Kunjungan Singkat ke Maroko

Standar

Kali ini aku ingin berbagi pengalamanku mengunjungi negara Maroko. Walaupun kunjungan ini bisa dikatakan singkat sekali hanya 4 hari, namun ada saja yang membuat aku terkesan dimanapun aku berkunjung.

Ada kisahnya juga kenapa akhirnya kami (aku dan suami) memutuskan memilih kunjungan yang hanya 4 hari. Aku pernah menceritakan disini bahwa suamiku dan aku 2 pribadi yang berbeda tapi kami sama-sama suka jalan berpergian. Walaupun sama-sama suka jalan tetapi selera jalannya juga berbeda. Suamiku tidak begitu senang berpergian luar negeri, begini alasannya :

  • Indonesia masih banyak yang bisa dijelajahi 
  • Tidak mau meninggalkan rumah terlalu lama
  • Ribet urusan administrasi harus menyiapkan paspor dan kadang visa
  • Repot harus lewat imigrasi
  • Kebanyakan memerlukan budget yang lebih besar dibanding berpergian di Indonesia
  • Perlu beli uang asing, boros kena kurs jual beli
  • Tidak nyaman duduk di pesawat berjam-jam untuk perjalanan jauh
  • Persiapan lebih banyak dibanding pergi di dalam negerti, misal kalau cuaca beda harus menyiapkan perlengkapan yang berbeda

Intinya suamiku lebih senang dengan perjalanan darat yang bisa dijangkau dengan mobil dan bisa bersantai tidak dikejar jadwal pesawat. Padahal kalau bagi aku, hal-hal yang menjadi alasannya tersebut justru menjadi tantangan yang jika kita bisa melewatinya menjadikan perjalanan kita sangat bernilai dan mengesankan. Cukup ya cerita perbedaan, lain kali kita bahas selera jalan.

Bagi aku kalau sudah membayar tiket pesawat mahal dan waktu perjalanan pesawatnya lama, sekalian saja perginya yang lama (lebih dari seminggulah). Sementara suamiku gak mau meninggalkan rumah dan cuti yang terlalu panjang sampai melebihi 2 minggu. Ya sudah, kami berkompromi dan sepakat untuk berpergian 12 hari saja.

Akhirnya kami memilih berpergian ke Maroko dan Andalusia (Spanyol) dengan lama kunjungan 12 hari. Seperti sudah diceritakan diatas, suamiku merasa kunjungan 12 hari tersebut sudah cukup lama, jadi di Maroko 4 hari dan di Spanyol 7 hari. Tujuan tersebut memang sudah masuk keinginan lama kami. Suami mengajak 2 temannya yang sudah biasa jalan bareng. Memilih teman perjalanan ini ada seninya juga, kapan-kapan aku berbagi pengalaman memilih teman perjalanan di postingan lain.

Singkat cerita, aku dan teman suamiku mencari-cari biro perjalanan untuk membantu perjalanan kami. Urusan pilih memilih ini dilakukan oleh ibu-ibu semua, karena bapak-bapaknya percaya saja dan ingin tinggal beres. Setelah kami sepakat dengan biro perjalanan yang dipilih, mulailah kami mempersiapkan keberangkatan. Untuk warga Indonesia yang masuk ke Maroko tidak diperlukan Visa. Jadi teman-teman yang suka berpergian, silahkan memasukkan tujuan Maroko ke target jalan-jalan.

Keinginanku ke benua Afrika mengunjungi Mesir dan Kenya (safari) belum terealisir, malah jadinya pergi ke Maroko negara di benua Afrika juga. Kalau melihat peta, Maroko terletak di benua Afrika di bagian Utara sebelah Barat (asal sebutan Maroko – Maghribi – yaitu negara yang letaknya paling Barat di Benua Afrika). Aku membayangkan lamanya perjalanan kesana (yang biasanya suamiku hindari).. namun yang penting suamiku sudah setuju ikut.

Kami naik pesawat Qatar Airlines yang berarti harus transit di Doha (Qatar). Tidak apa-apalah transit, selama bandaranya nyaman, jadi ingat pengalaman transitku yang ini…. nauzubillah jangan sampai terjadi yang seperti. Benar saja perjalanannya lamaaa sekali…. dari Jakarta ke Doha 8 jam 45 menit, kemudian transit 3 jam, lanjut perjalanan dari Doha ke Casablanca (Maroko) selama 7 jam 40 menit. Bisa dibayangkan, bagaimana suamiku ‘menikmatinya’.

Kami mendarat di bandara Internatonal Mohammed V dan sudah dijemput guide kami bernama Kusnadi, mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah untuk S2. Alhamdulillah, guide kami orang Indonesia, sehingga mempermudah komunikasi. Dari bandara kami langsung menuju kota Marrakesh dimana kami akan menginap. Perjalananan kurang lebih 2,5 jam dengan pemandangan lebih banyak ladang pertanian.

Marrakesh terkenal sebagai kota budaya dan kota turis. Marrakesh sudah berdiri sejak tahun 1070, pendirinya Emir Abu Bakar Ibnu Umar, raja dari kerajaan Almoravid, Maroko Penampilan kota sangat unik dikelilingi tembok berwarna kemerahan, sehingga kadang dijuluki Kota Merah. Ada bagian kota yang merupakan kota tua yang disebut medina, dikelilingi tembok (seperti benteng) dan ini termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO. Kota Marrakesh terletak di kaki pegunungan Atlas, tempat orang berlibur bermain salju. Suhu pada bulan Desember itu cukup dingin 10-15 derajat. Terlihat dari kejauhan di puncak gunung Atlas, salju tampak cukup tebal. Jadi biarpun ‘image’ benua Afrika itu panas, tapi ternyata di Maroko cukup dingin pada musim dingin dan bersalju pula di daerah pegunungan. Selain pegunungan bersalju Atlas, Maroko juga mempunyai gurun yaitu Gurun Sahara. Jadi Gurun Sahara memang melintasi beberapa negara termasuk Maroko.

Di Marrakesh kami mengunjungi tempat-tempat indah bersejarah yang biasa dikunjungi oleh turis yaitu Bahia Palace, Masjid Kutubia, Jamaa El Fnaa. Kami juga diajak melihat toko rempah Spice Pharmacy di Old Medina.

Bahia Palace dibangun oleh pejabat negara (Vizier) Si Moussa di Marrakesh pada tahun 1860an. Istana tersebut juga menjadi tempat kediaman Vizier sebelum diambil alih oleh pemerintah sehingga menjadi tempat bersejarah. Banyak spot foto unik dan antik di istana tersebut, begitupun dengan taman-tamannya. Aku banyak mengambil foto di kameraku yang raib bersama tas saat aku kecurian di Granada (Spanyol) Foto-foto yang masih terselamatkan, yang aku foto dengan handphone. Walaupun handphone juga termasuk yang hilang, akun ‘google’ku secara otomatis mem’back-up’ semua foto yang aku ambil.

Kami juga mengunjungi masjid Kutubia, masjid kuno yang dibangun tahun 1147. Masjid antik ini mempunyai 1 menara. Disamping masjid ada taman dan air mancur yang menyejukkan. Pada sore hari kami berkunjung ke Jamaa El Fnaa, seperti alun-alun di negara kita tempat pusat kegiatan budaya, ekonomi. Ada pertunjukan seni dan sirkus, ada pedagang hasil-hasil kerajinan, makanan dan minuman khas Maroko. Turis selalu mampir ke Jamaa El Fnaa jika ke Marakesh untuk merasakan geliat kegiatan warga setempat

Di Marakesh, jangan lewatkan untuk mencoba jus jeruk segar. Jusnya benar-benar segar tanpa campuran air ataupun gula, rasanya manis-manis asam. Harganya lumayan murah, sekitar 15 ribu rupiah, padahal disajikan di gelas besar. Aku tidak cukup membeli 1 gelas…. kalau perut sanggup, ingin menambah terus. Di hotel juga selalu disajikan jus jeruk segar. Rupanya Maroko memang terkenal sebagai penghasil jeruk. Selain itu ada juga jus yang tidak kalah segar disana, jus delima. Buah delimanya besar-besar berwarna merah merona, rasanya manis asam. Delimanya tidak berasa asam sepet seperti delima di Indonesia.

Makanan khas Maroko yang harus dicoba adalah tajin… yaitu daging/ayam/ikan dan sayuran dimasak dengan aneka bumbu timur tengah di dalam panci dari tanah liat dengan tutup kerucut. Cara memasaknya dikukus, sehingga air kukusan yang terkumpul ditutup kerucut kembali ke masakan lagi, sehingga menjadi kuah dan membuat rasa masakan sangat empuk (juicy) dan menyerap bumbu. Aku suka sekali rasanya karena aku penggemar makanan yang dikukus. Harganya lumayan mahal karena bahan serta bumbunya lengkap dan pembuatannya cukup memakan waktu. Selain itu pastry, roti-roti dan kue-kue di Maroko, lezat -lezat dengan penampilan yang memikat. Kata guide kami, karena Maroko jajahan Perancis, kuliner dan cara memasak serta menghidangkan makanan terpengaruh gaya Perancis yang terkenal dalam urusan kuliner.

Cendera mata khas Maroko yang banyak aku temukan adalah karpet dan hambal dengan motif khas, kerajinan kulit, bumbu-bumbu dan herbal khas Afrika dan Timur Tengah.

Satu hal lagi yang terkenal dihasilkan Maroko adalah Argan Oil (Minyak Argan). Argan oil dibuat dari ektrak biji pohon Argan yang hanya tumbuh di Maroko. Argan oil dimanfaatkan untuk kecantikan dan pengobatan. Untuk kecantikan bisa melembabkan kulit, membuat kulit kencang dan awet muda, menyuburkan rambut dll. Untuk pengobatan bisa membasmi jerawat, eksim dll. Menurut penelitian Argan oil banyak mengandung vitamin A dan E, asam lemak omega 6, asam linoleat dll. Kami mengunjungi Spice Pharmacy of old medina yang memproduksi Argan Oil dan produk-produknya. Harganya… wow lumayan mahal, sebanding dengan manfaatnya menurut orang-orang yang sudah mencobanya.

Di Maroko kami juga menginap semalam di kota Rabat, ibukota negara Maroko. Suasana Rabat seperti ibukota umumnya banyak perkantoran. Yang istimewa di Rabat ada jalan bernama jalan Sukarno, jalan Jakarta, jalan Bandung karena kedekatan hubungan antar negara sesama negara dunia ketiga dan negara Islam. Rue (jalan) Sukarno, adalah jalan yang ramai dilintasi kendaraan, tapi turis Indonesia selalu berusaha menyempatkan diri berfoto di jalan itu begitupun aku.

Tempat- tempat yang kami kunjungi di Rabat yaitu Qasbah Oudayas, Hassan Tower, Mausoleum Muhammad V. Qasbah Oudayas bangunan yang dulunya berfungsi antara lain sebagai benteng, tempat ibadah, tempat tinggal. Saat ini menjadi musium yang antik dengan tembok berwarna kemerahan. Hassan Tower bangunan yang sejatinya dibangun sebagai menara masjid terbesar di dunia. Namun menara tidak jadi terselesaikan karena pencetus awal yaitu Sultan Yakub Al Mansur meninggal pada tahun 1199 (4 tahun setelah pembangunan dimulai). Sisa-sisa bangunan saat ini termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO. Mausoleum Muhammad V adalah tempat pemakaman Sultan Mohammed V, Raja Hasan II dan Pangeran Abdallah. Lokasinya berdekatan dengan Hassan Tower, jadi kami bisa berjalan kaki dari Hassan Tower.

