Transit Terlama

Walaupun kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu namun kenangannya selalu melekat di kepalaku. Kombinasi kecerobohan dan ketidakberuntunganku, menjadi pengalaman buruk tak terlupakan. Aku berharap kejadian ini tidak terjadi pada orang lain ataupun padaku lagi.

Aku seringkali bepergian dengan anak-anakku dan di beberapa kesempatan suamiku tidak bisa ikut karena kesibukan pekerjaan. Kejadian ini terjadi pas saat suamiku tidak ikut…. kebayang kan aku sendiri harus menenangkan anak-anak.

Aku sudah lama berniat berjalan-jalan ke negara China yang menurutku sangat eksotik dengan kebudayaannya yang sudah tua dan juga pemandangan alamnya yang indah. Setelah membaca dan mendengar berbagai informasi, aku memilih jalan-jalan dengan memakai jasa tour. Pendeknya aku pilih yang aman menurut aku karena berpergian dengan anak-anak dan ke tempat yang jarang orang berbahasa Inggris dengan tulisan yang bukan latin pula.

Belum lagi, karena aku masih bekerja pada saat itu, jadi aku harus efisien memanfaatkan waktu cuti. Singkat kata, aku sudah memilih pesawat dan daftar kunjungan sesuai rekomendasi orang-orang yang telah berkunjung ke China. Dengan waktu cuti dan budget yang terbatas, aku memilih mengunjungi 2 kota saja yaitu Beijing dan Shanghai. Aku naik pesawat Phillippines Airlines, yang berarti harus transit di Manila.

Aku pilih tour private karena jadwalku sering tidak cocok dengan group tour. Di kala jadwalku cocok, tour tidak jadi berangkat karena kurang peserta atau pernah juga sudah penuh, aku tidak kebagian tempat.

Tour/travel telah mengirim salinan tiket dan daftar perjalanan ke aku. Pesawat berangkat jam 12 malam. Aku sudah menandakan di agendaku, hari keberangkatan. Berhubung berangkat jam 12 malam, jadi aku berencana tetap bekerja siang harinya dan sepulang kantor aku dijemput langsung menuju bandara. Lokasi kantorku di Tangerang Selatan memang lebih dekat ke bandara Soeta dibanding aku harus pulang lagi ke rumah.

Nah, kecerobohan dimulai disini, aku tidak teliti melihat tiket. Di tiket tertulis, keberangkatan tanggal 1 Juli jam 00.00. Yang artinya tanggal 30 Juni malam, aku sudah siap di bandara. Sementara, aku menandakan kalenderku, tanggal 1 Juli, di pikiranku, aku berangkat tanggal 1 Juli malam.

Pihak tour telah mengkonfirmasi bahwa aku akan dijemput di bandara Beijing tanggal 1 Juli jam 13.00 waktu setempat. Aku ceroboh lagi, tidak memperhatikan tanggal dengan seksama. Aku berpikir sederhana, setelah aku berangkat, sudah pasti disiapkan penjemputan di waktu kedatangan.

Jadi…yang seharusnya tanggal 1 Juli jam 00.00 dini hari, aku dan anak-anak sudah berangkat tetapi aku tidak berangkat dan masih asik bekerja di kantor pagi harinya. Aku mengira jadwal berangkatku tanggal 1 Juli malam. Aku sudah menyiapkan anak-anak untuk menjemput aku di kantor dengan membawa bagasi dan langsung menuju bandara.

Hari itu, jam 14.00 aku ditelfon oleh Tour, menanyakan mengapa aku tidak ada diantara penumpang yang mendarat. Tour leader di Beijing bingung mencari-cari aku. Aku mendadak jantungan, karena yakin sekali seharusnya aku berangkat malam nanti. Akhirnya setelah meneliti dengan seksama terbukalah kecerobohanku…. astaghfirullah, innalillahi …. aku beneran salah tanggal. Petugas travel sampai tidak bisa berkata-kata, mengetahui kelalaianku. Karena sudah terbayang liburan di depan mata, aku tidak mau membatalkan jadwal yang telah disusun.

Teman-teman yang sering travelling pasti tahu konsekuensi perubahan jadwal begini. Aku harus bayar tiket perubahan jadwal dan aku kehilangan satu hari jadwal kunjungan di Beijing. Mau bagaimana lagi… memang kesalahanku sendiri.

