Author Archives: triana

About triana

humoris, aktif, ceria, positif, mempunyai 4 soulmate motivator.........

Sungguh Tidak Mudah

Standar

Bukan minta pengertian, bukan juga minta ‘excuse’, bukan minta dukungan, aku cuma menceritakan fakta yang aku alami sendiri. Sudah sering aku mendengar komentar beberapa temanku yang sudah bapak-bapak (punya anak, istri). Kok suamimu tega sih membiarkan istrinya bekerja diluar rumah, memang keluarga bisa keurus dengan baik. Ada juga komentar dari teman yang profesinya ibu rumah tangga, wah kalau melihat Tria, kayaknya jadi ikut capek, pagi banget sudah berangkat, malem baru pulang…gimana keluarganya tuh.

Frankly speaking, yup sungguh tidak mudah jadi ibu bekerja. Aku sadar banyak hal yang terlewat karena aku bekerja diluar rumah. Contoh :
– Yang melihat pertama kali anakku bisa jalan bukan aku
– Yang memasak makanan sehari-hari bukan aku
– Yang mengantarkan anakku sekolah bukan aku
– Yang memeriksa tugas sekolah, tidak selalu aku

Tentu bukan keputusan yang mudah, untuk tetap bekerja di luar rumah (dari sebelum menikah aku sudah nguli di luar rumah). Panjang dan alot, sampai akhirnya dapat keputusan untuk tetap bekerja. Suamiku, alhamdulillah, bisa memahami dan sepakat untuk meminimalisir resiko berdua. Gak mungkin aku sanggup, kalau suami gak mendukung.

Aku tetap bekerja, memang ada kebutuhannya. Dulunya aku sering diledekin teman-temanku, kayaknya Tria bekerja untuk kebutuhan ‘self esteem’ ya, untuk dapat pengakuan, untuk dapat respect, aktualisasi diri karena sudah sekolah susah-susah. Ternyata tidak, aku bekerja masih untuk memenuhi kubutuhan keamanan (keuangan, kesehatan, kesejahteraan) -> sedikit diatas kebutuhan pokok. Kalau dilihat teori ‘Hierarchy of Needs’nya Abraham Maslow, ini masuk needs no 2 (safety and security), sedangkan self esteem merupakan needs no 4.
 
Sebagai seorang muslim, aku juga tahu, Islam memperbolehkan wanita bekerja dengan batasan dan kaidah tertentu. Segala sesuatu tergantung niatnya, kata sebuah hadist. Jadi aku niatkan bekerja ini sebagai ibadah untuk mensejahterakan keluargaku. Dengan begini, rasanya langkah menjadi lebih ringan untuk meninggalkan rumah.

Bukan berarti dengan ringan langkah, aku bisa bersantai-santai berangkat kerja. Tadi sudah saya sebutkan tidak mudah, bisa disebut saya jago ‘silat’ (bersilat dalam tindakan dan emosi). Dikala di kantor diomeli bos, di rumah tetap harus tersenyum menghadapi keluarga. Dikala, kepala dan badan mumet mempersiapkan presentasi esok hari, suami dan anak minta didengar curhatnya (bukan berarti asal dengar, tapi juga perhatian dan memberi masukan).

Cerita sedikit pengalamanku, waktu punya anak pertama dan aku harus masuk kerja setelah cuti melahirkan. Rasanya ragu sekali meninggalkan anak bayi 3 bulan, hanya dengan asisten di rumah, apalagi banyak cerita serem mengenai pengasuh anak. Akhirnya setiap hari, sebelum berangkat kantor, aku mengantarkan anakku dan asisten beserta perlengkapannya ke rumah orang tuaku. Harapanku, orang tua dapat mengawasi si asisten dalam bekerja. Hal ini berlangsung selama 3 tahun, dan setelah itu baru aku yakin dan percaya meninggalkan anak beserta asisten.  

Alhamdulillah, sudah lebih dari 15 tahun aku melalui ini semua (jadi ibu bekerja di luar rumah). Kalau ada nilai sebagai ibu, mungkin nilaiku tidak bagus tapi Insya Allah, aku tetap berusaha menjadi ibu yang baik dengan cari ilmu sebanyak-banyaknya (baca buku, browsing, sharing, konsultasi dengan ustadz). Alhamdulillah, urusan rumah tangga terkendali, ini juga berkat dukungan orang-orang terdekat.
 