Kami juga mengunjungi Masjid Hassan II di kota Casablanca. Kota Casablanca dikenal sebagai kota bisnis dan punya ‘sister city’ di Indonesia yaitu Jakarta. Ini persaudaraan yang tidak mempunyai kemiripan, namun karena adanya hubungan baik antara negara Maroko dengan Indonesia. Sebagai ‘sister city’, Jakarta menamakan satu jalan utama di daerah kuningan, dengan nama Casablanca.

Kami sempat sholat di Masjid Hassan II. Masjid ini sangat luas dengan interior yang menawan. Setelah selesai sholat, aku tak puas-puas memandang atap dan dinding masjid berupa kayu dan marmer yang diukir. Letak masjid ini juga sangat strategis, dipinggir Samudra Atlantik. Negara Maroko berbatasan dengan 2 laut/samudra yang sangat terkenal yaitu Samudra Atlantik dan Laut Mediterrania (Laut Tengah). Jadi kita bisa memandang Samudra Atlantik dari masjid.

Hari terakhir kami bersiap ke Tangier, daerah dimana pelabuhan berada, untuk naik ferry menyeberangi selat Gilbraltar menuju negara Spanyol.

Kunjungan 4 hari yang berkesan walaupun terasa singkat. Rasanya jika ada kesempatan, umur, Insya Allah aku ingin mengunjungi negara ini lagi berkunjung ke tempat yang belum sempat dikunjungi seperti kota Fez, kota Chefchaouen, Ait-Ben-Haddou, Merzouga (gurun Sahara), dll dan juga mencoba Al-Boraq kereta ‘bullet train’ di Maroko.

#Maroko

Kelimutu Yang Indah

Standar
Kelimutu Yang Indah

Aku ikut teman-temanku ke Labuan Bajo tapi teman-temanku menuju pelabuhan sedang aku menuju bandara. Aku berhasil mengajak suamiku untuk berlibur akhir minggu di Kupang. Jadi kami janjian bertemu di bandara Ngurah Rai, untuk lanjut terbang ke Ende. Aku bersemangat karena akan bertemu suami dan berkunjung ke Ende pertama kali.

Akhirnya aku berkesempatan melihat danau Kelimutu yang terkenal itu. Sebenarnya lebih tepatnya, disempat-sempatkan karena aku sudah berada di Indonesia Timur saat itu, jadi mau sekalian ceritanya. Setelah berkunjung ke Wae Rebo, semua teman-teman seperjalananku kembali ke Labuan Bajo untuk meneruskan wisata ke Taman Nasional Komodo. Aku tidak mengikuti rombongan teman karena baru 3 bulan sebelumnya, aku dan keluarga berwisata ke Taman Nasional Komodo selama 4 hari. Masih melekat di ingatan keindahan Pulau Komodo, pantai dan lautnya. Kapan-kapan lagi, kami kembali kesana.

Sebenarnya aku ingin lebih lama di Ende, bila perlu menyambung lagi via perjalanan darat ke daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur. Berhubung suamiku hanya bisa cuti 1 hari dan anak-anak juga lagi musim ulangan tengah semester, ya cukuplah 2 hari saja di Ende.

Aku telah memesan mobil sewaan beserta supir yang bisa menjadi pemandu wisata (guide) juga. Julio nama guide kami, sudah mengingatkan dari satu minggu sebelumnya, bahwa hanya provider Telkomsel yang signalnya bagus di Ende. Jangan sampai, begitu aku tiba di Ende, tidak bisa menghubungi ataupun dihubungi Julio. Yaaa…. aku kan sejak lama pakai SIM Card dari Indosat, kan repot ya ganti-ganti nomor. Tolonglah provider selain Telkomsel, tambah jaringan di Nusa Tenggara Timur, ini harapanku. Masih bersyukur suami memakai 2 SIM Card dan salah satunya Telkomsel, jadi aku tidak perlu membeli yang baru. Urusan komunikasi dan on line ini sangat penting bagi pejalan (traveller). Bukan buat update status dan foto (ini fungsi ke berapa bagi aku), tapi buat mencari informasi, lokasi dan berkomunikasi. Kalau bisa memanfaatkan teknologi untuk membantu hidup kita, kenapa tidak memanfaatkan semaksimal mungkin. Catatannya, jalur internet dan komunikasinya juga harus super bagus. Indonesia masih harus banyak berbenah diri di bidang ini, menurut aku pribadi.

Aku bertemu suamiku di bandara Ngurah Rai dan kami berlanjut lagi terbang menuju bandara H. Hasan Aroeboesman di kota Ende. Alhamdulillah, perjalanan tepat waktu dan begitu mendarat, Julio sudah menanti kami. Kami memilih menginap di desa Moni, yaitu desa di kaki gunung Kelimutu dan berlokasi terdekat menuju Kelimutu. Tujuan utama kami memang ingin melihat Danau Kelimutu.

Selama perjalanan ke Moni, Julio menceritakan pengalamannya membawa tamu-tamu. Yang paling menggiurkan adalah perjalanan daratnya dari Maumere di sebelah Timur propinsi Nusa Tenggara Timur ke Labuan Bajo di sebelah Barat. Melewati derah Ruteng di tengah. Kami cuma berharap semoga ada kesempatan, Insya Allah, karena pada dasarnya aku dan suami sangat suka perjalanan darat mengendarai mobil. Selama perjalanan banyak tempat-tempat yang bisa dieksplorasi namun kendalanya kami harus menyediakan waktu yang panjang untuk perjalanan darat yang bisa dinikmati.

Selain itu Julio juga menawarkan berhenti di tempat-tempat yang pemandangannya indah yang bisa dilihat dari pinggir jalan. Aku tidak ambisius ingin mengunjungi banyak tempat karena sadar waktu kunjungan kami lumayan singkat. 

Kami menginap di rumah penduduk yang menyewakan kamar untuk wisatawan (homestay). Kami harus istirahat malam itu karena besok pagi kami akan berangkat dini hari untuk melihat matahari terbit. Udaranya lumayan dingin karena desa Moni terletak di kaki gunung (tingginya kurang lebih 700m di atas permukaan laut).

Dini hari jam 3.30, Julio sudah menjemput kami. Kondisi di luar hotel masih gelap gulita, namun demi mendapat pemandangan indah kami rela saja berangkat gelap-gelap. Kami hanya berharap disana tidak berkabut dan matahari terbit bisa dilihat. Dalam 20 menit saja, kami sudah sampai di pintu masuk Taman Nasional Kelimutu. Untuk menuju danau Kelimutu, kami harus trekking dari pintu masuk kurang lebih 30 menit dengan berjalan santai. Jalan menuju danau Kelimutu tidak curam dan mudah dijalani.

Saat aku trekking sudah terasa kabut mulai turun. Kami sudah siap kalau pas matahari terbit udara diselimuti kabut. Paling-paling fotonya kurang indah dan bisa-bisa danau tertutup kabut juga. Melihat destinasi wisata di alam terbuka, harus siap dengan kondisi alam yang kurang bisa dinikmati misalnya berkabut tebal, hujan lebat, angin kencang. Rejeki-rejekian kata orang. Aku berpikir sederhana saja, alhamdulillah bisa sampai disana, nikmati saja apa yang bisa dinikmati. Siapa tahu lain waktu bisa kesana lagi untuk melihat pemandangan yang lebih baik.

Begitu kami sampai di sekitar danau, kabut semakin tebal dan sulit untuk melihat dari kejauhan. Danau hanya bisa dilihat dari jauh karena ada pagar yang membatasi, demi keamanan. Tunggu punya tunggu sang surya terbit, tidak ada tanda-tanda terlihat, karena kabut malah semakin tebal. Memang kami belum dapat rejeki buat melihat sang surya terbit di Danau Kelimutu. Bukan sekali ini saja kami tidak berhasil melihat matahari terbit tanpa terhalang kabut, kami pernah mengalami yang hal yang sama di Bromo dan Bukit Sikunir (Dieng).

Kami bisa melihat matahari setelah terbit tinggi dan agak terang, kabut mulai menipis dan kami bisa melihat keindahan danau. Dua danau terletak berdekatan, keduanya berwarna biru toska sangat cerah dan indah. Sedangkan satu danau terletak agak terpisah dan warnanya biru gelap. Nama ketiga danau tersebut, lumayan sulit dihafal yaitu Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, Tiwu Ata Polo dan Tiwu Ata Mbupu. Warna danau bisa berubah tergantung kondisi gunung dan material yang terdapat di dalam di danau (menurut pakar). Dari foto yang diambil oleh Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan, terlihat bahwa danau pernah berwarna merah, putih, biru terang, biru gelap. Penduduk lokal percaya bahwa danau Kelimutu adalah tempat bersemayamnya arwah orang meninggal.

Berhubung kabut cukup tebal, pemandangan yang kami lihatpun agak terbatas. Kabut sempat hilang sesaat namun tidak berapa lama turun kembali dan menebal. Setelah cukup puas melihat pemandangan yang bisa dilihat kami trekking turun menuju gerbang masuk Taman Nasional Kelimutu.

Kami kembali menuju penginapan untuk sarapan dan berkemas karena sore harinya kami pulang ke Jakarta. Kami ‘check out’ dari penginapan dan rencananya Julio akan membawa kami ke desa adat Wolongai. Julio telah memperhitungkan waktu agar kami tidak terlambat ke bandara.

Dalam waktu sejam saja kami sudah sampai desa Wolongai. Di pintu masuk, kami disambut pohon beringin tua yang akarnya sudah meruak kesamping. Rumah adat berbentuk seperti kerucut yang atasnya terpotong, beratap ijuk. Ada beberapa rumah berjejer, sangat unik dan antik. Aku suka sekali melihat rumah adat di Indonesia, semua dibangun mengikuti kearifan lokal dengan filosofi dan makna tertentu. Semoga selalu terjaga rumah-rumah tradisonal tersebut. Baru saja aku mengunjungi Wae Rebo dengan rumah adat Mbaru Niang dan di Wolongai menemui rumah adat dengan bentuk lain yang sama uniknya. Di desa tersebut terdapat juga batu tersusun seperti panggung untuk tempat acara adat.

Kami melihat-lihat desa Wolongai didampingi bapak Aloysius Leta, seorang warga desa Wolongai yang piawai membuat patung ukiran dari kayu. Konon desa Wolongai telah berumur kurang lebih 800 tahun. Bagus ya masih terjaga sampai saat ini.

Begitulah perjalanan singkat aku ke Ende. Aku masih berkeinginan berkunjung ke Taman Nasional Kelimutu lagi, berharap dapat melihat danau Kelimutu saat udara cerah.

Suka Belanja

Standar

Disini aku ingin berbagi cerita mengenai pengalamanku berbelanja di negara orang, di tempat belanja yang direkomendasikan oleh agen perjalanan. Aku hanya bercerita pada kondisi saat aku berpergian dengan memakai agen perjalanan. Biasanya acara berbelanja ini termasuk dalam jadwal jalan-jalan yang sudah disusun (itinerary). Pemandu wisata akan membawa kita ke toko yang memang tempat turis berbelanja.

