Monthly Archives: September 2020

Kecurian di Granada, Spanyol

Standar
Pernahkah teman-teman kecurian? Aku mengalaminya sewaktu aku berpergian ke Spanyol. Bagiku ini salah satu pengalaman burukku dalam perjalanan. Sebelumnya aku pernah juga mengalami kejadian tidak enak saat berpergian, dalam postinganku yang ini. Namun pengalaman kecurian ini jauh lebih mengesalkan karena aku kehilangan barang-barang pribadi yang aku perlukan dalam perjalanan. Siapapun bisa mengalami kejadian seperti ini. Aku berbagi pengalaman ini untuk diambil pelajaran dan hikmahnya agar kita bisa menghindari kejadian seperti ini.
Saat itu,  aku sedang melakukan perjalanan ke Maroko dan Spanyol. Aku belum sempat menuliskan pengalaman perjalananku disana. Biarlah tragedi kecuriannya dulu yang aku ceritakan, agar yang pergi kesana lebih berhati-hati.
Aku berada di kota Granada, Spanyol. Aku telah melalui perjalanan dari Marrakesh, Maroko dan menyeberangi Selat Gilbratar menuju Granada, Spanyol. Aku menginap di  hotel berbintang 5 di kota Granada. Rencananya pagi itu kami akan mengunjungi Alhambra, salah satu kota terkenal dengan ilmuwan dan pengetahuannya di masa kejayaan kerajaan Islam di Andalusia, Spanyol (tahun 711 – 1492)
Walaupun hotel tempat aku menginap sangat nyaman, namun kemarin malamnya aku tidak bisa tidur nyenyak. Kakakku menelfon dari Jakarta dan memberitahu bahwa mamaku sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku kepikiran terus ingat mamaku, karena biasanya kalau dia sakit, aku yang menunggu di rumah sakit. Mamaku adalah penyintas penyakit kanker lebih dari 20 tahun dan sudah 8 bulan ini berobat lagi karena ada tumor yang tumbuh di kepalanya. Kakakku mengijinkan aku pergi, karena perjalanan ini sudah direncanakan sebelum mamaku sakit.
Pagi itu, aku lemas memikirkan mamaku. Di restoran tempat sarapan sepi sekali, tamu-tamu lain belum terlihat. Yang sarapan hanya aku dan suamiku, beserta 2 pasang teman suami, teman perjalananku kali ini. Suamiku sibuk mengambilkan aku aneka buah dan pastri untuk aku sarapan namun aku bergeming melamun dengan pandangan kosong, tidak bernafsu untuk sarapan.
Aku duduk di bangku berseberangan dengan suamiku. Teman-temanku duduk di meja sebelah dan mereka sibuk mengambil sarapan ala buffet. Kecerobohan pertamaku aku melamun dan tidak fokus. Kelalaian kedua aku menarus tasku dengan menggantungkan di senderan kursi dan aku sampirkan jaket di senderan kursi pula menutupi tasku. Padahal aku sudah diingatkan untuk berhati-hati di Spanyol karena banyak pencopet di daerah yang ramai wisatawan. Berlanjut keteledoran berikutnya, aku tidak menyadari bahwa ada orang yang sedang sibuk berbicara di handphone dan dia berdiri dekat kursiku. Ada saat-saat aku hanya sendiri di meja karena suamiku dan teman-temanku sedang memilih dan mengambil makanan di meja hidang.
Setelah semua selesai sarapan (aku hanya minum jus buah), Tour leader memanggil kami untuk persiapan berangkat ke Alhambra. Saat aku mengambil jaket, aku kaget karena tasku tidak ada. Tas yang aku bawa tersebut cukup besar dan berwarna merah terang. Bila diambil orang tentu akan terlihat. Yang namanya maling, pasti punya strategi, apalagi calon korban tidak awas dan melamun. Aku serasa mau pingsan membayangkan handphone beserta kamera kesayanganku ikut raib bersama tas.