Hal-hal yang sangat membantu :
– Dukungan suami dan anak (mereka bangga dengan bundanya yang bekerja di luar rumah, Alhamdulillah)
– Bantuan asisten, kadimah, supir, tukang masak dsb yang perlu sering-sering dicoaching supaya sejalan dengan kita
– Dukungan orang tua (terutama do’anya sungguh mustajab)
– Alat-alat seperti telepon, hp, fax sangat memudahkan dan membantu komunikasi
– Organiser (semacam agenda) di rumah untuk mencatat segala rupa yang harus difollow-up
 
Mungkin sekali waktu aku perlu memikirkan untuk mulai bekerja yang tidak perlu meninggalkan rumah atau tidak perlu keluar rumah lama-lama. Rasanya ini jauh lebih baik karena tetap berkarya, tapi keluarga tetap termonitor dengan baik.
 
*saya mulai mengkhayal, jadi guru privat, jadi guru musik, jadi penulis, jadi penterjemah, jadi penjahit baju, jadi pelukis*

Dari blogku triajita.multiply, ditulis tanggal 4 Januari 2009

 

2 Hari di Balikpapan

Standar

Tawaran berpergian selalu membuat aku tergoda untuk ikut. Sebenarnya undangan ke Balikpapan untuk suami dalam rangka pertemuan teman kuliah. Ternyata para istri ingin ikut serta, tentu saja aku tidak mau ketinggalan.

Kenapa juga di Balikpapan, sama sekali bukan karena suamiku kuliah di Kalimantan ataupun temannya ada yang orang Kalimantan. Sebenarnya karena salah satu teman suamiku bekerja di Kalimantan dan mempunyai banyak staff, selain itu juga banyak dari kami yang belum pernah mengunjungi Balikpapan.

Yang membuat aku lebih semangat ingin pergi karena nyonya rumah mempunyai hobi yang sama dengan aku, senang wisata alam. Jadi jadual jalannya sudah diatur ke tempat-tempat yang menarik alamnya.

Ini jadwal jalan di waktu yang cukup sempit (berangkat dari Jakarta Jumat sore dan kembali ke Jakarta Minggu sore, berarti hanya 2,5 hari) :

– Ke hutan Bengkirai

– Ke BOS (Borneo Orang Utan Survival)

– ke Teluk Balikpapan

– Kuliner di sekitar Balikpapan (udang, kepiting, ikan, roti mantau).

Di Bengkirai, kami melihat-lihat hutan yang memang dibuka untuk wisata. Yang paling menarik adalah jembatan dengan tinggi lebih dari 10 meter yang menghubungkan beberapa rumah pohon. Seru melihat pemandangan hutan dari atas. Lumayan megap-megap untuk naik ke jembatan, tapi worth it-lah dengan keindahan pemandangan sekitar.

Di Teluk Balikpapan, kami menikmati sunset dan melihat kapal-kapal pembawa minyak. Pemandangan yang indah, karena melihat yang jarang-jarang kami lihat.

Di BOS, kami melihat orang utan yang sudah pernah dipelihara,  ‘diajarkan’ untuk dapat kembali hidup di habitatnya di hutan liar. Untuk ‘pendidikan’ tersebut, orang utan dibagi beberapa tingkatan. Semakin tinggi tingkatannya, semakin dianggap siap untuk dilepas di hutan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA DSC00520 a DSC00550 a DSC00569 a DSC00582 a DSC00604 a DSC_0119 a DSC_0194 a

 

 

 

