, benar juga Udin, aku sudah menabung susah payah, meluangkan waktu dan pergi sejauh ini untuk melihat Andalusia yang aku idamkan sejak lama. Masa’ gara-gara tragedi kecurian, aku tidak jadi mengunjungi Alhambra. Tidak ada manfaatnya juga jika aku ikut melaporkan ke polisi, tidak ada yang bisa aku perbuat untuk membantu.
Pendek kata, dalam segala kegundahanku memikirkan mamaku yang sedang dirawat di rumah sakit dan mengingat barang-barang berhargaku yang hilang, aku tetap berusaha menikmati keindahan Alhambra dan penjelasan-penjelasan dari pemandu wisata. Aku mempraktekkan resep sederhana untuk menenangkan hati, menarik nafas panjang dan berzikir mengucapkan istigfar. Dari foto-fotoku di Alhambra, tergambar wajahku yang lesu.
Begitu aku kembali ke hotel, Udin menjelaskan bahwa pencuri tasku tidak ditemukan begitupun tasku sudah raib entah kemana. Dari CCTV hotel, tampak bahwa si pencuri menyamar menjadi tamu hotel dan masuk ke restoran. Dia mengincar dan mengawasi aku sambil pura-pura sibuk menelfon di dekat aku. Begitu aku sendiri di meja, dia beraksi menjatuhkan jaketnya di belakang kursi aku, kemudian dia mengambil tasku yang digantung dibawah jaketku dan membawa tasku dibawah jaketnya sehingga tidak terlihat. Sementara jaketku tidak bergeser tetap tergantung di kursiku.
Menurut pihak hotel, pencuri itu adalah orang asing biasanya dari Rumania. Aku hanya menerima permintaan maaf. Di kepalaku masih menggantung pertanyaan bagaimana orang yang bukan tamu bisa masuk ke restoran yang biasanya selalu ditanya dari kamar berapa, darimana tau itu orang Rumania??
Aku tidak memperpanjang permasalahan, aku sudah menerima kehilangan ini dan beranggapan memang terjadi sebagian besar karena kelalaianku. Aku cuma ingin cepat pulang bertemu mamaku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu atas mamaku dikala aku jauh. Padahal pada saat aku pergi, hasil lab  mamaku dan pemeriksaan dokter, kondisi mama agak membaik. Pastinya lagi, aku harus mengurus pengantian dokumen hilang dan membeli handphone. Untuk membeli kamera lagi, aku harus menahan diri karena aku tidak punya budget lebih.
Dari ceritaku ini, ada pelajaran dan hikmah yang bisa diambil agar terhindar dari kejadian seperti ini. Selama perjalananan sebaiknya kita :
  • Selalu fokus memperhatikan kondisi sekitar dan tidak banyak melamun.
  • Selalu meletakkan barang berharga di depan kita atau di pangkuan kita. Sekali-kali jangan lengah mengawasi barang-barang kita
  • Berhati-hati dengan orang tidak dikenal yang bersikap aneh dan berada di sekeliling kita.
  • Kalau memungkinkan menyimpan uang tidak di satu tempat.
#granada
#jalanjalanspanyol
#GranHotelSercotelLunadeGranada

Yuuk ke Pangandaran

Standar
Yuuk ke Pangandaran
Green Canyon
Pantai dan gunung adalah tempat favorit keluargaku dalam berlibur. Sejak lama aku dan keluarga ingin sekali bertualang ke Pangandaran. Selain melihat-lihat, kami juga ada rencana mampir ke kampung asisten rumah tanggaku  yang berasal dari sana, yang sudah berhenti bekerja. Lokasinya yang lumayan jauh dari Jakarta dan keinginan kami berkendara sendiri, membuat kami perlu menyusun rencana perjalanan dan kegiatan selama kami disana.
Akhirnya selesailah perencanaan liburan kami. Aku memesan penginapan dan juga biro perjalanan disana untuk menyediakan kendaraan dan supir yang mengantarkan kami selama disana.
Perjalanan kami lebih kurang  340km, dari rumah (perbatasan Bekasi Jakarta) menuju Pangandaran. Perkiraan waktu kurang lebih 8-10 jam, tidak pakai transit menginap. Beberapa teman menyarankan, menginap dulu di Bandung. Keesokan harinya berangkat dari Bandung, untuk menghemat tenaga dan tidak kemalaman sampai di Pangandaran. Kami berniat langsung saja ke tujuan karena waktu cuti yang terbatas.
Pada dasarnya aku dan suami sangat menikmati perjalanan dengan naik mobil. Selama perjalanan bisa melihat pemandangan dan berhenti jika diperlukan. Biasanya kami berhenti, jika melihat pemandangan indah atau untuk memenuhi kebutuhan manusiawi (makan, buang air, dll). Ketiga anakku tidak ada yang benar-benar penikmat perjalanan seperti orang tuanya. Kadang-kadang mereka bosan dan berulang-ulang menanyakan berapa lama lagi sampainya. Beda ya…. aku sejak kecil memang senang jalan, tidak pernah bosan.
Pangandaran terletak di Selatan pulau Jawa, termasuk wilayah Jawa Tengah. Letaknya yang di tanjung, membuat kita bisa melihat matahari terbit maupun matahari terbenam dari pantai Pangandaran… keren kan. Tokoh Pangandaran yang terkenal Ibu Susi Pudjiastuti, pengusaha asli orang Pangandaran dan pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.  Bu Susi juga merintis penerbangan ke Pangandaran melalui penerbangan miliknya yaitu Susi Air. Yang mau cepat ke Pangandaran, silahkan siapkan budget lebih untuk naik pesawat Susi Air (ya pastinya ongkos pesawat lebih mahal daripada ongkos kendaraan darat).
Aku menginap di sebuah hotel yang nyaman di pantai Timur. Banyak sekali pilihan penginapan maupun tempat makan, jadi cukup mudah berwisata kesana. Karena aku hanya berlibur 2 malam dan kami ingin santai menikmati pantai jadi tidak banyak destinasi yang kami kunjungi.
Tempat wisata yang kami kunjungi :
  • Green Canyon (Cukang Taneuh)
  • Pantai Batu Karas
  • Pantai Batu Hiu
  • Pantai Timur
  • Pantai Barat
  • Pantai Pasir Putih, Cagar Alam Pananjung
Green Canyon (Cukang Taneuh)
Ini destinasi yang indah dan seru, menurut anak-anakku. Kami naik perahu menyusuri sungai Cijulang yang warna airnya hijau toska (hijau kebiruan) dari dermaga Ciseureuh. Di kiri kanan sungai, kami melihat pepohonan dan tebing yang terbentuk sejak jutaan tahun karena erosi air sungai. Kami juga dibawa masuk ke dalam gua dengan staklatit dan staklamit. Suamiku beserta anakku Hani dan Ario, berenang di dalam gua dan bermain di air terjun Palatar.
Sementara aku dan Arin si bungsu tidak ikut berenang dan menunggu di perahu di luar gua, karena Arin kurang enak badan. Anak-anak sangat menikmati berenang dan main air di dalam gua.
Setelah puas di Green Canyon, kami menuju Pantai Batu Karas.
Pantai Batu Karas
Lokasi pantai Batu Karas tidak terlalu jauh dari Green Canyon. Pantai ini cukup landai dan banyak orang yang berenang di pantai. Pasir pantai lumayan halus dan berwarna gelap. Kami hanya bermain-main ombak di pinggir pantai dan naik ke tebing untuk melihat-lihat pemandangan laut dari atas. Selanjutnya kami ke pantai Batu Hiu.
Pantai Batu Hiu
Di pantai ini, kami melihat ombak dan pemandangan laut dan bebatuan di pinggir pantai yang katanya berbentuk menyerupai ikan hiu. Kita dilarang berenang di pantai yang menghadap Samudra Hindia ini karena ombak dan arus yang cukup kuat.
Pantai Timur
Karena hotel kami berlokasi di pantai Timur, jadi kami niatkan berjalan-jalan di pantai pada pagi hari sekalian melihat matahari terbit. Dua kali pagi hari yang kami jalani disana, kami tidak berhasil melihat matahari terbit karena langit mendung tertutup awan. Tau-tau mataharinya sudah diatas saja, padahal ingin melihat matahari ketika muncul di horison sampai naik. Kami tidak terlalu berharap juga, karena saat itu bulan Desember sudah masuk musim hujan. Di pantai Timur, banyak kegiatan-kegiatan yang ditawarkan seperti naik banana boat, naik kapal dengan dasar kaca dan bisa melihat ikan-ikan dan karang. Saat itu kami lebih senang melihat-lihat kegiatan nelayan membawa ikan di jaring ke pantai.
Pantai Barat
Kami ke pantai Barat di siang hari menjelang sore, supaya sorenya bisa melihat matahari terbenam. Kami naik perahu untuk melihat karang-karang yang berbentuk unik, melihat orang memancing lobster di karang di tengah laut dan berlayar ke pantai Putih. Hani dan Ario sudah berniat snorkling di pantai Pasir Putih dan aku ingin melihat cagar alam Pananjung.
Waktu kami naik perahu, kami tidak menduga ombaknya ternyata cukup besar dan tinggi. Kami terombang-ambing lumayan tinggi, sementara anakku mulai pucat ketakutan melihat ombak, pak pemilik kapal tetap santai menjelaskan bentuk-bentuk karang di pantai yang nampak dari kejauhan. Si bapak setiap hari melalui ombak seperti itu, jadi tenang-tenang saja.
Dua kali ke pantai Barat dalam 2 hari, alhamdulillah aku bisa melihat matahari terbenam yang bulat merah terang pelan-pelan turun ke bawah horison. Banyak orang yang menunggu saat-saat matahari terbenam ini. Cantik sekali pemandangannya.
Pantai Pasir Putih dan Cagar Alam Pananjung
Anak-anakku snorkling di pantai Pasir Putih. Menurut anak-anakku pemandangan bawah airnya (ikan, karang, dll) bagus. Namun karena sudah agak sore, arus bawah laut cukup kuat jadi harus lebih hati-hati.
Aku tidak ikut snorkling dan sambil menunggu anak-anak, aku melihat-lihat cagar alam Panajung. Cagar Alam penuh dengan pepohonan dan banyak kera-kera yang bermain-main di pohon. Ternyata di dekat pantai tersebut juga ada gua Jepang (yang dibuat oleh tentara Jepang dalam masa perang). Gua tersebut sudah tertimbun, jadi tidak terlihat jelas.
Kami senang bisa menikmati Pangandaran walaupun hanya 2 hari. Terbayarlah perjalanan jauh kami dengan melihat pemandangan indah. Indonesia memang berlimpah dengan pantai dan pemandangan cantik. Untuk yang suka kulineran, disana juga banyak makanan enak dari hasil laut yang segar. Karena aku bukan pemerhati kuliner, aku tidak punya banyak info cuma ingat rasa enaknya saja.
Dalam perjalanan pulang, kami sempatkan bertemu dengan mantan asisten rumah tangga sesuai rencana kami. Namun kami tidak jadi ke kampungnya karena jalan menuju kesana rusak dan memakan waktu lama, padahal perjalanan kami menuju Jakarta masih amat sangat panjang. Jadi kami bertemu di jalan dan cukuplah menghilangkan rasa rindu.

