Category Archives: Aktivitas

Perempuan Menyetir

Standar
Sering sekali aku mendengar suamiku, teman-teman laki-lakiku berkomentar mengenai perempuan menyetir. Komentarnya cenderung negatif. Kalau di jalan ada mobil yang berjalan lambat atau berjalan di garis marka atau belok tanpa lampu sen, mereka berpikiran pasti yang menyetir perempuan. Ini contoh komentar yang terdengarĀ  ‘cewe ini nyetirnya kacau banget’ atau contoh komentar lain ‘parah kalau ibu-ibu nyetir’. Padahal mereka belum tahu pasti bahwa yang menyetir mobil tersebut perempuan.
Entah mengapa, para lelaki sering berpikiran bahwa perempuan tidak sepandai laki-laki dalam menyetir. Aku pernah dikirimkan oleh teman, video kumpulan kekacauan berkendara mobil dimana sang supir adalah perempuan. Niat sekali si penyunting video tersebut. Aku yakin kalau mau dicari, banyak juga video kekacauan laki-laki dalam berkendara mobil. Tetapi memang jumlah lelaki yang berkendara juga lebih banyak dari perempuan, jadi wajar juga kalau yang menyetir kurang baik juga lebih banyak.
Ada pendapat bahwa perempuan tidak sehebat laki-laki dalam melihat peta dan dalam membayangkan lokasi atau ruang secara 3 dimensi. Perempuan lebih sering memakai perasaan dibanding logikanya dalam berpikir. Sisi lain, perempuan lebih pintar dalam berpikir maupun bekerja secara multi (pada saat yang bersamaan). Apakah hal-hal ini mempengaruhi gaya menyetir perempuan yang ‘khas’ itu.. entahlah, aku belum pernah mencari penelitiannya. Mungkin di tulisan ilmiah, hal ini bisa dibahas.
Apakah kita perempuan perlu berusaha merubah stereotip mengenai perempuan menyetir. Rasanya gak perlu ya, kita punya banyak kelebihan lain kok dibanding laki-laki. Jadi biar saja untuk urusan menyetir kita dianggap kurang pintar dibanding laki-laki.
Walaupun pendapat umum begitu, ada juga perempuan-perempuan yang ahli menyetir. Seperti pembalap-pembalap perempuan.
Aku sendiri mengakui aku punya kekurangan dalam menyetir mobil. Aku susah sekali memarkir secara paralel. Hitunganku kurang bagus dalam persoalan parkir paralel. Jadi solusi aku (mungkin kurang tepat disebut solusi), berusaha sebisa mungkin menghindari parkir paralel. Mending aku mencari tempat parkir lain, walaupun lebih jauh.
Walaupun kodrat perempuan lebih banyak berurusan dengan urusan domestik atau rumah tangga, tapi bisa menyetir kendaraan sangat membantu kegiatan sehari-hari. Kita bisa ke pasar, supermarket, antar jemput anak/orang tua yang lokasinya tidak jauh dari rumah tanpa menunggu adanya laki-laki yang membantu. Ini menurut pendapat aku pribadi sebagai perempuan.
Jadi biar saja diledek kurang bagus dalam menyetir tapi keahlian menyetir tersebut bisa bermanfaat pada kondisi-kondisi tertentu atau bila diperlukan.

Gambar diambil dari : http://www.gettyimages.co.uk

 

Iklan

Selera TV

Standar

Tiap orang mempunyai selera tontonan yang berbeda. Di rumahku saja yang membernya cuma 5, punya acara TV kesukaan masing-masing. Kecuali mba Hani si sulungku, yang lebih suka komputer daripada menonton TV.
Dibilang suka, keluargaku juga tidak termasuk maniak TV. Jatah nontonnya cuma malam (kalau sempat) atau wiken. Jadi jangan tanyakan acara TV ke aku ataupun keluargaku…..maaf gak terlalu update…
Walaupun jarang-jarang nonton, aku berlangganan TV Kabel yang harganya lumayan, karena aku langganan beberapa channel premium…(Gak tau kenapa disebut premium..)
Tetap saja mau channel premium kek…channel apa….nontonnya jarang juga. Terus kalau nontonnya jarang, kenapa aku bikin tulisan ini ya. Itulah inti ceritanya…aku survey kecil-kecilan yang respondennya keluargaku saja.. Untuk menentukan apakah aku masih perlu berlangganan TV kabel atau apakah paket TV langganan kami sudah dimanfaatkan secara maksimal.

Ini hasilnya :
Keluarga saya, rata-rata menonton TV 2 sampai 4 jam perhari.
Paling jarang nonton mba Hani (kurang dari 1 jam per hari) dan ayah (maksimal 2 jam).
Hari paling lama menonton Sabtu dan Minggu

Channel TV atau acara favorit :
– Ayah – TVRI, Kompas TV, National Geography Channel. Acara : berita, budaya, jalan-jalan, agama, alam
– Bunda (aku) – Fox, TVRI, Metro TV,Fox Movies, HBO, AXN. Acara : berita, sepak bola, berita olahraga, film seri detektif, film layar lebar
– Hani – National Geography Channel. Acara : Alam, budaya
– Ario – National Geography Channel, Nat Geo Wild, Nickledeon. Acara : Alam, binatang, film kartun
– Arin – Disney Channel, Disney Junior, Animax. Acara : film kartun film anak.

Kesimpulannya :
Keluargaku lebih banyak menonton TV luar (Internasional). Alasannya : acaranya lebih sesuai dengan selera, sedikit iklan, banyak pilihan acara. Berarti aku masih akan tetap berlanjut berlangganan TV Kabel.

