Author Archives: triana

About triana

humoris, aktif, ceria, positif, mempunyai 4 soulmate motivator.........

2 Hari di Balikpapan

Standar

Tawaran berpergian selalu membuat aku tergoda untuk ikut. Sebenarnya undangan ke Balikpapan untuk suami dalam rangka pertemuan teman kuliah. Ternyata para istri ingin ikut serta, tentu saja aku tidak mau ketinggalan.

Kenapa juga di Balikpapan, sama sekali bukan karena suamiku kuliah di Kalimantan ataupun temannya ada yang orang Kalimantan. Sebenarnya karena salah satu teman suamiku bekerja di Kalimantan dan mempunyai banyak staff, selain itu juga banyak dari kami yang belum pernah mengunjungi Balikpapan.

Yang membuat aku lebih semangat ingin pergi karena nyonya rumah mempunyai hobi yang sama dengan aku, senang wisata alam. Jadi jadual jalannya sudah diatur ke tempat-tempat yang menarik alamnya.

Ini jadwal jalan di waktu yang cukup sempit (berangkat dari Jakarta Jumat sore dan kembali ke Jakarta Minggu sore, berarti hanya 2,5 hari) :

– Ke hutan Bengkirai

– Ke BOS (Borneo Orang Utan Survival)

– ke Teluk Balikpapan

– Kuliner di sekitar Balikpapan (udang, kepiting, ikan, roti mantau).

Di Bengkirai, kami melihat-lihat hutan yang memang dibuka untuk wisata. Yang paling menarik adalah jembatan dengan tinggi lebih dari 10 meter yang menghubungkan beberapa rumah pohon. Seru melihat pemandangan hutan dari atas. Lumayan megap-megap untuk naik ke jembatan, tapi worth it-lah dengan keindahan pemandangan sekitar.

Di Teluk Balikpapan, kami menikmati sunset dan melihat kapal-kapal pembawa minyak. Pemandangan yang indah, karena melihat yang jarang-jarang kami lihat.

Di BOS, kami melihat orang utan yang sudah pernah dipelihara,  ‘diajarkan’ untuk dapat kembali hidup di habitatnya di hutan liar. Untuk ‘pendidikan’ tersebut, orang utan dibagi beberapa tingkatan. Semakin tinggi tingkatannya, semakin dianggap siap untuk dilepas di hutan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA DSC00520 a DSC00550 a DSC00569 a DSC00582 a DSC00604 a DSC_0119 a DSC_0194 a

 

 

 

Akhir Mingguku…..hiks

Standar

Semenjak anakku Ario sekolah di asrama, kami orang tuanya mempunyai kegiatan baru setiap minggu. Kami mengunjungi Ario ke asramanya di Cibadak (Sukabumi).
Awalnya niat kami hanya memberikan dukungan moril kepada Ario, karena tinggal berpisah dari keluarga. Namun akhirnya malah seperti kebutuhan untuk terus bisa melihat Ario. Sekolah memperbolehkan kunjungan mingguan ini, walaupun lebih diharapkan anak-anak lebih banyak bersosialisasi dan melakukan kegiatan dengan teman-temannya.
Jadi sudah enam bulan terakhir ini, kami mondar mandir Jakarta Cibadak, yang kondisi lalu lintasnya penuh tantangan alias macet berat. Bayangkan kalau pas kebagian macet berat (yang mana sering kali), perjalanan yang 80 km tersebut bisa ditempuh dalam tempo 5 -7 jam (harusnya sudah sampai Cirebon ya). Gak jelas ini, pemerintah kota Bogor/Sukabumi, kok terkesan lama sekali memperbaikinya malah ada anggapan seperti dibiarkan saja macet tanpa solusi.
Yang membuat saya hiks….hiks, bukan macet ataupun lama perjalanannya, tapi jarangnya kami berkumpul sekeluarga. Anakku yang lain (kakak dan adik Ario), lebih sering tidak bisa ikut ke Sukabumi. Mba Hani sebagai seorang mahasiswi semester 3, banyak mendapat tugas membuat makalah, yang hanya bisa dikerjakan pas akhir minggu. Ajrin si bungsu, sudah kelas 6 SD, sehingga banyak tambahan pelajaran di hari Sabtu.
Kalau yang ini, tidak membuat kami hiks, tapi membuat kami selalu minta maaf dan ‘excuse’ karena tidak hadir. Undangan berbagai acara, banyak yang kami lewatkan begitupun jadwal rutin menengok orangtua, menjadi jarang-jarang dan tidak rutin.
Orang tua kamipun seringkali menyatakan kerinduannya karena jarang ditengok.
Hari ini, untuk yang kesekian kalinya kami menengok ario. Kali ini aku hampir menangis mendengar keluhannya karena harus remedial berulang -ulang bahkan di hari minggu. Tentunya sebagai orang tua, aku gak boleh ikut-ikutan gak bersemangat terutama di depan anak. Begitulah salah satu job description orang tua, mendukung, memberi semangat kepada anak dan juga yang paling utama selalu mendoakan yang terbaik untuk anak.
Sepertinya masih akan banyak jadwal kami ke cibadak……dalam rangka memberi dukungan kepada putra tercinta kami.