Akhir Mingguku…..hiks

Standar

Semenjak anakku Ario sekolah di asrama, kami orang tuanya mempunyai kegiatan baru setiap minggu. Kami mengunjungi Ario ke asramanya di Cibadak (Sukabumi).
Awalnya niat kami hanya memberikan dukungan moril kepada Ario, karena tinggal berpisah dari keluarga. Namun akhirnya malah seperti kebutuhan untuk terus bisa melihat Ario. Sekolah memperbolehkan kunjungan mingguan ini, walaupun lebih diharapkan anak-anak lebih banyak bersosialisasi dan melakukan kegiatan dengan teman-temannya.
Jadi sudah enam bulan terakhir ini, kami mondar mandir Jakarta Cibadak, yang kondisi lalu lintasnya penuh tantangan alias macet berat. Bayangkan kalau pas kebagian macet berat (yang mana sering kali), perjalanan yang 80 km tersebut bisa ditempuh dalam tempo 5 -7 jam (harusnya sudah sampai Cirebon ya). Gak jelas ini, pemerintah kota Bogor/Sukabumi, kok terkesan lama sekali memperbaikinya malah ada anggapan seperti dibiarkan saja macet tanpa solusi.
Yang membuat saya hiks….hiks, bukan macet ataupun lama perjalanannya, tapi jarangnya kami berkumpul sekeluarga. Anakku yang lain (kakak dan adik Ario), lebih sering tidak bisa ikut ke Sukabumi. Mba Hani sebagai seorang mahasiswi semester 3, banyak mendapat tugas membuat makalah, yang hanya bisa dikerjakan pas akhir minggu. Ajrin si bungsu, sudah kelas 6 SD, sehingga banyak tambahan pelajaran di hari Sabtu.
Kalau yang ini, tidak membuat kami hiks, tapi membuat kami selalu minta maaf dan ‘excuse’ karena tidak hadir. Undangan berbagai acara, banyak yang kami lewatkan begitupun jadwal rutin menengok orangtua, menjadi jarang-jarang dan tidak rutin.
Orang tua kamipun seringkali menyatakan kerinduannya karena jarang ditengok.
Hari ini, untuk yang kesekian kalinya kami menengok ario. Kali ini aku hampir menangis mendengar keluhannya karena harus remedial berulang -ulang bahkan di hari minggu. Tentunya sebagai orang tua, aku gak boleh ikut-ikutan gak bersemangat terutama di depan anak. Begitulah salah satu job description orang tua, mendukung, memberi semangat kepada anak dan juga yang paling utama selalu mendoakan yang terbaik untuk anak.
Sepertinya masih akan banyak jadwal kami ke cibadak……dalam rangka memberi dukungan kepada putra tercinta kami.

Ini yang memenuhi jadwal akhir minggu untuk sementara ini.

image

Ini sekolah asramanya

image

Bersiap Sekolah Asrama

Standar

Sebentar lagi (h-12), aku bakal menangis bombai nih. Anak keduaku. Ario mulai masuk asrama dan menjadi murid SMU yang tinggal di asrama. Yang ibu seperti aku, pasti bisa membayangkan bagaimana sedihnya berpisah dengan anak. Selama ini Ario tidak pernah bepergian jauh dari aku, pernah juga acara pesantren sekolah yang tidak lebih lama dari 3 hari.
Tapi ini sudah menjadi keputusan suami dan aku. Kami sudah banyak mencari referensi, menganalisa, menimbang-nimbang dan terutama berdoa untuk mendapat pencerahan. Beginilah hasil akhirnya, kami mantap menyekolahkan Ario di sekolah asrama.
Kalau sudah mantap, artinya aku tidak bimbang ragu, galau dan sedih berkepanjangan bukan? (pertanyaan retorika untuk menguatkan hati). Tentu tidak, Insya Allah.
Walaupun banyak yang tidak sepaham ataupun tidak mengerti keputusan kami tersebut, kami tetap berusaha menjelaskan sebisanya. Tidak enak juga, kalau dikatakan tega menjauhkan anak atau  gak sayang dengan anak, pendidik utama anak kan orang tua bukan guru/sekolah.
Padahal justru kami melakukan ini karena kami sayang padanya dan menyiapkan bekalnya untuk masuk hutan rimba kehidupan. Apalagi mengingat Ario seorang anak laki-laki, yang nantinya akan memikul tanggung jawab yang berat.
Yaaaaah begitulah, aku masih menata dan menguatkan hatiku. Akumencamkan kata-kata pak kepala sekolah, seringkali yang membuat anak galau dan tidak betah tinggal di asrama, karena orang tua terutama ibunya selalu memikirkan dan sedih berkepanjangan akibat berpisah dengan anaknya. Hubungan batin yang kuat antara seorang ibu dan anaknya, membuat apa yang dirasakan si ibu akan terasa juga di anak.
So….aku harus bersiap……12 hari lagi tidak akan lama, aku akan memberi semangat kepada anakku dalam menghadapi fase baru di kehidupannya sebagai pelajar SMU dan tidak selalu didampingi orangtuanya.

Yunas, teman baruku……….

Standar

Aku sampai cukup awal di Panti Cacat Tuna Ganda hari itu……aku dan suamiku dipersilahkan masuk oleh ibu pengurus panti. Aku menahan nafas…..membayangkan seperti apa teman-teman penghuni panti ini. Apakah kondisi mereka sangat menyedihkan……. kuatkah aku melihat mereka….. apakah mereka bersedia aku datangi ataukah aku akan ditolak mereka…..
Tidak terbayang sama sekali dipikiranku, seberapa parahkah cacat mereka. Karena mendengar nama cacat tuna ganda, yang terbayang dalam pikiranku, cacat yang parah dan tidak bisa mengerjakan apa-apa lagi. Untunglah ibu perawat menemaniku, sehingga aku bisa bertanya-tanya mengenai keadaan mereka dan mengurangi kegalauan pikiranku. Aku disambut oleh seorang penghuni panti, yang menurut ibu perawat, sudah bisa mandiri dan bisa membantu sedikit-sedikit menjaga penghuni panti lainnya…….subhanallah.