Aku kira cukup demikian saja kesulitan perjalanan ini. Jadi semua teratasi, tetaplah aku berangkat tanggal 1 Juli malam. Alhamdulillah, jadwal pesawat ke Beijing, ada setiap hari. Pesawatku tidak langsung ke Beijing tetapi transit dulu di Manila selama 3 jam.

Aku sampai di bandara tepat waktu, 3 jam sebelum berangkat, jam 21.00. Segala administrasi check-in telah aku bereskan. Aku dan 2 anakku, siap menanti panggilan boarding. Tunggu punya tunggu hingga jadwal boarding tidak ada info panggilan. Aku mulai deg-degan lagi, kok seperti gelagat mau ‘delay’ (tertunda). Benar saja, ada pengumuman pesawat ditunda karena ada kendala teknis. Astaghfirullah… apalagi nih, pikirku. Aku cuma cemas, apakah kami bisa terangkut pesawat transit sesuai jadwal dengan tertundanya keberangkatan, kalau tidak berarti menunggu lagi, pesawat berikutnya entah kapan.

Aku berdoa panjang pendek dan juga menenangkan kedua anakku. Akhirnya kami berangkat setelah tertunda 4 jam. Secara logika, kami pasti ditinggalkan pesawat transit dan memang benar sesuai dugaan, begitu mendarat, kami sudah ditinggal. Seharusnya jam 9.00 kami sudah terbang ke Beijing dari Manila. Aku langsung melapor ke petugas dan aku hampir pingsan mendengar info dari petugas. Pesawat berikutnya ke Beijing, berangkat jam 21.00.

Ya begitulah, aku mendarat di bandara Manila jam 9.00 pagi dan harus menunggu keberangkatan berikutnya jam 21.00 malam. Aku gak tau harus menghabiskan waktu bagaimana selama 12 jam. Kondisi Bandara Manila saat itu (tahun 2013), maaaaf jauh banget dibanding bandara Soeta apalagi bandara Changi. Dibanding bandara Juanda dan Ngurah Rai saat ini, juga masih jauh dibawah. Tempat duduk kurang nyaman, tempat terbatas/sempit, tidak ada pertokoan yang asik buat dilihat…. begitu deh.

Kami diberi kupon makan selama menunggu. Masih mending restorannya, kue-kue dan masakannya cukup enak, namun suasana kenyamanan kurang sekali. Jadi selama menunggu, aku dan anak-anak menghibur diri dengan memperhatikan tingkah laku petugas bandara yang sering kali aneh menurut kami. Penglihatan sepintas di bandara, orang Philipina sering berkumpul, banyak mengobrol, menghabiskan waktu.

Setelah penantian panjang, berangkatlah kami ke Beijing, ‘tepat waktu’, jam 21.00 malam. Mendarat di Beijing juga tepat waktu, alhamdulillah. Walau setengah cemas, apakah tour leader menjemput kami jam 2 dini hari….. pasrah dan berdoa lagi. Kok tidak ada yang bawa papan dengan namaku ataupun nama tour. Aku dan anak-anak terduduk lemas dan setelah kurang lebih 15 menit menanti, datanglah seorang perempuan cantik yang ternyata tour leader kami. Alhamdulillah…

Xiu (nama tour leader kami) menjelaskan perubahan program karena keterlambatan kedatangan kami dan juga jadwal ‘bullet train’ (kereta cepat) ke Shanghai yang tidak bisa dirubah. Aku hanya bisa melihat-lihat Beijing dalam sehari. Yah nrimo lagi.. tidak bisa nego karena semua sudah dipesan di awal.  Berubah-rubah, mungkin bisa tapi sudah pasti biaya bertambah.

Aku tidak akan menceritakan wisata kami di Beijing dan Shanghai di tulisan ini ya teman. Mungkin di blog lain. Disini aku lebih ingin berbagi ketidakberuntungan aku dalam urusan perjalanannya.

Alhamdulillah, perjalanan dari Beijing ke Shanghai lancar jaya, tepat waktu dan mengagumkan. Pengalaman pertamaku naik kereta cepat, 300km per jam dan gak terasa ‘jagjigjug’ seperti kereta di Indonesia. Mulus jalannya.