Ini yang memenuhi jadwal akhir minggu untuk sementara ini.

image

Ini sekolah asramanya

image

Bersiap Sekolah Asrama

Standar

Sebentar lagi (h-12), aku bakal menangis bombai nih. Anak keduaku. Ario mulai masuk asrama dan menjadi murid SMU yang tinggal di asrama. Yang ibu seperti aku, pasti bisa membayangkan bagaimana sedihnya berpisah dengan anak. Selama ini Ario tidak pernah bepergian jauh dari aku, pernah juga acara pesantren sekolah yang tidak lebih lama dari 3 hari.
Tapi ini sudah menjadi keputusan suami dan aku. Kami sudah banyak mencari referensi, menganalisa, menimbang-nimbang dan terutama berdoa untuk mendapat pencerahan. Beginilah hasil akhirnya, kami mantap menyekolahkan Ario di sekolah asrama.
Kalau sudah mantap, artinya aku tidak bimbang ragu, galau dan sedih berkepanjangan bukan? (pertanyaan retorika untuk menguatkan hati). Tentu tidak, Insya Allah.
Walaupun banyak yang tidak sepaham ataupun tidak mengerti keputusan kami tersebut, kami tetap berusaha menjelaskan sebisanya. Tidak enak juga, kalau dikatakan tega menjauhkan anak atau  gak sayang dengan anak, pendidik utama anak kan orang tua bukan guru/sekolah.
Padahal justru kami melakukan ini karena kami sayang padanya dan menyiapkan bekalnya untuk masuk hutan rimba kehidupan. Apalagi mengingat Ario seorang anak laki-laki, yang nantinya akan memikul tanggung jawab yang berat.
Yaaaaah begitulah, aku masih menata dan menguatkan hatiku. Akumencamkan kata-kata pak kepala sekolah, seringkali yang membuat anak galau dan tidak betah tinggal di asrama, karena orang tua terutama ibunya selalu memikirkan dan sedih berkepanjangan akibat berpisah dengan anaknya. Hubungan batin yang kuat antara seorang ibu dan anaknya, membuat apa yang dirasakan si ibu akan terasa juga di anak.
So….aku harus bersiap……12 hari lagi tidak akan lama, aku akan memberi semangat kepada anakku dalam menghadapi fase baru di kehidupannya sebagai pelajar SMU dan tidak selalu didampingi orangtuanya.

Yunas, teman baruku……….

Standar

Aku sampai cukup awal di Panti Cacat Tuna Ganda hari itu……aku dan suamiku dipersilahkan masuk oleh ibu pengurus panti. Aku menahan nafas…..membayangkan seperti apa teman-teman penghuni panti ini. Apakah kondisi mereka sangat menyedihkan……. kuatkah aku melihat mereka….. apakah mereka bersedia aku datangi ataukah aku akan ditolak mereka…..
Tidak terbayang sama sekali dipikiranku, seberapa parahkah cacat mereka. Karena mendengar nama cacat tuna ganda, yang terbayang dalam pikiranku, cacat yang parah dan tidak bisa mengerjakan apa-apa lagi. Untunglah ibu perawat menemaniku, sehingga aku bisa bertanya-tanya mengenai keadaan mereka dan mengurangi kegalauan pikiranku. Aku disambut oleh seorang penghuni panti, yang menurut ibu perawat, sudah bisa mandiri dan bisa membantu sedikit-sedikit menjaga penghuni panti lainnya…….subhanallah.

Rupanya yang dimaksud dengan cacat ganda itu adalah cacat fisik sekaligus juga cacat otak. Jadi mereka rata-rata sulit atau tidak bisa berjalan dan tidak bisa berkomunikasi. Ya Allah……..Engkau maha mengetahui, untuk apa mereka ada…..sedangkan pengetahuanku sangat terbatas, sehingga terbesit dalam pikiranku untuk apa mereka diciptakan……ampuni aku ya Allah…..dengan pikiranku yang picik ini.

Aku berkeliling melihat teman-teman penghuni panti. Dadaku sesak, mulutku kelu melihat kondisi mereka. Terbayang betapa sulitnya mereka menjalani kehidupan ini, karena selalu bergantung kepada orang lain. Tapi siapa yang mengira, setiap saat mungkin kita akan mengalami hal yang sama karena tertimpa kecelakaan atau anak dan suadara kita lahir seperti ini. Allah Maha Kuasa, Dia memberi yang terbaik untuk kita, kita yang bodoh sering menganggapnya tidak baik. Alhamdulillah ya Allah, kondisiku saat ini aku rasakan lebih baik dibandingkan mereka……sungguh saat ini aku merasa kurang sekali rasa syukurku atas nikmatmu ya Allah… Astaghfirullah….Astaghfirullah……Alhamdulillah.