Berburu Momiji Saat Musim Gugur di Jepang

Standar

Sebagai penduduk negara tropis 2 musim, wajar jika aku tertarik mengunjungi negara 4 musim, terutama pada saat musim yang tidak pernah ada di negaraku seperti musim gugur. Aku pencinta alam sehingga melihat-lihat alam juga kegiatan favoritku. Aku ingin sekali melihat warna daun-daun pada musim gugur.
Suatu hari, Yanti, temanku sesama penggemar jalan, mengajakku untuk ikut pergi ke Jepang. Sebenarnya Jepang bukan target jalan-jalanku karena untuk tujuan luar negeri, aku senang yang lebih antik seperti China dan Mesir. Tentunya dengan budget jalan-jalan yang terbatas, aku mengincar berpergian ke tempat idaman. Aku perlu beberapa waktu berpikir untuk menerima tawaran ini.
Aku mencari info mengenai Jepang dari teman-temanku yang tinggal di Jepang maupun yang sering berpergian ke Jepang. Dari hasil riset kecil-kecilanku, aku akan menikmati jika jalan-jalan ke Jepang di saat musim gugur dan musim semi. Aku akan melihat pemandangan luar biasa indah pada musim-musim itu selain bisa melihat destinasi di Jepang yang sudah populer.
Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk ikut pergi ke Jepang di musim gugur. Ternyata warga Jepang sendiripun, menyukai musim gugur karena keindahan warna warni daun. Proses perubahan warna daun menjadi kemerahan, kuning, jingga saat musim gugur dikenal dengan sebutan ‘momiji’. Jepang menyediakan perkiraan kapan dan dimana momiji berada, biasanya di daerah yang letaknya lebih utara muncul momiji lebih awal dan berlanjut ke wilayah selatan.
Kami pergi berdelapan dan dari semua peserta hanya 3 orang yang belum pernah sama sekali ke Jepang termasuk aku. Yang pernah pergi ke negara saat musim gugur , ada 4 orang (sudah pasti tidak termasuk aku). Jadi kemungkinan aku peserta yang paling bersemangat karena pengalaman pertama semua. Kami pergi tidak memakai jasa tour, temanku yang mengajak aku yang akan memandu dan bertindak sebagai tour leader, berhubung dia sudah berkali-kali ke Jepang dan membawa rombongan juga. Tentunya kami membayar jasa layanannya karena kami dibantu mencari serta memesan tiket pesawat, kereta, penginapan dan nantinya menjadi pemandu perjalanan kami.
Alhamdulillah, segala persiapan cukup mudah dan lancar. Kami mengurus visa sendiri dan menurut pengalamanku mudah selama kita mengikuti ketentuan yang berlaku. Tidak terasa sampailah di hari keberangkatan. Kami terbang ke Tokyo dan menyambung dengan penerbangan lokal ke kota Toyama.
Cuaca di musim gugur (bulan November) lumayan dingin,  sekitar 10 – 15 derajat Cecius. Namun cuaca dingin tidak mengurangi semangat untuk melihat-lihat. Aku termasuk pejalan yang tidak mau ‘rugi’, berusaha memaksimalkan jumlah destinasi yang dituju dan mengeksplorasi serta melihat destinasi selengkap mungkin. Sederhana saja pikiranku, aku belum tentu bisa berkunjung lagi kesitu, so manfaatkanlah waktu kunjunganmu sebaik-baiknya.
Seperti cerita di awal tadi, aku juga punya misi pribadi melihat pohon dan dedaunan musim gugur sebanyak mungkin. Jadi selama di kereta dan di bis, aku sangat menikmati pemandangan tempat-tempat yang penuh dengan momiji dan berharap sempat mampir ke lokasi itu. Tentunya tidak mungkin semua keinginan tersebut terpenuhi. Kami sudah punya daftar kunjungan yang disepakati di awal.
Destinasi perjalan ke Jepang, masih seperti perjalanan ke Jepang yang biasa dilakukan wisatawan lain. Maklum ada peserta yang baru pertama ke Jepang seperti aku, jadi destinasi mainstream wajib ada.  Kota yang dikunjungi Tokyo, Osaka, Kyoto, Toyama.
Di Toyama, aku tidak melihat banyak momiji, hanya beberapa pohon ginko berdaun kuning. Hari berikutnya kami naik bis ke desa tradisional Shirakawago. Desa ini terkenal dengan rumah tradisional beratap sejenis jerami (gasso) yang masih terjaga. Pemandangan desa ini lebih cantik di musim dingin dengan saljunya yang menutupi atap rumah, begitu kata pemandu dan info di website. Bagaimana perburuan momijiku… ternyata tidak mengecewakan karena aku banyak menemukan pohon maple berdaun kuning ataupun merah. Cantik sekali.
Selain ke Shirakawago, dari Toyama kami juga memulai perjalanan ke kota kecil Unazaki Onsen dan Minoo Park. Di destinasi ini, aku melihat banysk momiji. Aku puas cuci mata melebihi harapan. Kalau melihat jarak jalan kaki yang kutempuh, luar biasa jauhnya, yang mana gak mungkin aku lakukan kalau tidak sedang jalan-jalan di luar kota. Namun kebahagian melihat-lihat pemandangan melebihi rasa letih.
Hari selanjutnya kami ke Osaka dan berlanjut Kyoto. Di Osaka Castle, aku menemukan pohon ginko berdaun hijau pupus cantik. Walaupun menurut temanku tidak selebat saat dia berkunjung sebelumnya (karena daunnya sudah trondol banyak yang gugur), namun aku tetap kagum dengan kesegaran warnanya. Beginilah pencinta pohon, melihat pohon berdaun warna ‘menor’, langsung mata tak lepas memandang.
Meski aku punya perhatian khusus terhadap momiji, tapi eksplorasi destinasi tetap kulakukan dengan telaten…. gak mau rugi kan…😀
Keluar apartemen dari pagi, baru kembali ke apartemen malam hari. Kalau lagi eforia berwisata begini, rasa lelah pegal terlupakan deh… lebih banyak rasa semangatnya.
Kami ke Kyoto naik kereta cepat Shinkasen. Walaupun ada insiden terlewat turun di stasiun Kyoto yang membuat waktu perjalanan bertambah, tapi kami menikmati juga kota Kyoto yang antik dan cantik. Inginnya menginap di Kyoto, karena kotanya berasa Jepang tradisional, tetapi ternyata biaya penginapan dll di Kyoto lebih mahal dibanding Osaka. Yang penting, jangan melewatkan kota Kyoto, untuk mendapat ‘feel’ Jepang.
Perjalanan kami berlanjut ke kota Tokyo. Kami akan menginap cukup lama di Tokyo. Banyak destinasi yang perjalanannya dimulai dari Tokyo.  Kami sepakat dengan pilihan destinasi dan rute dari tour leader karena dia sudah berpengalaman dan mengetahui pilihan yang efektif dan efisien.
Di Osaka kami sering kelabakan dengan stasiun kereta yang amat sangat ramai terutama jam kantor dan di Tokyo lebih parah lagi ramainya. Hebat transportasi umum kereta apinya, sangat bisa diandalkan sehingga mayoritas warga memilih untuk menggunakan kereta sebagai sarana transportasi. Aku sarankan yang berpergian ke Jepang, manfaatkanlah transportasi kereta api tersebut, selain sangat bisa diandalkan dan biaya sesuai dengan manfaat, kita juga bisa merasakan menjadi warga lokal…. seruu.
Dari Tokyo kami pergi ke destinasi Mount Fuji, Karuizawa dan Yokohama. Untuk melihat-lihat destinasi di kota Tokyo sendiri, tidak cukup dalam waktu sehari.  Ada juga destinasi tempat shopping karena di rombongan kami ada yang suka. Aku juga ikut melihat-lihat toko, yang aku beli hanya sebatas cendera mata karena aku bukan yang hobi belanja dan tambahan lagi budgetku terbatas.
Pukul rata, destinasi yang kami tuju cantik dan aku paling suka gunung Fuji. Walaupun tidak bisa naik ke level 5 apalagi ke puncaknya (hanya bisa di musim panas), tapi aku si penggemar alam ini, menikmati sekali pemandangan gunung berbentuk simetris dengan salju di puncaknya. Alhamdulillah saat aku ke sana, langit cerah awan tipis tidak berkabut, jadi gunung Fuji terlihat jelas. Di danau Kawaguchiko (sekitar gunung Fuji), banyak sekali momiji… yeaaay daun-daun kuning, jingga merah sangat indah.
Melihat-lihat destinasi lain, aku sambi juga dengan mencari momiji (tetap). Bahkan di dekat persimpangan Shibuya (Shibuya Crossing) yang super ramai itu, aku masih sempat berfoto dekat pohon ginko berdaun hijau pupus…. diantara keramaian masih mencari momiji. Kebanyakan orang melihat-lihat toko dan belanja disini, bukan mencari momiji😀.
Begitulah pengalamanku berwisata ke Jepang di musim gugur dengan tambahan ‘misi’ berburu momiji. Setelah 14 hari memuaskan diri , melihat-lihat, mencuci mata, melangkahkan kaki, turun naik kereta di Jepang…. tibalah waktu pulang ke Jakarta.
Sebenarnya ada pengalaman dan hal unik berkesan yang aku alami selama aku di Jepang seperti pengalaman naik kereta, aneka vending machine, toilet rapi. Mungkin akan aku ceritakan di postingan lain.
#jalanjalanjepangmusimgugur
#berburumomiji

