Category Archives: Uncategorized

Transit Terlama

Standar

Walaupun kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu namun kenangannya selalu melekat di kepalaku. Kombinasi kecerobohan dan ketidakberuntunganku, menjadi pengalaman buruk tak terlupakan. Aku berharap kejadian ini tidak terjadi pada orang lain ataupun padaku lagi.

Aku seringkali bepergian dengan anak-anakku dan di beberapa kesempatan suamiku tidak bisa ikut karena kesibukan pekerjaan. Kejadian ini terjadi pas saat suamiku tidak ikut…. kebayang kan aku sendiri harus menenangkan anak-anak.

Aku sudah lama berniat berjalan-jalan ke negara China yang menurutku sangat eksotik dengan kebudayaannya yang sudah tua dan juga pemandangan alamnya yang indah. Setelah membaca dan mendengar berbagai informasi, aku memilih jalan-jalan dengan memakai jasa tour. Pendeknya aku pilih yang aman menurut aku karena berpergian dengan anak-anak dan ke tempat yang jarang orang berbahasa Inggris dengan tulisan yang bukan latin pula.

Belum lagi, karena aku masih bekerja pada saat itu, jadi aku harus efisien memanfaatkan waktu cuti. Singkat kata, aku sudah memilih pesawat dan daftar kunjungan sesuai rekomendasi orang-orang yang telah berkunjung ke China. Dengan waktu cuti dan budget yang terbatas, aku memilih mengunjungi 2 kota saja yaitu Beijing dan Shanghai. Aku naik pesawat Phillippines Airlines, yang berarti harus transit di Manila.

Aku pilih tour private karena jadwalku sering tidak cocok dengan group tour. Di kala jadwalku cocok, tour tidak jadi berangkat karena kurang peserta atau pernah juga sudah penuh, aku tidak kebagian tempat.

Tour/travel telah mengirim salinan tiket dan daftar perjalanan ke aku. Pesawat berangkat jam 12 malam. Aku sudah menandakan di agendaku, hari keberangkatan. Berhubung berangkat jam 12 malam, jadi aku berencana tetap bekerja siang harinya dan sepulang kantor aku dijemput langsung menuju bandara. Lokasi kantorku di Tangerang Selatan memang lebih dekat ke bandara Soeta dibanding aku harus pulang lagi ke rumah.

Nah, kecerobohan dimulai disini, aku tidak teliti melihat tiket. Di tiket tertulis, keberangkatan tanggal 1 Juli jam 00.00. Yang artinya tanggal 30 Juni malam, aku sudah siap di bandara. Sementara, aku menandakan kalenderku, tanggal 1 Juli, di pikiranku, aku berangkat tanggal 1 Juli malam.

Pihak tour telah mengkonfirmasi bahwa aku akan dijemput di bandara Beijing tanggal 1 Juli jam 13.00 waktu setempat. Aku ceroboh lagi, tidak memperhatikan tanggal dengan seksama. Aku berpikir sederhana, setelah aku berangkat, sudah pasti disiapkan penjemputan di waktu kedatangan.

Jadi…yang seharusnya tanggal 1 Juli jam 00.00 dini hari, aku dan anak-anak sudah berangkat tetapi aku tidak berangkat dan masih asik bekerja di kantor pagi harinya. Aku mengira jadwal berangkatku tanggal 1 Juli malam. Aku sudah menyiapkan anak-anak untuk menjemput aku di kantor dengan membawa bagasi dan langsung menuju bandara.

Hari itu, jam 14.00 aku ditelfon oleh Tour, menanyakan mengapa aku tidak ada diantara penumpang yang mendarat. Tour leader di Beijing bingung mencari-cari aku. Aku mendadak jantungan, karena yakin sekali seharusnya aku berangkat malam nanti. Akhirnya setelah meneliti dengan seksama terbukalah kecerobohanku…. astaghfirullah, innalillahi …. aku beneran salah tanggal. Petugas travel sampai tidak bisa berkata-kata, mengetahui kelalaianku. Karena sudah terbayang liburan di depan mata, aku tidak mau membatalkan jadwal yang telah disusun.

Teman-teman yang sering travelling pasti tahu konsekuensi perubahan jadwal begini. Aku harus bayar tiket perubahan jadwal dan aku kehilangan satu hari jadwal kunjungan di Beijing. Mau bagaimana lagi… memang kesalahanku sendiri.