Berberapa negara memang mewajibkan wisatawan yang datang ke negaranya untuk mampir ke toko yang menjual barang-barang khas produksi lokal, jika kita berpergian memakai agen wisata disana. Seperti saat kita di Turkey, pasti oleh pemandu wisata kita diajak mampir ke toko karpet, baju dari kulit, keramik. Saat kita ke Bangkok, diajak ke pabrik/toko perhiasan batu Rubi dan toko madu. Saat kita ke Beijing dan Shanghai, ada jadwal ke toko perhiasan batu zamrud (jade), sutra, jamu untuk obat.

Berdasarkan pengalamanku, toko-toko wajib kunjung itu banyak menjual barang-barang yang lumayan mahal. Menurut pemandu wisata, memang produk yang dijual tersebut berkualitas premium (bahan dan disainnya). Biasanya, di toko-toko tersebut, aku lebih sering ‘window shopping’, melihat-lihat saja karena seringkali toko tujuan menjual barang-barang yang tidak aku perlukan dan harganya lumayan mahal.

Tujuan utama aku berpergian, ya berjalan-jalan, melihat-lihat, menikmati pemandangan berserta kisah-kisah dan informasi seputar tempat tersebut. Selain itu aku senang mengabadikan pemandangan indah, unik, spesial yang aku temukan, melalui kameraku atau ponselku. Aku juga suka mengamati kehidupan masyarakat lokal. Mencicipi makanan lokal (wisata kuliner), bukan tujuanku dalam berwisata, namun sebisa mungkin aku mencoba rasa makanan dan masakan lokal. Berbelanja di negara orang tidak termasuk prioritasku, aku lakukan juga hanya terbatas belanja cendera mata dan barang-barang khas di negara tersebut. Kalau pergi sendiri tidak melalui agen perjalanan, aku tidak khusus meluangkan waktu buat belanja, jadi aku berbelanja disambi saat melihat-lihat destinasi wisata karena disana biasanya banyak terdapat toko oleh-oleh. Porsi utama waktuku, ya jalan-jalannya.

Aku tahu ada teman-teman yang memang berpergian sambil niat berbelanja dengan berbagai alasan. Katanya, di luar negeri banyak barang yang lebih bagus, barang bermereknya lebih banyak jenis, barangnya tidak ada di Indonesia, modelnya lebih baru, harganya lebih murah dll. Wajar saja alasan-alasan tersebut, bisa dipahami. Aku pribadi tidak mau jadwal perjalanan didominasi acara belanja, jadi kalau bisa memilih, aku pilih yang lebih sedikit acara belanja-belanja. Waktu pergi ke China, aku sempat bernegosiasi dengan pemandu wisata untuk mengganti jadwal belanja dengan kunjungan lain (karena aku ikut ‘private tour’, aku pikir bisa diganti) namun mereka benar-benar tidak mau menggantinya karena ada peraturannya, kata pemandu wisataku.

Wisatawan seperti aku, rasanya bukan wisatawan yang prospek untuk ditawarkan barang-barang mahal 😀😀. Mengapa? kalau kata anakku, “bunda itu turis kelas ‘gurem’… hahaha budget perjalananku hanya cukup untuk membeli tiket pesawat, penginapan dan berwisata saja”. Utamanya aku memang berpergian untuk berjalan-jalan bukan berbelanja, jadi aku tidak mau banyak waktu habis buat belanja, sayang kan lagi di negeri orang. Kalau mau belanja, di Jakarta juga bisa, pikirku. Lantas aku juga bukan termasuk si tukang belanja yang mudah tergoda dengan aneka barang. Selanjutnya seperti kata anakku, budget jalan-jalanku terbatas. Jatah belanjaku selama berpergian hanya untuk membeli suvenir dan barang-barang khas buatan lokal.

Karena belanja tersebut sudah program acara, mau gak mau kita harus ikut juga. Paling enak kalau di rombonganku ada yang tertarik dan memang niat berbelanja, jadi pramuniaga bisa fokus ke orang-orang yang tertarik saja. Wisatawan yang tidak prospek seperti aku, boleh diabaikan, berarti aku bisa meloloskan diri dari berbagai tawaran dan duduk beristirahat dengan tenang. Aku pernah dikomentari bapak-bapak satu rombonganku, waktu aku dan anak-anak ke Hongkong, katanya ‘bu Triana paling jago meloloskan diri dari penjaga toko’. Tentu saja, bapak-bapak itu bisa berkomentar seperti itu, karena mereka juga kabur dari pramuniaga yang sibuk menawarkan barang kepada sang istri dan para suami lebih memilih menunggu atau merokok di luar toko. Aku yakin, istri mereka mau ditinggal asal diberikan ‘sangu’ yang cukup buat berbelanja 😂.

Pernah waktu aku di Turkey, kami serombongan (8 orang), diajak pemandu wisata ke toko karpet. Pemilik toko dan pramuniaga menjelaskan ke kami, kelebihan dari karpet Turkey dibanding karpet lain, kemudian mereka mulai menjelaskan harga-harganya (yang sangat mahal). Setelah itu mereka menanyakan, jenis mana yang kami tertarik. Mulailah dikeluarkan karpet yang harganya lebih murah dan ada juga yang ukuran lebih kecil. Ternyata serombongan kami belum ada yang berminat, malah mulai terlihat bosan. Biasanya penjual tidak mudah berputus asa dan berusaha menawarkan barang yang harganya lebih murah. Dalam sikon seperti ini, penjual semakin gigih menjual, membuat kami susah untuk kabur dari penjual. Akhirnya rombongan kami tak ada satupun yang terbujuk untuk membeli karpet. Berhubung tidak ada yang membeli, sayang waktunya, pikirku seharusnya waktu yang hilang bisa dipakai buat berjalan-jalan tapi karena memang wajib mengunjungi toko…. mau bagaimana lagi.

Pernah juga aku terperangkap tidak bisa menghindar dari mendengar rayuan penjual karena rombongannya cuma aku dan anak-anaku, seperti saat aku ke Shanghai. Kami harus mendengarkan penjelasan dari pemilik toko mengenai cara memilih ‘jade’ (batu zamrud) yang berkualitas baik dan selanjutnya ditawarkan macam-macam perhiasan. Kami hanya senyum-senyum sambil mengucapkan terima kasih dan berucap kami tidak tertarik. Dilalah ada cerita seru antara aku dan pemilik toko, yang akhirnya membuat aku jadi berbelanja juga, nanti aku ceritakan di postingan lain.

Tidak semua toko, aku hindarkan. Hukum alamnya, perempuan suka berbelanja kan. Aku mau sekali kalau diajak ke toko suvenir, cendera mata, barang atau makanan khas daerah tersebut. Aku ikut belanja di toko-toko yang menjual suvenir, coklat, minyak zaitun, snack khas lokal, krim/lotion buatan lokal. Barang-barang khas lokal sepert itu, tidak mudah didapat di Jakarta, kalau adapun harganya mahal. Aku juga suka ke toko factory outlet, kadang-kadang aku mendapat barang bagus dari merek terkenal dengan harga miring karena barang sudah lewat musim.

Strategi yang mewajibkan agen perjalanan untuk membawa wisatawan ke toko-toko yang menjual barang khas lokal, menurut aku keren sekali untuk mengenalkan produk lokal dan menambah penghasilan negara. Seharusnya Indonesia juga menerapkan hal yang sama, wisatawan asing harus melihat-lihat produk batik, ukiran, kain tenun, kerajinan bambu, madu, jamu, teh, kopi, penganan lokal yang unik dan enak. Indonesia kaya sekali dengan barang-barang unik dan cantik untuk ditawarkan kepada wisatawan.

Jadi bagaimana mensiasati jadwal belanja selama kita berpergian. Kalau kita tidak berminat berbelanja di toko yang direkomendasikan agen perjalanan, kita bisa melihat-lihat saja atau numpang duduk disitu. Kalau kita tidak ingin ada program acara belanja yang diatur oleh agen perjalanan, kita bisa memilih pergi sendiri saja tidak melalui agen perjalanan, jadi bebas menyusun ‘itinerary’ sendiri. Sesederhana itu saja.

Gambar diambil dari : https://pngtree.com/freepng/happy-shopping-girl-decoration-elements_4390047.html

Balada Kura-kura Kami

Standar
Aku pernah cerita disini bahwa keluargaku sangat suka dengan binatang piaraan. Piaraan yang ada saat ini kucing, kelinci, burung kakatua, kura-kura, ular, ikan arowana, ikan koi, burung cucakrawa.

Si ular juga pernah aku ceritakan disini. Kali ini aku ingin berbagi cerita mengenai kura-kura kami yang bernama Tutul. Tutul ini termasuk piaraan kami yang awet. Aku membelinya tahun 1997 di sebuah pet shop di Blok M. Suatu hari aku sekeluarga mampir ke pet shop, yang berada di dalam mall yang sedang kami kunjungi. Hani tertarik dengan dengan aneka kura-kura dan ujung-ujungnya minta dibelikan. Hani memilih kura-kura darat yang berasal dari Sulawesi (kura kura Forsteni atau disering disebut Baning Sulawesi) dengan ukuran sedang. Ukuran cangkangnya kurang lebih 20×15 cm. Akhirnya kami resmi membeli kura-kura tersebut setelah mendengar penjelasan si penjual bahwa perawatannya lumayan mudah. Sampai saat ini Tutul sudah selama 23 tahun menjadi binatang piaraan kami.

 
Hani memberi nama kura-kura itu Tutul karena corak cangkangnya bertotol-totol. Di rumah kami, Tutul berdiam di halaman samping dekat pepohonan. Binatang peliharaan kami silih berganti (karena mati), namun Tutul tetap bertahan lumayan baik-baik saja tanpa ada penyakit. Namun ukurannya tidak berubah semenjak kami beli dulu, entah karena makanannya kurang cocok untuk menumbuhkan badan atau memang ukuran maksimalnya hanya begitu. Aku belum pernah benar-benar mencari tau penyebabnya.
 
 
Tahun 2014, rumah kami dibetulkan karena ada beberapa bagian yang sudah rapuh dan rusak. Di halaman samping banyak diletakkan bahan bangunan sehingga orang tukangpun sering bolak balik ke halaman samping. Mungkin karena Tutul merasa terganggu dengan keramaian itu, dia mulai sering masuk ke dalam rumah. Kadang tidur di dapur, kadang di ruang makan. Kami tidak terganggu dengan kehadirannya dan Tutul seperti penghuni rumah lainnya, seringkali mondar mandir di dalam rumah.
 
 
Walaupun tampak lamban dan lelet kala berjalan, ternyata Tutul bisa juga gesit mengganggu kucing. Keisengannya ini baru terasa, setelah dia banyak bermain di dalam rumah. Tutul seringkali ‘mengejar’ dan mendekati kucing-kucing kami dengan tujuan tidak jelas. Kucing-kucing risih didekati Tutul dan biasanya segera menghindar. Ada lagi gangguan Tutul, dia seringkali ikut makan makanan kucing, membuat para kucing terganggu karena menambah persaingan. Sebenarnya kura-kura sejenis Tutul makanan utamanya adalah buah dan sayur namun belakangan dia mau juga makan pelet makanan kucing (yang terbuat dari daging).
 