Wae Rebo Dengan Tirai Kabutnya

Standar

Wae Rebo adalah nama desa tradisional yang berlokasi di sebelah Barat Daya kota Ruteng, kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini terkenal di dunia dan telah ditetapkan sebagai salah satu situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 2012.

Walau di dunia internasional, desa ini terkenal, namun belum tentu semua orang Indonesia mengenal Wae Rebo. Pulau Bali dan pulau Komodo sepertinya masih lebih populer dibanding Wae Rebo. Untuk mengunjungi Wae Rebo, tidak bisa dikatakan sulit, tetapi cukup memerlukan usaha ekstra, dibanding hanya sekedar naik pesawat ataupun naik mobil, lantas langsung sampai di tujuan. Mungkin hal ini yang menyebabkan Wae Rebo tidak sepopuler pulau Komodo.

Aku dan suami sudah lama tertarik ingin berkunjung melihat Wae Rebo. Berhubung masih saja ada kendala waktu, kami belum jadi berangkat. Rencana tinggal rencana, pada suatu hari temanku menawarkan ikut dengan rombongan teman-temannya berkunjung ke Wae Rebo. Teman-teman ini adalah teman yang sangat tertarik dengan kebudayaan, sehingga kunjungan tersebut dijadwalkan pas Upacara Penti (upacara syukuran kepada sang Pencipta) yang diselenggarakan setahun sekali oleh masyarakat Wae Rebo. Jadi kami bisa melihat upacara Penti tersebut.

Pada saat aku ke sana (tahun 2016), belum ada pesawat langsung menuju Labuan Bajo (NTT), semua transit melalui Bali atau Kupang. Jadi aku dan teman-temanku naik pesawat ke Labuan Bajo dan transit di Bali. Dari Labuan Bajo, kami menyewa mobil menuju desa Denge, yaitu desa terdekat untuk mulai naik bukit menuju Wae Rebo. Perjalanan mobil menuju desa Denge memakan waktu kurang lebih 5 jam (waktu itu, karena ada jalan yang agak rusak). Di Denge kami menginap semalam di rumah penduduk yang sudah biasa disewakan. Rencananya kami akan jalan kaki/trekking ke Wae Rebo di pagi keesokan harinya. Kami trekking dengan membawa ransel (koper dititipkan di penginapan di Denge). Di Wae Rebo tidak ada signal handphone yang tertangkap, dari provider manapun. Jadi bersiaplah tidak bisa online, untuk yang selalu update setiap saat.

Sudah terbayang kan, bagaimana perjalanan menuju Wae Rebo. Dengan pesawat ke Labuan Bajo dan lanjut naik mobil ke Denge dan lanjut lagi berjalan kaki kurang lebih 5 km menanjak bukit untuk sampai di Wae Rebo. Mana aku kurang berpengalaman trekking jalan menanjak, cuma pernah ke kampung Baduy di Banten. Umurku dan teman-teman juga bukan muda lagi, 40an dan 50an, menjelang lansia.

Aku tidak terlalu banyak persiapan dari segi fisik, tidak banyak latihan jalan. Sebaiknya kalau sudah tau akan trekking menanjak, kita ada sedikit persiapan untuk mengurangi resiko kelelahan berat dan akhirnya tidak bisa menikmati perjalanan. Yang membuat aku semangat walaupun tidak terlalu mempersiapkan fisik, karena aku membaca pengalaman orang yang sudah pernah ke Wae Rebo, selalu saja disampaikan “semua yang trekking ke Wae Rebo dari Denge, selalu sampai di Wae Rebo, tidak ada yang gagal atau kembali turun ke Denge. Namun yang membedakan pengalaman-pengalaman tersebut, ada yang sampainya lama, ada yang cepat, tergantung kekuatan dan ‘ketekunan’ masing-masing.

Masih untung dan alhamdulillah, dari  Denge sampai pos 1 pendakian ke Wae Rebo, masih bisa ditempuh dengan ojek motor. Lumayan menghemat tenaga. Oiya untuk perjalanan trekking ke Wae Rebo melalui 3 pos perhentian untuk yang ingin beristirahat. Dari pos 1 sampai pos 3, kami trekking dengan berjalan santai tidak terburu-buru, disesuaikan dengan kekuatan fisik peserta. Jalan menuju Wae Rebo, seluruhnya menanjak, ada yang cukup curam ada yang landai. Jalan menanjak ini membuat energi sangat terkuras.

Kami sampai di Pos 3 dalam waktu 3 jam, lumayanlah buat seumuran kami. Begitu sampai di Pos 3, semua kelelahan lansung menguap berganti dengan rasa ‘excited’, semangat, penasaran. Kami tidak bisa langsung  masuk desa Wae Rebo, namun harus menunggu prosesi penyambutan. Wisatawan/pengunjung yang datang, disambut oleh Kepala Adat di Wae Rebo saat itu yaitu pak Alex dengan upacara adat yang tidak terlalu lama.

Selama menunggu acara penyambutan kedatangan tamu, dari kejauhan aku memperhatikan rumah adat Wae Rebo beratap kerucut yang terkenal yaitu Mbaru Niang, hanya 7 rumah. Mbaru Niang tidak terlihat jelas karena tertutup kabut tipis. Sulit digambarkan keindahan Mbaru Niang saat kabut menutupinya. Pantas juga, ada yang menyebut Wae Rebo negeri di atas awan, karena seringnya berkabut.

Ketika kami benar-benar memasuki desanya, sudah menjelang sore, kabut tadi mulai menghilang. Tampak jelaslah ketujuh rumah Mbaru Niang yang unik, anggun, tradisional. Pada saat itu banyak sekali wisatawan lokal maupun asing karena selain berkunjung ingin sekalian menyaksikan festival Penti yang diselenggarakan esok harinya.

Kami (kelompok teman-temanku) menginap di salah satu rumah Mbaru Niang. Semua wisatawan bisa menginap, asalkan sudah konfirmasi sebelumnya. Walaupun udara di luar dingin, di dalam rumah Mbaru Niang terasa hangat. Dinding dan lantai kayu, membuat suasana nyaman. Buat tamu disediakan kasur, bantal dan selimut. Untuk makanpun disediakan di dalam rumah, pada waktu makan. Kamar mandi disediakan di belakang rumah, cukup memadai untuk tamu walaupun harus agak mengantri karena hanya 3 kamar mandi untuk kurang lebih 15 tamu.

Setelah mandi sore, kami melihat-lihat sekeliling lagi. Penasaran ingin mengetahui keadaan sekitar. Penduduk ada juga yang berdagang barang-barang khas Wae Rebo. Aku dan teman-teman sudah berniat membeli kain tenun (disebut Songke) buatan asli Wae Rebo. Selain buat kenang-kenangan, juga buat dipakai pada festival Penti. Semua yang hadir pada festival diminta memakai Songke. Aku si penggemar kain tenun tradisional sudah pasti ikut membeli, menambah koleksiku. Dari Wae Rebo juga terkenal dengan kopinya, kata penggemar kopi sangat enak. Aku ikutan membeli juga sebagai oleh-oleh untuk suami yang penikmat kopi.

Di luar acara belanja tersebut, lagi-lagi aku ingin memperhatikan kabut di sekitar. Menurut imajinasiku, seperti tirai yang menutupi Mbaru Niang. Kadang menutup penuh, kadang sebagian, kadang tipis saja…. menghasilkan pemandangan cantik. Pada dasarnya, aku memang sangat menikmati pemandangan indah di desa-desa tradisional.

Malam harinya, kami diundang ke rumah Mbaru Niang utama, untuk penyambutan tamu namun lebih resmi. Seperti biasa, aku ingin tau bagaimana acaranya penduduk Wae Rebo. Aku mendengar ‘sharing’ dari pak Alex, pemandu yang berbahasa Inggris, respon dari tamu luar negeri, respon dari tamu lokal. Intinya penduduk lokal senang dengan kedatangan tamu karena Wae Rebo menjadi dikenal dan perekonomian penduduk menjadi lebih baik namun mengharap keaslian adat dan lingkungan tetap terjaga. Semoga harapan tersebut terkabul, tidak terbayang kalau Wae Rebo menjadi komersial dan sangat ramai.