Usia penghuni panti ada yang 41 tahun, dan dia hanya bisa berbaring. Banyak juga penghuni lainnya yang berusia belasan tahun. Penghuni panti ini hanya akan berkurang bila mana keluarga mengambil mereka kembali karena akan diurus sendiri (yang mana sangat jarang terjadi) atau penghuni panti itu meninggal dunia. Jadi bisa dikatakan mereka menghuni panti seumur hidup……… Sebagian besar penghuni panti ini, sudah ditinggalkan oleh keluarganya ataupun tidak memiliki keluarga sama sekali.

Sambil menatap mereka, aku sedikit melamun……apakah sebetulnya mereka lebih beruntung dari aku…. Karena surga dijamin buat mereka yang cacat pikiran…….sementara surgaku masih jauh….karena amal ibadahku yang minim. Walaupun mereka susah di dunia ini…mungkin di akhirat nanti mereka bisa merasakan kebahagiaan……..itu rahasiamu ya Allah.

Tak disangka, aku mendapat teman baru di panti tersebut, dia salah satu penghuni panti yang sudah agak mandiri dan bisa sedikit berkomunikasi dengan bahasa tubuh. Ya….dia Yunas, yang mengantarkan aku keliling panti. Sambil menggandeng tanganku, berulang kali ia menunjuk dada kirinya, dimana terdapat tulisan ‘Yunas’ di kaosnya……seakan-akan ia mengingatkan aku, ‘ini aku….namaku Yunas’…. Dan Yunas mengenalkan aku ke temannya yang bernama Dimas…penghuni panti yang autis. Perkenalan inipun dilakukannya berulang-ulang…….Masya Allah, betapa sabarnya ibu-ibu pengasuh mereka. Aku si kurang sabar ini saja, mulai bosan dengan pengulangan-pengulangan yang dilakukan Yunas (maafkan aku, Yunas). Pantaslah kalau kita berbagi kebahagiaan dengan ibu-ibu pengasuh yang bisa sabar dan telaten mengurus penghuni panti.

Menarik sekali, melihat ruang belajar dipanti, dengan segala keterbatasan mereka, pembimbing tetap memberi pengetahuan sesuai dengan kemampuan mereka. Yunaspun menunjukkan tempat duduknya dan tempat duduk Dimas di kelas. Tak lupa juga ia menunjukkan, mainan yang biasa dimainkannya di kelas dan juga lagi-lagi mainan Dimas. Semua komunikasi ini terjadi dengan bahasa tubuh, karena Yunas tidak bisa berbicara, hanya bisa menyebut ‘Ma’ untuk memanggil temannya Dimas.

Aku juga ditunjukkan foto-foto di dinding dekat tempat tidurnya dan didalam album yang entah siapa yang menyiapkan. Aku tak ingin cepat-cepat meninggalkanmu Yunas, namun acara masih banyak menunggu…..sekali lagi aku minta maaf padamu karena harus segera meninggalkan. Entah apa yang ada di pikiran Yunas, ketika aku melepaskan pegangan tangannya dan aku melambai padanya sambil menunjukkan jempol kepadanya.

Aku sama sekali tidak tahu apakah mereka mempunyai perasaan sedih, marah atau gembira. Tapi yang aku dengar dari ibu pengasuh, penghuni panti sering berubah ‘mood’ juga. Kalau ‘mood’nya sedang buruk, Yunas akan diam saja dan tidak berminat mengantar tamu. Alhamdulillah, aku mendapat kesempatan mendapat mood bagus Yunas sehingga mau ‘berkomunikasi’ denganku.

Setelah acara resmi sambutan dan penyerahan bingkisan, kami diberi kesempatan sekali lagi untuk berkeliling panti. Dan disitulah aku bertemu Yunas lagi, yang sebelumnya sudah ditemani oleh Dwi (teman mp), begitu melihatku sendiri, ia menggandengku lagi. Suamiku yang melihat Yunas menarik aku, tersenyum jail dan berkomentar ‘silahkan bunda jalan-jalan dengan Yunas, sungguh aku gak cemburu’.

Aku sempat keliling panti dua kali lagi, sebelum aku benar-benar meninggalkan Yunas dan teman-teman. Selamat tinggal Yunas yang ramah dan baik…..semoga Allah memudahkan hidupmu di dunia ini dan aku bersyukur mengenalmu dan teman-temanmu, karena aku jadi diingatkan betapa kurang bersyukurnya aku atas nikmat-nikmat yang Allah berikan. Aku yakin banyak hikmah dan pelajaran yang kudapat dari kunjungan ke panti dan acara bakti sosial ini.