Rupanya yang dimaksud dengan cacat ganda itu adalah cacat fisik sekaligus juga cacat otak. Jadi mereka rata-rata sulit atau tidak bisa berjalan dan tidak bisa berkomunikasi. Ya Allah……..Engkau maha mengetahui, untuk apa mereka ada…..sedangkan pengetahuanku sangat terbatas, sehingga terbesit dalam pikiranku untuk apa mereka diciptakan……ampuni aku ya Allah…..dengan pikiranku yang picik ini.

Aku berkeliling melihat teman-teman penghuni panti. Dadaku sesak, mulutku kelu melihat kondisi mereka. Terbayang betapa sulitnya mereka menjalani kehidupan ini, karena selalu bergantung kepada orang lain. Tapi siapa yang mengira, setiap saat mungkin kita akan mengalami hal yang sama karena tertimpa kecelakaan atau anak dan suadara kita lahir seperti ini. Allah Maha Kuasa, Dia memberi yang terbaik untuk kita, kita yang bodoh sering menganggapnya tidak baik. Alhamdulillah ya Allah, kondisiku saat ini aku rasakan lebih baik dibandingkan mereka……sungguh saat ini aku merasa kurang sekali rasa syukurku atas nikmatmu ya Allah… Astaghfirullah….Astaghfirullah……Alhamdulillah.

Usia penghuni panti ada yang 41 tahun, dan dia hanya bisa berbaring. Banyak juga penghuni lainnya yang berusia belasan tahun. Penghuni panti ini hanya akan berkurang bila mana keluarga mengambil mereka kembali karena akan diurus sendiri (yang mana sangat jarang terjadi) atau penghuni panti itu meninggal dunia. Jadi bisa dikatakan mereka menghuni panti seumur hidup……… Sebagian besar penghuni panti ini, sudah ditinggalkan oleh keluarganya ataupun tidak memiliki keluarga sama sekali.

Sambil menatap mereka, aku sedikit melamun……apakah sebetulnya mereka lebih beruntung dari aku…. Karena surga dijamin buat mereka yang cacat pikiran…….sementara surgaku masih jauh….karena amal ibadahku yang minim. Walaupun mereka susah di dunia ini…mungkin di akhirat nanti mereka bisa merasakan kebahagiaan……..itu rahasiamu ya Allah.

Tak disangka, aku mendapat teman baru di panti tersebut, dia salah satu penghuni panti yang sudah agak mandiri dan bisa sedikit berkomunikasi dengan bahasa tubuh. Ya….dia Yunas, yang mengantarkan aku keliling panti. Sambil menggandeng tanganku, berulang kali ia menunjuk dada kirinya, dimana terdapat tulisan ‘Yunas’ di kaosnya……seakan-akan ia mengingatkan aku, ‘ini aku….namaku Yunas’…. Dan Yunas mengenalkan aku ke temannya yang bernama Dimas…penghuni panti yang autis. Perkenalan inipun dilakukannya berulang-ulang…….Masya Allah, betapa sabarnya ibu-ibu pengasuh mereka. Aku si kurang sabar ini saja, mulai bosan dengan pengulangan-pengulangan yang dilakukan Yunas (maafkan aku, Yunas). Pantaslah kalau kita berbagi kebahagiaan dengan ibu-ibu pengasuh yang bisa sabar dan telaten mengurus penghuni panti.

Menarik sekali, melihat ruang belajar dipanti, dengan segala keterbatasan mereka, pembimbing tetap memberi pengetahuan sesuai dengan kemampuan mereka. Yunaspun menunjukkan tempat duduknya dan tempat duduk Dimas di kelas. Tak lupa juga ia menunjukkan, mainan yang biasa dimainkannya di kelas dan juga lagi-lagi mainan Dimas. Semua komunikasi ini terjadi dengan bahasa tubuh, karena Yunas tidak bisa berbicara, hanya bisa menyebut ‘Ma’ untuk memanggil temannya Dimas.