Suamiku melaporkan kehilangan itu ke tour leader (kami panggil dia Udin, karena nama Spanyolnya sulit diucapkan) untuk disampaikan ke pihak hotel. Aku masih lemas membayangkan barang-barang berhargaku yang hilang. Hilanglah semua foto-foto dalam kamera dari beberapa perjalananku, yang belum sempat disimpan di laptopku. Udin menghibur aku karena masih bisa bersyukur passpor tidak hilang berhubung disimpan pihak hotel waktu aku check-in. Udin meminta aku tetap ikut ke Alhambra (destinasi hari itu) karena sayang sekali kalau tidak mengunjungi kota peninggalan kerajaan Islam yang sangat ikonik tersebut apalagi sore harinya kami sudah harus berangkat ke kota lain (Madrid). Jadi tidak akan ada kesempatan untuk mengunjungi Alhambra dalam perjalanan itu.
Jadilah aku berpergian dengan melenggang kankung tanpa bawaan sama sekali. Pening aku membayangkan harus melaporkan dan mengurus semua barang berharga KTP, Kartu Debet dan Kartu Kredit. Di dalam tas itu, aku juga menyimpan 2 handphone Samsungku, kamera pocket RX100 Sony, uang 1000 Euro dan lain lain.  Goodbye foto-fotoku yang di dalam kamera. Aku berharap foto di handphone terback-up di cloud. Kalau uang ya sudahlah, perjalananku tinggal 3 hari lagi. Aku tidak perlu belanja apapun.
Awalnya uang selama perjalanan, aku bagi dua dengan suamiku. Ternyata cuaca yang sangat dingin di bulan Desember itu, membuat suamiku bolak balik ke toilet. Ceritanya untuk mempermudah, jika aku ingin membeli sesuatu, uang diserahkan kembali semua kepadaku. Maksud suami, aku tidak perlu mencari dan menunggu dirinya yang sering harus ke toilet yang lokasinya jauh pas aku harus membeli sesuatu. Alhasil, uang bekal perjalan kami raib semua, hanya tinggal uang rupiah di dompet suami. Masih alhamdulillah, kami berpergian dengan teman-teman dan mereka siap menalangi kalau kami darurat perlu mengeluarkan uang.
Aku pasrah saja, memang sudah takdir dan cuma ingat bahwa semua yang kita miliki itu hanya titipan dan jika suatu saat diambil/hilang, ya harap bersabar dan mengambil hikmahnya.  Ada sedikit harapan dalam hati, tasku tersebut bisa ditemukan tapi aku berusaha menyiapkan hati jika ternyata tidak ditemukan.
Selama perjalanan menuju Alhambra aku menelfon anakku dan memberi instruksi untuk memblokir kartu debet dan kartu kredit melalui Bank penerbit. Alhamdulillah anakku sudah cukup umur untuk mewakili aku berhubungan dengan bank. Aku juga berusaha menenangkan diri agar bisa menikmati Alhambra. Kalau dipikir, benar juga Udin, aku sudah menabung susah payah, meluangkan waktu dan pergi sejauh ini untuk melihat Andalusia yang aku idamkan sejak lama. Masa’ gara-gara tragedi kecurian, aku tidak jadi mengunjungi Alhambra. Tidak ada manfaatnya juga jika aku ikut melaporkan ke polisi, tidak ada yang bisa aku perbuat untuk membantu.
Pendek kata, dalam segala kegundahanku memikirkan mamaku yang sedang dirawat di rumah sakit dan mengingat barang-barang berhargaku yang hilang, aku tetap berusaha menikmati keindahan Alhambra dan penjelasan-penjelasan dari pemandu wisata. Aku mempraktekkan resep sederhana untuk menenangkan hati, menarik nafas panjang dan berzikir mengucapkan istigfar. Dari foto-fotoku di Alhambra, tergambar wajahku yang lesu.