Aku kira cukup demikian saja kesulitan perjalanan ini. Jadi semua teratasi, tetaplah aku berangkat tanggal 1 Juli malam. Alhamdulillah, jadwal pesawat ke Beijing, ada setiap hari. Pesawatku tidak langsung ke Beijing tetapi transit dulu di Manila selama 3 jam.

Aku sampai di bandara tepat waktu, 3 jam sebelum berangkat, jam 21.00. Segala administrasi check-in telah aku bereskan. Aku dan 2 anakku, siap menanti panggilan boarding. Tunggu punya tunggu hingga jadwal boarding tidak ada info panggilan. Aku mulai deg-degan lagi, kok seperti gelagat mau ‘delay’ (tertunda). Benar saja, ada pengumuman pesawat ditunda karena ada kendala teknis. Astaghfirullah… apalagi nih, pikirku. Aku cuma cemas, apakah kami bisa terangkut pesawat transit sesuai jadwal dengan tertundanya keberangkatan, kalau tidak berarti menunggu lagi, pesawat berikutnya entah kapan.

Aku berdoa panjang pendek dan juga menenangkan kedua anakku. Akhirnya kami berangkat setelah tertunda 4 jam. Secara logika, kami pasti ditinggalkan pesawat transit dan memang benar sesuai dugaan, begitu mendarat, kami sudah ditinggal. Seharusnya jam 9.00 kami sudah terbang ke Beijing dari Manila. Aku langsung melapor ke petugas dan aku hampir pingsan mendengar info dari petugas. Pesawat berikutnya ke Beijing, berangkat jam 21.00.

Ya begitulah, aku mendarat di bandara Manila jam 9.00 pagi dan harus menunggu keberangkatan berikutnya jam 21.00 malam. Aku gak tau harus menghabiskan waktu bagaimana selama 12 jam. Kondisi Bandara Manila saat itu (tahun 2013), maaaaf jauh banget dibanding bandara Soeta apalagi bandara Changi. Dibanding bandara Juanda dan Ngurah Rai saat ini, juga masih jauh dibawah. Tempat duduk kurang nyaman, tempat terbatas/sempit, tidak ada pertokoan yang asik buat dilihat…. begitu deh.

Kami diberi kupon makan selama menunggu. Masih mending restorannya, kue-kue dan masakannya cukup enak, namun suasana kenyamanan kurang sekali. Jadi selama menunggu, aku dan anak-anak menghibur diri dengan memperhatikan tingkah laku petugas bandara yang sering kali aneh menurut kami. Penglihatan sepintas di bandara, orang Philipina sering berkumpul, banyak mengobrol, menghabiskan waktu.

Setelah penantian panjang, berangkatlah kami ke Beijing, ‘tepat waktu’, jam 21.00 malam. Mendarat di Beijing juga tepat waktu, alhamdulillah. Walau setengah cemas, apakah tour leader menjemput kami jam 2 dini hari….. pasrah dan berdoa lagi. Kok tidak ada yang bawa papan dengan namaku ataupun nama tour. Aku dan anak-anak terduduk lemas dan setelah kurang lebih 15 menit menanti, datanglah seorang perempuan cantik yang ternyata tour leader kami. Alhamdulillah…

Xiu (nama tour leader kami) menjelaskan perubahan program karena keterlambatan kedatangan kami dan juga jadwal ‘bullet train’ (kereta cepat) ke Shanghai yang tidak bisa dirubah. Aku hanya bisa melihat-lihat Beijing dalam sehari. Yah nrimo lagi.. tidak bisa nego karena semua sudah dipesan di awal.  Berubah-rubah, mungkin bisa tapi sudah pasti biaya bertambah.

Aku tidak akan menceritakan wisata kami di Beijing dan Shanghai di tulisan ini ya teman. Mungkin di blog lain. Disini aku lebih ingin berbagi ketidakberuntungan aku dalam urusan perjalanannya.

Alhamdulillah, perjalanan dari Beijing ke Shanghai lancar jaya, tepat waktu dan mengagumkan. Pengalaman pertamaku naik kereta cepat, 300km per jam dan gak terasa ‘jagjigjug’ seperti kereta di Indonesia. Mulus jalannya.

Kami pulang ke Indonesia dengan pesawat dari bandara Shanghai. Aku banyak berdoa lagi, mengharap perjalanan lancar. Harapan tinggal harapan, lagi lagi pesawat kami tertunda. Dari awal check-in sudah ada gejala. Sistem komputer Philippines Airlines saat itu sedang bermasalah, sehingga boarding pass tidak tercetak mesin namun di tulis dengan tangan seperti tiket bis malam yang kuno.

