Monthly Archives: Agustus 2020

Wae Rebo Dengan Tirai Kabutnya

Standar

Wae Rebo adalah nama desa tradisional yang berlokasi di sebelah Barat Daya kota Ruteng, kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini terkenal di dunia dan telah ditetapkan sebagai salah satu situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 2012.

Walau di dunia internasional, desa ini terkenal, namun belum tentu semua orang Indonesia mengenal Wae Rebo. Pulau Bali dan pulau Komodo sepertinya masih lebih populer dibanding Wae Rebo. Untuk mengunjungi Wae Rebo, tidak bisa dikatakan sulit, tetapi cukup memerlukan usaha ekstra, dibanding hanya sekedar naik pesawat ataupun naik mobil, lantas langsung sampai di tujuan. Mungkin hal ini yang menyebabkan Wae Rebo tidak sepopuler pulau Komodo.

Aku dan suami sudah lama tertarik ingin berkunjung melihat Wae Rebo. Berhubung masih saja ada kendala waktu, kami belum jadi berangkat. Rencana tinggal rencana, pada suatu hari temanku menawarkan ikut dengan rombongan teman-temannya berkunjung ke Wae Rebo. Teman-teman ini adalah teman yang sangat tertarik dengan kebudayaan, sehingga kunjungan tersebut dijadwalkan pas Upacara Penti (upacara syukuran kepada sang Pencipta) yang diselenggarakan setahun sekali oleh masyarakat Wae Rebo. Jadi kami bisa melihat upacara Penti tersebut.

Pada saat aku ke sana (tahun 2016), belum ada pesawat langsung menuju Labuan Bajo (NTT), semua transit melalui Bali atau Kupang. Jadi aku dan teman-temanku naik pesawat ke Labuan Bajo dan transit di Bali. Dari Labuan Bajo, kami menyewa mobil menuju desa Denge, yaitu desa terdekat untuk mulai naik bukit menuju Wae Rebo. Perjalanan mobil menuju desa Denge memakan waktu kurang lebih 5 jam (waktu itu, karena ada jalan yang agak rusak). Di Denge kami menginap semalam di rumah penduduk yang sudah biasa disewakan. Rencananya kami akan jalan kaki/trekking ke Wae Rebo di pagi keesokan harinya. Kami trekking dengan membawa ransel (koper dititipkan di penginapan di Denge). Di Wae Rebo tidak ada signal handphone yang tertangkap, dari provider manapun. Jadi bersiaplah tidak bisa online, untuk yang selalu update setiap saat.

Sudah terbayang kan, bagaimana perjalanan menuju Wae Rebo. Dengan pesawat ke Labuan Bajo dan lanjut naik mobil ke Denge dan lanjut lagi berjalan kaki kurang lebih 5 km menanjak bukit untuk sampai di Wae Rebo. Mana aku kurang berpengalaman trekking jalan menanjak, cuma pernah ke kampung Baduy di Banten. Umurku dan teman-teman juga bukan muda lagi, 40an dan 50an, menjelang lansia.

Aku tidak terlalu banyak persiapan dari segi fisik, tidak banyak latihan jalan. Sebaiknya kalau sudah tau akan trekking menanjak, kita ada sedikit persiapan untuk mengurangi resiko kelelahan berat dan akhirnya tidak bisa menikmati perjalanan. Yang membuat aku semangat walaupun tidak terlalu mempersiapkan fisik, karena aku membaca pengalaman orang yang sudah pernah ke Wae Rebo, selalu saja disampaikan “semua yang trekking ke Wae Rebo dari Denge, selalu sampai di Wae Rebo, tidak ada yang gagal atau kembali turun ke Denge. Namun yang membedakan pengalaman-pengalaman tersebut, ada yang sampainya lama, ada yang cepat, tergantung kekuatan dan ‘ketekunan’ masing-masing.

Masih untung dan alhamdulillah, dari  Denge sampai pos 1 pendakian ke Wae Rebo, masih bisa ditempuh dengan ojek motor. Lumayan menghemat tenaga. Oiya untuk perjalanan trekking ke Wae Rebo melalui 3 pos perhentian untuk yang ingin beristirahat. Dari pos 1 sampai pos 3, kami trekking dengan berjalan santai tidak terburu-buru, disesuaikan dengan kekuatan fisik peserta. Jalan menuju Wae Rebo, seluruhnya menanjak, ada yang cukup curam ada yang landai. Jalan menanjak ini membuat energi sangat terkuras.