Begitu aku kembali ke hotel, Udin menjelaskan bahwa pencuri tasku tidak ditemukan begitupun tasku sudah raib entah kemana. Dari CCTV hotel, tampak bahwa si pencuri menyamar menjadi tamu hotel dan masuk ke restoran. Dia mengincar dan mengawasi aku sambil pura-pura sibuk menelfon di dekat aku. Begitu aku sendiri di meja, dia beraksi menjatuhkan jaketnya di belakang kursi aku, kemudian dia mengambil tasku yang digantung dibawah jaketku dan membawa tasku dibawah jaketnya sehingga tidak terlihat. Sementara jaketku tidak bergeser tetap tergantung di kursiku.
Menurut pihak hotel, pencuri itu adalah orang asing biasanya dari Rumania. Aku hanya menerima permintaan maaf. Di kepalaku masih menggantung pertanyaan bagaimana orang yang bukan tamu bisa masuk ke restoran yang biasanya selalu ditanya dari kamar berapa, darimana tau itu orang Rumania??
Aku tidak memperpanjang permasalahan, aku sudah menerima kehilangan ini dan beranggapan memang terjadi sebagian besar karena kelalaianku. Aku cuma ingin cepat pulang bertemu mamaku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu atas mamaku dikala aku jauh. Padahal pada saat aku pergi, hasil lab  mamaku dan pemeriksaan dokter, kondisi mama agak membaik. Pastinya lagi, aku harus mengurus pengantian dokumen hilang dan membeli handphone. Untuk membeli kamera lagi, aku harus menahan diri karena aku tidak punya budget lebih.
Dari ceritaku ini, ada pelajaran dan hikmah yang bisa diambil agar terhindar dari kejadian seperti ini. Selama perjalananan sebaiknya kita :
  • Selalu fokus memperhatikan kondisi sekitar dan tidak banyak melamun.
  • Selalu meletakkan barang berharga di depan kita atau di pangkuan kita. Sekali-kali jangan lengah mengawasi barang-barang kita
  • Berhati-hati dengan orang tidak dikenal yang bersikap aneh dan berada di sekeliling kita.
  • Kalau memungkinkan menyimpan uang tidak di satu tempat.
#granada
#jalanjalanspanyol
#GranHotelSercotelLunadeGranada

Yuuk ke Pangandaran

Standar
Yuuk ke Pangandaran
Green Canyon
Pantai dan gunung adalah tempat favorit keluargaku dalam berlibur. Sejak lama aku dan keluarga ingin sekali bertualang ke Pangandaran. Selain melihat-lihat, kami juga ada rencana mampir ke kampung asisten rumah tanggaku  yang berasal dari sana, yang sudah berhenti bekerja. Lokasinya yang lumayan jauh dari Jakarta dan keinginan kami berkendara sendiri, membuat kami perlu menyusun rencana perjalanan dan kegiatan selama kami disana.
Akhirnya selesailah perencanaan liburan kami. Aku memesan penginapan dan juga biro perjalanan disana untuk menyediakan kendaraan dan supir yang mengantarkan kami selama disana.
Perjalanan kami lebih kurang  340km, dari rumah (perbatasan Bekasi Jakarta) menuju Pangandaran. Perkiraan waktu kurang lebih 8-10 jam, tidak pakai transit menginap. Beberapa teman menyarankan, menginap dulu di Bandung. Keesokan harinya berangkat dari Bandung, untuk menghemat tenaga dan tidak kemalaman sampai di Pangandaran. Kami berniat langsung saja ke tujuan karena waktu cuti yang terbatas.
Pada dasarnya aku dan suami sangat menikmati perjalanan dengan naik mobil. Selama perjalanan bisa melihat pemandangan dan berhenti jika diperlukan. Biasanya kami berhenti, jika melihat pemandangan indah atau untuk memenuhi kebutuhan manusiawi (makan, buang air, dll). Ketiga anakku tidak ada yang benar-benar penikmat perjalanan seperti orang tuanya. Kadang-kadang mereka bosan dan berulang-ulang menanyakan berapa lama lagi sampainya. Beda ya…. aku sejak kecil memang senang jalan, tidak pernah bosan.