Bukan kucing saja yang kadang terganggu dengan ulah Tutul, tapi kamipun diganggu juga. Tutul memilih manusia sasarannya secara random, entah mengapa aku dan asisten rumah tanggaku (mba Sini) kerap menjadi sasaran. Dia sering tiba-tiba saja mengejar kaki dan kemudian menggigit jari kaki. Tentu saja mengesalkan, karena membuat kaget dan lumayan sakit seperti luka terjepit. Paruhnya yang melekuk seperti paruh burung kakatua, cukup tajam kalau menggigit. Mba Sini sudah kapok digigit Tutul, jadi dia awas dan hati-hati jika Tutul tiba-tiba mendekati. Akupun seringkali dikejar Tutul juga dan begitu mulutnya dekat jari kakiku, siap menggigit aku segera menghindar. Aku sudah 3 kali digigit Tutul dan setiap kali aku selalu kaget.
 
Aku heran kenapa baru sekarang Tutul menggigit manusia dan kenapa hanya orang-orang tertentu. Anak-anakku mengambil kesimpulan asal, kata mereka karena Tutul sudah semakin tua sehingga menjadi lebih sensitif.  Kesimpuan lain, Tutul hanya suka menggigit ibu-ibu karena bau dapur dan makanan. Hahaha benar-benar kesimpulan yang tidak ilmiah. Yang jelas, kalau melihat Tutul berjalan-jalan di dalam rumah, radar di kepalaku dan mba Sini langsung bekerja, siap-siap menghindar. Aku kadang memakai sandal tertutup agar kakiku tidak dapat digigit.
 
Binatang piaraan yang menyenangkan adalah yang bisa diajak bermain. Tutul bukan jenis binatang seperti itu, dia seperti tidak mengenal kami. Kami kadang ingin juga berinteraksi dengan Tutul, jadi kami sodorkan dan suap makanannya dengan tangan, dengan tetap awas karena kuatir tidak sengaja tergigit. Beberapa kali juga anakku menghalangi Tutul kala sedang berjalan. Tutul bisa juga marah kalau diganggu-ganggu dengan menggigit ataupun marah ala kura-kura. Menurut aku gaya marahnya kura-kura ini sama sekali tidak menakutkan malah cenderung menggelikan. Jadi kalau dia marah terhadap sesuatu, dia menghadap benda/orang itu, kemudian dia memasukkan kepala ke cangkang dan menarik mundur badannya (kami menyebutnya ‘atret’) lantas kepalanya keluar mendadak dan menabrak sasaran sampai berbunyi ‘duk’. Bisa dikatakan seperti gerakan menyeruduk dan biasanya dilakukan berulang-ulang bertujuan mengancam sesuatu yang mengganggunya. Yang jelas, kami sama sekali tidak merasa terancam dengan serudukannya itu. Gerakan menyeruduk ini unik dan lucu. Ini link youtube kura-kura menyeruduk, kalau teman-teman penasaran ingin melihat kelucuannya.
 
 
Begitulah pengalaman kami memelihara kura-kura. Memang merawatnya tidak sulit, namun kura-kura kami kurang bisa diajak bermain, hanya bisa dilihat-lihat. Sekali-kali tingkahnya mengganggu kucing juga menghibur (parah ya, terhibur diatas penderitaan kucing).
 

Kecurian di Granada, Spanyol

Standar
Pernahkah teman-teman kecurian? Aku mengalaminya sewaktu aku berpergian ke Spanyol. Bagiku ini salah satu pengalaman burukku dalam perjalanan. Sebelumnya aku pernah juga mengalami kejadian tidak enak saat berpergian, dalam postinganku yang ini. Namun pengalaman kecurian ini jauh lebih mengesalkan karena aku kehilangan barang-barang pribadi yang aku perlukan dalam perjalanan. Siapapun bisa mengalami kejadian seperti ini. Aku berbagi pengalaman ini untuk diambil pelajaran dan hikmahnya agar kita bisa menghindari kejadian seperti ini.
Saat itu,  aku sedang melakukan perjalanan ke Maroko dan Spanyol. Aku belum sempat menuliskan pengalaman perjalananku disana. Biarlah tragedi kecuriannya dulu yang aku ceritakan, agar yang pergi kesana lebih berhati-hati.
Aku berada di kota Granada, Spanyol. Aku telah melalui perjalanan dari Marrakesh, Maroko dan menyeberangi Selat Gilbratar menuju Granada, Spanyol. Aku menginap di  hotel berbintang 5 di kota Granada. Rencananya pagi itu kami akan mengunjungi Alhambra, salah satu kota terkenal dengan ilmuwan dan pengetahuannya di masa kejayaan kerajaan Islam di Andalusia, Spanyol (tahun 711 – 1492)
Walaupun hotel tempat aku menginap sangat nyaman, namun kemarin malamnya aku tidak bisa tidur nyenyak. Kakakku menelfon dari Jakarta dan memberitahu bahwa mamaku sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku kepikiran terus ingat mamaku, karena biasanya kalau dia sakit, aku yang menunggu di rumah sakit. Mamaku adalah penyintas penyakit kanker lebih dari 20 tahun dan sudah 8 bulan ini berobat lagi karena ada tumor yang tumbuh di kepalanya. Kakakku mengijinkan aku pergi, karena perjalanan ini sudah direncanakan sebelum mamaku sakit.
Pagi itu, aku lemas memikirkan mamaku. Di restoran tempat sarapan sepi sekali, tamu-tamu lain belum terlihat. Yang sarapan hanya aku dan suamiku, beserta 2 pasang teman suami, teman perjalananku kali ini. Suamiku sibuk mengambilkan aku aneka buah dan pastri untuk aku sarapan namun aku bergeming melamun dengan pandangan kosong, tidak bernafsu untuk sarapan.
Aku duduk di bangku berseberangan dengan suamiku. Teman-temanku duduk di meja sebelah dan mereka sibuk mengambil sarapan ala buffet. Kecerobohan pertamaku aku melamun dan tidak fokus. Kelalaian kedua aku menarus tasku dengan menggantungkan di senderan kursi dan aku sampirkan jaket di senderan kursi pula menutupi tasku. Padahal aku sudah diingatkan untuk berhati-hati di Spanyol karena banyak pencopet di daerah yang ramai wisatawan. Berlanjut keteledoran berikutnya, aku tidak menyadari bahwa ada orang yang sedang sibuk berbicara di handphone dan dia berdiri dekat kursiku. Ada saat-saat aku hanya sendiri di meja karena suamiku dan teman-temanku sedang memilih dan mengambil makanan di meja hidang.
Setelah semua selesai sarapan (aku hanya minum jus buah), Tour leader memanggil kami untuk persiapan berangkat ke Alhambra. Saat aku mengambil jaket, aku kaget karena tasku tidak ada. Tas yang aku bawa tersebut cukup besar dan berwarna merah terang. Bila diambil orang tentu akan terlihat. Yang namanya maling, pasti punya strategi, apalagi calon korban tidak awas dan melamun. Aku serasa mau pingsan membayangkan handphone beserta kamera kesayanganku ikut raib bersama tas.
Suamiku melaporkan kehilangan itu ke tour leader (kami panggil dia Udin, karena nama Spanyolnya sulit diucapkan) untuk disampaikan ke pihak hotel. Aku masih lemas membayangkan barang-barang berhargaku yang hilang. Hilanglah semua foto-foto dalam kamera dari beberapa perjalananku, yang belum sempat disimpan di laptopku. Udin menghibur aku karena masih bisa bersyukur passpor tidak hilang berhubung disimpan pihak hotel waktu aku check-in. Udin meminta aku tetap ikut ke Alhambra (destinasi hari itu) karena sayang sekali kalau tidak mengunjungi kota peninggalan kerajaan Islam yang sangat ikonik tersebut apalagi sore harinya kami sudah harus berangkat ke kota lain (Madrid). Jadi tidak akan ada kesempatan untuk mengunjungi Alhambra dalam perjalanan itu.
Jadilah aku berpergian dengan melenggang kangkung tanpa bawaan sama sekali. Pening aku membayangkan harus melaporkan dan mengurus semua barang berharga KTP, Kartu Debet dan Kartu Kredit. Di dalam tas itu, aku juga menyimpan 2 handphone Samsungku, kamera pocket RX100 Sony, uang 1000 Euro dan lain lain.  Goodbye foto-fotoku yang di dalam kamera. Aku berharap foto di handphone terback-up di cloud. Kalau uang ya sudahlah, perjalananku tinggal 3 hari lagi. Aku tidak perlu belanja apapun.
Awalnya uang selama perjalanan, aku bagi dua dengan suamiku. Ternyata cuaca yang sangat dingin di bulan Desember itu, membuat suamiku bolak balik ke toilet. Ceritanya untuk mempermudah, jika aku ingin membeli sesuatu, uang diserahkan kembali semua kepadaku. Maksud suami, aku tidak perlu mencari dan menunggu dirinya yang sering harus ke toilet yang lokasinya jauh pas aku harus membeli sesuatu. Alhasil, uang bekal perjalanan kami raib semua, hanya tinggal uang rupiah di dompet suami. Masih alhamdulillah, kami berpergian dengan teman-teman dan mereka siap menalangi kalau kami darurat perlu mengeluarkan uang.
Aku pasrah saja, memang sudah takdir dan cuma ingat bahwa semua yang kita miliki itu hanya titipan dan jika suatu saat diambil/hilang, ya harap bersabar dan mengambil hikmahnya.  Ada sedikit harapan dalam hati, tasku tersebut bisa ditemukan tapi aku berusaha menyiapkan hati jika ternyata tidak ditemukan.
Selama perjalanan menuju Alhambra aku menelfon anakku dan memberi instruksi untuk memblokir kartu debet dan kartu kredit melalui Bank penerbit. Alhamdulillah anakku sudah cukup umur untuk mewakili aku berhubungan dengan bank. Aku juga berusaha menenangkan diri agar bisa menikmati Alhambra. Kalau dipikir, benar juga Udin, aku sudah menabung susah payah, meluangkan waktu dan pergi sejauh ini untuk melihat Andalusia yang aku idamkan sejak lama. Masa’ gara-gara tragedi kecurian, aku tidak jadi mengunjungi Alhambra. Tidak ada manfaatnya juga jika aku ikut melaporkan ke polisi, tidak ada yang bisa aku perbuat untuk membantu.
Pendek kata, dalam segala kegundahanku memikirkan mamaku yang sedang dirawat di rumah sakit dan mengingat barang-barang berhargaku yang hilang, aku tetap berusaha menikmati keindahan Alhambra dan penjelasan-penjelasan dari pemandu wisata. Aku mempraktekkan resep sederhana untuk menenangkan hati, menarik nafas panjang dan berzikir mengucapkan istigfar. Dari foto-fotoku di Alhambra, tergambar wajahku yang lesu.
Begitu aku kembali ke hotel, Udin menjelaskan bahwa pencuri tasku tidak ditemukan begitupun tasku sudah raib entah kemana. Dari CCTV hotel, tampak bahwa si pencuri menyamar menjadi tamu hotel dan masuk ke restoran. Dia mengincar dan mengawasi aku sambil pura-pura sibuk menelfon di dekat aku. Begitu aku sendiri di meja, dia beraksi menjatuhkan jaketnya di belakang kursi aku, kemudian dia mengambil tasku yang digantung dibawah jaketku dan membawa tasku dibawah jaketnya sehingga tidak terlihat. Sementara jaketku tidak bergeser tetap tergantung di kursiku.
Menurut pihak hotel, pencuri itu adalah orang asing biasanya dari Rumania. Aku hanya menerima permintaan maaf. Di kepalaku masih menggantung pertanyaan bagaimana orang yang bukan tamu bisa masuk ke restoran yang biasanya selalu ditanya dari kamar berapa, darimana tau itu orang Rumania??
Aku tidak memperpanjang permasalahan, aku sudah menerima kehilangan ini dan beranggapan memang terjadi sebagian besar karena kelalaianku. Aku cuma ingin cepat pulang bertemu mamaku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu atas mamaku dikala aku jauh. Padahal pada saat aku pergi, hasil lab  mamaku dan pemeriksaan dokter, kondisi mama agak membaik. Pastinya lagi, aku harus mengurus pengantian dokumen hilang dan membeli handphone. Untuk membeli kamera lagi, aku harus menahan diri karena aku tidak punya budget lebih.
Dari ceritaku ini, ada pelajaran dan hikmah yang bisa diambil agar terhindar dari kejadian seperti ini. Selama perjalananan sebaiknya kita :
  • Selalu fokus memperhatikan kondisi sekitar dan tidak banyak melamun.
  • Selalu meletakkan barang berharga di depan kita atau di pangkuan kita. Sekali-kali jangan lengah mengawasi barang-barang kita
  • Berhati-hati dengan orang tidak dikenal yang bersikap aneh dan berada di sekeliling kita.
  • Kalau memungkinkan menyimpan uang tidak di satu tempat.
#granada
#jalanjalanspanyol
#GranHotelSercotelLunadeGranada

