Category Archives: Ibu Bekerja

102 Hari…..!!!

Standar

Hari per hari menuju aktifitas baruku setelah pensiun dini
Bisa dibilang aku semangat, ada juga sedikit kegalauan, gembira, sedih, penasaran, tegang….

Semangat -> menyambut aktifitas baru
Galau -> perasaanku bercampur aduk
Gembira -> meninggalkan rutinitas lama dan politik kantor
Sedih -> meninggalkan teman-teman lama, kehilangan gaji
Penasaran -> menghadapi lembaran hidup baru sebagai full time mom
Tegang -> apakah aku bisa melaluinya dengan baik sesuai harapan…..

102 hari lagi Insya Allah…

#MenjelangBerhentiMenjadiPegawai

Iklan

My Early Retirement is Approved

Standar

Today is my new milestone, my early retirement proposal was approved. The effective date is May 1, 2016. Still 10 months to go, working,  receiving salary and being stressed and underpressured.

I know I am the one who is targeted to apply the retirement program. The company want to lay off the senior. Ok, I have a pride, I don’t want they ask me. I will apply before they ask me.

I have to move on, maybe focus in worldventures or selling batik or anything. One thing for sure, I am really a housewife and I will dedicate all my life as a wife and mother.

This is my faith, Allah always gives the best for me.

Written inTangerang, June 2016
#MyEarlyRetirement

103 Hari Menjelang….

Standar

103 hari lagi aku meninggalkan kantor ini
103 hari lagi aku berhenti dari pegawai kantor
103 hari lagi aku punya rutinitas baru
103 hari lagi aku tidak mengharap-harap terima gaji
103 hari lagi aku mulai mengatur jadwal baru
103 hari lagi ……….

Yaaay….aku mulai menghitung mundur dari saat ini, menjelang ‘resign’-nya aku.
Apa yang akan aku kerjakan, belum aku list….yang sudah pasti pekerjaan ibu rumah tangga yang banyak terbengkalai..
Kalau melihat rumah, sudah setumpuk pekerjaan menanti….persis seperti barang-barang rumahku yang bertumpuk tanpa aturan dan sistematika….

Ingin sekali membersihkan rumah dengan tangan sendiri, mengatur rumah sesuai kemauan sendiri, mengantar sendiri anak ke sekolah, memasak makanan dengan selera sendiri….hallow kemana aja aku selama 21 tahun berumah tangga…

Ya begitulah…aku malu mengakui raport aku selama berumah tangga…

#MenjelangBerhentiMenjadiPegawai

Sungguh Tidak Mudah

Standar

Bukan minta pengertian, bukan juga minta ‘excuse’, bukan minta dukungan, aku cuma menceritakan fakta yang aku alami sendiri. Sudah sering aku mendengar komentar beberapa temanku yang sudah bapak-bapak (punya anak, istri). Kok suamimu tega sih membiarkan istrinya bekerja diluar rumah, memang keluarga bisa keurus dengan baik. Ada juga komentar dari teman yang profesinya ibu rumah tangga, wah kalau melihat Tria, kayaknya jadi ikut capek, pagi banget sudah berangkat, malem baru pulang…gimana keluarganya tuh.

Frankly speaking, yup sungguh tidak mudah jadi ibu bekerja. Aku sadar banyak hal yang terlewat karena aku bekerja diluar rumah. Contoh :
– Yang melihat pertama kali anakku bisa jalan bukan aku
– Yang memasak makanan sehari-hari bukan aku
– Yang mengantarkan anakku sekolah bukan aku
– Yang memeriksa tugas sekolah, tidak selalu aku

Tentu bukan keputusan yang mudah, untuk tetap bekerja di luar rumah (dari sebelum menikah aku sudah nguli di luar rumah). Panjang dan alot, sampai akhirnya dapat keputusan untuk tetap bekerja. Suamiku, alhamdulillah, bisa memahami dan sepakat untuk meminimalisir resiko berdua. Gak mungkin aku sanggup, kalau suami gak mendukung.

Aku tetap bekerja, memang ada kebutuhannya. Dulunya aku sering diledekin teman-temanku, kayaknya Tria bekerja untuk kebutuhan ‘self esteem’ ya, untuk dapat pengakuan, untuk dapat respect, aktualisasi diri karena sudah sekolah susah-susah. Ternyata tidak, aku bekerja masih untuk memenuhi kubutuhan keamanan (keuangan, kesehatan, kesejahteraan) -> sedikit diatas kebutuhan pokok. Kalau dilihat teori ‘Hierarchy of Needs’nya Abraham Maslow, ini masuk needs no 2 (safety and security), sedangkan self esteem merupakan needs no 4.
 
Sebagai seorang muslim, aku juga tahu, Islam memperbolehkan wanita bekerja dengan batasan dan kaidah tertentu. Segala sesuatu tergantung niatnya, kata sebuah hadist. Jadi aku niatkan bekerja ini sebagai ibadah untuk mensejahterakan keluargaku. Dengan begini, rasanya langkah menjadi lebih ringan untuk meninggalkan rumah.

Bukan berarti dengan ringan langkah, aku bisa bersantai-santai berangkat kerja. Tadi sudah saya sebutkan tidak mudah, bisa disebut saya jago ‘silat’ (bersilat dalam tindakan dan emosi). Dikala di kantor diomeli bos, di rumah tetap harus tersenyum menghadapi keluarga. Dikala, kepala dan badan mumet mempersiapkan presentasi esok hari, suami dan anak minta didengar curhatnya (bukan berarti asal dengar, tapi juga perhatian dan memberi masukan).