Pangandaran terletak di Selatan pulau Jawa, termasuk wilayah Jawa Tengah. Letaknya yang di tanjung, membuat kita bisa melihat matahari terbit maupun matahari terbenam dari pantai Pangandaran… keren kan. Tokoh Pangandaran yang terkenal Ibu Susi Pudjiastuti, pengusaha asli orang Pangandaran dan pernah menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.  Bu Susi juga merintis penerbangan ke Pangandaran melalui penerbangan miliknya yaitu Susi Air. Yang mau cepat ke Pangandaran, silahkan siapkan budget lebih untuk naik pesawat Susi Air (ya pastinya ongkos pesawat lebih mahal daripada ongkos kendaraan darat).
Aku menginap di sebuah hotel yang nyaman di pantai Timur. Banyak sekali pilihan penginapan maupun tempat makan, jadi cukup mudah berwisata kesana. Karena aku hanya berlibur 2 malam dan kami ingin santai menikmati pantai jadi tidak banyak destinasi yang kami kunjungi.
Tempat wisata yang kami kunjungi :
  • Green Canyon (Cukang Taneuh)
  • Pantai Batu Karas
  • Pantai Batu Hiu
  • Pantai Timur
  • Pantai Barat
  • Pantai Pasir Putih, Cagar Alam Pananjung
Green Canyon (Cukang Taneuh)
Ini destinasi yang indah dan seru, menurut anak-anakku. Kami naik perahu menyusuri sungai Cijulang yang warna airnya hijau toska (hijau kebiruan) dari dermaga Ciseureuh. Di kiri kanan sungai, kami melihat pepohonan dan tebing yang terbentuk sejak jutaan tahun karena erosi air sungai. Kami juga dibawa masuk ke dalam gua dengan staklatit dan staklamit. Suamiku beserta anakku Hani dan Ario, berenang di dalam gua dan bermain di air terjun Palatar.
Sementara aku dan Arin si bungsu tidak ikut berenang dan menunggu di perahu di luar gua, karena Arin kurang enak badan. Anak-anak sangat menikmati berenang dan main air di dalam gua.
Setelah puas di Green Canyon, kami menuju Pantai Batu Karas.
Pantai Batu Karas
Lokasi pantai Batu Karas tidak terlalu jauh dari Green Canyon. Pantai ini cukup landai dan banyak orang yang berenang di pantai. Pasir pantai lumayan halus dan berwarna gelap. Kami hanya bermain-main ombak di pinggir pantai dan naik ke tebing untuk melihat-lihat pemandangan laut dari atas. Selanjutnya kami ke pantai Batu Hiu.
Pantai Batu Hiu
Di pantai ini, kami melihat ombak dan pemandangan laut dan bebatuan di pinggir pantai yang katanya berbentuk menyerupai ikan hiu. Kita dilarang berenang di pantai yang menghadap Samudra Hindia ini karena ombak dan arus yang cukup kuat.
Pantai Timur
Karena hotel kami berlokasi di pantai Timur, jadi kami niatkan berjalan-jalan di pantai pada pagi hari sekalian melihat matahari terbit. Dua kali pagi hari yang kami jalani disana, kami tidak berhasil melihat matahari terbit karena langit mendung tertutup awan. Tau-tau mataharinya sudah diatas saja, padahal ingin melihat matahari ketika muncul di horison sampai naik. Kami tidak terlalu berharap juga, karena saat itu bulan Desember sudah masuk musim hujan. Di pantai Timur, banyak kegiatan-kegiatan yang ditawarkan seperti naik banana boat, naik kapal dengan dasar kaca dan bisa melihat ikan-ikan dan karang. Saat itu kami lebih senang melihat-lihat kegiatan nelayan membawa ikan di jaring ke pantai.
Pantai Barat
Kami ke pantai Barat di siang hari menjelang sore, supaya sorenya bisa melihat matahari terbenam. Kami naik perahu untuk melihat karang-karang yang berbentuk unik, melihat orang memancing lobster di karang di tengah laut dan berlayar ke pantai Putih. Hani dan Ario sudah berniat snorkling di pantai Pasir Putih dan aku ingin melihat cagar alam Pananjung.