Kami sampai di Pos 3 dalam waktu 3 jam, lumayanlah buat seumuran kami. Begitu sampai di Pos 3, semua kelelahan lansung menguap berganti dengan rasa ‘excited’, semangat, penasaran. Kami tidak bisa langsung  masuk desa Wae Rebo, namun harus menunggu prosesi penyambutan. Wisatawan/pengunjung yang datang, disambut oleh Kepala Adat di Wae Rebo saat itu yaitu pak Alex dengan upacara adat yang tidak terlalu lama.

Selama menunggu acara penyambutan kedatangan tamu, dari kejauhan aku memperhatikan rumah adat Wae Rebo beratap kerucut yang terkenal yaitu Mbaru Niang, hanya 7 rumah. Mbaru Niang tidak terlihat jelas karena tertutup kabut tipis. Sulit digambarkan keindahan Mbaru Niang saat kabut menutupinya. Pantas juga, ada yang menyebut Wae Rebo negeri di atas awan, karena seringnya berkabut.

Ketika kami benar-benar memasuki desanya, sudah menjelang sore, kabut tadi mulai menghilang. Tampak jelaslah ketujuh rumah Mbaru Niang yang unik, anggun, tradisional. Pada saat itu banyak sekali wisatawan lokal maupun asing karena selain berkunjung ingin sekalian menyaksikan festival Penti yang diselenggarakan esok harinya.

Kami (kelompok teman-temanku) menginap di salah satu rumah Mbaru Niang. Semua wisatawan bisa menginap, asalkan sudah konfirmasi sebelumnya. Walaupun udara di luar dingin, di dalam rumah Mbaru Niang terasa hangat. Dinding dan lantai kayu, membuat suasana nyaman. Buat tamu disediakan kasur, bantal dan selimut. Untuk makanpun disediakan di dalam rumah, pada waktu makan. Kamar mandi disediakan di belakang rumah, cukup memadai untuk tamu walaupun harus agak mengantri karena hanya 3 kamar mandi untuk kurang lebih 15 tamu.

Setelah mandi sore, kami melihat-lihat sekeliling lagi. Penasaran ingin mengetahui keadaan sekitar. Penduduk ada juga yang berdagang barang-barang khas Wae Rebo. Aku dan teman-teman sudah berniat membeli kain tenun (disebut Songke) buatan asli Wae Rebo. Selain buat kenang-kenangan, juga buat dipakai pada festival Penti. Semua yang hadir pada festival diminta memakai Songke. Aku si penggemar kain tenun tradisional sudah pasti ikut membeli, menambah koleksiku. Dari Wae Rebo juga terkenal dengan kopinya, kata penggemar kopi sangat enak. Aku ikutan membeli juga sebagai oleh-oleh untuk suami yang penikmat kopi.

Di luar acara belanja tersebut, lagi-lagi aku ingin memperhatikan kabut di sekitar. Menurut imajinasiku, seperti tirai yang menutupi Mbaru Niang. Kadang menutup penuh, kadang sebagian, kadang tipis saja…. menghasilkan pemandangan cantik. Pada dasarnya, aku memang sangat menikmati pemandangan indah di desa-desa tradisional.

Malam harinya, kami diundang ke rumah Mbaru Niang utama, untuk penyambutan tamu namun lebih resmi. Seperti biasa, aku ingin tau bagaimana acaranya penduduk Wae Rebo. Aku mendengar ‘sharing’ dari pak Alex, pemandu yang berbahasa Inggris, respon dari tamu luar negeri, respon dari tamu lokal. Intinya penduduk lokal senang dengan kedatangan tamu karena Wae Rebo menjadi dikenal dan perekonomian penduduk menjadi lebih baik namun mengharap keaslian adat dan lingkungan tetap terjaga. Semoga harapan tersebut terkabul, tidak terbayang kalau Wae Rebo menjadi komersial dan sangat ramai.

Keesokan pagi harinya, sebelum acara festival Penti dimulai, kami menyempatkan diri jalan pagi di sekitar perkampungan. Kami mencari pemandangan indah dan khususnya aku memperhatikan situasi kabut di Wae Rebo. Ternyata pagi itu cerah, tidak berkabut. Menurut aku pribadi, Mbaru Niang sangat indah dilihat kalau tertutupi kabut tipis-tipis, syahdu sekali suasananya. Untuk melihat ketujuh Mbaru Niang secara jelas, tentunya sebisanya tanpa kabut ya. Aku sempat mengabadikan  Mbaru Niang  dengan dan tanpa kabut.