Keesokan pagi harinya, sebelum acara festival Penti dimulai, kami menyempatkan diri jalan pagi di sekitar perkampungan. Kami mencari pemandangan indah dan khususnya aku memperhatikan situasi kabut di Wae Rebo. Ternyata pagi itu cerah, tidak berkabut. Menurut aku pribadi, Mbaru Niang sangat indah dilihat kalau tertutupi kabut tipis-tipis, syahdu sekali suasananya. Untuk melihat ketujuh Mbaru Niang secara jelas, tentunya sebisanya tanpa kabut ya. Aku sempat mengabadikan  Mbaru Niang  dengan dan tanpa kabut.

Kemudian kami menyaksikan festival Penti yang cukup panjang acaranya, namun menyenangkan untuk ditonton. Tarian Caci sangat khas, penari mamakai pakaian tradisional dan berjibaku dengan memakai cambuk. Aku bersyukur bisa ke Wae Rebo dan sekaligus menyaksikan festival Penti. Kalau teman-teman ingin ke Wae Rebo pas Festival Penti, cari tau dulu jadwalnya, karena hanya setahun sekali.

Setelah Festival Penti selesai, kami mempersiapkan diri untuk kembali ke Denge. Aku tidak terlalu kuatir masalah fisik karena jalan yang dilalui semua menurun. Namun jika hujan, kami harus ekstra hati-hati, karena jalan licin dan menurun.

Dalam waktu 1,5 jam, aku dan 2 teman sudah sampai di pos 1, beberapa teman masih dalam perjalanan. Alhamdulillah aku sudah melihat Wae Rebo dengan kabutnya dan entah kapan lagi bisa kembali.

Aku menyertakan foto Wae Rebo dan Mbaru Niang, ada yang berkabut dan ada yang cerah.

#jalanjalanWaeRebo

#upacaraPenti

Transit Terlama

Standar

Walaupun kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu namun kenangannya selalu melekat di kepalaku. Kombinasi kecerobohan dan ketidakberuntunganku, menjadi pengalaman buruk tak terlupakan. Aku berharap kejadian ini tidak terjadi pada orang lain ataupun padaku lagi.

Aku seringkali bepergian dengan anak-anakku dan di beberapa kesempatan suamiku tidak bisa ikut karena kesibukan pekerjaan. Kejadian ini terjadi pas saat suamiku tidak ikut…. kebayang kan aku sendiri harus menenangkan anak-anak.

Aku sudah lama berniat berjalan-jalan ke negara China yang menurutku sangat eksotik dengan kebudayaannya yang sudah tua dan juga pemandangan alamnya yang indah. Setelah membaca dan mendengar berbagai informasi, aku memilih jalan-jalan dengan memakai jasa tour. Pendeknya aku pilih yang aman menurut aku karena berpergian dengan anak-anak dan ke tempat yang jarang orang berbahasa Inggris dengan tulisan yang bukan latin pula.

Belum lagi, karena aku masih bekerja pada saat itu, jadi aku harus efisien memanfaatkan waktu cuti. Singkat kata, aku sudah memilih pesawat dan daftar kunjungan sesuai rekomendasi orang-orang yang telah berkunjung ke China. Dengan waktu cuti dan budget yang terbatas, aku memilih mengunjungi 2 kota saja yaitu Beijing dan Shanghai. Aku naik pesawat Phillippines Airlines, yang berarti harus transit di Manila.

Aku pilih tour private karena jadwalku sering tidak cocok dengan group tour. Di kala jadwalku cocok, tour tidak jadi berangkat karena kurang peserta atau pernah juga sudah penuh, aku tidak kebagian tempat.

Tour/travel telah mengirim salinan tiket dan daftar perjalanan ke aku. Pesawat berangkat jam 12 malam. Aku sudah menandakan di agendaku, hari keberangkatan. Berhubung berangkat jam 12 malam, jadi aku berencana tetap bekerja siang harinya dan sepulang kantor aku dijemput langsung menuju bandara. Lokasi kantorku di Tangerang Selatan memang lebih dekat ke bandara Soeta dibanding aku harus pulang lagi ke rumah.

Nah, kecerobohan dimulai disini, aku tidak teliti melihat tiket. Di tiket tertulis, keberangkatan tanggal 1 Juli jam 00.00. Yang artinya tanggal 30 Juni malam, aku sudah siap di bandara. Sementara, aku menandakan kalenderku, tanggal 1 Juli, di pikiranku, aku berangkat tanggal 1 Juli malam.

Pihak tour telah mengkonfirmasi bahwa aku akan dijemput di bandara Beijing tanggal 1 Juli jam 13.00 waktu setempat. Aku ceroboh lagi, tidak memperhatikan tanggal dengan seksama. Aku berpikir sederhana, setelah aku berangkat, sudah pasti disiapkan penjemputan di waktu kedatangan.

Jadi…yang seharusnya tanggal 1 Juli jam 00.00 dini hari, aku dan anak-anak sudah berangkat tetapi aku tidak berangkat dan masih asik bekerja di kantor pagi harinya. Aku mengira jadwal berangkatku tanggal 1 Juli malam. Aku sudah menyiapkan anak-anak untuk menjemput aku di kantor dengan membawa bagasi dan langsung menuju bandara.

Hari itu, jam 14.00 aku ditelfon oleh Tour, menanyakan mengapa aku tidak ada diantara penumpang yang mendarat. Tour leader di Beijing bingung mencari-cari aku. Aku mendadak jantungan, karena yakin sekali seharusnya aku berangkat malam nanti. Akhirnya setelah meneliti dengan seksama terbukalah kecerobohanku…. astaghfirullah, innalillahi …. aku beneran salah tanggal. Petugas travel sampai tidak bisa berkata-kata, mengetahui kelalaianku. Karena sudah terbayang liburan di depan mata, aku tidak mau membatalkan jadwal yang telah disusun.

Teman-teman yang sering travelling pasti tahu konsekuensi perubahan jadwal begini. Aku harus bayar tiket perubahan jadwal dan aku kehilangan satu hari jadwal kunjungan di Beijing. Mau bagaimana lagi… memang kesalahanku sendiri.

Aku kira cukup demikian saja kesulitan perjalanan ini. Jadi semua teratasi, tetaplah aku berangkat tanggal 1 Juli malam. Alhamdulillah, jadwal pesawat ke Beijing, ada setiap hari. Pesawatku tidak langsung ke Beijing tetapi transit dulu di Manila selama 3 jam.

Aku sampai di bandara tepat waktu, 3 jam sebelum berangkat, jam 21.00. Segala administrasi check-in telah aku bereskan. Aku dan 2 anakku, siap menanti panggilan boarding. Tunggu punya tunggu hingga jadwal boarding tidak ada info panggilan. Aku mulai deg-degan lagi, kok seperti gelagat mau ‘delay’ (tertunda). Benar saja, ada pengumuman pesawat ditunda karena ada kendala teknis. Astaghfirullah… apalagi nih, pikirku. Aku cuma cemas, apakah kami bisa terangkut pesawat transit sesuai jadwal dengan tertundanya keberangkatan, kalau tidak berarti menunggu lagi, pesawat berikutnya entah kapan.

Aku berdoa panjang pendek dan juga menenangkan kedua anakku. Akhirnya kami berangkat setelah tertunda 4 jam. Secara logika, kami pasti ditinggalkan pesawat transit dan memang benar sesuai dugaan, begitu mendarat, kami sudah ditinggal. Seharusnya jam 9.00 kami sudah terbang ke Beijing dari Manila. Aku langsung melapor ke petugas dan aku hampir pingsan mendengar info dari petugas. Pesawat berikutnya ke Beijing, berangkat jam 21.00.

Ya begitulah, aku mendarat di bandara Manila jam 9.00 pagi dan harus menunggu keberangkatan berikutnya jam 21.00 malam. Aku gak tau harus menghabiskan waktu bagaimana selama 12 jam. Kondisi Bandara Manila saat itu (tahun 2013), maaaaf jauh banget dibanding bandara Soeta apalagi bandara Changi. Dibanding bandara Juanda dan Ngurah Rai saat ini, juga masih jauh dibawah. Tempat duduk kurang nyaman, tempat terbatas/sempit, tidak ada pertokoan yang asik buat dilihat…. begitu deh.

Kami diberi kupon makan selama menunggu. Masih mending restorannya, kue-kue dan masakannya cukup enak, namun suasana kenyamanan kurang sekali. Jadi selama menunggu, aku dan anak-anak menghibur diri dengan memperhatikan tingkah laku petugas bandara yang sering kali aneh menurut kami. Penglihatan sepintas di bandara, orang Philipina sering berkumpul, banyak mengobrol, menghabiskan waktu.

Setelah penantian panjang, berangkatlah kami ke Beijing, ‘tepat waktu’, jam 21.00 malam. Mendarat di Beijing juga tepat waktu, alhamdulillah. Walau setengah cemas, apakah tour leader menjemput kami jam 2 dini hari….. pasrah dan berdoa lagi. Kok tidak ada yang bawa papan dengan namaku ataupun nama tour. Aku dan anak-anak terduduk lemas dan setelah kurang lebih 15 menit menanti, datanglah seorang perempuan cantik yang ternyata tour leader kami. Alhamdulillah…

Xiu (nama tour leader kami) menjelaskan perubahan program karena keterlambatan kedatangan kami dan juga jadwal ‘bullet train’ (kereta cepat) ke Shanghai yang tidak bisa dirubah. Aku hanya bisa melihat-lihat Beijing dalam sehari. Yah nrimo lagi.. tidak bisa nego karena semua sudah dipesan di awal.  Berubah-rubah, mungkin bisa tapi sudah pasti biaya bertambah.