Yuuk ke Pangandaran

Standar
Yuuk ke Pangandaran
Green Canyon
Pantai dan gunung adalah tempat favorit keluargaku dalam berlibur. Sejak lama aku dan keluarga ingin sekali bertualang ke Pangandaran. Selain melihat-lihat, kami juga ada rencana mampir ke kampung asisten rumah tanggaku  yang berasal dari sana, yang sudah berhenti bekerja. Lokasinya yang lumayan jauh dari Jakarta dan keinginan kami berkendara sendiri, membuat kami perlu menyusun rencana perjalanan dan kegiatan selama kami disana.
Akhirnya selesailah perencanaan liburan kami. Aku memesan penginapan dan juga biro perjalanan disana untuk menyediakan kendaraan dan supir yang mengantarkan kami selama disana.
Perjalanan kami lebih kurang  340km, dari rumah (perbatasan Bekasi Jakarta) menuju Pangandaran. Perkiraan waktu kurang lebih 8-10 jam, tidak pakai transit menginap. Beberapa teman menyarankan, menginap dulu di Bandung. Keesokan harinya berangkat dari Bandung, untuk menghemat tenaga dan tidak kemalaman sampai di Pangandaran. Kami berniat langsung saja ke tujuan karena waktu cuti yang terbatas.
Pada dasarnya aku dan suami sangat menikmati perjalanan dengan naik mobil. Selama perjalanan bisa melihat pemandangan dan berhenti jika diperlukan. Biasanya kami berhenti, jika melihat pemandangan indah atau untuk memenuhi kebutuhan manusiawi (makan, buang air, dll). Ketiga anakku tidak ada yang benar-benar penikmat perjalanan seperti orang tuanya. Kadang-kadang mereka bosan dan berulang-ulang menanyakan berapa lama lagi sampainya. Beda ya…. aku sejak kecil memang senang jalan, tidak pernah bosan.
Pangandaran terletak di Selatan pulau Jawa, termasuk wilayah Jawa Tengah. Letaknya yang di tanjung, membuat kita bisa melihat matahari terbit maupun matahari terbenam dari pantai Pangandaran… keren kan. Tokoh Pangandaran yang terkenal Ibu Susi Pudjiastuti, pengusaha asli orang Pangandaran dan pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.  Bu Susi juga merintis penerbangan ke Pangandaran melalui penerbangan miliknya yaitu Susi Air. Yang mau cepat ke Pangandaran, silahkan siapkan budget lebih untuk naik pesawat Susi Air (ya pastinya ongkos pesawat lebih mahal daripada ongkos kendaraan darat).
Aku menginap di sebuah hotel yang nyaman di pantai Timur. Banyak sekali pilihan penginapan maupun tempat makan, jadi cukup mudah berwisata kesana. Karena aku hanya berlibur 2 malam dan kami ingin santai menikmati pantai jadi tidak banyak destinasi yang kami kunjungi.
Tempat wisata yang kami kunjungi :
  • Green Canyon (Cukang Taneuh)
  • Pantai Batu Karas
  • Pantai Batu Hiu
  • Pantai Timur
  • Pantai Barat
  • Pantai Pasir Putih, Cagar Alam Pananjung
Green Canyon (Cukang Taneuh)
Ini destinasi yang indah dan seru, menurut anak-anakku. Kami naik perahu menyusuri sungai Cijulang yang warna airnya hijau toska (hijau kebiruan) dari dermaga Ciseureuh. Di kiri kanan sungai, kami melihat pepohonan dan tebing yang terbentuk sejak jutaan tahun karena erosi air sungai. Kami juga dibawa masuk ke dalam gua dengan staklatit dan staklamit. Suamiku beserta anakku Hani dan Ario, berenang di dalam gua dan bermain di air terjun Palatar.
Sementara aku dan Arin si bungsu tidak ikut berenang dan menunggu di perahu di luar gua, karena Arin kurang enak badan. Anak-anak sangat menikmati berenang dan main air di dalam gua.
Setelah puas di Green Canyon, kami menuju Pantai Batu Karas.
Pantai Batu Karas
Lokasi pantai Batu Karas tidak terlalu jauh dari Green Canyon. Pantai ini cukup landai dan banyak orang yang berenang di pantai. Pasir pantai lumayan halus dan berwarna gelap. Kami hanya bermain-main ombak di pinggir pantai dan naik ke tebing untuk melihat-lihat pemandangan laut dari atas. Selanjutnya kami ke pantai Batu Hiu.
Pantai Batu Hiu
Di pantai ini, kami melihat ombak dan pemandangan laut dan bebatuan di pinggir pantai yang katanya berbentuk menyerupai ikan hiu. Kita dilarang berenang di pantai yang menghadap Samudra Hindia ini karena ombak dan arus yang cukup kuat.
Pantai Timur
Karena hotel kami berlokasi di pantai Timur, jadi kami niatkan berjalan-jalan di pantai pada pagi hari sekalian melihat matahari terbit. Dua kali pagi hari yang kami jalani disana, kami tidak berhasil melihat matahari terbit karena langit mendung tertutup awan. Tau-tau mataharinya sudah diatas saja, padahal ingin melihat matahari ketika muncul di horison sampai naik. Kami tidak terlalu berharap juga, karena saat itu bulan Desember sudah masuk musim hujan. Di pantai Timur, banyak kegiatan-kegiatan yang ditawarkan seperti naik banana boat, naik kapal dengan dasar kaca dan bisa melihat ikan-ikan dan karang. Saat itu kami lebih senang melihat-lihat kegiatan nelayan membawa ikan di jaring ke pantai.
Pantai Barat
Kami ke pantai Barat di siang hari menjelang sore, supaya sorenya bisa melihat matahari terbenam. Kami naik perahu untuk melihat karang-karang yang berbentuk unik, melihat orang memancing lobster di karang di tengah laut dan berlayar ke pantai Putih. Hani dan Ario sudah berniat snorkling di pantai Pasir Putih dan aku ingin melihat cagar alam Pananjung.
Waktu kami naik perahu, kami tidak menduga ombaknya ternyata cukup besar dan tinggi. Kami terombang-ambing lumayan tinggi, sementara anakku mulai pucat ketakutan melihat ombak, pak pemilik kapal tetap santai menjelaskan bentuk-bentuk karang di pantai yang nampak dari kejauhan. Si bapak setiap hari melalui ombak seperti itu, jadi tenang-tenang saja.
Dua kali ke pantai Barat dalam 2 hari, alhamdulillah aku bisa melihat matahari terbenam yang bulat merah terang pelan-pelan turun ke bawah horison. Banyak orang yang menunggu saat-saat matahari terbenam ini. Cantik sekali pemandangannya.
Pantai Pasir Putih dan Cagar Alam Pananjung
Anak-anakku snorkling di pantai Pasir Putih. Menurut anak-anakku pemandangan bawah airnya (ikan, karang, dll) bagus. Namun karena sudah agak sore, arus bawah laut cukup kuat jadi harus lebih hati-hati.
Aku tidak ikut snorkling dan sambil menunggu anak-anak, aku melihat-lihat cagar alam Panajung. Cagar Alam penuh dengan pepohonan dan banyak kera-kera yang bermain-main di pohon. Ternyata di dekat pantai tersebut juga ada gua Jepang (yang dibuat oleh tentara Jepang dalam masa perang). Gua tersebut sudah tertimbun, jadi tidak terlihat jelas.
Kami senang bisa menikmati Pangandaran walaupun hanya 2 hari. Terbayarlah perjalanan jauh kami dengan melihat pemandangan indah. Indonesia memang berlimpah dengan pantai dan pemandangan cantik. Untuk yang suka kulineran, disana juga banyak makanan enak dari hasil laut yang segar. Karena aku bukan pemerhati kuliner, aku tidak punya banyak info cuma ingat rasa enaknya saja.
Dalam perjalanan pulang, kami sempatkan bertemu dengan mantan asisten rumah tangga sesuai rencana kami. Namun kami tidak jadi ke kampungnya karena jalan menuju kesana rusak dan memakan waktu lama, padahal perjalanan kami menuju Jakarta masih amat sangat panjang. Jadi kami bertemu di jalan dan cukuplah menghilangkan rasa rindu.