Aku mulai cemas lagi apakah kami bakal tertinggal oleh pesawat transit dari Manila ke Jakarta, yang seharusnya berangkat jam 21.00. Akhirnya pesawat berangkat juga ke Manila setelah tertunda 2 jam. Dan lagi-lagi, begitu mendarat di Manila jam 21.00, pesawat menuju Jakarta baru saja ‘take-off’ tanpa menunggu kami. Benar- benar ujian kesabaran karena ternyata aku harus menunggu pesawat ke Jakarta yang berangkat jam 9 pagi keesokan hari. Apaaa… aku hampir berteriak, aku dan 2 anak harus menunggu 12 jam lagi dan menginap di bandara. Tidak terbayangkan. Menginap di bandara bagus saja, aku gak ingin apalagi di bandara Manila.

Dan aku mengomel panjang lebar di depan petugas, menceritakan kesialanku mengalami 4 kali penundaan dan harus menunggu 12 jam (2x) bersama anakku di bandara. Seharusnya aku mendapat ganti rugi yang layak karena mendapat pelayanan yang tidak wajar.  Petugas hanya meminta maaf dan tidak bisa berkata-kata banyak.

Aku ditawarkan untuk menginap di hotel terdekat dengan biaya ditanggung Airline semua…. tentu saja harus begitu. Alhasil kami harus melewati imigrasi…. (mimpi apa, ke Manila karena kesialan begini, pikirku). Kami diantar ke hotel dengan taxi. Mau gak mau aku mencuri lihat-lihat juga kota Manila yang dilewati. Ternyata ketidakberuntunganku masih berlanjut. Entah di bagian mana kota Manila, jalan dan daerah yang kami lewati, lumayan kumuh dan ruwet. Perasaan masih jauh lebih indah Jakarta. Mungkin suasana hatiku yang amat sangat kesal, mempengaruhi cara pandangku juga.

Di hotelpun, lagi-lagi kami mendapat pelayanan yang kurang baik. Aku terpaksa membeli air mineral di restoran hotel karena di kamar hanya disediakan satu botol. Aku sudah bertanya kepada petugas kalau aku membayar dengan uang dollar apakah kembaliannya dalam bentuk dollar juga. Karena dijawab iya, jadilah aku membeli 1 botol air mineral. Ternyata aku mendapat kembalian uang peso. Luar biasa, aku marah sekali dan complain panjang lebar, aku sama sekali gak ingin menyimpan uang peso karena aku menginap di Manilapun terpaksa karena pelayanan airline mereka yang sangat buruk. Mungkin mereka malu juga dengan pelayanan mereka setelah mendengar amarahku. Akhirnya dikembalikanlah uangku.

Merembet ya, dari masalah transit yang lama berlanjut ke yang lain-lain. Aku sempat berucap, aku gak akan berkunjung ke Philippina sampai kapanpun, kotanya jelek dan pelayanan buruk. Aku rasa wajar untuk orang yang mengalami kejadian seperti aku, berpikir begitu.

Besok paginya, aku berangkat lagi ke bandara. Lagi-lagi, aku berdoa semoga perjalanan lancar. Alhamdulillah hari itu semua sesuai jadwal dan kami sampai dengan selamat di Jakarta.

Hmmm, sampai saat ini, anak-anakku selalu meledek aku. Bunda, kalau nanti aku sudah punya gaji, aku ingin mengajak bunda jalan-jalan ke kota Manila. Suamikupun ikut meledek aku, lumayan ya cutinya tambah jalan-jalan ke Manila dan passpornya ada cap imigrasi Phillippina.

Dari cerita panjang lebarku… ada pelajaran yang bisa diambil :

– Selalu meneliti jadwal pesawat di tiket terutama kalau berangkat jam 12.00 malam atau jam 00.00.  Kalau perlu konfirmasi ke Airline.

– Jika memungkinkan, sebaiknya memilih pesawat tanpa transit, apalagi jika berpergian dengan anak kecil.

Untuk menghibur, aku menyertakan foto kami yang sedang senang di Beijing dan Shanghai.