Aku tidak akan menceritakan wisata kami di Beijing dan Shanghai di tulisan ini ya teman. Mungkin di blog lain. Disini aku lebih ingin berbagi ketidakberuntungan aku dalam urusan perjalanannya.

Alhamdulillah, perjalanan dari Beijing ke Shanghai lancar jaya, tepat waktu dan mengagumkan. Pengalaman pertamaku naik kereta cepat, 300km per jam dan gak terasa ‘jagjigjug’ seperti kereta di Indonesia. Mulus jalannya.

Kami pulang ke Indonesia dengan pesawat dari bandara Shanghai. Aku banyak berdoa lagi, mengharap perjalanan lancar. Harapan tinggal harapan, lagi lagi pesawat kami tertunda. Dari awal check-in sudah ada gejala. Sistem komputer Philippines Airlines saat itu sedang bermasalah, sehingga boarding pass tidak tercetak mesin namun di tulis dengan tangan seperti tiket bis malam yang kuno.

Aku mulai cemas lagi apakah kami bakal tertinggal oleh pesawat transit dari Manila ke Jakarta, yang seharusnya berangkat jam 21.00. Akhirnya pesawat berangkat juga ke Manila setelah tertunda 2 jam. Dan lagi-lagi, begitu mendarat di Manila jam 21.00, pesawat menuju Jakarta baru saja ‘take-off’ tanpa menunggu kami. Benar- benar ujian kesabaran karena ternyata aku harus menunggu pesawat ke Jakarta yang berangkat jam 9 pagi keesokan hari. Apaaa… aku hampir berteriak, aku dan 2 anak harus menunggu 12 jam lagi dan menginap di bandara. Tidak terbayangkan. Menginap di bandara bagus saja, aku gak ingin apalagi di bandara Manila.

Dan aku mengomel panjang lebar di depan petugas, menceritakan kesialanku mengalami 4 kali penundaan dan harus menunggu 12 jam (2x) bersama anakku di bandara. Seharusnya aku mendapat ganti rugi yang layak karena mendapat pelayanan yang tidak wajar.  Petugas hanya meminta maaf dan tidak bisa berkata-kata banyak.

Aku ditawarkan untuk menginap di hotel terdekat dengan biaya ditanggung Airline semua…. tentu saja harus begitu. Alhasil kami harus melewati imigrasi…. (mimpi apa, ke Manila karena kesialan begini, pikirku). Kami diantar ke hotel dengan taxi. Mau gak mau aku mencuri lihat-lihat juga kota Manila yang dilewati. Ternyata ketidakberuntunganku masih berlanjut. Entah di bagian mana kota Manila, jalan dan daerah yang kami lewati, lumayan kumuh dan ruwet. Perasaan masih jauh lebih indah Jakarta. Mungkin suasana hatiku yang amat sangat kesal, mempengaruhi cara pandangku juga.

Di hotelpun, lagi-lagi kami mendapat pelayanan yang kurang baik. Aku terpaksa membeli air mineral di restoran hotel karena di kamar hanya disediakan satu botol. Aku sudah bertanya kepada petugas kalau aku membayar dengan uang dollar apakah kembaliannya dalam bentuk dollar juga. Karena dijawab iya, jadilah aku membeli 1 botol air mineral. Ternyata aku mendapat kembalian uang peso. Luar biasa, aku marah sekali dan complain panjang lebar, aku sama sekali gak ingin menyimpan uang peso karena aku menginap di Manilapun terpaksa karena pelayanan airline mereka yang sangat buruk. Mungkin mereka malu juga dengan pelayanan mereka setelah mendengar amarahku. Akhirnya dikembalikanlah uangku.

Merembet ya, dari masalah transit yang lama berlanjut ke yang lain-lain. Aku sempat berucap, aku gak akan berkunjung ke Philippina sampai kapanpun, kotanya jelek dan pelayanan buruk. Aku rasa wajar untuk orang yang mengalami kejadian seperti aku, berpikir begitu.

Besok paginya, aku berangkat lagi ke bandara. Lagi-lagi, aku berdoa semoga perjalanan lancar. Alhamdulillah hari itu semua sesuai jadwal dan kami sampai dengan selamat di Jakarta.

Hmmm, sampai saat ini, anak-anakku selalu meledek aku. Bunda, kalau nanti aku sudah punya gaji, aku ingin mengajak bunda jalan-jalan ke kota Manila. Suamikupun ikut meledek aku, lumayan ya cutinya tambah jalan-jalan ke Manila dan passpornya ada cap imigrasi Phillippina.

Dari cerita panjang lebarku… ada pelajaran yang bisa diambil :

– Selalu meneliti jadwal pesawat di tiket terutama kalau berangkat jam 12.00 malam atau jam 00.00.  Kalau perlu konfirmasi ke Airline.

– Jika memungkinkan, sebaiknya memilih pesawat tanpa transit, apalagi jika berpergian dengan anak kecil.

Untuk menghibur, aku menyertakan foto kami yang sedang senang di Beijing dan Shanghai.

#transitmanila

#transit12jam

 

 

 

 

 

Perempuan Menyetir

Standar
Sering sekali aku mendengar suamiku, teman-teman laki-lakiku berkomentar mengenai perempuan menyetir. Komentarnya cenderung negatif. Kalau di jalan ada mobil yang berjalan lambat atau berjalan di garis marka atau belok tanpa lampu sen, mereka berpikiran pasti yang menyetir perempuan. Ini contoh komentar yang terdengar  ‘cewe ini nyetirnya kacau banget’ atau contoh komentar lain ‘parah kalau ibu-ibu nyetir’. Padahal mereka belum tahu pasti bahwa yang menyetir mobil tersebut perempuan.
Entah mengapa, para lelaki sering berpikiran bahwa perempuan tidak sepandai laki-laki dalam menyetir. Aku pernah dikirimkan oleh teman, video kumpulan kekacauan berkendara mobil dimana sang supir adalah perempuan. Niat sekali si penyunting video tersebut. Aku yakin kalau mau dicari, banyak juga video kekacauan laki-laki dalam berkendara mobil. Tetapi memang jumlah lelaki yang berkendara juga lebih banyak dari perempuan, jadi wajar juga kalau yang menyetir kurang baik juga lebih banyak.
Ada pendapat bahwa perempuan tidak sehebat laki-laki dalam melihat peta dan dalam membayangkan lokasi atau ruang secara 3 dimensi. Perempuan lebih sering memakai perasaan dibanding logikanya dalam berpikir. Sisi lain, perempuan lebih pintar dalam berpikir maupun bekerja secara multi (pada saat yang bersamaan). Apakah hal-hal ini mempengaruhi gaya menyetir perempuan yang ‘khas’ itu.. entahlah, aku belum pernah mencari penelitiannya. Mungkin di tulisan ilmiah, hal ini bisa dibahas.
Apakah kita perempuan perlu berusaha merubah stereotip mengenai perempuan menyetir. Rasanya gak perlu ya, kita punya banyak kelebihan lain kok dibanding laki-laki. Jadi biar saja untuk urusan menyetir kita dianggap kurang pintar dibanding laki-laki.
Walaupun pendapat umum begitu, ada juga perempuan-perempuan yang ahli menyetir. Seperti pembalap-pembalap perempuan.
Aku sendiri mengakui aku punya kekurangan dalam menyetir mobil. Aku susah sekali memarkir secara paralel. Hitunganku kurang bagus dalam persoalan parkir paralel. Jadi solusi aku (mungkin kurang tepat disebut solusi), berusaha sebisa mungkin menghindari parkir paralel. Mending aku mencari tempat parkir lain, walaupun lebih jauh.
Walaupun kodrat perempuan lebih banyak berurusan dengan urusan domestik atau rumah tangga, tapi bisa menyetir kendaraan sangat membantu kegiatan sehari-hari. Kita bisa ke pasar, supermarket, antar jemput anak/orang tua yang lokasinya tidak jauh dari rumah tanpa menunggu adanya laki-laki yang membantu. Ini menurut pendapat aku pribadi sebagai perempuan.
Jadi biar saja diledek kurang bagus dalam menyetir tapi keahlian menyetir tersebut bisa bermanfaat pada kondisi-kondisi tertentu atau bila diperlukan.

Gambar diambil dari : http://www.gettyimages.co.uk

 

86 Hari Lagi

Standar

Ini masih kisah lanjutan dari menjelang aku berhenti kerja. Saat istimewa bagi aku karena aku berganti dari kegiatan yang bertahun-tahun aku telah lakukan.

Bagi teman-teman mungkin ini bukan hal yang spesial. Biasa saja malah, begitu kata beberapa temanku. Harapan aku sangat banyak, setelah aku stop dari kegiatan rutin bekerja. Terutama sekali, mengerjakan tugas yang penting, tapi sering aku skip karena seringkali aku terjebak dalam tutuntan pekerjaan kantor. Diantaranya yaitu :
– Membereskan barang-barang serta buku-buku aku yang masih berantakan
– Mengantar jemput anakku ke/dari sekolah
– Mengantar orang tua/ mertua ke dokter ataupun rumah sakit
– Memasak makanan sehari- hari
– Merapikan halaman

Terus bagaimana dengan pengganti gaji bulanan aku. Tipikal ibu-ibu yang mempunyai penghasilan sendiri, aku tetap ingin tidak bergantung 100% dari suamiku, untuk masalah keuangan. Namun aku tidak mempunyai sumber penghasilan lain. Berdagang atau apa, aku masih pikir-pikir dulu. Pikiran kreatif aku agak terbonsai karena sekian lama menjadi pegawai. Aku akan lihat kondisi dulu, mencari tambahan penghasilan dari mana. Prioritas aku, mengerjakan kewajiban ibu rumah tangga yang selama ini agak terabaikan. Mencari penghasilan merupakan kewajiban utama suami.