Berburu Momiji Saat Musim Gugur di Jepang

Standar

Sebagai penduduk negara tropis 2 musim, wajar jika aku tertarik mengunjungi negara 4 musim, terutama pada saat musim yang tidak pernah ada di negaraku seperti musim gugur. Aku pencinta alam sehingga melihat-lihat alam juga kegiatan favoritku. Aku ingin sekali melihat warna daun-daun pada musim gugur.
Suatu hari, Yanti, temanku sesama penggemar jalan, mengajakku untuk ikut pergi ke Jepang. Sebenarnya Jepang bukan target jalan-jalanku karena untuk tujuan luar negeri, aku senang yang lebih antik seperti China dan Mesir. Tentunya dengan budget jalan-jalan yang terbatas, aku mengincar berpergian ke tempat idaman. Aku perlu beberapa waktu berpikir untuk menerima tawaran ini.
Aku mencari info mengenai Jepang dari teman-temanku yang tinggal di Jepang maupun yang sering berpergian ke Jepang. Dari hasil riset kecil-kecilanku, aku akan menikmati jika jalan-jalan ke Jepang di saat musim gugur dan musim semi. Aku akan melihat pemandangan luar biasa indah pada musim-musim itu selain bisa melihat destinasi di Jepang yang sudah populer.
Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk ikut pergi ke Jepang di musim gugur. Ternyata warga Jepang sendiripun, menyukai musim gugur karena keindahan warna warni daun. Proses perubahan warna daun menjadi kemerahan, kuning, jingga saat musim gugur dikenal dengan sebutan ‘momiji’. Jepang menyediakan perkiraan kapan dan dimana momiji berada, biasanya di daerah yang letaknya lebih utara muncul momiji lebih awal dan berlanjut ke wilayah selatan.
Kami pergi berdelapan dan dari semua peserta hanya 3 orang yang belum pernah sama sekali ke Jepang termasuk aku. Yang pernah pergi ke negara saat musim gugur , ada 4 orang (sudah pasti tidak termasuk aku). Jadi kemungkinan aku peserta yang paling bersemangat karena pengalaman pertama semua. Kami pergi tidak memakai jasa tour, temanku yang mengajak aku yang akan memandu dan bertindak sebagai tour leader, berhubung dia sudah berkali-kali ke Jepang dan membawa rombongan juga. Tentunya kami membayar jasa layanannya karena kami dibantu mencari serta memesan tiket pesawat, kereta, penginapan dan nantinya menjadi pemandu perjalanan kami.
Alhamdulillah, segala persiapan cukup mudah dan lancar. Kami mengurus visa sendiri dan menurut pengalamanku mudah selama kita mengikuti ketentuan yang berlaku. Tidak terasa sampailah di hari keberangkatan. Kami terbang ke Tokyo dan menyambung dengan penerbangan lokal ke kota Toyama.
Cuaca di musim gugur (bulan November) lumayan dingin,  sekitar 10 – 15 derajat Cecius. Namun cuaca dingin tidak mengurangi semangat untuk melihat-lihat. Aku termasuk pejalan yang tidak mau ‘rugi’, berusaha memaksimalkan jumlah destinasi yang dituju dan mengeksplorasi serta melihat destinasi selengkap mungkin. Sederhana saja pikiranku, aku belum tentu bisa berkunjung lagi kesitu, so manfaatkanlah waktu kunjunganmu sebaik-baiknya.
Seperti cerita di awal tadi, aku juga punya misi pribadi melihat pohon dan dedaunan musim gugur sebanyak mungkin. Jadi selama di kereta dan di bis, aku sangat menikmati pemandangan tempat-tempat yang penuh dengan momiji dan berharap sempat mampir ke lokasi itu. Tentunya tidak mungkin semua keinginan tersebut terpenuhi. Kami sudah punya daftar kunjungan yang disepakati di awal.
Destinasi perjalan ke Jepang, masih seperti perjalanan ke Jepang yang biasa dilakukan wisatawan lain. Maklum ada peserta yang baru pertama ke Jepang seperti aku, jadi destinasi mainstream wajib ada.  Kota yang dikunjungi Tokyo, Osaka, Kyoto, Toyama.
Di Toyama, aku tidak melihat banyak momiji, hanya beberapa pohon ginko berdaun kuning. Hari berikutnya kami naik bis ke desa tradisional Shirakawago. Desa ini terkenal dengan rumah tradisional beratap sejenis jerami (gasso) yang masih terjaga. Pemandangan desa ini lebih cantik di musim dingin dengan saljunya yang menutupi atap rumah, begitu kata pemandu dan info di website. Bagaimana perburuan momijiku… ternyata tidak mengecewakan karena aku banyak menemukan pohon maple berdaun kuning ataupun merah. Cantik sekali.
Selain ke Shirakawago, dari Toyama kami juga memulai perjalanan ke kota kecil Unazaki Onsen dan Minoo Park. Di destinasi ini, aku melihat banysk momiji. Aku puas cuci mata melebihi harapan. Kalau melihat jarak jalan kaki yang kutempuh, luar biasa jauhnya, yang mana gak mungkin aku lakukan kalau tidak sedang jalan-jalan di luar kota. Namun kebahagian melihat-lihat pemandangan melebihi rasa letih.
Hari selanjutnya kami ke Osaka dan berlanjut Kyoto. Di Osaka Castle, aku menemukan pohon ginko berdaun hijau pupus cantik. Walaupun menurut temanku tidak selebat saat dia berkunjung sebelumnya (karena daunnya sudah trondol banyak yang gugur), namun aku tetap kagum dengan kesegaran warnanya. Beginilah pencinta pohon, melihat pohon berdaun warna ‘menor’, langsung mata tak lepas memandang.
Meski aku punya perhatian khusus terhadap momiji, tapi eksplorasi destinasi tetap kulakukan dengan telaten…. gak mau rugi kan…😀
Keluar apartemen dari pagi, baru kembali ke apartemen malam hari. Kalau lagi eforia berwisata begini, rasa lelah pegal terlupakan deh… lebih banyak rasa semangatnya.
Kami ke Kyoto naik kereta cepat Shinkasen. Walaupun ada insiden terlewat turun di stasiun Kyoto yang membuat waktu perjalanan bertambah, tapi kami menikmati juga kota Kyoto yang antik dan cantik. Inginnya menginap di Kyoto, karena kotanya berasa Jepang tradisional, tetapi ternyata biaya penginapan dll di Kyoto lebih mahal dibanding Osaka. Yang penting, jangan melewatkan kota Kyoto, untuk mendapat ‘feel’ Jepang.
Perjalanan kami berlanjut ke kota Tokyo. Kami akan menginap cukup lama di Tokyo. Banyak destinasi yang perjalanannya dimulai dari Tokyo.  Kami sepakat dengan pilihan destinasi dan rute dari tour leader karena dia sudah berpengalaman dan mengetahui pilihan yang efektif dan efisien.
Di Osaka kami sering kelabakan dengan stasiun kereta yang amat sangat ramai terutama jam kantor dan di Tokyo lebih parah lagi ramainya. Hebat transportasi umum kereta apinya, sangat bisa diandalkan sehingga mayoritas warga memilih untuk menggunakan kereta sebagai sarana transportasi. Aku sarankan yang berpergian ke Jepang, manfaatkanlah transportasi kereta api tersebut, selain sangat bisa diandalkan dan biaya sesuai dengan manfaat, kita juga bisa merasakan menjadi warga lokal…. seruu.
Dari Tokyo kami pergi ke destinasi Mount Fuji, Karuizawa dan Yokohama. Untuk melihat-lihat destinasi di kota Tokyo sendiri, tidak cukup dalam waktu sehari.  Ada juga destinasi tempat shopping karena di rombongan kami ada yang suka. Aku juga ikut melihat-lihat toko, yang aku beli hanya sebatas cendera mata karena aku bukan yang hobi belanja dan tambahan lagi budgetku terbatas.
Pukul rata, destinasi yang kami tuju cantik dan aku paling suka gunung Fuji. Walaupun tidak bisa naik ke level 5 apalagi ke puncaknya (hanya bisa di musim panas), tapi aku si penggemar alam ini, menikmati sekali pemandangan gunung berbentuk simetris dengan salju di puncaknya. Alhamdulillah saat aku ke sana, langit cerah awan tipis tidak berkabut, jadi gunung Fuji terlihat jelas. Di danau Kawaguchiko (sekitar gunung Fuji), banyak sekali momiji… yeaaay daun-daun kuning, jingga merah sangat indah.
Melihat-lihat destinasi lain, aku sambi juga dengan mencari momiji (tetap). Bahkan di dekat persimpangan Shibuya (Shibuya Crossing) yang super ramai itu, aku masih sempat berfoto dekat pohon ginko berdaun hijau pupus…. diantara keramaian masih mencari momiji. Kebanyakan orang melihat-lihat toko dan belanja disini, bukan mencari momiji😀.
Begitulah pengalamanku berwisata ke Jepang di musim gugur dengan tambahan ‘misi’ berburu momiji. Setelah 14 hari memuaskan diri , melihat-lihat, mencuci mata, melangkahkan kaki, turun naik kereta di Jepang…. tibalah waktu pulang ke Jakarta.
Sebenarnya ada pengalaman dan hal unik berkesan yang aku alami selama aku di Jepang seperti pengalaman naik kereta, aneka vending machine, toilet rapi. Mungkin akan aku ceritakan di postingan lain.
#jalanjalanjepangmusimgugur
#berburumomiji

Wae Rebo Dengan Tirai Kabutnya

Standar

Wae Rebo adalah nama desa tradisional yang berlokasi di sebelah Barat Daya kota Ruteng, kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini terkenal di dunia dan telah ditetapkan sebagai salah satu situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 2012.

Walau di dunia internasional, desa ini terkenal, namun belum tentu semua orang Indonesia mengenal Wae Rebo. Pulau Bali dan pulau Komodo sepertinya masih lebih populer dibanding Wae Rebo. Untuk mengunjungi Wae Rebo, tidak bisa dikatakan sulit, tetapi cukup memerlukan usaha ekstra, dibanding hanya sekedar naik pesawat ataupun naik mobil, lantas langsung sampai di tujuan. Mungkin hal ini yang menyebabkan Wae Rebo tidak sepopuler pulau Komodo.

Aku dan suami sudah lama tertarik ingin berkunjung melihat Wae Rebo. Berhubung masih saja ada kendala waktu, kami belum jadi berangkat. Rencana tinggal rencana, pada suatu hari temanku menawarkan ikut dengan rombongan teman-temannya berkunjung ke Wae Rebo. Teman-teman ini adalah teman yang sangat tertarik dengan kebudayaan, sehingga kunjungan tersebut dijadwalkan pas Upacara Penti (upacara syukuran kepada sang Pencipta) yang diselenggarakan setahun sekali oleh masyarakat Wae Rebo. Jadi kami bisa melihat upacara Penti tersebut.

Pada saat aku ke sana (tahun 2016), belum ada pesawat langsung menuju Labuan Bajo (NTT), semua transit melalui Bali atau Kupang. Jadi aku dan teman-temanku naik pesawat ke Labuan Bajo dan transit di Bali. Dari Labuan Bajo, kami menyewa mobil menuju desa Denge, yaitu desa terdekat untuk mulai naik bukit menuju Wae Rebo. Perjalanan mobil menuju desa Denge memakan waktu kurang lebih 5 jam (waktu itu, karena ada jalan yang agak rusak). Di Denge kami menginap semalam di rumah penduduk yang sudah biasa disewakan. Rencananya kami akan jalan kaki/trekking ke Wae Rebo di pagi keesokan harinya. Kami trekking dengan membawa ransel (koper dititipkan di penginapan di Denge). Di Wae Rebo tidak ada signal handphone yang tertangkap, dari provider manapun. Jadi bersiaplah tidak bisa online, untuk yang selalu update setiap saat.

Sudah terbayang kan, bagaimana perjalanan menuju Wae Rebo. Dengan pesawat ke Labuan Bajo dan lanjut naik mobil ke Denge dan lanjut lagi berjalan kaki kurang lebih 5 km menanjak bukit untuk sampai di Wae Rebo. Mana aku kurang berpengalaman trekking jalan menanjak, cuma pernah ke kampung Baduy di Banten. Umurku dan teman-teman juga bukan muda lagi, 40an dan 50an, menjelang lansia.

Aku tidak terlalu banyak persiapan dari segi fisik, tidak banyak latihan jalan. Sebaiknya kalau sudah tau akan trekking menanjak, kita ada sedikit persiapan untuk mengurangi resiko kelelahan berat dan akhirnya tidak bisa menikmati perjalanan. Yang membuat aku semangat walaupun tidak terlalu mempersiapkan fisik, karena aku membaca pengalaman orang yang sudah pernah ke Wae Rebo, selalu saja disampaikan “semua yang trekking ke Wae Rebo dari Denge, selalu sampai di Wae Rebo, tidak ada yang gagal atau kembali turun ke Denge. Namun yang membedakan pengalaman-pengalaman tersebut, ada yang sampainya lama, ada yang cepat, tergantung kekuatan dan ‘ketekunan’ masing-masing.