Waktu kami naik perahu, kami tidak menduga ombaknya ternyata cukup besar dan tinggi. Kami terombang-ambing lumayan tinggi, sementara anakku mulai pucat ketakutan melihat ombak, pak pemilik kapal tetap santai menjelaskan bentuk-bentuk karang di pantai yang nampak dari kejauhan. Si bapak setiap hari melalui ombak seperti itu, jadi tenang-tenang saja.
Dua kali ke pantai Barat dalam 2 hari, alhamdulillah aku bisa melihat matahari terbenam yang bulat merah terang pelan-pelan turun ke bawah horison. Banyak orang yang menunggu saat-saat matahari terbenam ini. Cantik sekali pemandangannya.
Pantai Pasir Putih dan Cagar Alam Pananjung
Anak-anakku snorkling di pantai Pasir Putih. Menurut anak-anakku pemandangan bawah airnya (ikan, karang, dll) bagus. Namun karena sudah agak sore, arus bawah laut cukup kuat jadi harus lebih hati-hati.
Aku tidak ikut snorkling dan sambil menunggu anak-anak, aku melihat-lihat cagar alam Panajung. Cagar Alam penuh dengan pepohonan dan banyak kera-kera yang bermain-main di pohon. Ternyata di dekat pantai tersebut juga ada gua Jepang (yang dibuat oleh tentara Jepang dalam masa perang). Gua tersebut sudah tertimbun, jadi tidak terlihat jelas.
Kami senang bisa menikmati Pangandaran walaupun hanya 2 hari. Terbayarlah perjalanan jauh kami dengan melihat pemandangan indah. Indonesia memang berlimpah dengan pantai dan pemandangan cantik. Untuk yang suka kulineran, disana juga banyak makanan enak dari hasil laut yang segar. Karena aku bukan pemerhati kuliner, aku tidak punya banyak info cuma ingat rasa enaknya saja.
Dalam perjalanan pulang, kami sempatkan bertemu dengan mantan asisten rumah tangga sesuai rencana kami. Namun kami tidak jadi ke kampungnya karena jalan menuju kesana rusak dan memakan waktu lama, padahal perjalanan kami menuju Jakarta masih amat sangat panjang. Jadi kami bertemu di jalan dan cukuplah menghilangkan rasa rindu.

Berburu Momiji Saat Musim Gugur di Jepang

Standar

Sebagai penduduk negara tropis 2 musim, wajar jika aku tertarik mengunjungi negara 4 musim, terutama pada saat musim yang tidak pernah ada di negaraku seperti musim gugur. Aku pencinta alam sehingga melihat-lihat alam juga kegiatan favoritku. Aku ingin sekali melihat warna daun-daun pada musim gugur.
Suatu hari, Yanti, temanku sesama penggemar jalan, mengajakku untuk ikut pergi ke Jepang. Sebenarnya Jepang bukan target jalan-jalanku karena untuk tujuan luar negeri, aku senang yang lebih antik seperti China dan Mesir. Tentunya dengan budget jalan-jalan yang terbatas, aku mengincar berpergian ke tempat idaman. Aku perlu beberapa waktu berpikir untuk menerima tawaran ini.
Aku mencari info mengenai Jepang dari teman-temanku yang tinggal di Jepang maupun yang sering berpergian ke Jepang. Dari hasil riset kecil-kecilanku, aku akan menikmati jika jalan-jalan ke Jepang di saat musim gugur dan musim semi. Aku akan melihat pemandangan luar biasa indah pada musim-musim itu selain bisa melihat destinasi di Jepang yang sudah populer.
Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk ikut pergi ke Jepang di musim gugur. Ternyata warga Jepang sendiripun, menyukai musim gugur karena keindahan warna warni daun. Proses perubahan warna daun menjadi kemerahan, kuning, jingga saat musim gugur dikenal dengan sebutan ‘momiji’. Jepang menyediakan perkiraan kapan dan dimana momiji berada, biasanya di daerah yang letaknya lebih utara muncul momiji lebih awal dan berlanjut ke wilayah selatan.