#transitmanila

#transit12jam

 

 

 

 

 

86 Hari Lagi

Standar

Ini masih kisah lanjutan dari menjelang aku berhenti kerja. Saat istimewa bagi aku karena aku berganti dari kegiatan yang bertahun-tahun aku telah lakukan.

Bagi teman-teman mungkin ini bukan hal yang spesial. Biasa saja malah, begitu kata beberapa temanku. Harapan aku sangat banyak, setelah aku stop dari kegiatan rutin bekerja. Terutama sekali, mengerjakan tugas yang penting, tapi sering aku skip karena seringkali aku terjebak dalam tutuntan pekerjaan kantor. Diantaranya yaitu :
– Membereskan barang-barang serta buku-buku aku yang masih berantakan
– Mengantar jemput anakku ke/dari sekolah
– Mengantar orang tua/ mertua ke dokter ataupun rumah sakit
– Memasak makanan sehari- hari
– Merapikan halaman

Terus bagaimana dengan pengganti gaji bulanan aku. Tipikal ibu-ibu yang mempunyai penghasilan sendiri, aku tetap ingin tidak bergantung 100% dari suamiku, untuk masalah keuangan. Namun aku tidak mempunyai sumber penghasilan lain. Berdagang atau apa, aku masih pikir-pikir dulu. Pikiran kreatif aku agak terbonsai karena sekian lama menjadi pegawai. Aku akan lihat kondisi dulu, mencari tambahan penghasilan dari mana. Prioritas aku, mengerjakan kewajiban ibu rumah tangga yang selama ini agak terabaikan. Mencari penghasilan merupakan kewajiban utama suami.

Sebenarnya aku suka mengajar anak-anak. Aku seringkali terinspirasi dengan mereka-mereka yang mendedikasikan diri untuk mendidik anak-anak dengan kondisi yang tidak memadai (misal anak jalanan, anak tidak mampu, anak di terminal dll). Nilainya bukan dalam hitungan keuntungan namun lebih kepada kepuasan hati karena bisa berbagi kepada yang membutuhkan. Aku masih mencari-cari informasi dari lingkungan sekitarku mengenai hal ini.

Baiklah,  aku masih melanjutkan menghitung hari sambil tetap mencari informasi dan membuat rencana.

image

Gambar diambil dari : https://www.graphicstock.com/stock-image/woman-thinking-thought-bubble-business-cartoons

#MenjelangBerhentiMenjadiPegawai

Belitung Yang Eksotik

Standar

Semenjak filem Laskar Pelangi ditayangkan, pulau Bangka dan Belitung menjadi pulau yang populer sebagai tujuan wisata. Akupun terkontaminasi dengan gambar-gambar indah pulau tersebut. Jadi aku merencanakan untuk mengajak keluargaku berlibur ke pulau tersebut. Karena waktu yang terbatas, aku hanya memilih pulau Belitung (tidak termasuk pulau Bangka), yang menurut pengamatanku sangat indah dan berbeda dari pulau-pulau lainnya di Indonesia. Terima kasih sekali kepada Andrea Hirata (pengarang buku Laskar Pelangi) dan Mira Lesmana beserta Riri Riza (produser / sutradara filem Laskar Pelangi), yang menginspirasi kita menjadi semakin mencintai Indonesia dengan mengarang cara dan membuat filem dengan latar belakang negeri tercinta.

Kami pergi ke Belitung di liburan sekolah bulan Desember tahun 2014. Di pulau tersebut tersedia bandara yaitu bandara Tanjung Pandan, yang sangat memudahkan kita mencapai pulau tanpa harus transit. Selain itu pula, armada pesawat yang menuju kesana tidak hanya satu, sehingga kita punya pilihan. Fasilitas untuk wisatawan sangat lebih dari cukup, banyak hotel bagus, kendaraan ataupun kapal sewaan, paket wisata dll. Pulau Belitung terlihat sekali rajin berbenah diri dan menyadari bahwa pariwisata adalah sumber pendapatan daerah yang sangat mendukung kemajuan daerah.