Sebenarnya aku suka mengajar anak-anak. Aku seringkali terinspirasi dengan mereka-mereka yang mendedikasikan diri untuk mendidik anak-anak dengan kondisi yang tidak memadai (misal anak jalanan, anak tidak mampu, anak di terminal dll). Nilainya bukan dalam hitungan keuntungan namun lebih kepada kepuasan hati karena bisa berbagi kepada yang membutuhkan. Aku masih mencari-cari informasi dari lingkungan sekitarku mengenai hal ini.

Baiklah,  aku masih melanjutkan menghitung hari sambil tetap mencari informasi dan membuat rencana.

image

Gambar diambil dari : https://www.graphicstock.com/stock-image/woman-thinking-thought-bubble-business-cartoons

#MenjelangBerhentiMenjadiPegawai

Perjalanan Ziarah ke Yordania-Petra-Yerusalem-Bethlehem-Hebron

Standar


Aku sejak lama mengidamkan sekali mengunjungi Masjidil Aqsa dan negeri dimana banyak Nabi yang disebutkan dalam kitab suci Al-Quran berasal. Lebih tepatnya, aku ingin sekali mengunjungi Negara Palestina dan kota Yerusalem. Namun aku menyadari bahwa untuk ke negeri tersebut diperlukan pengajuan visa ke Negara Israel, yang belum tentu mudah karena Indonesia tidak ada hubungan diplomatik dengan Negara tersebut.
Pada suatu hari, suamiku menawarkan aku apakah ingin ikut rombongan teman-temannya menunaikan ibadah umroh sambil mengunjungi Masjidil Aqsa. Tentu saja aku menyambut gembira tawaran tersebut. Sudah 9 tahun sejak kami menunaikan ibadah haji dan kami belum berkesempatan untuk mengunjungi negeri Mekah dan Madinah lagi. Apalagi ditambah kunjungan ke Masjidil Aqsa, kami tertarik sekali. Yang menjadi kendala seperti biasa, apakah kami memiliki cukup dana dan apakah waktu kepergian bisa cocok dengan jadwal cuti kami. Karena kami pegawai biasa, tabungan yang kami miliki sudah punya pos tersendiri dan terus terang kami tidak memiliki pos ataupun cadangan untuk beribadah umroh. Begitupun untuk cuti selama 2 minggu, tentunya kami harus memberi tahu atasan kami jauh-jauh hari supaya tidak menghambat pekerjaan kelompok.
Ringkasnya, kami jadi berangkat, hanya dalam waktu 3 minggu menjelang waktu keberangkatan. Setelah kami membayar lunas, baru aku membaca daftar kunjungan (itinerary perjalanan). Ternyata ada juga jadwal ke Petra (Yordania) dan daerah bersejarah sekitar Yerusalem (Bethlehem, Hebron, Jerico). Masya Allah, tambah semangatlah aku mempersiapkan kepergian kami. Alhamdulillah, agen perjalanan (Malahati Tour) yang kami pilih adalah agen yang sudah biasa mengatur perjalanan ke Palestina/ Yerusalem, sehingga visa yang diajukanpun mudah didapat.
Jadwal keberangkatan bulan Februari tahun 2013 (sudah 3 tahun berlalu ternyata). Kami harus mempersiapkan diri untuk menghadapi udara dingin di Yordania dan Yerusalem. Padahal di Mekah dan Madinah, tidak begitu dingin. Di tulisan ini aku hanya menceritakan perjalananku di Yordania dan Palestina saja, karena aku ingin menceritakan perjalanan umroh di tulisan lain, berhubung antara keduanya mempunyai kesan dan pengalaman yang berbeda bagi aku pribadi.
Perjalanan pertama kami ke Yordania. Pesawat mendarat di bandara Queen Aliya, setelah kami menempuh perjalanan panjang dengan pesawat. Begitu pintu bandara terbuka, berhembuslah angin dingin dari areal luar bandara. Brrrrr…… ternyata musim dingin di kota Amman, lumayan dingin (sekitar 10 derajat Celsius), pantas banyak warga memakai jaket panjang tebal.
Jadwal kami di Yordania, mengunjungi Masjid Ashabul Kahfi, Masjid Nabi Syuaib, Death Sea, Wadi Musa dan Petra. Masjid Ashabul Kahfi dibangun di sebelah gua tempat tidurnya orang-orang penyembah Allah yang bersembunyi dari raja penguasa negeri yang penyembah berhala. Di dalam Al-Quran di surat Al-Kahfi (QS : 18), diceritakan mengenai pemuda-pemuda beriman ini, yang ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun di dalam gua tersebut. Lokasi persis gua masih menjadi perdebatan, karena di negara Turki, ada tempat yang juga diklaim sebagai gua Ashabul Kahfi. Kami juga napak tilas ke masjid yang didirikan di tempat beribadahnya Nabi Syuaib.
Di Yordania kami juga mengunjungi Danau Laut Mati (Death Sea), yaitu danau dengan kadar garam tertinggi, sehingga jika kita berenang di danau tersebut akan mengambang/tidak tenggelam. Daerah tersebut merupakan tempat bersejarah dimana kaum nabi Luth bermukim dan mendapat azab Allah karena kezaliman mereka (menyukai sesama jenis) dan tidak mau beriman kepada Allah SWT. Tempat tersebut dikenal sebagai Sodom dan Amurah. Pada suatu pagi, azab Allah menimpa mereka dimana daerah tersebut terguncang dan terbolak-balik. Sedangkan nabi Luth beserta kaumnya yang beriman, diselamatkan oleh Allah.
Di sekitar Danau Laut Mati banyak tempat peristirahatan/hotel dan juga toko-toko yang menjual aneka produk kecantikan yang berasal dari lumpur ataupun garam yang terdapat pada Danau Laut Mati. Sudah tentu aku ikutan membeli, untuk kenang-kenangan dan juga untuk dipakai. Siapa tahu memang membuat kulit kita halus dan mulus.
Puncak acara kami di Yordania adalah mengunjungi Petra. Petra ini cukup dikenal sebagai situs tempat wisata yang banyak dikunjungi. Karena penampilannya yang unik membuat daerah ini pernah dijadikan tempat lokasi shooting filem (yang saya ingat filem Indiana Jones dan Transformer). Petra merupakan situs yang dilindungi oleh UNESCO. Dulunya daerah Petra merupakan rute saudagar/pedagang dan tempat tinggal bangsa Nabatean yang ahli dalam membuat bangunan di batu dan pengairan. Kota tersebut didirikan pada tahun 9 sebelum Masehi dan beroperasi sampai tahun 40 Masehi.
Petra dikelilingi gunung batu dan pada salah satu gunung tersebut terdapat makam Nabi Harun AS. Penampilan situs Petra ini sangat unik, karena bebatuan di daerah tersebut berwarna merah jambu (pink) bukan kuning, coklat atau hitam seperti pada umumnya. Bangsa Nabatean membangun tempat ibadah, rumah dan ada juga teater. Masya Allah indahnya warna bebatuannya dan juga bangunan-bangunan yang dibangun. Arsitektur bangunan di Petra, sangat dipengaruhi oleh arsitektur Romawi. Dalam perjalanan kembali ke kota Amman dari Petra, kami sempat mapir di Wadi Musa yaitu 12 mata air yang terpancar dari batu merupakan berkah Allah kepada nabi Musa AS dan bani Israil.
Dari Yordania, perjalanan ziarah kami berlanjut ke negara Palestina yang berlokasi di dalam negara Israel. Walhasil untuk memasuki negara Palestina, imigrasi yang harus kami lalui adalah imigrasi Israel. Berdasarkan info dari pemandu wisata kami, kami harus tenang menanti pemeriksaan imigrasi yang kadang kala cukup memakan waktu. Terdengar juga bahwa untuk tour muslim, pemeriksaan ‘biasanya’ lebih lama dibanding tour yang lain. Agak aneh juga, apakah karena kami akan memasuki wilayah Masjidil Aqsa yang selalu menjadi perebutan berbagai pihak. Untuk wilayah Masjidil Aqsa, memang hanya bisa dimasuki oleh muslim, sedangkan untuk selain muslim, hanya bisa melihat sekeliling areal Masjidil Aqsa.
Jadwal perjalanan kami di Palestina dan Israel adalah mengunjungi dan bersholat di Masjidil Aqsa, melihat-lihat kota Jericho, mengunjungi Masjid Ibrahim di Hebron dimana terdapat makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq AS dan Nabi Yakub AS, mengunjungi tempat kelahiran Nabi Isa di kota Bethlehem, mengunjungi masjid Salman Al Farisi (sahabat Rasulullah SAW).
Kami menanti pemeriksaan imigrasi dengan sabar dan tenang sesuai pesan pemandu wisata kami walaupun pemeriksaan tersebut mamakan waktu lama. Miris melihat warga Palestina yang melewati perbatasan, pemeriksaannya sangat ketat, koper dan tas mereka dibuka secara terperinci. Bisa dibayangkan, betapa repotnya membereskan barang bawaan setelah dibongkar. Tambahan pula banya warga Palestina tersebut sudah cukup tua, jadi iba melihatnya. Mungkin saja petugas imigrasi Israel, lebih hati-hati terhadap bawaan warga Palestina karena banyaknya pemberontakan dan demonstrasi protes dari warga Palestina. Aku bersyukur hidup di negara damai, tidak ada curiga mencurigai seperti suasana perang.
Aku juga merenungi perjalanan panjang kota tua Yerusalem  (disebut Al Quds oleh Muslim) yang diakui sebagai kota suci dari 3 agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam). Bertahun-tahun yang lalu, kota Yerusalem sudah menjadi rebutan berbagai pihak. Salah satu tujuan dari perang Salib I (1096-1099) adalah memperebutkan kota Yerusalem dari pihak Muslim (orang Seljuk dan Turki).