Kami pergi berdelapan dan dari semua peserta hanya 3 orang yang belum pernah sama sekali ke Jepang termasuk aku. Yang pernah pergi ke negara saat musim gugur , ada 4 orang (sudah pasti tidak termasuk aku). Jadi kemungkinan aku peserta yang paling bersemangat karena pengalaman pertama semua. Kami pergi tidak memakai jasa tour, temanku yang mengajak aku yang akan memandu dan bertindak sebagai tour leader, berhubung dia sudah berkali-kali ke Jepang dan membawa rombongan juga. Tentunya kami membayar jasa layanannya karena kami dibantu mencari serta memesan tiket pesawat, kereta, penginapan dan nantinya menjadi pemandu perjalanan kami.
Alhamdulillah, segala persiapan cukup mudah dan lancar. Kami mengurus visa sendiri dan menurut pengalamanku mudah selama kita mengikuti ketentuan yang berlaku. Tidak terasa sampailah di hari keberangkatan. Kami terbang ke Tokyo dan menyambung dengan penerbangan lokal ke kota Toyama.
Cuaca di musim gugur (bulan November) lumayan dingin,  sekitar 10 – 15 derajat Cecius. Namun cuaca dingin tidak mengurangi semangat untuk melihat-lihat. Aku termasuk pejalan yang tidak mau ‘rugi’, berusaha memaksimalkan jumlah destinasi yang dituju dan mengeksplorasi serta melihat destinasi selengkap mungkin. Sederhana saja pikiranku, aku belum tentu bisa berkunjung lagi kesitu, so manfaatkanlah waktu kunjunganmu sebaik-baiknya.
Seperti cerita di awal tadi, aku juga punya misi pribadi melihat pohon dan dedaunan musim gugur sebanyak mungkin. Jadi selama di kereta dan di bis, aku sangat menikmati pemandangan tempat-tempat yang penuh dengan momiji dan berharap sempat mampir ke lokasi itu. Tentunya tidak mungkin semua keinginan tersebut terpenuhi. Kami sudah punya daftar kunjungan yang disepakati di awal.
Destinasi perjalan ke Jepang, masih seperti perjalanan ke Jepang yang biasa dilakukan wisatawan lain. Maklum ada peserta yang baru pertama ke Jepang seperti aku, jadi destinasi mainstream wajib ada.  Kota yang dikunjungi Tokyo, Osaka, Kyoto, Toyama.
Di Toyama, aku tidak melihat banyak momiji, hanya beberapa pohon ginko berdaun kuning. Hari berikutnya kami naik bis ke desa tradisional Shirakawago. Desa ini terkenal dengan rumah tradisional beratap sejenis jerami (gasso) yang masih terjaga. Pemandangan desa ini lebih cantik di musim dingin dengan saljunya yang menutupi atap rumah, begitu kata pemandu dan info di website. Bagaimana perburuan momijiku… ternyata tidak mengecewakan karena aku banyak menemukan pohon maple berdaun kuning ataupun merah. Cantik sekali.
Selain ke Shirakawago, dari Toyama kami juga memulai perjalanan ke kota kecil Unazaki Onsen dan Minoo Park. Di destinasi ini, aku melihat banysk momiji. Aku puas cuci mata melebihi harapan. Kalau melihat jarak jalan kaki yang kutempuh, luar biasa jauhnya, yang mana gak mungkin aku lakukan kalau tidak sedang jalan-jalan di luar kota. Namun kebahagian melihat-lihat pemandangan melebihi rasa letih.
Hari selanjutnya kami ke Osaka dan berlanjut Kyoto. Di Osaka Castle, aku menemukan pohon ginko berdaun hijau pupus cantik. Walaupun menurut temanku tidak selebat saat dia berkunjung sebelumnya (karena daunnya sudah trondol banyak yang gugur), namun aku tetap kagum dengan kesegaran warnanya. Beginilah pencinta pohon, melihat pohon berdaun warna ‘menor’, langsung mata tak lepas memandang.