Pertanyaannya kalau selera berbeda begitu, bagaimana cara menontonnya sementara TV hanya dua. Yaitu bertoleransi dan berbagi, kalau hari ini aku sudah banyak menonton, besoknya gantian jatah yang lain. Memang menonton TV harus dibatasi, untuk menghindari kita hanya melakukan satu jenis kegiatan. Coba lihat, kalau seperti gambar diatas, setiap anggota keluarga memegang remote control….kacau…..

Pertanyaan selanjutnya, apakah tidak terlalu boros berlangganan TV Kabel kalau jarang menonton TV. Menurut aku tidak, karena kita mempunyai lebih banyak pilihan yang sesuai dengan selera dan bisa jadi acaranya lebih baik. Habis, melihat TV lokal, banyak acara sinetron yang tidak sesuai untuk dilihat anak-anak atau acara berita selebriti yang tidak bermanfaat. Tapi ini hanya pendapat pribadi aku, bukan hasil riset canggih.

So,jangan cerita OVJ (yang terkenal itu) denganku yaaa, karena pasti aku tidak tau ceritanya sama sekali..la aku gak pernah menonton…. šŸ™‚

Gambar diambil dari :http://www.laughparty.com/print.php?id=225

Enjoying My Days

Standar

Bekerja di rumah sendiri tanpa asisten selama seminggu ini, membuat suamiku berpikir bahwa aku capek secara fisik dan merasa bosan di rumah. Kenyataannya aku sangat menikmati menjadi pengurus rumah tanggaku sendiri. Bisa jadi, karena sehari-hari aku banyak di luar rumah atau karena aku bukan orang yang ahli dalam urusan rumah tangga terutama masak memasak sehingga aku merasa ‘excited’ dan tertantang untuk menyelesaikannya. Apapun sebabnya, aku rasa tidak begitu penting untuk dibahas, yang penting aku menjalankannya dengan senang hati.

Di rumah aku tidak perlu atau jarang menghadapi orang yang menyebalkan, tidak juga menghadapi politik kantor yang sering kali membuat stress. Semenyebalkannya anak sendiri, tetap saja mereka ‘flesh Ā & blood’ kita, yang artinya kita tetap memperjuangkan mereka dalam keadaan apapun. Politik rumah juga tidak ada, wong penguasanya suamiku dan aku, ya tidak ada yang berusaha menjatuhkan kami.

Pertanyaan selanjutnya kenapa juga aku masih bekerja di luar rumah kalau jadi ibu rumah tangga mengasikkan. Ini pertanyaan yang berat, aku malu mengakui bahwa aku masih memerlukan penghasilannya dan bekerja juga merupakan aktualisasi diriku bahwa aku mampu Ā hidup mandiri. Aku menyadari bahwa imbalan menjadi ibu rumah tangga jauh lebih mulia, seperti senyum manis keluargaku ataupun jangka panjangnya mendapatkan pahala dan surga sepanjang dia menjalankannya dengan sepenuh hati dan ikhlas.

Disini aku tidak berniat membicarakan hal yang filosofis seperti membandingkan ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa berganti kegiatan sekali-kali, itu sangat mengasikkan. Seperti yang aku alami ini, biasa bekerja di luar rumah kemudian beganti dengan bekerja di rumah tangga, wow…kegiatan yang menantang…..

 

Gambar diambil dariĀ http://gogreygirl.wordpress.com/2011/02/04/cartoons-art-computer-crashes/

Dikejar Liburan

Standar

Menjelang hari raya, suasana sudah seperti liburan. Anak sekolah tidak terlihat lagi, tema pembicaraan ‘mudik kemana’, ‘sudah persiapkan apa saja buat lebaran’….dsb..dsb. Bagaimana kalau yang bekerja, yaaa pekerjaan tidak mengenal hari libur, datang dan ada terus…malah semua tenggat menjadi maju, karena mengejar sebelum cuti bersama.

Alhasil, di rumah aku santai dengan anak-anak, di kantor aku dikejar-kejar. Tapi supaya aku tetap semangat bekerja, aku menyebutnya dikejar liburan bukan dikejar pekerjaan.

Jalan menuju rumahku adalah jalan yang sering dilalui orang jika ingin mudik melalui pantura ataupun cipularang. Jadi kebayangkan bagaimana ramainya jalan menuju rumahku. Kalau aku pulang dikala musim menjelang liburan ataupun mudik seperti ini, banyak sekali mobil yang lalu lalang membawa bawaan lebih diatapnya. Ā Aku cukup bersabar, mengikuti rombongan libur dan mudik ini.

Pagi ini, aku dan suamiku sudah libur…..ooo asiknya sementara bisa meninggalkan hiruk pikuk di kantor. Bagaimanapun juga kita perlu hidup seimbang antara membagi waktu untuk Pemilik kita (Allah SWT), keluarga, kantor, lingkungan sekitar dan lain-lain.

Selamat menikmati liburan…………

Every Monday

Standar

Tugas Senin pagi, mengantarkan suami ke bandara. Ya, suamiku termasuk rombongan 4S –> suami setor seminggu sekali.
Konsekuensi tugas, karena suamiku bertugas di Lampung. Sementara anak-anak dan aku sudah mempunyai kegiatan tetap di Jakarta. Jadi agak repot, untuk pindah ke lain kota hanya untuk penugasan 2 atau 3 tahun.
Susahnya banyak, jadi sibuk masing
-masing karena punya 2 rumah tangga, banyak biaya tambahan, sering menghadiri acara sendirian. Tapi senangnya lebih banyak, punya tempat tujuan jalan-jalan baru (Lampung), lebih sering kangen sehingga lebih mesra (ehem.. ehem).
Yaa…inilah kegiatan senin pagiku, ke bandara Soekarno Hatta.
Bye bye ayah……see you on Friday..