Lolos dari pemeriksaan imigrasi yang melelahkan, kami menuju Yerusalem dimana hotel kami berlokasi. Sore itu juga kami sholat di Masjidil Aqsa. Yang namanya Masjidil Aqsa adalah wilayah dengan pelataran yang sangat luas. Di pelataran tersebut terdapat dua masjid yaitu Masjidil Haram dan Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock). Masjidil Aqsa adalah tempat suci umat muslim selain Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Di tempat itu, Rasulullah SAW menjejakkan kaki pada malam Isra’ Mi’raj menjelang beliau naik ke Sidratul Muntaha di langit ke 7 (Perjalanan Isra’ Mi’raj terdapat didalam Al Quran surat Al Isra). Masjidil Aqsa-pun pernah menjadi arah kiblat sholat sebelum Kabah di Mekah ditetapkan sebagai arah kiblat sesuai firman Allah pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 144.
Jadi bisa memahami kan, bagaimana mengharu birunya hatiku, bisa melaksanakan sholat di Masjidil Aqsa, bisa melihat-lihat isi masjid, bisa berinterkasi dengan jamaah masjid tersebut. Aku sempat bersholat di Masjidil Aqsa selama 3 hari (Syukur Alhamdulillah atas kehendak Allah). Aku juga amat sangat sedih dengan kondisi masjid yang sunyi senyap dengan jamaah yang tidak lebih dari 5 shaf (baris). Belum lagi para jemaah tersebut sebagian besar lansia. Apakah ini rekayasa Israel sehingga hanya kaum tua saja yang bersholat di Masjidil Aqsa.
Perjalanan ini banyak mengusik hatiku, karena aku menelusuri tempat-tempat Nabi yang disebut di dalam kitab suci Al-Quran. Kaum Yahudi mengajukan Yerusalem sebagai daerah Internasional (bukan hanya untuk muslim), karena disana juga (menurut kaum Yahudi) merupakan situs tempat kerajaan Nabi Daud (King David) dan Nabi Sulaiman (King Solomon). Namun sebenarnya raja-raja mereka tersebut adalah nabinya kaum muslim juga. Bagi muslim, daerah masjidil Aqsa tersebut, dulunya tempat yang disebut Baitul Maqdis tempat dimana Nabi-Nabi beribadah kepada Allah SWT.
Kunjungan kami selanjutnya adalah ke kota Hebron yaitu ke Masjid Ibrahim. Di dasar masjid, terdapat gua (15 meter bawah tanah) yang merupakan kuburan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq. Sedangkan areal dimana terdapat kuburan nabi Yaqub, dijadikan sinagoga oleh warga Yahudi. Tragisnya, di pintu masuk masjid, perajurit-perajurit Israel dengan senapan mesin laras panjang melakukan penjagaan. Bagaimana gitu rasanya, untuk memasuki masjid harus melalui tentara.
Di kota Hebron terdapat juga pabrik keramik yang memproduksi keramik cantik untuk alat rumah tangga maupun pajangan dengan lukisan-lukisan ciri khas kota Hebron. Ada lagi yang membuat hati saya pilu. Perbatasan area Palestina dan Israel ditandai dengan kawat berduri yang tinggi. Nyata benar beda kondisi dua wilayah. Wilayah Palestina terkesan kumuh dan tidak terawat sementara wilayah Israel bersih nyaman layaknya kota-kota di Eropa (negara maju).
Kami juga mengunjungi kota kelahiran Nabi Isa AS (menurut umat Nasrani) yaitu kota Bethlehem. Kota ini  termasuk wilayah Palestina dengan mayoritas beragama Nasrani. Tempat kelahiran Nabi Isa AS, sekarang sudah dibangun menjadi gereja yaitu Gereja Nativity. Bersyukur lagi aku bisa datang ke kota itu, kota yang begitu mendunia namanya karena yang lahir disana adalah tokoh yang sangat diagungkan oleh umat Nasrani. Bagi muslim, Nabi Isa AS adalah nabi yang banyak diberi mukjizat oleh Allah SWT dan beliau adalah nabi sebelum Rasulullah Muhammad SAW.
Salah satu jadwal kami di Palestina adalah mengunjungi kota Jericho. Kota ini merupakan kota tua yang telah berdiri sejak 9600 sebelum Masehi, terkenal sebagai penghasil kurma yang lezat. Di Jericho, kami bisa melihat biara-biara yang dibangun di gunung-gunung batu. Unik sekali pemandangannya. Tentunya kami tak lupa membeli kurma Jericho yang terkenal itu.
Pemandu wisata kami menawarkan wisata tambahan mengunjungi kota Tel Aviv, ibukota Negara Israel. Semua peserta tour sangat berminat, setelah beberapa hari kami napak tilas di kota-kota tua, tentunya akan sangat menyenangkan melihat kota modern di wilayah dengan peradaban kuno. Kami berpergian ke Tel Aviv di sore hari menjelang malam. Perjalanan melalui jalan tol mulus dan seperti biasa wilayah Israel sangat modern, teratur, bersih seperti halnya kota-kota di Eropa. Kami berhenti di daerah tua di Tel Aviv yaitu Jaffa dan dilanjutkan berhenti di pinggiran Laut Mediteranian dari wilayah Tel Aviv. Benar-benar kontras dengan perjalanan kami sebelumnya yang banyak menempuh daerah tua. Saat itu kami berjalan-jalan di kota modern.
Beruntung kami menginap di Yerusalem sehingga banyak kesempatan kami untuk melihat-lihat wilayah Yerusalem. Untuk menuju Masjidil Aqsa dari hotel kami, kami harus menempuh jalan-jalan tua berupa lorong yang telah dibangun sejak jaman Romawi. Pintu gerbang untuk menuju wilayah ibadah dari hotel kami, namanya Herodes Gate. Kami juga berkesempatan melihat Tembok Ratapan (Wailing Wall), yang merupakan tempat beribadah orang Yahudi. Tembok itu merupakan tembok Masjidil Aqsa dari sisi luar.
Yang membuat aku terkesan, perempuan Yahudi yang beribadah di pinggir tembok, memakai tutup kepala (seperti kerudung) berwarna hitam. Begitupun juga, aku bertemu dengan beberapa warga Yahudi Ortodok. Lelakinya memakai topi dan berjanggut sementara kaum perempuannya memakai tutup kepala sejenis kerudung berwarna hitam. Jadi asalnya Allah SWT memang memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup aurat (kepala/rambut), seperti biarawati Katolik, Yahudi Ortodok dan Muslim. Itu kesimpulan aku pribadi…masih bisa diteliti dan diperdebatkan lebih lanjut. Yang jelas, karena aku beragama Islam, aku mengetahui umat muslim memang diperintahkan untuk menutup aurat (diantaranya rambut) dan perintah tersebut jelas terdapat pada Al-Quran.
Perjalanan ziarah selama seminggu itu sungguh mengesankan bagiku. Terus terang aku berniat untuk melakukan perjalanan ziarah seperti ini lagi, bila memungkinkan Insya Allah. Aku bisa membayangkan perjuangan para Nabi, agar kaumnya menyembah Allah SWT semata.
Untuk menggugah teman-teman, aku menyertakan juga sebagian foto-foto perjalanan aku ini.

 

Belitung Yang Eksotik

Standar

Semenjak filem Laskar Pelangi ditayangkan, pulau Bangka dan Belitung menjadi pulau yang populer sebagai tujuan wisata. Akupun terkontaminasi dengan gambar-gambar indah pulau tersebut. Jadi aku merencanakan untuk mengajak keluargaku berlibur ke pulau tersebut. Karena waktu yang terbatas, aku hanya memilih pulau Belitung (tidak termasuk pulau Bangka), yang menurut pengamatanku sangat indah dan berbeda dari pulau-pulau lainnya di Indonesia. Terima kasih sekali kepada Andrea Hirata (pengarang buku Laskar Pelangi) dan Mira Lesmana beserta Riri Riza (produser / sutradara filem Laskar Pelangi), yang menginspirasi kita menjadi semakin mencintai Indonesia dengan mengarang cara dan membuat filem dengan latar belakang negeri tercinta.

Kami pergi ke Belitung di liburan sekolah bulan Desember tahun 2014. Di pulau tersebut tersedia bandara yaitu bandara Tanjung Pandan, yang sangat memudahkan kita mencapai pulau tanpa harus transit. Selain itu pula, armada pesawat yang menuju kesana tidak hanya satu, sehingga kita punya pilihan. Fasilitas untuk wisatawan sangat lebih dari cukup, banyak hotel bagus, kendaraan ataupun kapal sewaan, paket wisata dll. Pulau Belitung terlihat sekali rajin berbenah diri dan menyadari bahwa pariwisata adalah sumber pendapatan daerah yang sangat mendukung kemajuan daerah.