Aku juga ditunjukkan foto-foto di dinding dekat tempat tidurnya dan didalam album yang entah siapa yang menyiapkan. Aku tak ingin cepat-cepat meninggalkanmu Yunas, namun acara masih banyak menunggu…..sekali lagi aku minta maaf padamu karena harus segera meninggalkan. Entah apa yang ada di pikiran Yunas, ketika aku melepaskan pegangan tangannya dan aku melambai padanya sambil menunjukkan jempol kepadanya.

Aku sama sekali tidak tahu apakah mereka mempunyai perasaan sedih, marah atau gembira. Tapi yang aku dengar dari ibu pengasuh, penghuni panti sering berubah ‘mood’ juga. Kalau ‘mood’nya sedang buruk, Yunas akan diam saja dan tidak berminat mengantar tamu. Alhamdulillah, aku mendapat kesempatan mendapat mood bagus Yunas sehingga mau ‘berkomunikasi’ denganku.

Setelah acara resmi sambutan dan penyerahan bingkisan, kami diberi kesempatan sekali lagi untuk berkeliling panti. Dan disitulah aku bertemu Yunas lagi, yang sebelumnya sudah ditemani oleh Dwi (teman mp), begitu melihatku sendiri, ia menggandengku lagi. Suamiku yang melihat Yunas menarik aku, tersenyum jail dan berkomentar ‘silahkan bunda jalan-jalan dengan Yunas, sungguh aku gak cemburu’.

Aku sempat keliling panti dua kali lagi, sebelum aku benar-benar meninggalkan Yunas dan teman-teman. Selamat tinggal Yunas yang ramah dan baik…..semoga Allah memudahkan hidupmu di dunia ini dan aku bersyukur mengenalmu dan teman-temanmu, karena aku jadi diingatkan betapa kurang bersyukurnya aku atas nikmat-nikmat yang Allah berikan. Aku yakin banyak hikmah dan pelajaran yang kudapat dari kunjungan ke panti dan acara bakti sosial ini.

 Oleh-oleh bakti sosial 2009

The Blessing Month

Standar

It’s been months since last time I wrote my blog. I can say cause it’s my hectic time or my laziness to open my draft. The reality is I want my post can be perfect and then I confuse how to make it perfect……
Now I decide, I can write everything  I like no matter it can be bored or interesting. The point is I have to post consistently my thought so I have a note about my appealing life….:)
Coheren with the title, this month is very very bless and holy month for moslem. As a moslem, I am welcoming it from the deep of my heart. Allah will give much blesses and forgiveness to all of man/woman who devote their life to Him and believe everything is happened because His decision and that’s the best for us.
We call this month Ramadhan. All moslem should be fasting and control more his behaviour/emotion in Ramadhan to show obedience to Allah order.  We can get more blesses in this month for every kindness that we do…..let’s grab this as much as we can and do Allah’s order and all the kindness as today is our last day in our life.

Happy Ramadhan my friend and exploit it as much as you can for your timeless happiness……

Batu yang Mengasyikkan

Standar

Pernahkah mendengar daerah  Batu di Malang Jawa Timur? Kalau warga pulau Jawa tentunya sudah sering mendengar. Berlanjut dari kunjungan ke Surabaya, aku sekeluarga berkesempatan mampir di kota Batu bahkan menginap semalam. Sesuai rencana, kami mengunjungi lokasi wisata yang pasti disukai anak-anak karena menyerupai taman bermain. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah BNS atau Batu Night Spectacular. Di BNS, kita disajikan aneka rupa lampion dengan bentuk dan warna yang memikat. Jam buka BNS dari sore hingga malam, memungkinkan kita menikmati keindahan lampion-lampion tersebut. Selain lampion, terdapat juga aneka permainan yang seru untuk anak-anak, remaja maupun orang tua sebut saja rumah hantu, kereta gantung, gokart, dll. Anak-anakku sangat senang bermain disana, belum lagi udara di Batu yang cukup dingin di malam hari sehingga terasa nyaman dan tidak terasa capek.

Malam harinya kami menginap di hotel Jatim Park yaitu hotel yang letaknya persis di sebelah Jatim Park. Jatim Park adalah tujuan kami berikutnya. Jatim Park adalah semacam theme park. Theme park ini cukup lengkap dimana terdapat aneka permainan, taman budaya, sejarah bangsa, sejenis science park, kebun binatang mini. Sudah jelas anak-anak sangat menikmatinya. Jadi jalan- jalan kami ke Batu ini memberi kesan yang menyenangkan bagi anak-anak. Aku merekomendasikan kesana buat teman-teman yang membawa anak-anak.

Ini sebagian dari foto-foto di Batu.