Namun berdasarkan pengalaman dan juga info dari pemandu wisata kami, waktu paling baik ke pulau Belitung adalah bulan Juni, Juli, Agustus dimana langit cerah dan air jernih/bening. Pada bulan-bulan tersebut, kita dapat berwisata secara maksimal mengunjungi berbagai pulau sekitar, snorkeling, dll. Kami pasrah saja karena sudah terlanjur pergi di bulan Desember, ya ikut saja dengan rekomendasi pemandu. Benar saja, ketika kami sampai di pulau Belitung, cuaca mendung tebal disertai hujan. Pemandu menyampaikan, jika keesokan harinya cuaca masih hujan, kemungkinan acara berkeliling pulau tidak jadi dilakukan karena ombak dan angin akan cukup besar. Sebagai gantinya kami akan berjalan-jalan di pulau saja. Kecewa ya kecewa (kalau tidak jadi keliling pulau), tapi daripada beresiko di tengah laut dengan gelombang tinggi dan angin kencang, tidak deh.

Setelah makan siang, kami berkeliling pulau melihat pantai yang indah dengan batu besar bertebaran. Susah menggambarkan keindahaannya karena unik dan eksotik. Entah dari mana bebatuan besar tersebut berasal, karena di pulau Belitung dan sekitarnya tidak ada gunung yang biasanya tempat batu-batu besar berasal. Pemandu wisata kamipun tidak mempunyai info dari mana batu-batu tersebut berasal. Katanya, batu-batu besar seperti itu ada juga di kepulauan Natuna yang letaknya jauh dari pulau Belitung namun segaris (maaf aku tidak tahu apakah garis bujur atau garis lintang). Informasi ini tidak menjawab darimana berasalnya batu-batu besar tersebut. Yang jelas….indah, unik, eksotik dan pas sekali berpadu dengan pasir putih dan laut biru bening. Pantai yang kami kunjungi, pantai Tanjung Tinggi dan pantai Tanjung Kelayang.

Keesokan harinya pada jam sarapan, anak-anak sangat antusias memantau cuaca, walaupun sebelumnya sudah melakukan riset melalui info BMKG. Disebutkan cuaca akan mendung dan hujan, tapi boleh saja kan kami berharap mendung tipis saja dan hujan gerimis sebentar saja. Setelah mengamati keadaan cuaca dan pemandu berunding dengan pemilik kapal, akhirnya diputuskan kami berangkat juga untuk berkeliling pulau, tapi diutamakan pulau Lengkuas saja, untuk pulau lainnya tergantung cuaca. Horeeee……anak kami langsung ceria. Kami gembira juga tapi masih agak waswas melihat cuaca.

Selama di kapal, ternyata angin bertambah kencang, sehingga kapal kami terombang-ambing diatas ombak yang lumayan besar dan tinggi. Aku si penggemar petualangan, ya menikmati bergoyang-goyang di kapal dan terpaan ombak lautan yang masuk ke kapal seaakan menyambut perjalanan kami. Putri bungsu kami pucat, karena memang dia kurang suka naik kapal (mungkin karena pengalaman pertamanya naik kapal, kena ombak besar dan mabuk laut). Aku menghibur anak-anak dan berusaha menggambarkan bahwa yang kami lalui adalah pertualangan yang seru.

Akhirnya terlihat juga pulau Lengkuas dengan mercusuarnya. Bebatuan besar bertebaran di sekeliling pulau. Tidak habis kami memuji keindahan ciptaan Allah ini. Kami sibuk memanjat bebatuan yang bisa dipanjat sembari mengagumi keelokan pemandangan sekitar. Puas dengan bebatuan kami berkunjung ke mercusuar yang sudah ada sejak jaman Belanda. Menara mercusuar masih bisa dinaiki untuk yang berminat… rugi deh kalau gak naik. Diatas juga kami terpesona dengan pemandangan indah sembari kami dterpa angin kencang di ketinggian. Selain itu kami juga melihat-lihat museum kecil yang menyimpan foto-foto lama pulau Lengkuas.

Puas menikmati pemandangan indah, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya seakan air bah tumpah ke pulau. Alhamdulillah ada tempat berteduh, bangunan di sekitar mercusuar dan museum dimana kami bisa beristirahat sambil makan siang yang merupakan paket wisata. Hmmm enak benar, paket wisata sudah termasuk pemandu, sewa kendaraan, sewa kapal dan makan. Aku hanya mencari praktisnya, kalau mau lebih hemat, tentunya bisa mencari-cari dan mengatur sendiri. Setelah hujan agak reda, kami berangkat dari pulau Lengkuas menuju pulau Kepayang yang dekat saja.