 Oleh-oleh bakti sosial 2009

The Blessing Month

Standar

It’s been months since last time I wrote my blog. I can say cause it’s my hectic time or my laziness to open my draft. The reality is I want my post can be perfect and then I confuse how to make it perfect……
Now I decide, I can write everything  I like no matter it can be bored or interesting. The point is I have to post consistently my thought so I have a note about my appealing life….:)
Coheren with the title, this month is very very bless and holy month for moslem. As a moslem, I am welcoming it from the deep of my heart. Allah will give much blesses and forgiveness to all of man/woman who devote their life to Him and believe everything is happened because His decision and that’s the best for us.
We call this month Ramadhan. All moslem should be fasting and control more his behaviour/emotion in Ramadhan to show obedience to Allah order.  We can get more blesses in this month for every kindness that we do…..let’s grab this as much as we can and do Allah’s order and all the kindness as today is our last day in our life.

Happy Ramadhan my friend and exploit it as much as you can for your timeless happiness……

Batu yang Mengasyikkan

Standar

Pernahkah mendengar daerah  Batu di Malang Jawa Timur? Kalau warga pulau Jawa tentunya sudah sering mendengar. Berlanjut dari kunjungan ke Surabaya, aku sekeluarga berkesempatan mampir di kota Batu bahkan menginap semalam. Sesuai rencana, kami mengunjungi lokasi wisata yang pasti disukai anak-anak karena menyerupai taman bermain. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah BNS atau Batu Night Spectacular. Di BNS, kita disajikan aneka rupa lampion dengan bentuk dan warna yang memikat. Jam buka BNS dari sore hingga malam, memungkinkan kita menikmati keindahan lampion-lampion tersebut. Selain lampion, terdapat juga aneka permainan yang seru untuk anak-anak, remaja maupun orang tua sebut saja rumah hantu, kereta gantung, gokart, dll. Anak-anakku sangat senang bermain disana, belum lagi udara di Batu yang cukup dingin di malam hari sehingga terasa nyaman dan tidak terasa capek.

Malam harinya kami menginap di hotel Jatim Park yaitu hotel yang letaknya persis di sebelah Jatim Park. Jatim Park adalah tujuan kami berikutnya. Jatim Park adalah semacam theme park. Theme park ini cukup lengkap dimana terdapat aneka permainan, taman budaya, sejarah bangsa, sejenis science park, kebun binatang mini. Sudah jelas anak-anak sangat menikmatinya. Jadi jalan- jalan kami ke Batu ini memberi kesan yang menyenangkan bagi anak-anak. Aku merekomendasikan kesana buat teman-teman yang membawa anak-anak.

Ini sebagian dari foto-foto di Batu.

 

 

 

 

Jalan-jalan ke Trowulan, Suramadu dan MonKaSel

Standar

Keinginan lama kami, membawa anak-anak keliling pulau Jawa. Salah satu tujuan kami adalah Jawa Timur dan menginap di kota Surabaya.
Akhirnya dalam waktu yang terbatas, kami sempat mengunjungi :
– Trowulan Mojokerto -> melihat musim dan candi peninggalan majapahit
– Monumen Kapal Selam (MonKaSel)  -> melihat isi kapal selam
– Jembatan Suramadu -> melihat jembatan antar pulau
– Jalan Genteng -> beli oleh-oleh

Komentar anak-anak dan suamiku :
– Sayang peninggalan Majapahit belum dirawat secara maksimal
– Bisa saja situs peninggalan Majapahit tidak teridentifikasi dan rusak, karena letaknya di daerah sekitar perumahan penduduk
– Bahan candinya seperti dari batu bata, pasti susah memeliharanya karena gak sekuat batu
– Kapal selam itu sempit tapi lengkap
– Seru, bisa lihat tempat torpedo dalam kapal selam
– Mau lagi, lihat kapal selam yang lain..
– Anginnya sangat kencang di jembatan Suramadu
– Coba ada jembatan yang serupa untuk menghubungkan pulau Jawa dan Sumatra, pulau Jawa dan Bali.
– Pingin jembatan yang lebih panjang
– Bunda kalap kalau belanja oleh-oleh
– Bau bandeng asepnya menggoda sekali

Ini beberapa fotonya.

Negara Tetangga

Standar

Entah bagaimana aku jadi sering berkunjung ke negara tetangga Singapura. Kalau boleh memilih, aku lebih senang diminta ke negara lain atau daerah lain di Indonesia daripada berulang-ulang mengunjungi negeri tersebut. Ada saja kondisi yang mengharuskan aku pergi mulai dari training, seminar, konferensi, mengantar teman, menengok orang, pertemuan, mewakili teman di acara.