Masih untung dan alhamdulillah, dari  Denge sampai pos 1 pendakian ke Wae Rebo, masih bisa ditempuh dengan ojek motor. Lumayan menghemat tenaga. Oiya untuk perjalanan trekking ke Wae Rebo melalui 3 pos perhentian untuk yang ingin beristirahat. Dari pos 1 sampai pos 3, kami trekking dengan berjalan santai tidak terburu-buru, disesuaikan dengan kekuatan fisik peserta. Jalan menuju Wae Rebo, seluruhnya menanjak, ada yang cukup curam ada yang landai. Jalan menanjak ini membuat energi sangat terkuras.

Kami sampai di Pos 3 dalam waktu 3 jam, lumayanlah buat seumuran kami. Begitu sampai di Pos 3, semua kelelahan lansung menguap berganti dengan rasa ‘excited’, semangat, penasaran. Kami tidak bisa langsung  masuk desa Wae Rebo, namun harus menunggu prosesi penyambutan. Wisatawan/pengunjung yang datang, disambut oleh Kepala Adat di Wae Rebo saat itu yaitu pak Alex dengan upacara adat yang tidak terlalu lama.

Selama menunggu acara penyambutan kedatangan tamu, dari kejauhan aku memperhatikan rumah adat Wae Rebo beratap kerucut yang terkenal yaitu Mbaru Niang, hanya 7 rumah. Mbaru Niang tidak terlihat jelas karena tertutup kabut tipis. Sulit digambarkan keindahan Mbaru Niang saat kabut menutupinya. Pantas juga, ada yang menyebut Wae Rebo negeri di atas awan, karena seringnya berkabut.

Ketika kami benar-benar memasuki desanya, sudah menjelang sore, kabut tadi mulai menghilang. Tampak jelaslah ketujuh rumah Mbaru Niang yang unik, anggun, tradisional. Pada saat itu banyak sekali wisatawan lokal maupun asing karena selain berkunjung ingin sekalian menyaksikan festival Penti yang diselenggarakan esok harinya.

Kami (kelompok teman-temanku) menginap di salah satu rumah Mbaru Niang. Semua wisatawan bisa menginap, asalkan sudah konfirmasi sebelumnya. Walaupun udara di luar dingin, di dalam rumah Mbaru Niang terasa hangat. Dinding dan lantai kayu, membuat suasana nyaman. Buat tamu disediakan kasur, bantal dan selimut. Untuk makanpun disediakan di dalam rumah, pada waktu makan. Kamar mandi disediakan di belakang rumah, cukup memadai untuk tamu walaupun harus agak mengantri karena hanya 3 kamar mandi untuk kurang lebih 15 tamu.

Setelah mandi sore, kami melihat-lihat sekeliling lagi. Penasaran ingin mengetahui keadaan sekitar. Penduduk ada juga yang berdagang barang-barang khas Wae Rebo. Aku dan teman-teman sudah berniat membeli kain tenun (disebut Songke) buatan asli Wae Rebo. Selain buat kenang-kenangan, juga buat dipakai pada festival Penti. Semua yang hadir pada festival diminta memakai Songke. Aku si penggemar kain tenun tradisional sudah pasti ikut membeli, menambah koleksiku. Dari Wae Rebo juga terkenal dengan kopinya, kata penggemar kopi sangat enak. Aku ikutan membeli juga sebagai oleh-oleh untuk suami yang penikmat kopi.

Di luar acara belanja tersebut, lagi-lagi aku ingin memperhatikan kabut di sekitar. Menurut imajinasiku, seperti tirai yang menutupi Mbaru Niang. Kadang menutup penuh, kadang sebagian, kadang tipis saja…. menghasilkan pemandangan cantik. Pada dasarnya, aku memang sangat menikmati pemandangan indah di desa-desa tradisional.

Malam harinya, kami diundang ke rumah Mbaru Niang utama, untuk penyambutan tamu namun lebih resmi. Seperti biasa, aku ingin tau bagaimana acaranya penduduk Wae Rebo. Aku mendengar ‘sharing’ dari pak Alex, pemandu yang berbahasa Inggris, respon dari tamu luar negeri, respon dari tamu lokal. Intinya penduduk lokal senang dengan kedatangan tamu karena Wae Rebo menjadi dikenal dan perekonomian penduduk menjadi lebih baik namun mengharap keaslian adat dan lingkungan tetap terjaga. Semoga harapan tersebut terkabul, tidak terbayang kalau Wae Rebo menjadi komersial dan sangat ramai.

Keesokan pagi harinya, sebelum acara festival Penti dimulai, kami menyempatkan diri jalan pagi di sekitar perkampungan. Kami mencari pemandangan indah dan khususnya aku memperhatikan situasi kabut di Wae Rebo. Ternyata pagi itu cerah, tidak berkabut. Menurut aku pribadi, Mbaru Niang sangat indah dilihat kalau tertutupi kabut tipis-tipis, syahdu sekali suasananya. Untuk melihat ketujuh Mbaru Niang secara jelas, tentunya sebisanya tanpa kabut ya. Aku sempat mengabadikan  Mbaru Niang  dengan dan tanpa kabut.

Kemudian kami menyaksikan festival Penti yang cukup panjang acaranya, namun menyenangkan untuk ditonton. Tarian Caci sangat khas, penari mamakai pakaian tradisional dan berjibaku dengan memakai cambuk. Aku bersyukur bisa ke Wae Rebo dan sekaligus menyaksikan festival Penti. Kalau teman-teman ingin ke Wae Rebo pas Festival Penti, cari tau dulu jadwalnya, karena hanya setahun sekali.

Setelah Festival Penti selesai, kami mempersiapkan diri untuk kembali ke Denge. Aku tidak terlalu kuatir masalah fisik karena jalan yang dilalui semua menurun. Namun jika hujan, kami harus ekstra hati-hati, karena jalan licin dan menurun.

Dalam waktu 1,5 jam, aku dan 2 teman sudah sampai di pos 1, beberapa teman masih dalam perjalanan. Alhamdulillah aku sudah melihat Wae Rebo dengan kabutnya dan entah kapan lagi bisa kembali.

Aku menyertakan foto Wae Rebo dan Mbaru Niang, ada yang berkabut dan ada yang cerah.

#jalanjalanWaeRebo

#upacaraPenti

Transit Terlama

Standar

Walaupun kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu namun kenangannya selalu melekat di kepalaku. Kombinasi kecerobohan dan ketidakberuntunganku, menjadi pengalaman buruk tak terlupakan. Aku berharap kejadian ini tidak terjadi pada orang lain ataupun padaku lagi.

Aku seringkali bepergian dengan anak-anakku dan di beberapa kesempatan suamiku tidak bisa ikut karena kesibukan pekerjaan. Kejadian ini terjadi pas saat suamiku tidak ikut…. kebayang kan aku sendiri harus menenangkan anak-anak.

Aku sudah lama berniat berjalan-jalan ke negara China yang menurutku sangat eksotik dengan kebudayaannya yang sudah tua dan juga pemandangan alamnya yang indah. Setelah membaca dan mendengar berbagai informasi, aku memilih jalan-jalan dengan memakai jasa tour. Pendeknya aku pilih yang aman menurut aku karena berpergian dengan anak-anak dan ke tempat yang jarang orang berbahasa Inggris dengan tulisan yang bukan latin pula.

Belum lagi, karena aku masih bekerja pada saat itu, jadi aku harus efisien memanfaatkan waktu cuti. Singkat kata, aku sudah memilih pesawat dan daftar kunjungan sesuai rekomendasi orang-orang yang telah berkunjung ke China. Dengan waktu cuti dan budget yang terbatas, aku memilih mengunjungi 2 kota saja yaitu Beijing dan Shanghai. Aku naik pesawat Phillippines Airlines, yang berarti harus transit di Manila.

Aku pilih tour private karena jadwalku sering tidak cocok dengan group tour. Di kala jadwalku cocok, tour tidak jadi berangkat karena kurang peserta atau pernah juga sudah penuh, aku tidak kebagian tempat.

Tour/travel telah mengirim salinan tiket dan daftar perjalanan ke aku. Pesawat berangkat jam 12 malam. Aku sudah menandakan di agendaku, hari keberangkatan. Berhubung berangkat jam 12 malam, jadi aku berencana tetap bekerja siang harinya dan sepulang kantor aku dijemput langsung menuju bandara. Lokasi kantorku di Tangerang Selatan memang lebih dekat ke bandara Soeta dibanding aku harus pulang lagi ke rumah.

Nah, kecerobohan dimulai disini, aku tidak teliti melihat tiket. Di tiket tertulis, keberangkatan tanggal 1 Juli jam 00.00. Yang artinya tanggal 30 Juni malam, aku sudah siap di bandara. Sementara, aku menandakan kalenderku, tanggal 1 Juli, di pikiranku, aku berangkat tanggal 1 Juli malam.

Pihak tour telah mengkonfirmasi bahwa aku akan dijemput di bandara Beijing tanggal 1 Juli jam 13.00 waktu setempat. Aku ceroboh lagi, tidak memperhatikan tanggal dengan seksama. Aku berpikir sederhana, setelah aku berangkat, sudah pasti disiapkan penjemputan di waktu kedatangan.

Jadi…yang seharusnya tanggal 1 Juli jam 00.00 dini hari, aku dan anak-anak sudah berangkat tetapi aku tidak berangkat dan masih asik bekerja di kantor pagi harinya. Aku mengira jadwal berangkatku tanggal 1 Juli malam. Aku sudah menyiapkan anak-anak untuk menjemput aku di kantor dengan membawa bagasi dan langsung menuju bandara.

Hari itu, jam 14.00 aku ditelfon oleh Tour, menanyakan mengapa aku tidak ada diantara penumpang yang mendarat. Tour leader di Beijing bingung mencari-cari aku. Aku mendadak jantungan, karena yakin sekali seharusnya aku berangkat malam nanti. Akhirnya setelah meneliti dengan seksama terbukalah kecerobohanku…. astaghfirullah, innalillahi …. aku beneran salah tanggal. Petugas travel sampai tidak bisa berkata-kata, mengetahui kelalaianku. Karena sudah terbayang liburan di depan mata, aku tidak mau membatalkan jadwal yang telah disusun.

Teman-teman yang sering travelling pasti tahu konsekuensi perubahan jadwal begini. Aku harus bayar tiket perubahan jadwal dan aku kehilangan satu hari jadwal kunjungan di Beijing. Mau bagaimana lagi… memang kesalahanku sendiri.

Aku kira cukup demikian saja kesulitan perjalanan ini. Jadi semua teratasi, tetaplah aku berangkat tanggal 1 Juli malam. Alhamdulillah, jadwal pesawat ke Beijing, ada setiap hari. Pesawatku tidak langsung ke Beijing tetapi transit dulu di Manila selama 3 jam.