Di pulau Kepayang bertemu lagi dengan bebatuan besar, tetapi selain itu di pulau tersebut terdapat penangkaran penyu. Sudah pasti anak-anak kami senang sekali melihat penyu-penyu yang siap dikembalikan ke laut. Penyu tersebut bisa juga dibelai dan diangkat, sekedar memuaskan keingintahuan anak-anak. Dari pulau Kepayang, kami kembali ke pulau Belitung untuk sekali lagi melihat-lihat dan sekaligus juga berfoto di pantai Tanjung Tinggi. Shooting filem Laskar Pelangi dilakukan di pantai ini, bahkan dibuatkan prasastinya.

Menjelang kembali ke Jakarta, kami diajak oleh pemandu ke Rumah Adat Belitung dan Pusat Oleh-oleh. Di rumah Adat, kami bisa melihat-lihat aneka kebudayaan Belitung dan juga foto-foto lama pulau tesebut. Untuk buah tangan, sempatkanlah mampir di Pusat Oleh-oleh. Ada saja yang bisa dibeli dari berbagai kerupuk, kue, kerajinan tangan, kaos/t-shirt dengan gambar/tulisan Belitung.

Ringkasnya, liburan di Pulau Belitung sangat menyenangkan dan memanjakan mata karena pemandangan indahnya. Aku juga menyertakan beberapa foto kami disana.

Bagaimana Kabar Lido ??

Standar

Sebagai penduduk Jakarta sejak lama, Lido adalah salah satu tujuan liburan keluarga aku pada waktu  aku masih kanak-kanak. Lido memang sudah ada sejak dulu. Apa keistimewaan Lido? Apakah sekarang masih bisa dikunjungi seperti dulu? Sekian lama, pertanyaan itu menari-nari di kepalaku. Terutama semenjak anak keduaku Ario bersekolah di Cibadak, Jawa Barat. Jalan menuju Cibadak melewati tempat wisata Lido.

Kalau melihat sepintas dari jalan raya menuju Sukabumi, danau Lido masih ada seperti dulu. Saat ini di sekelilingnya banyak restoran atau mungkin warung. Kesannya agak penuh dan pemandangannya terhalang oleh restoran/warung tersebut. Ada juga restoran yang terletak di atas danaunya, makin penuh saja kan. Dalam ingatan saya, Lido jaman saya kecil sudah hampir 40 tahun yang lalu, lapang sekali, pemandangannya lepas. Tapi yang penting danaunya masih ada, tidak kering.  Mau disebut danau, rasanya terlalu kecil mungkin bisa disamakan dengan Situ (danau yang lebih kecil) tapi dari dulu sebutannya juga danau bukan situ.

Desember tahun lalu, kami sekeluarga menyempatkan untuk mampir ke Lido, penasaran juga penampilan terakhirnya seperti apa. Di pinggir danau ada hotel yang bagus, tetapi sebaiknya  reservasi  dulu kalau musim libur. Kami memilih kamar yang pemandangannya ke danau. Melihat danau dari jendela hotel, rasanya damai dan nyaman karena eloknya pemandangan. Di hotel, dipajang foto-foto Danau Lido di jaman dulu sekali (sebelum tahun 1950) beserta warga Belanda yang merintis bangunan di sekitar danau.
Kami juga melihat-lihat sekitar hotel, dimana dulunya ada padang golf, namun saat ini sedang direnovasi. Pemandangan dari padang golf tersebut lebih indah lagi, karena bisa melihat 2 gunung. Satu sisi, gunung Gede dan sisi lainnya gunung Salak.  Nikmat sekali pemandangannya buat kami yang biasa disekitar perkotaan dan gedung.

Untuk melihat-lihat sekitar lokasi hotel, kami menyewa mobil golf. Seru juga menaiki mobil itu, persis mobil mainan, tapi jangkauannya cukup jauh. Di sekitar hotel juga ada areal bermain untuk anak remaja, bisa naik motor ATV dan bermain tembak-tembakan. Di danau, kita bisa menyewa rakit untuk mengelilingi danau.  Anak-anak kami menikmati liburannya. Jadi untuk yang mencari tempat liburan yang lokasinya tidak jauh dari Jakarta dan dengan pemandangan apik dan cuaca yang cukup sejuk, Lido bisa menjadi satu alternatif.

Menurut info yang kami baca, di Lido juga tempat berolahraga terbang layang. Namun lokasi bukit tempat  terbangnya, kami tidak tahu pasti dan kami juga tidak mencari-cari karena tidak ada satupun dari kami yang pernah mencoba terbang layang.