Berpuluh tahun yang lalu, pertama kali pergi ke Singapura, aku sangat excited. Kemudian pergi kembali dengan gaji sendiri, tanpa orangtua ikut, baru ada `MRT`, aku excited juga, senang berputar-putar  dengan MRT walaupun jalur masih terbatas dibanding sekarang. Setelah itu, aku merasa sudah cukup berkunjung kesana dengan alasan yang sangat personal. Bagi aku yang sangat suka pemadangan alam yang alami, kebudayaan yang asli, Singapura bukan tempat yang pas untuk itu. Pemandangan alam di negara kita sendiri sangat jauh mempesona dan memikat, asli pula tidak dibuat  dan juga banyaaaaak. Kebudayaan Indonesia, juara deh keragaman dan keindahannya.

Aku paham teman-teman yang sangat senang berkunjung ke negara tersebut, surga bagi para shoppers,  penggemar clubbing, penggemar pertunjukan musik, penggemar F1, service premium untuk berobat. Aku juga kagum dengan kebersihan, keteraturan transpotasi, kedisiplinan waktu, hiburan dengan teknologi tinggi disana dan konsep mereka untuk menjadikan kota didalam taman. Namun kekagumanku itu tidak mendorong aku untuk terus menerus berkunjung, cukup seperlunya saja.

Walaupun tidak berminat berkunjung lagi, ternyata tetap saja aku berkunjung antara lain untuk menemani anakku ke Universal Studio. Namanya anak (pastinya anakku), sangat menggemari aneka ‘theme park’, kalau perlu berulang-ulang kesana. Sekalian saja aku ajak berkunjung ke Science Centre yang lebih bagus dibanding Musium Iptek di TMII dan di sebelahnya ada Snow World (tidak ada sejenis ini di Indonesia). Aku juga mengajak anakku ke kebun binatang, taman burung, sea/underwater world. Menurut anakku untuk ketiga tempat tersebut, Singapura masih kalah dibanding yang di negara kita. Sudah sepatutnya kalau Indonesia lebih bagus untuk koleksi yang berkaitan dengan alam karena negara kita memang mempunyai keanegaraman hayati yang sangat banyak.

Yaaa begitulah kesanku tentang negara tetangga, memang banyak yang bisa dikagumi tapi negara sendiri jauh lebih mengagumkan…… Viva Indonesia…..

Disini aku sertakan gambar-gambar selama aku berada disana…

Aku dan Teman Kesayangan

Standar


Kalau dihitung-hitung, temanku lumayan banyak, walaupun aku seumur-umur dari lahir sampai saat ini, tidak pernah pindah dari kota Jakarta. Apalagi aku termasuk anak pingitan, menurut teman-temanku. Namun diantara sekian banyak teman, ada beberapa teman yang memang dekat dihati karena berbagai alasan seperti mempunyai hobi dan selera, visi misi, pandangan hidup, nilai-nilai yang sama atau bahkan tidak ada kemiripan tapi asik saja dijadikan teman bicara dan diskusi.

Nah, sebagai bentuk penghargaanku ke teman-teman tersayang ini, aku ingin menyimpan catatan mengenai mereka dalam blogku ini. Mereka tidak punya blog, jadi aku gak bisa mengharap mereka langsung baca kecuali kalau aku minta baca.(Teman-temanku ini perempuan semua)

Aku dan Yudi

Yudi  teman lamaku yang sebenarnya sudah aku kenal lama karena kami kuliah di fakultas yang sama tapi beda angkatan. Aku menjadi dekat semenjak kami bekerja di kantor yang sama dan akhirnya Yudi berpindah kantor beberapa kali, sementara aku menjadi manusia loyalis tetap bekerja di tempat yang sama. Walaupun kami mempunyai banyak pandangan yang sama, tapi secara kepribadian sebenarnya kami lumayan berbeda. Yudi bisa dikatakan lebih ekspresif dan apa yang dirasakan mudah terlihat di penampilan luar. Kalau lagi happy, Yudi terlihat cerah sekali dan wajahnya bersinar-sinar bak matahari. Sedangkan aku, lebih pemalu dan perasaanku tidak bisa ditebak lewat penampilan fisikku. Mau lagi sedih atau ceria, aku cenderung biasa-biasa saja walau tetap berusaha ceria.

Perbedaan paling fatal diantara kami, aku bersuami dengan 3 anak. Sementara, Yudi belum menikah apalagi punya anak. Jadi aku jarang mengadukan masalah parenting ke Yudi, karena pengalamannya lebih payah daripada aku. Tapi, kalau urusan travelling, wisata kuliner, aku senang minta advice Yudi, wong memang itu hobinya dan punya kesempatan lebih banyak untuk melakukan hobinya tersebut. Untungnya masih ada hobi yang nyambung yaitu membaca, kami suka kencan berdua ke toko buku Aksara atau Kinokuniya atau Times, sambil makan snack mendiskusikan buku-buku yang menurut kami menarik.