Kami pulang ke Indonesia dengan pesawat dari bandara Shanghai. Aku banyak berdoa lagi, mengharap perjalanan lancar. Harapan tinggal harapan, lagi lagi pesawat kami tertunda. Dari awal check-in sudah ada gejala. Sistem komputer Philippines Airlines saat itu sedang bermasalah, sehingga boarding pass tidak tercetak mesin namun di tulis dengan tangan seperti tiket bis malam yang kuno.

Aku mulai cemas lagi apakah kami bakal tertinggal oleh pesawat transit dari Manila ke Jakarta, yang seharusnya berangkat jam 21.00. Akhirnya pesawat berangkat juga ke Manila setelah tertunda 2 jam. Dan lagi-lagi, begitu mendarat di Manila jam 21.00, pesawat menuju Jakarta baru saja ‘take-off’ tanpa menunggu kami. Benar- benar ujian kesabaran karena ternyata aku harus menunggu pesawat ke Jakarta yang berangkat jam 9 pagi keesokan hari. Apaaa… aku hampir berteriak, aku dan 2 anak harus menunggu 12 jam lagi dan menginap di bandara. Tidak terbayangkan. Menginap di bandara bagus saja, aku gak ingin apalagi di bandara Manila.

Dan aku mengomel panjang lebar di depan petugas, menceritakan kesialanku mengalami 4 kali penundaan dan harus menunggu 12 jam (2x) bersama anakku di bandara. Seharusnya aku mendapat ganti rugi yang layak karena mendapat pelayanan yang tidak wajar.  Petugas hanya meminta maaf dan tidak bisa berkata-kata banyak.

Aku ditawarkan untuk menginap di hotel terdekat dengan biaya ditanggung Airline semua…. tentu saja harus begitu. Alhasil kami harus melewati imigrasi…. (mimpi apa, ke Manila karena kesialan begini, pikirku). Kami diantar ke hotel dengan taxi. Mau gak mau aku mencuri lihat-lihat juga kota Manila yang dilewati. Ternyata ketidakberuntunganku masih berlanjut. Entah di bagian mana kota Manila, jalan dan daerah yang kami lewati, lumayan kumuh dan ruwet. Perasaan masih jauh lebih indah Jakarta. Mungkin suasana hatiku yang amat sangat kesal, mempengaruhi cara pandangku juga.

Di hotelpun, lagi-lagi kami mendapat pelayanan yang kurang baik. Aku terpaksa membeli air mineral di restoran hotel karena di kamar hanya disediakan satu botol. Aku sudah bertanya kepada petugas kalau aku membayar dengan uang dollar apakah kembaliannya dalam bentuk dollar juga. Karena dijawab iya, jadilah aku membeli 1 botol air mineral. Ternyata aku mendapat kembalian uang peso. Luar biasa, aku marah sekali dan complain panjang lebar, aku sama sekali gak ingin menyimpan uang peso karena aku menginap di Manilapun terpaksa karena pelayanan airline mereka yang sangat buruk. Mungkin mereka malu juga dengan pelayanan mereka setelah mendengar amarahku. Akhirnya dikembalikanlah uangku.

Merembet ya, dari masalah transit yang lama berlanjut ke yang lain-lain. Aku sempat berucap, aku gak akan berkunjung ke Philippina sampai kapanpun, kotanya jelek dan pelayanan buruk. Aku rasa wajar untuk orang yang mengalami kejadian seperti aku, berpikir begitu.

Besok paginya, aku berangkat lagi ke bandara. Lagi-lagi, aku berdoa semoga perjalanan lancar. Alhamdulillah hari itu semua sesuai jadwal dan kami sampai dengan selamat di Jakarta.

Hmmm, sampai saat ini, anak-anakku selalu meledek aku. Bunda, kalau nanti aku sudah punya gaji, aku ingin mengajak bunda jalan-jalan ke kota Manila. Suamikupun ikut meledek aku, lumayan ya cutinya tambah jalan-jalan ke Manila dan passpornya ada cap imigrasi Phillippina.

Dari cerita panjang lebarku… ada pelajaran yang bisa diambil :

– Selalu meneliti jadwal pesawat di tiket terutama kalau berangkat jam 12.00 malam atau jam 00.00.  Kalau perlu konfirmasi ke Airline.

– Jika memungkinkan, sebaiknya memilih pesawat tanpa transit, apalagi jika berpergian dengan anak kecil.

Untuk menghibur, aku menyertakan foto kami yang sedang senang di Beijing dan Shanghai.

#transitmanila

#transit12jam

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s