Meski aku punya perhatian khusus terhadap momiji, tapi eksplorasi destinasi tetap kulakukan dengan telaten…. gak mau rugi kan…😀
Keluar apartemen dari pagi, baru kembali ke apartemen malam hari. Kalau lagi eforia berwisata begini, rasa lelah pegal terlupakan deh… lebih banyak rasa semangatnya.
Kami ke Kyoto naik kereta cepat Shinkasen. Walaupun ada insiden terlewat turun di stasiun Kyoto yang membuat waktu perjalanan bertambah, tapi kami menikmati juga kota Kyoto yang antik dan cantik. Inginnya menginap di Kyoto, karena kotanya berasa Jepang tradisional, tetapi ternyata biaya penginapan dll di Kyoto lebih mahal dibanding Osaka. Yang penting, jangan melewatkan kota Kyoto, untuk mendapat ‘feel’ Jepang.
Perjalanan kami berlanjut ke kota Tokyo. Kami akan menginap cukup lama di Tokyo. Banyak destinasi yang perjalanannya dimulai dari Tokyo.  Kami sepakat dengan pilihan destinasi dan rute dari tour leader karena dia sudah berpengalaman dan mengetahui pilihan yang efektif dan efisien.
Di Osaka kami sering kelabakan dengan stasiun kereta yang amat sangat ramai terutama jam kantor dan di Tokyo lebih parah lagi ramainya. Hebat transportasi umum kereta apinya, sangat bisa diandalkan sehingga mayoritas warga memilih untuk menggunakan kereta sebagai sarana transportasi. Aku sarankan yang berpergian ke Jepang, manfaatkanlah transportasi kereta api tersebut, selain sangat bisa diandalkan dan biaya sesuai dengan manfaat, kita juga bisa merasakan menjadi warga lokal…. seruu.
Dari Tokyo kami pergi ke destinasi Mount Fuji, Karuizawa dan Yokohama. Untuk melihat-lihat destinasi di kota Tokyo sendiri, tidak cukup dalam waktu sehari.  Ada juga destinasi tempat shopping karena di rombongan kami ada yang suka. Aku juga ikut melihat-lihat toko, yang aku beli hanya sebatas cendera mata karena aku bukan yang hobi belanja dan tambahan lagi budgetku terbatas.
Pukul rata, destinasi yang kami tuju cantik dan aku paling suka gunung Fuji. Walaupun tidak bisa naik ke level 5 apalagi ke puncaknya (hanya bisa di musim panas), tapi aku si penggemar alam ini, menikmati sekali pemandangan gunung berbentuk simetris dengan salju di puncaknya. Alhamdulillah saat aku ke sana, langit cerah awan tipis tidak berkabut, jadi gunung Fuji terlihat jelas. Di danau Kawaguchiko (sekitar gunung Fuji), banyak sekali momiji… yeaaay daun-daun kuning, jingga merah sangat indah.
Melihat-lihat destinasi lain, aku sambi juga dengan mencari momiji (tetap). Bahkan di dekat persimpangan Shibuya (Shibuya Crossing) yang super ramai itu, aku masih sempat berfoto dekat pohon ginko berdaun hijau pupus…. diantara keramaian masih mencari momiji. Kebanyakan orang melihat-lihat toko dan belanja disini, bukan mencari momiji😀.
Begitulah pengalamanku berwisata ke Jepang di musim gugur dengan tambahan ‘misi’ berburu momiji. Setelah 14 hari memuaskan diri , melihat-lihat, mencuci mata, melangkahkan kaki, turun naik kereta di Jepang…. tibalah waktu pulang ke Jakarta.
Sebenarnya ada pengalaman dan hal unik berkesan yang aku alami selama aku di Jepang seperti pengalaman naik kereta, aneka vending machine, toilet rapi. Mungkin akan aku ceritakan di postingan lain.
#jalanjalanjepangmusimgugur
#berburumomiji