Kalau dihitung, sudah hampir 20 tahun aku berteman dekat dengan Yudi. Herannya kami tidak pernah bertengkar mulut, walaupun sering ada perbedaan pendapat. Suamiku suka bosan melihat aku asik ngobrol di telpon dengan Yudi sampai satu jam lebih (karena pada dasarnya, kami jarang bertemu). Sampai suatu hari suamiku mengusulkan ‘Bagaimana kalau Yudi aku jadikan istri keduaku, nanti dia tidur di kamar tamu. Jadi kalian berdua bebas deh diskusi apa saja kan sudah tinggal satu rumah. Dan aku berarti menolong seorang  ‘gadis’ mendapatkan jodohnya’.  Wah, benar-benar usul yang ekstrim dan mengesalkan, untungnya cuma bercanda (atau jangan-jangan serius ya).

Tahun 2004 lalu, kami sama-sama naik haji, dengan rombongan yang berbeda, karena Yudi waiting list dari tahun sebelumnya. Beberapa kali aku janjian bertemu dengan Yudi di Masjid Nabawi dan aku sibuk menenangkan dirinya., karena banyak hal-hal yang menyedihkan perasaannya terjadi. Padahal aku sendiri juga mengalami hal-hal yang mengejutkan, tapi kadang-kadang aku bisa bersikap lebih dewasa. Sepertinya berumah tangga bisa menjadi sekolah untuk mendewasakan seseorang.

Masih saja kami jarang bertemu, karena kesibukan masing-masing, tapi kami tetap berkontak-kontak dengan email, telepon dan chatting. Cita-cita kami akan  berteman terus sampai tua, Insya Allah jika ada umur.

Aku dan Entin

Entin adalah teman SMAku. Dia tergolong teman yang serius, karena memang Entin termasuk murid pintar dan rajin belajar. Aku sering berharap ketularan rajin, tapi tetap saja aku gak bisa setekun Entin. Yang menjadikan kami dekat karena, tanggal, bulan & tahun lahir kami sama. Jadi kami tak pernah lupa saling mendoakan saat kami ulang tahun. Waktu kelahiran sama, tidak menjamin kami mempunyai sifat yang sama. Ya itu tadi, Entin tetap dikenal anak yang serius dan rajin sementara aku si ‘cengengesan’ yang senangnya bercanda.

Waktu kelas 2 SMA, kami tidak sekelas namun ruangan kelas bersebelahan. Salah satu cowo teman sekelas Entin, sepertinya senang ke aku. Dan aku dengan bloonnya tidak menyadari dan Entin tahu sekali aku termasuk tipe remaja yang jauh dari centil (julukan aku si  culun). Jadilah aku bulan-bulanan temanku, ada angin apa aku bisa suka-sukaan dengan cowo. Wah ini, jauh dari fakta, yang suka kan bukan aku, walaupun aku jadi gede rumongso (geer) juga, kok yang culun kayak aku gini ada juga yang suka. Entin termasuk yang men’discourage’ aku bisa deket dengan cowo. Belum pantes kata Entin, bukan karena muka elo yang culun, tapi kita tugasnya belajar bukan pacaran, bisa mengganggu keseimbangan. OK bu Entin, memang kau sisi malaikatku, yang rajin menasihati aku.

Sesuai dengan kemampuan Entin, dia diterima di IPB. Semakin rajin dan tekunlah ia, mengingat di IPB, kuliah cukup berat dengan waktu yang sangat cepat. Kami sempat putus hubungan setelah kuliah dan awal-awal bekerja.  Akhirnya kami berhubungan lagi setelah agak lama bekerja, karena sebetulnya kami saling merindu, tapi belum ada kesempatan untuk bertemu. Entin lebih dulu menikah dibanding aku.

Saat ini anak Entin sudah besar-besar, ada yang sudah kuliah. Bolehlah kalau aku minta nasihat megenai  urusan anak. Walaupun kami tidak intens bertemu, kami masih saling kontak melalui telepon dan kalau ada kesempatan kami bertemu.

Aku dan Keke

Ini salah satu teman kuliahku. Kami dipertemukan karena absen kami yang berdekatan dan kesukaan yang lumayan mirip. Sama-sama susah berdandan, berat kalau disuruh tampil feminin dan senang bercanda. Menurut orang, banyak cewek-cewek di fakultas kami yang feminin, herannya Keke dan aku tidak ketularan tuh. Tetap saja, kami apa adanya, kurang fashionable.