Cerita sedikit pengalamanku, waktu punya anak pertama dan aku harus masuk kerja setelah cuti melahirkan. Rasanya ragu sekali meninggalkan anak bayi 3 bulan, hanya dengan asisten di rumah, apalagi banyak cerita serem mengenai pengasuh anak. Akhirnya setiap hari, sebelum berangkat kantor, aku mengantarkan anakku dan asisten beserta perlengkapannya ke rumah orang tuaku. Harapanku, orang tua dapat mengawasi si asisten dalam bekerja. Hal ini berlangsung selama 3 tahun, dan setelah itu baru aku yakin dan percaya meninggalkan anak beserta asisten.  

Alhamdulillah, sudah lebih dari 15 tahun aku melalui ini semua (jadi ibu bekerja di luar rumah). Kalau ada nilai sebagai ibu, mungkin nilaiku tidak bagus tapi Insya Allah, aku tetap berusaha menjadi ibu yang baik dengan cari ilmu sebanyak-banyaknya (baca buku, browsing, sharing, konsultasi dengan ustadz). Alhamdulillah, urusan rumah tangga terkendali, ini juga berkat dukungan orang-orang terdekat.
 
Hal-hal yang sangat membantu :
– Dukungan suami dan anak (mereka bangga dengan bundanya yang bekerja di luar rumah, Alhamdulillah)
– Bantuan asisten, kadimah, supir, tukang masak dsb yang perlu sering-sering dicoaching supaya sejalan dengan kita
– Dukungan orang tua (terutama do’anya sungguh mustajab)
– Alat-alat seperti telepon, hp, fax sangat memudahkan dan membantu komunikasi
– Organiser (semacam agenda) di rumah untuk mencatat segala rupa yang harus difollow-up
 
Mungkin sekali waktu aku perlu memikirkan untuk mulai bekerja yang tidak perlu meninggalkan rumah atau tidak perlu keluar rumah lama-lama. Rasanya ini jauh lebih baik karena tetap berkarya, tapi keluarga tetap termonitor dengan baik.
 
*saya mulai mengkhayal, jadi guru privat, jadi guru musik, jadi penulis, jadi penterjemah, jadi penjahit baju, jadi pelukis*

Dari blogku triajita.multiply, ditulis tanggal 4 Januari 2009

 

Kerja Yuk Kerja…………

Standar

 

Huh….hari ini hari terahir aku menikmati cutiku. Aku cuti setelah Lebaran berlalu karena aku memang niat untuk memberi kesempatan cuti kepada teman-temanku yang mudik. Gantian ceritanya.
Bagaimana perasaanku menjelang masuk kantor kembali? (halah, cuma cuti 5 hari aja kok pake nanya ya)….. Semangat pastinya karena udah tau kerjaan selalu banyak, tapi satu sisi kebayang capeknya sepulang bekerja. Apalagi anak-anakku masuk sekolah bersamaan dengan aku masuk kantor….wah pasti rame paginya..
Yah, inilah resiko yang harus aku lewati karena memilih menjadi ibu bekerja.

Insya Allah, aku cukup menikmati pekerjaanku walau harus melewati berbagai tantangan karena tugas utama sebagai istri dan ibu wajib ditunaikan dahulu. Yang jelas, aku memang memilih untuk bekerja dan bukan terpaksa bekerja…..beda kan persepsinya kalau kita terpaksa bekerja.

Untuk memotivasi semangat bekerja, aku sering mengingat kembali apa tujuanku bekerja. Apa ya tujuan aku bekerja ???
– Ingin mengamalkan ilmu
– Ingin dapat ilmu yang banyak
– Ingin dapat penghasilan untuk bantu keluarga
– Ingin menambah wawasan
– Ingin memperluas pertemanan
– Ingin menambah rasa percaya diri
– Ingin pintar komunikasi

Kira-kira tercapai gak tujuanku tersebut, Alhamdulillah setelah lebih 15 tahun bekerja, so far so good.
Bukan berarti aku meremehkan teman-teman yang gak bekerja, gak mungkin mencapai tujuan-tujuan seperti tujuanku tersebut. Aku yakin sekali tujuanku tersebut bisa dicapai melalui jalan manapun, menjadi ibu rumah tanggakah atau bekerja di rumah atau berwiraswasta…..
Namun, khusus aku… dulunya aku perempuan yang pemalu karena orang tuaku yang sangat protektif dan selalu melindungiku (yang penerapannya aku tidak boleh mengikuti kegiatan apapun dan kalau mau pergi kemanapun hanya diantarkan oleh orang tua). Jadi rasa-rasanya bekerja di luar rumah untuk karakter sepertiku sangat membantu untuk meningkatkan rasa percaya diriku. Walaupun kadang-kadang aku masih sering malu kalau bicara di depan umum.

Insya Allah, aku tetap bisa melalui semua ini dengan mulus dan aku tidak melupakan kewajiban utamaku untuk mengurus keluarga tercinta.

Gambar diambil dari http://www.erikacarrillo.com/how-to-balance-work-and-being-a-mom

Ditulis 4 Oktober 2009 untuk http://triajita.blogspot.com/