Kabar terakhir yang aku dengar, di sekitar Lido akan dibangun Disneyland atau Theme park/taman hiburan yang besar oleh pengusaha terkenal. Kebayang kan betapa akan ramainya daerah Lido jika ada taman hiburan seperti itu. Belum lagi jalan sekitar yang bakal lebih macet dari saat ini. Semoga pemerintah daerah sudah memikirkan benar pembangunan taman hiburan tersebut beserta dampaknya.  Kami berharap keasrian daerah pegunungan yang sudah menjadi ciri khas disana tidak dirusak oleh pembangunan dan beton-beton.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

102 Hari…..!!!

Standar

Hari per hari menuju aktifitas baruku setelah pensiun dini
Bisa dibilang aku semangat, ada juga sedikit kegalauan, gembira, sedih, penasaran, tegang….

Semangat -> menyambut aktifitas baru
Galau -> perasaanku bercampur aduk
Gembira -> meninggalkan rutinitas lama dan politik kantor
Sedih -> meninggalkan teman-teman lama, kehilangan gaji
Penasaran -> menghadapi lembaran hidup baru sebagai full time mom
Tegang -> apakah aku bisa melaluinya dengan baik sesuai harapan…..

102 hari lagi Insya Allah…

#MenjelangBerhentiMenjadiPegawai

My Early Retirement is Approved

Standar

Today is my new milestone, my early retirement proposal was approved. The effective date is May 1, 2016. Still 10 months to go, working,  receiving salary and being stressed and underpressured.

I know I am the one who is targeted to apply the retirement program. The company want to lay off the senior. Ok, I have a pride, I don’t want they ask me. I will apply before they ask me.

I have to move on, maybe focus in worldventures or selling batik or anything. One thing for sure, I am really a housewife and I will dedicate all my life as a wife and mother.

This is my faith, Allah always gives the best for me.

Written inTangerang, June 2016
#MyEarlyRetirement

103 Hari Menjelang….

Standar

103 hari lagi aku meninggalkan kantor ini
103 hari lagi aku berhenti dari pegawai kantor
103 hari lagi aku punya rutinitas baru
103 hari lagi aku tidak mengharap-harap terima gaji
103 hari lagi aku mulai mengatur jadwal baru
103 hari lagi ……….

Yaaay….aku mulai menghitung mundur dari saat ini, menjelang ‘resign’-nya aku.
Apa yang akan aku kerjakan, belum aku list….yang sudah pasti pekerjaan ibu rumah tangga yang banyak terbengkalai..
Kalau melihat rumah, sudah setumpuk pekerjaan menanti….persis seperti barang-barang rumahku yang bertumpuk tanpa aturan dan sistematika….

Ingin sekali membersihkan rumah dengan tangan sendiri, mengatur rumah sesuai kemauan sendiri, mengantar sendiri anak ke sekolah, memasak makanan dengan selera sendiri….hallow kemana aja aku selama 21 tahun berumah tangga…

Ya begitulah…aku malu mengakui raport aku selama berumah tangga…

#MenjelangBerhentiMenjadiPegawai

Hiiiiiiii……Lawang Sewu

Standar

Bulan Juli lalu, kami sekeluarga jalan-jalan ke Surabaya dengan memakai mobil sendiri. Berhubung waktu perjalanan dari Jakarta ke Surabaya cukup lama, kami sepakat untuk berhenti dan menginap di Semarang.

Dengan berbekal peta pulau Jawa dan print-out hasil browsing yang berisi nama-nama hotel, rekomendasi hotel dan tempat-tempat menarik, kami berangkat.

Di Semarang, sebenarnya kami tidak berniat jalan-jalan, niatnya benar-benar mau istirahat dan segera berlanjut  ke Surabaya. Tapi begitu mendengar kami mampir di Semarang, anakku ribut minta untuk melihat gedung Lawang Sewu. Terutama mba Hani anak sulungku, penasaran dengan bangunan ini, karena membaca mengenai kisah-kisah seram seputar bangunan tersebut. Aku sebenarnya gak terlalu tau mengenai gedung ini, tapi kalau melihat gedung-gedung tua, aku dan suamiku sangat menyukainya, karena arsitekturnya sering unik.

