Category Archives: Sekolah

Seberapa Pentingkah OPK/Ospek/MOS….??

Standar

Bertemu dengan tahun ajaran baru, bertemu lagi dengan orientasi siswa baru untuk yang baru memasuki sekolah baru. Tahun ini, anakku kena giliran mengikuti OPK sebagai mahasiswa baru. Yay, akhirnya anakku ada yang menjadi mahasiswa.

Alhamdulillah, anakku diterima di universitas negeri yang berlokasi masih di sekitar Jakarta melalui jalur undangan. Artinya aku agak-agak berkurang cemasnya dalam menunggu-nunggu hasil ujian, karena sudah diterima lebih awal. Aku pikir anakku ini (mba Hani) bisa rada santai, karena pengumuman penerimaan sudah sejak akhir Mei, sementara kuliah baru dimulai awal September. Terbayang libur 3 bulan sebelum sibuk kuliah.

Ternyata, kami (anakku dan aku) tidak bisa berharap begitu karena universitas sudah menyiapkan berbagai kegiatan yang harus diikuti oleh mahasiswa baru (maba). Kegiatan tersebut antara lain meliputi latihan paduan suara untuk acara wisuda dan sambutan mahasiswa baru, sejenis workshop untuk penyesuaian diri sebagai maba, training metode pembelajaran dan penggunaan sistem dan puncak acara adalah OPK (sejenis orientasi maba yang penuh dengan tugas-tugas).

Sibuknya sudah seperti mahasiswa saja, setiap hari pergi pagi dan pulang malam. Ada saja yang dibeli untuk memenuhi tugas. Tugas-tugas tersebut ada yang merupakan tanggung jawab individu ada pula yang kelompok.

Ada tugas-tugas yang memang saya pikir ada manfaatnya, seperti membuat buku angkatan yang berisi data-data pribadi 100 orang maba beserta fotonya. Dengan mengerjakan tugas ini, maba mau tak mau perlu berkenalan dengan teman-teman barunya, cukup baik sebagai awal dari kegiatan kuliah. Ada lagi tugas membuat proposal bisnis yang innovative. Seru juga aku membaca proposal bisnis “veggie ice-cream (es krim sayur)”. Selain itu yang cukup bermanfaat juga, pembuatan essay dengan berbagai tema yang telah ditentukan. Salah satu essay malah harus ditulis dalam bahasa Inggris. Sudah sewajarnya mahasiswa banyak menulis, tugas ini salah satu awal pengenalannya.

Walaupun begitu, masih ada juga tugas-tugas yang tampaknya tidak begitu jelas manfaatnya seperti pembuatan papan nama yang aturannya super njelimet. Dalam waktu dua minggu saja, papan nama tersebut tidak beres-beres saking susahnya, padahal sudah dibuat bersama-sama satu kelompok (lebih kurang dua belas orang). Mungkin hikmah tugas ini, mendukung kerjasama kelompok. Ada juga, tugas membawa makanan jenis tertentu, berbaris di panas terik. Ini terlihat seperti arogansi kakak senior.

Jadi teringat masa lalu, di masa orientasiku sebagai maba. Saat itu tahun pertama ospek diisi dengan kegiatan P4 (aku lupa kepanjangannya, sejenis pembahasan Pancasila).  Kelihatan sekali, saat itu kakak senior tidak puas melihat kegiatan orientasi yang diselenggarakan oleh universitas karena kegiatannya lebih banyak dalam kelas. Mungkin kakak senior ingin ‘mengerjai’ maba seperti mereka ‘dikerjai’ pada tahun-tahun sebelumnya. Akhirnya, entah bagaimana koordinasinya, kami maba satu fakultas diminta datang ke suatu tempat dan disanalah mulai terjadi pembataian dengan baris berbaris, perintah-perintah aneh dibawah terik matahari. Dilalahnya, terungkap beberapa bulan setelah itu, acara tersebut belum mendapat ijin universitas maupun fakultas, yang ujung-ujungnya ketua Senat (BEM istilah sekarang) dan sekretaris umumnya diskors dari kegiatan belajar selama satu semester.

Ya begitulah dari tahun ke tahun, perkenalan siswa baru selalu saja berlangsung di berbagai sekolah dengan bermacam  kegiatan. Namun masih ada juga yang memanfaatkannya sebagai ajang menunjukkan arogansi dan kekuasaan, yang sebenarnya jauh dari esensi perkenalan itu sendiri. Jangan lagi ada korban fisik maupun mental karena kegiatan-kegiatan ini, tidak ada yang megharapkan kejadian buruk terutama di sekolah baru yang sepatutnya penuh dengan harapan yang manis untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan berguna.

Kalau aku pribadi, menilai kegiatan perkenalan ini tetap diperlukan dengan memperhatikan koridor tertentu seperti harus diketahui oleh universitas, untuk setiap kegiatan tujuan akhirnya diungkapkan secara jelas. Jadi tidak ada kegiatan yang berkesan seperti ajang balas dendam dan pertunjukan arogansi kekuasaan.

-ditulis saat hanifah masuk universitas tahun 2013-

Iklan

Bersiap Sekolah Asrama

Standar

Sebentar lagi (h-12), aku bakal menangis bombai nih. Anak keduaku. Ario mulai masuk asrama dan menjadi murid SMU yang tinggal di asrama. Yang ibu seperti aku, pasti bisa membayangkan bagaimana sedihnya berpisah dengan anak. Selama ini Ario tidak pernah bepergian jauh dari aku, pernah juga acara pesantren sekolah yang tidak lebih lama dari 3 hari.
Tapi ini sudah menjadi keputusan suami dan aku. Kami sudah banyak mencari referensi, menganalisa, menimbang-nimbang dan terutama berdoa untuk mendapat pencerahan. Beginilah hasil akhirnya, kami mantap menyekolahkan Ario di sekolah asrama.
Kalau sudah mantap, artinya aku tidak bimbang ragu, galau dan sedih berkepanjangan bukan? (pertanyaan retorika untuk menguatkan hati). Tentu tidak, Insya Allah.
Walaupun banyak yang tidak sepaham ataupun tidak mengerti keputusan kami tersebut, kami tetap berusaha menjelaskan sebisanya. Tidak enak juga, kalau dikatakan tega menjauhkan anak atau  gak sayang dengan anak, pendidik utama anak kan orang tua bukan guru/sekolah.
Padahal justru kami melakukan ini karena kami sayang padanya dan menyiapkan bekalnya untuk masuk hutan rimba kehidupan. Apalagi mengingat Ario seorang anak laki-laki, yang nantinya akan memikul tanggung jawab yang berat.
Yaaaaah begitulah, aku masih menata dan menguatkan hatiku. Akumencamkan kata-kata pak kepala sekolah, seringkali yang membuat anak galau dan tidak betah tinggal di asrama, karena orang tua terutama ibunya selalu memikirkan dan sedih berkepanjangan akibat berpisah dengan anaknya. Hubungan batin yang kuat antara seorang ibu dan anaknya, membuat apa yang dirasakan si ibu akan terasa juga di anak.
So….aku harus bersiap……12 hari lagi tidak akan lama, aku akan memberi semangat kepada anakku dalam menghadapi fase baru di kehidupannya sebagai pelajar SMU dan tidak selalu didampingi orangtuanya.