Aku sampai di bandara tepat waktu, 3 jam sebelum berangkat, jam 21.00. Segala administrasi check-in telah aku bereskan. Aku dan 2 anakku, siap menanti panggilan boarding. Tunggu punya tunggu hingga jadwal boarding tidak ada info panggilan. Aku mulai deg-degan lagi, kok seperti gelagat mau ‘delay’ (tertunda). Benar saja, ada pengumuman pesawat ditunda karena ada kendala teknis. Astaghfirullah… apalagi nih, pikirku. Aku cuma cemas, apakah kami bisa terangkut pesawat transit sesuai jadwal dengan tertundanya keberangkatan, kalau tidak berarti menunggu lagi, pesawat berikutnya entah kapan.

Aku berdoa panjang pendek dan juga menenangkan kedua anakku. Akhirnya kami berangkat setelah tertunda 4 jam. Secara logika, kami pasti ditinggalkan pesawat transit dan memang benar sesuai dugaan, begitu mendarat, kami sudah ditinggal. Seharusnya jam 9.00 kami sudah terbang ke Beijing dari Manila. Aku langsung melapor ke petugas dan aku hampir pingsan mendengar info dari petugas. Pesawat berikutnya ke Beijing, berangkat jam 21.00.

Ya begitulah, aku mendarat di bandara Manila jam 9.00 pagi dan harus menunggu keberangkatan berikutnya jam 21.00 malam. Aku gak tau harus menghabiskan waktu bagaimana selama 12 jam. Kondisi Bandara Manila saat itu (tahun 2013), maaaaf jauh banget dibanding bandara Soeta apalagi bandara Changi. Dibanding bandara Juanda dan Ngurah Rai saat ini, juga masih jauh dibawah. Tempat duduk kurang nyaman, tempat terbatas/sempit, tidak ada pertokoan yang asik buat dilihat…. begitu deh.

Kami diberi kupon makan selama menunggu. Masih mending restorannya, kue-kue dan masakannya cukup enak, namun suasana kenyamanan kurang sekali. Jadi selama menunggu, aku dan anak-anak menghibur diri dengan memperhatikan tingkah laku petugas bandara yang sering kali aneh menurut kami. Penglihatan sepintas di bandara, orang Philipina sering berkumpul, banyak mengobrol, menghabiskan waktu.

Setelah penantian panjang, berangkatlah kami ke Beijing, ‘tepat waktu’, jam 21.00 malam. Mendarat di Beijing juga tepat waktu, alhamdulillah. Walau setengah cemas, apakah tour leader menjemput kami jam 2 dini hari….. pasrah dan berdoa lagi. Kok tidak ada yang bawa papan dengan namaku ataupun nama tour. Aku dan anak-anak terduduk lemas dan setelah kurang lebih 15 menit menanti, datanglah seorang perempuan cantik yang ternyata tour leader kami. Alhamdulillah…

Xiu (nama tour leader kami) menjelaskan perubahan program karena keterlambatan kedatangan kami dan juga jadwal ‘bullet train’ (kereta cepat) ke Shanghai yang tidak bisa dirubah. Aku hanya bisa melihat-lihat Beijing dalam sehari. Yah nrimo lagi.. tidak bisa nego karena semua sudah dipesan di awal.  Berubah-rubah, mungkin bisa tapi sudah pasti biaya bertambah.

Aku tidak akan menceritakan wisata kami di Beijing dan Shanghai di tulisan ini ya teman. Mungkin di blog lain. Disini aku lebih ingin berbagi ketidakberuntungan aku dalam urusan perjalanannya.

Alhamdulillah, perjalanan dari Beijing ke Shanghai lancar jaya, tepat waktu dan mengagumkan. Pengalaman pertamaku naik kereta cepat, 300km per jam dan gak terasa ‘jagjigjug’ seperti kereta di Indonesia. Mulus jalannya.

Kami pulang ke Indonesia dengan pesawat dari bandara Shanghai. Aku banyak berdoa lagi, mengharap perjalanan lancar. Harapan tinggal harapan, lagi lagi pesawat kami tertunda. Dari awal check-in sudah ada gejala. Sistem komputer Philippines Airlines saat itu sedang bermasalah, sehingga boarding pass tidak tercetak mesin namun di tulis dengan tangan seperti tiket bis malam yang kuno.

Aku mulai cemas lagi apakah kami bakal tertinggal oleh pesawat transit dari Manila ke Jakarta, yang seharusnya berangkat jam 21.00. Akhirnya pesawat berangkat juga ke Manila setelah tertunda 2 jam. Dan lagi-lagi, begitu mendarat di Manila jam 21.00, pesawat menuju Jakarta baru saja ‘take-off’ tanpa menunggu kami. Benar- benar ujian kesabaran karena ternyata aku harus menunggu pesawat ke Jakarta yang berangkat jam 9 pagi keesokan hari. Apaaa… aku hampir berteriak, aku dan 2 anak harus menunggu 12 jam lagi dan menginap di bandara. Tidak terbayangkan. Menginap di bandara bagus saja, aku gak ingin apalagi di bandara Manila.

Dan aku mengomel panjang lebar di depan petugas, menceritakan kesialanku mengalami 4 kali penundaan dan harus menunggu 12 jam (2x) bersama anakku di bandara. Seharusnya aku mendapat ganti rugi yang layak karena mendapat pelayanan yang tidak wajar.  Petugas hanya meminta maaf dan tidak bisa berkata-kata banyak.

Aku ditawarkan untuk menginap di hotel terdekat dengan biaya ditanggung Airline semua…. tentu saja harus begitu. Alhasil kami harus melewati imigrasi…. (mimpi apa, ke Manila karena kesialan begini, pikirku). Kami diantar ke hotel dengan taxi. Mau gak mau aku mencuri lihat-lihat juga kota Manila yang dilewati. Ternyata ketidakberuntunganku masih berlanjut. Entah di bagian mana kota Manila, jalan dan daerah yang kami lewati, lumayan kumuh dan ruwet. Perasaan masih jauh lebih indah Jakarta. Mungkin suasana hatiku yang amat sangat kesal, mempengaruhi cara pandangku juga.

Di hotelpun, lagi-lagi kami mendapat pelayanan yang kurang baik. Aku terpaksa membeli air mineral di restoran hotel karena di kamar hanya disediakan satu botol. Aku sudah bertanya kepada petugas kalau aku membayar dengan uang dollar apakah kembaliannya dalam bentuk dollar juga. Karena dijawab iya, jadilah aku membeli 1 botol air mineral. Ternyata aku mendapat kembalian uang peso. Luar biasa, aku marah sekali dan complain panjang lebar, aku sama sekali gak ingin menyimpan uang peso karena aku menginap di Manilapun terpaksa karena pelayanan airline mereka yang sangat buruk. Mungkin mereka malu juga dengan pelayanan mereka setelah mendengar amarahku. Akhirnya dikembalikanlah uangku.

Merembet ya, dari masalah transit yang lama berlanjut ke yang lain-lain. Aku sempat berucap, aku gak akan berkunjung ke Philippina sampai kapanpun, kotanya jelek dan pelayanan buruk. Aku rasa wajar untuk orang yang mengalami kejadian seperti aku, berpikir begitu.

Besok paginya, aku berangkat lagi ke bandara. Lagi-lagi, aku berdoa semoga perjalanan lancar. Alhamdulillah hari itu semua sesuai jadwal dan kami sampai dengan selamat di Jakarta.

Hmmm, sampai saat ini, anak-anakku selalu meledek aku. Bunda, kalau nanti aku sudah punya gaji, aku ingin mengajak bunda jalan-jalan ke kota Manila. Suamikupun ikut meledek aku, lumayan ya cutinya tambah jalan-jalan ke Manila dan passpornya ada cap imigrasi Phillippina.

Dari cerita panjang lebarku… ada pelajaran yang bisa diambil :

– Selalu meneliti jadwal pesawat di tiket terutama kalau berangkat jam 12.00 malam atau jam 00.00.  Kalau perlu konfirmasi ke Airline.

– Jika memungkinkan, sebaiknya memilih pesawat tanpa transit, apalagi jika berpergian dengan anak kecil.

Untuk menghibur, aku menyertakan foto kami yang sedang senang di Beijing dan Shanghai.

#transitmanila

#transit12jam

 

 

 

 

 

Perempuan Menyetir

Standar
Sering sekali aku mendengar suamiku, teman-teman laki-lakiku berkomentar mengenai perempuan menyetir. Komentarnya cenderung negatif. Kalau di jalan ada mobil yang berjalan lambat atau berjalan di garis marka atau belok tanpa lampu sen, mereka berpikiran pasti yang menyetir perempuan. Ini contoh komentar yang terdengar  ‘cewe ini nyetirnya kacau banget’ atau contoh komentar lain ‘parah kalau ibu-ibu nyetir’. Padahal mereka belum tahu pasti bahwa yang menyetir mobil tersebut perempuan.
Entah mengapa, para lelaki sering berpikiran bahwa perempuan tidak sepandai laki-laki dalam menyetir. Aku pernah dikirimkan oleh teman, video kumpulan kekacauan berkendara mobil dimana sang supir adalah perempuan. Niat sekali si penyunting video tersebut. Aku yakin kalau mau dicari, banyak juga video kekacauan laki-laki dalam berkendara mobil. Tetapi memang jumlah lelaki yang berkendara juga lebih banyak dari perempuan, jadi wajar juga kalau yang menyetir kurang baik juga lebih banyak.
Ada pendapat bahwa perempuan tidak sehebat laki-laki dalam melihat peta dan dalam membayangkan lokasi atau ruang secara 3 dimensi. Perempuan lebih sering memakai perasaan dibanding logikanya dalam berpikir. Sisi lain, perempuan lebih pintar dalam berpikir maupun bekerja secara multi (pada saat yang bersamaan). Apakah hal-hal ini mempengaruhi gaya menyetir perempuan yang ‘khas’ itu.. entahlah, aku belum pernah mencari penelitiannya. Mungkin di tulisan ilmiah, hal ini bisa dibahas.
Apakah kita perempuan perlu berusaha merubah stereotip mengenai perempuan menyetir. Rasanya gak perlu ya, kita punya banyak kelebihan lain kok dibanding laki-laki. Jadi biar saja untuk urusan menyetir kita dianggap kurang pintar dibanding laki-laki.
Walaupun pendapat umum begitu, ada juga perempuan-perempuan yang ahli menyetir. Seperti pembalap-pembalap perempuan.
Aku sendiri mengakui aku punya kekurangan dalam menyetir mobil. Aku susah sekali memarkir secara paralel. Hitunganku kurang bagus dalam persoalan parkir paralel. Jadi solusi aku (mungkin kurang tepat disebut solusi), berusaha sebisa mungkin menghindari parkir paralel. Mending aku mencari tempat parkir lain, walaupun lebih jauh.
Walaupun kodrat perempuan lebih banyak berurusan dengan urusan domestik atau rumah tangga, tapi bisa menyetir kendaraan sangat membantu kegiatan sehari-hari. Kita bisa ke pasar, supermarket, antar jemput anak/orang tua yang lokasinya tidak jauh dari rumah tanpa menunggu adanya laki-laki yang membantu. Ini menurut pendapat aku pribadi sebagai perempuan.
Jadi biar saja diledek kurang bagus dalam menyetir tapi keahlian menyetir tersebut bisa bermanfaat pada kondisi-kondisi tertentu atau bila diperlukan.

Gambar diambil dari : http://www.gettyimages.co.uk