Lucunya, aku dan Keke, sama-sama type tidak tekun, kami cenderung tidak belajar mati-matian seperti teman sekelas yang lain. Tapi herannya nilai kami cukup bagus dibanding teman-teman. Sampai-sampai aku pernah diancam teman (sambil bercanda tapi ada benarnya) “Triana, kamu asik-asik photocopy catatanku, sementara nilai-nilaimu lebih bagus dari aku. Besok-besok, kalau mau photocopy, aku charge biaya copyright hak paten”. Pernah suatu kali aku dipanggil dosen ke ruangannya, rupanya bu dosen dongkol dengan perilakuku yang asik mengobrol dikala beliau menjelaskan. Tapi beliau juga agak kesulitan mau marah karena ternyata nilai-nilai ujianku termasuk lumayan baik.

Pengalaman cukup konyol, pernah aku dan Keke datang ke suatu kuliah, tapi herannya ruangan kosong tanpa ada pengumuman apapun dan setelah kami cek ke Birpen (Biro Pendidikan) ternyata kuliah dibatalkan dan informasi ini sudah diberikan dari minggu sebelumnya oleh sang dosen. Rupa-rupanya teman sekelas kami yang ‘in purpose’ berniat mengerjai kami. Karena pada minggu sebelumnya, aku dan Keke sudah keluar ruangan sebelum dosen memberi pengumuman perubahan hari kuliah. Mereka sepakat membiarkan aku dan Keke tertipu.

Bukan itu saja, teman-teman kami sebal karena kami berdua selalu lulus dengan nilai yang baik, padahal menurut mereka kami tidak belajar secara maksimal. Ada juga doa buruk buat kami “Triana, Keke, sepandai-pandai tupai melompat, suatu waktu akan jatuh juga”. Lo, jahat juga teman-temanku ini. Allah Maha Kuasa, benar saja kejadian, pada kuliah Teori Akuntasi, kami mendapat nilai E, padahal kuliah ini prasyarat untuk penyusunan skripsi. Gedubrak banget kan……

Teman-temanku malah girang dengan kondisi kami ‘makanya belajarnya yang serius dong, jangan minjem catatan terus, sudah bagus diterima di Ekonomi UI’. Alhasil, kami lulus kuliah 6 bulan lebih lama dari teman-teman yang lain, karena harus mengulang kuliah.

Ya itulah, masa-masa dimana intensitas aku dan Keke sebagai teman cukup tinggi, 4 tahun bersama dengan segala kekonyolan kami.  Nama Keke juga sering kupakai, jika aku minta ijin pergi ke orang tuaku. Maklum orang tuaku termasuk yang sangat ketat menjaga anaknya. Tapi kalau aku katakan perginya bersama Keke, mereka agak lunak walaupun tetap berusaha untuk ikut mendampingi aku.

Setelah kami berkeluarga, masih saja kami berhubungan dan menceritakan hal-hal konyol yang kadang-kadang menurut suamiku kurang cocok untuk jadi topik pembicaraan ibu-ibu (jadi ibu-ibu bukan berarti cuma diskusi soal rumah tangga yang serius saja kan)

Aku dan Muti

Muti teman SD dan SMPku. Ini juga salah satu temanku yang punya selera humor yang sama dan ‘telat dewasa’ menurut banyak orang. Begitulah, kami suka sekali membaca cerita dongeng, humor dan menonton film kartun ataupun film anak-anak.  Kami menghabiskan masa SD dan SMP bersama.  Pada saat SMA kami pisah sekolah, sesuai selera orang tua masing-masing. Dan waktu kuliah, kami sama-sama diterima di UI, tapi Muti di fakultas Psikologi sementara aku di Ekonomi.

Aku sangat surprised, Muti berminat menjadi psikolog, padahal yang suka membaca buku-buku perilaku orang adalah aku. Aku membayangkan sulitnya mengevaluasi prilaku manusia, bagiku agak abstrak untuk dipelajari, makanya aku tidak bernyali mendaftar ke jurusan psikologi.

Pada dasarnya, temanku yang satu ini tidak bisa diam, ada saja kegiatannya. Waktu kuliah, sibuk dengan kegiatan marching bandnya. Sesudah kuliah, selain bekerja, Muti rupanya senang travelling ke berbagai pelosok dunia. Kegiatan tersebut masih berlanjut sampai sekarang, yang terkadang membuat aku sedikit iri. Tapi aku sadar diri, bahwa aku belum mampu seperti itu. Selain tabungan yang terbatas dan banyak prioritas lain, aku juga punya buntut empat orang yang harus dirawat (suami dan 3 anak). Jadi seharusnya aku gak perlu iri ya, aku ikut dengar sharing cerita-ceritanya sajalah.