Namun berdasarkan pengalaman dan juga info dari pemandu wisata kami, waktu paling baik ke pulau Belitung adalah bulan Juni, Juli, Agustus dimana langit cerah dan air jernih/bening. Pada bulan-bulan tersebut, kita dapat berwisata secara maksimal mengunjungi berbagai pulau sekitar, snorkeling, dll. Kami pasrah saja karena sudah terlanjur pergi di bulan Desember, ya ikut saja dengan rekomendasi pemandu. Benar saja, ketika kami sampai di pulau Belitung, cuaca mendung tebal disertai hujan. Pemandu menyampaikan, jika keesokan harinya cuaca masih hujan, kemungkinan acara berkeliling pulau tidak jadi dilakukan karena ombak dan angin akan cukup besar. Sebagai gantinya kami akan berjalan-jalan di pulau saja. Kecewa ya kecewa (kalau tidak jadi keliling pulau), tapi daripada beresiko di tengah laut dengan gelombang tinggi dan angin kencang, tidak deh.

Setelah makan siang, kami berkeliling pulau melihat pantai yang indah dengan batu besar bertebaran. Susah menggambarkan keindahaannya karena unik dan eksotik. Entah dari mana bebatuan besar tersebut berasal, karena di pulau Belitung dan sekitarnya tidak ada gunung yang biasanya tempat batu-batu besar berasal. Pemandu wisata kamipun tidak mempunyai info dari mana batu-batu tersebut berasal. Katanya, batu-batu besar seperti itu ada juga di kepulauan Natuna yang letaknya jauh dari pulau Belitung namun segaris (maaf aku tidak tahu apakah garis bujur atau garis lintang). Informasi ini tidak menjawab darimana berasalnya batu-batu besar tersebut. Yang jelas….indah, unik, eksotik dan pas sekali berpadu dengan pasir putih dan laut biru bening. Pantai yang kami kunjungi, pantai Tanjung Tinggi dan pantai Tanjung Kelayang.

Keesokan harinya pada jam sarapan, anak-anak sangat antusias memantau cuaca, walaupun sebelumnya sudah melakukan riset melalui info BMKG. Disebutkan cuaca akan mendung dan hujan, tapi boleh saja kan kami berharap mendung tipis saja dan hujan gerimis sebentar saja. Setelah mengamati keadaan cuaca dan pemandu berunding dengan pemilik kapal, akhirnya diputuskan kami berangkat juga untuk berkeliling pulau, tapi diutamakan pulau Lengkuas saja, untuk pulau lainnya tergantung cuaca. Horeeee……anak kami langsung ceria. Kami gembira juga tapi masih agak waswas melihat cuaca.

Selama di kapal, ternyata angin bertambah kencang, sehingga kapal kami terombang-ambing diatas ombak yang lumayan besar dan tinggi. Aku si penggemar petualangan, ya menikmati bergoyang-goyang di kapal dan terpaan ombak lautan yang masuk ke kapal seaakan menyambut perjalanan kami. Putri bungsu kami pucat, karena memang dia kurang suka naik kapal (mungkin karena pengalaman pertamanya naik kapal, kena ombak besar dan mabuk laut). Aku menghibur anak-anak dan berusaha menggambarkan bahwa yang kami lalui adalah pertualangan yang seru.

Akhirnya terlihat juga pulau Lengkuas dengan mercusuarnya. Bebatuan besar bertebaran di sekeliling pulau. Tidak habis kami memuji keindahan ciptaan Allah ini. Kami sibuk memanjat bebatuan yang bisa dipanjat sembari mengagumi keelokan pemandangan sekitar. Puas dengan bebatuan kami berkunjung ke mercusuar yang sudah ada sejak jaman Belanda. Menara mercusuar masih bisa dinaiki untuk yang berminat… rugi deh kalau gak naik. Diatas juga kami terpesona dengan pemandangan indah sembari kami dterpa angin kencang di ketinggian. Selain itu kami juga melihat-lihat museum kecil yang menyimpan foto-foto lama pulau Lengkuas.

Puas menikmati pemandangan indah, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya seakan air bah tumpah ke pulau. Alhamdulillah ada tempat berteduh, bangunan di sekitar mercusuar dan museum dimana kami bisa beristirahat sambil makan siang yang merupakan paket wisata. Hmmm enak benar, paket wisata sudah termasuk pemandu, sewa kendaraan, sewa kapal dan makan. Aku hanya mencari praktisnya, kalau mau lebih hemat, tentunya bisa mencari-cari dan mengatur sendiri. Setelah hujan agak reda, kami berangkat dari pulau Lengkuas menuju pulau Kepayang yang dekat saja.

Di pulau Kepayang bertemu lagi dengan bebatuan besar, tetapi selain itu di pulau tersebut terdapat penangkaran penyu. Sudah pasti anak-anak kami senang sekali melihat penyu-penyu yang siap dikembalikan ke laut. Penyu tersebut bisa juga dibelai dan diangkat, sekedar memuaskan keingintahuan anak-anak. Dari pulau Kepayang, kami kembali ke pulau Belitung untuk sekali lagi melihat-lihat dan sekaligus juga berfoto di pantai Tanjung Tinggi. Shooting filem Laskar Pelangi dilakukan di pantai ini, bahkan dibuatkan prasastinya.

Menjelang kembali ke Jakarta, kami diajak oleh pemandu ke Rumah Adat Belitung dan Pusat Oleh-oleh. Di rumah Adat, kami bisa melihat-lihat aneka kebudayaan Belitung dan juga foto-foto lama pulau tesebut. Untuk buah tangan, sempatkanlah mampir di Pusat Oleh-oleh. Ada saja yang bisa dibeli dari berbagai kerupuk, kue, kerajinan tangan, kaos/t-shirt dengan gambar/tulisan Belitung.

Ringkasnya, liburan di Pulau Belitung sangat menyenangkan dan memanjakan mata karena pemandangan indahnya. Aku juga menyertakan beberapa foto kami disana.

Bagaimana Kabar Lido ??

Standar

Sebagai penduduk Jakarta sejak lama, Lido adalah salah satu tujuan liburan keluarga aku pada waktu  aku masih kanak-kanak. Lido memang sudah ada sejak dulu. Apa keistimewaan Lido? Apakah sekarang masih bisa dikunjungi seperti dulu? Sekian lama, pertanyaan itu menari-nari di kepalaku. Terutama semenjak anak keduaku Ario bersekolah di Cibadak, Jawa Barat. Jalan menuju Cibadak melewati tempat wisata Lido.

Kalau melihat sepintas dari jalan raya menuju Sukabumi, danau Lido masih ada seperti dulu. Saat ini di sekelilingnya banyak restoran atau mungkin warung. Kesannya agak penuh dan pemandangannya terhalang oleh restoran/warung tersebut. Ada juga restoran yang terletak di atas danaunya, makin penuh saja kan. Dalam ingatan saya, Lido jaman saya kecil sudah hampir 40 tahun yang lalu, lapang sekali, pemandangannya lepas. Tapi yang penting danaunya masih ada, tidak kering.  Mau disebut danau, rasanya terlalu kecil mungkin bisa disamakan dengan Situ (danau yang lebih kecil) tapi dari dulu sebutannya juga danau bukan situ.

Desember tahun lalu, kami sekeluarga menyempatkan untuk mampir ke Lido, penasaran juga penampilan terakhirnya seperti apa. Di pinggir danau ada hotel yang bagus, tetapi sebaiknya  reservasi  dulu kalau musim libur. Kami memilih kamar yang pemandangannya ke danau. Melihat danau dari jendela hotel, rasanya damai dan nyaman karena eloknya pemandangan. Di hotel, dipajang foto-foto Danau Lido di jaman dulu sekali (sebelum tahun 1950) beserta warga Belanda yang merintis bangunan di sekitar danau.
Kami juga melihat-lihat sekitar hotel, dimana dulunya ada padang golf, namun saat ini sedang direnovasi. Pemandangan dari padang golf tersebut lebih indah lagi, karena bisa melihat 2 gunung. Satu sisi, gunung Gede dan sisi lainnya gunung Salak.  Nikmat sekali pemandangannya buat kami yang biasa disekitar perkotaan dan gedung.

Untuk melihat-lihat sekitar lokasi hotel, kami menyewa mobil golf. Seru juga menaiki mobil itu, persis mobil mainan, tapi jangkauannya cukup jauh. Di sekitar hotel juga ada areal bermain untuk anak remaja, bisa naik motor ATV dan bermain tembak-tembakan. Di danau, kita bisa menyewa rakit untuk mengelilingi danau.  Anak-anak kami menikmati liburannya. Jadi untuk yang mencari tempat liburan yang lokasinya tidak jauh dari Jakarta dan dengan pemandangan apik dan cuaca yang cukup sejuk, Lido bisa menjadi satu alternatif.

Menurut info yang kami baca, di Lido juga tempat berolahraga terbang layang. Namun lokasi bukit tempat  terbangnya, kami tidak tahu pasti dan kami juga tidak mencari-cari karena tidak ada satupun dari kami yang pernah mencoba terbang layang.

Kabar terakhir yang aku dengar, di sekitar Lido akan dibangun Disneyland atau Theme park/taman hiburan yang besar oleh pengusaha terkenal. Kebayang kan betapa akan ramainya daerah Lido jika ada taman hiburan seperti itu. Belum lagi jalan sekitar yang bakal lebih macet dari saat ini. Semoga pemerintah daerah sudah memikirkan benar pembangunan taman hiburan tersebut beserta dampaknya.  Kami berharap keasrian daerah pegunungan yang sudah menjadi ciri khas disana tidak dirusak oleh pembangunan dan beton-beton.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image