Kebetulan sekali, hotel tempat kami menginap, letaknya satu jalan dengan gedung Lawang Sewu. Untuk memuaskan rasa ingin tahu anakku dan juga aku sendiri, akhirnya kami niatkan untuk mengunjungi gedung tersebut pagi-pagi sekali sebelum pergi ke Surabaya. Dengan berjalan kaki, kami datang ke gedung tersebut. Dilihat dari luar pagar, memang gedung ini tampak menarik karena pintunya yang memang banyak (sesuai namanya Lawang Sewu alias Pintu Seribu). Ternyata memang kami datang terlalu pagi, sehingga gedung tersebut belum dibuka dan belum ada petugas Akhirnya kami masuk melalui pagar samping yang memang terbuka karena ada orang yang mempunyai bangunan kecil di belakang gedung (mungkin salah satu penjaga).

Sedikit bingung juga, karena di halaman depan ada locomotif kereta api. Saya pikir, apa hubungannya gedung ini dengan kereta api. Ternyata pernah menjadi gedung Jawatan Kereta Api, sesuai info yang aku dapat dari Wikipedia.

“Bunda, gedung ini angker” kata anakku. ‘Orang paling seneng melebih-lebihkan, mungkin kalau gedungnya dirawat dengan baik, penampilannya tidak akan seram’, sahutku. Kata anakku lagi ‘Mbak sering baca cerita-cerita seram mengenai gedung ini, katanya dibawah ada penjara bawah tanah dan banyak napi yang meninggal disitu”. Pantes, anakku tertarik, ternyata ada kisah-kisah yang membuatnya penasaran.

Tentu saja kalau bagi aku pribadi, bukan masalah seramnya yang menarik tapi penampilan gedung itu sendiri.  Dengan pintunya yang banyak dengan model yang sama, kesannya seperti asrama. Model pintunya juga unik, memakai krepyak. Gedung ini mempunyai dua sisi yang sama, dengan bentuk sisi kiri dan kanan yang identik. Tapi selain gedung utama tersebut ada lagi gedung tambahan di samping dan belakang yang terpisah, dengan model yang sama, hanya terdiri dari satu baris. Di gedung tempat pintu masuk utama, ada jendela dengan kaca patri yang tinggi, gambarnya sendiri aku kurang jelas (tapi aku posting juga gambar kaca patri di gedung yang cukup jelas, dari jepretan seseorang). Aku mengambil foto sebisanya, karena kameraku jenis pocket biasa.

Karena tidak ada penjaga, kami hanya melihat-lihat sendiri, tanpa tau sejarah gedung tersebut (belum sempat baca). Anehnya setiap ruangan ada pintu penghubungnya, jadi ruangannya tidak total terpisah oleh tembok. Informasi dari suamiku, gedung tersebut sering juga dijadikan tempat pameran. Tapi kenapa kurang bersih dan terawat ya, …, pikirku, kalau dirawat dengan ‘proper’, aku yakin gedung ini akan indah sekali dan pantas dijadikan landmark kota Semarang.

‘Serem ya bunda’, komentar mba Hani. ‘Apanya yang serem, mungkin kalau malam agak seram, karena suasana yang sepi dan gelap’, tambahku. ‘Ya sudah, bunda foto-foto saja, siapa tau ada penampakan’ kata Ario anak keduaku. ‘Hahaha, ok deh bunda fotoin’…….aku jadi geli, mendengar pendapat anakku yang sudah terkontaminasi cerita-cerita seram dari kakaknya. Disini, aku posting beberapa foto, tapi bukan cuma gedungnya saja, kami juga numpang narcis……seperti biasa……. Lain kali, kalau ada waktu lebih banyak, kami ingin berkunjung kembali ke gedung itu, untuk melihat lebih banyak.

image

image

image

image

image

image

image

Ini cerita yang aku kutip dari Wikipedia mengenai gedung ini.

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1903 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaranTugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memilikipintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampaiseribu, mungkin juga karena jendelabangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945) di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Apimelawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarangdengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Saat ini bangunan yang berusia 100 tahun tersebut kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Sesekali digunakan sebagai tempatpameran, di antaranya Semarang Expo dan Tourism Expo.Pernah ada juga wacana yang ingin mengubahnya menjadi hotel. Pada tahun 2007, bangunan ini juga dipakai untuk film dengan judul yang sama dengan bangunannya.

Foto kaca patri dari http://www.igougo.com/photos/journal_photos/sem_nis_window.jpg

image

Foto Lawang Sewu lama dari  :
http://media.photobucket.com/image/lawang%20sewu/java_89/LawangSewu.jpg

image

*pernah diposting di triajita multiply*