Ya itu, perbedaan mendasar kami, Muti masih ‘sorangan wae’ sampai detik ini. Sementara aku, ibu sibuk (haha mengaku sibuk). Walaupun begitu, kalau ketemu, kami selalu ngobrol dengan asik, selalu kelupaan waktu. Inginnya ketemu dan ngobrol terus, tapi masing-masing punya kesibukan. Jadi kami selalu niatkan untuk bertemu dari sebulan sebelumnya. Paling sering telfonan, apalagi kalau ada undangan temen-temen lama…….tiada kesan tanpa kehadiran Muti……… Seringkali temen-temen yang tidak terlalu kenal tertukar memanggil aku Muti dan memanggil Muti dengan namaku. Muka kami tidak mirip-mirip amat…..tapi tetap sering tertukar, mungkin karena waktu sekolah, kemana-mana kami selalu berdua.

Biarpun Muti seorang psikolog, tapi aku pantang ceritain masalah rumah tanggaku ke dia, malu………aku malah sering keasikan denger pengalaman Muti membantu client………Dan hebatnya Muti, dia tidak pernah ikut campur masalahku, kecuali aku yang minta saran.

Sebenarnya masih ada teman-teman akrabku yang lain, yang relatif lebih baru aku kenal, namun sudah sangat akrab. Tapi postingan sudah terlalu panjang. Lain waktu, kalau ingat, akan aku ceritakan,  teman-teman tersayangku lainnya.

Dari http://triajita.multiply.com/journal/item/17, ditulis tanggal 17 September 2010

Gambar diambil dari : http://kids-help-kids.blogspot.com/2010/07/case-for-cartoons.html

Selera TV

Standar

Tiap orang mempunyai selera tontonan yang berbeda. Di rumahku saja yang membernya cuma 5, punya acara TV kesukaan masing-masing. Kecuali mba Hani si sulungku, yang lebih suka komputer daripada menonton TV.
Dibilang suka, keluargaku juga tidak termasuk maniak TV. Jatah nontonnya cuma malam (kalau sempat) atau wiken. Jadi jangan tanyakan acara TV ke aku ataupun keluargaku…..maaf gak terlalu update…
Walaupun jarang-jarang nonton, aku berlangganan TV Kabel yang harganya lumayan, karena aku langganan beberapa channel premium…(Gak tau kenapa disebut premium..)
Tetap saja mau channel premium kek…channel apa….nontonnya jarang juga. Terus kalau nontonnya jarang, kenapa aku bikin tulisan ini ya. Itulah inti ceritanya…aku survey kecil-kecilan yang respondennya keluargaku saja.. Untuk menentukan apakah aku masih perlu berlangganan TV kabel atau apakah paket TV langganan kami sudah dimanfaatkan secara maksimal.

Ini hasilnya :
Keluarga saya, rata-rata menonton TV 2 sampai 4 jam perhari.
Paling jarang nonton mba Hani (kurang dari 1 jam per hari) dan ayah (maksimal 2 jam).
Hari paling lama menonton Sabtu dan Minggu

Channel TV atau acara favorit :
– Ayah – TVRI, Kompas TV, National Geography Channel. Acara : berita, budaya, jalan-jalan, agama, alam
– Bunda (aku) – Fox, TVRI, Metro TV,Fox Movies, HBO, AXN. Acara : berita, sepak bola, berita olahraga, film seri detektif, film layar lebar
– Hani – National Geography Channel. Acara : Alam, budaya
– Ario – National Geography Channel, Nat Geo Wild, Nickledeon. Acara : Alam, binatang, film kartun
– Arin – Disney Channel, Disney Junior, Animax. Acara : film kartun film anak.

Kesimpulannya :
Keluargaku lebih banyak menonton TV luar (Internasional). Alasannya : acaranya lebih sesuai dengan selera, sedikit iklan, banyak pilihan acara. Berarti aku masih akan tetap berlanjut berlangganan TV Kabel.

Pertanyaannya kalau selera berbeda begitu, bagaimana cara menontonnya sementara TV hanya dua. Yaitu bertoleransi dan berbagi, kalau hari ini aku sudah banyak menonton, besoknya gantian jatah yang lain. Memang menonton TV harus dibatasi, untuk menghindari kita hanya melakukan satu jenis kegiatan. Coba lihat, kalau seperti gambar diatas, setiap anggota keluarga memegang remote control….kacau…..

Pertanyaan selanjutnya, apakah tidak terlalu boros berlangganan TV Kabel kalau jarang menonton TV. Menurut aku tidak, karena kita mempunyai lebih banyak pilihan yang sesuai dengan selera dan bisa jadi acaranya lebih baik. Habis, melihat TV lokal, banyak acara sinetron yang tidak sesuai untuk dilihat anak-anak atau acara berita selebriti yang tidak bermanfaat. Tapi ini hanya pendapat pribadi aku, bukan hasil riset canggih.

So,jangan cerita OVJ (yang terkenal itu) denganku yaaa, karena pasti aku tidak tau ceritanya sama sekali..la aku gak pernah menonton…. 🙂

Gambar diambil dari :http://www.laughparty.com/print.php?id=225