Kemudian kami menyaksikan festival Penti yang cukup panjang acaranya, namun menyenangkan untuk ditonton. Tarian Caci sangat khas, penari mamakai pakaian tradisional dan berjibaku dengan memakai cambuk. Aku bersyukur bisa ke Wae Rebo dan sekaligus menyaksikan festival Penti. Kalau teman-teman ingin ke Wae Rebo pas Festival Penti, cari tau dulu jadwalnya, karena hanya setahun sekali.

Setelah Festival Penti selesai, kami mempersiapkan diri untuk kembali ke Denge. Aku tidak terlalu kuatir masalah fisik karena jalan yang dilalui semua menurun. Namun jika hujan, kami harus ekstra hati-hati, karena jalan licin dan menurun.

Dalam waktu 1,5 jam, aku dan 2 teman sudah sampai di pos 1, beberapa teman masih dalam perjalanan. Alhamdulillah aku sudah melihat Wae Rebo dengan kabutnya dan entah kapan lagi bisa kembali.

Aku menyertakan foto Wae Rebo dan Mbaru Niang, ada yang berkabut dan ada yang cerah.

#jalanjalanWaeRebo

#upacaraPenti

Transit Terlama

Standar

Walaupun kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu namun kenangannya selalu melekat di kepalaku. Kombinasi kecerobohan dan ketidakberuntunganku, menjadi pengalaman buruk tak terlupakan. Aku berharap kejadian ini tidak terjadi pada orang lain ataupun padaku lagi.

Aku seringkali bepergian dengan anak-anakku dan di beberapa kesempatan suamiku tidak bisa ikut karena kesibukan pekerjaan. Kejadian ini terjadi pas saat suamiku tidak ikut…. kebayang kan aku sendiri harus menenangkan anak-anak.

Aku sudah lama berniat berjalan-jalan ke negara China yang menurutku sangat eksotik dengan kebudayaannya yang sudah tua dan juga pemandangan alamnya yang indah. Setelah membaca dan mendengar berbagai informasi, aku memilih jalan-jalan dengan memakai jasa tour. Pendeknya aku pilih yang aman menurut aku karena berpergian dengan anak-anak dan ke tempat yang jarang orang berbahasa Inggris dengan tulisan yang bukan latin pula.

Belum lagi, karena aku masih bekerja pada saat itu, jadi aku harus efisien memanfaatkan waktu cuti. Singkat kata, aku sudah memilih pesawat dan daftar kunjungan sesuai rekomendasi orang-orang yang telah berkunjung ke China. Dengan waktu cuti dan budget yang terbatas, aku memilih mengunjungi 2 kota saja yaitu Beijing dan Shanghai. Aku naik pesawat Phillippines Airlines, yang berarti harus transit di Manila.

Aku pilih tour private karena jadwalku sering tidak cocok dengan group tour. Di kala jadwalku cocok, tour tidak jadi berangkat karena kurang peserta atau pernah juga sudah penuh, aku tidak kebagian tempat.

Tour/travel telah mengirim salinan tiket dan daftar perjalanan ke aku. Pesawat berangkat jam 12 malam. Aku sudah menandakan di agendaku, hari keberangkatan. Berhubung berangkat jam 12 malam, jadi aku berencana tetap bekerja siang harinya dan sepulang kantor aku dijemput langsung menuju bandara. Lokasi kantorku di Tangerang Selatan memang lebih dekat ke bandara Soeta dibanding aku harus pulang lagi ke rumah.

Nah, kecerobohan dimulai disini, aku tidak teliti melihat tiket. Di tiket tertulis, keberangkatan tanggal 1 Juli jam 00.00. Yang artinya tanggal 30 Juni malam, aku sudah siap di bandara. Sementara, aku menandakan kalenderku, tanggal 1 Juli, di pikiranku, aku berangkat tanggal 1 Juli malam.

Pihak tour telah mengkonfirmasi bahwa aku akan dijemput di bandara Beijing tanggal 1 Juli jam 13.00 waktu setempat. Aku ceroboh lagi, tidak memperhatikan tanggal dengan seksama. Aku berpikir sederhana, setelah aku berangkat, sudah pasti disiapkan penjemputan di waktu kedatangan.

Jadi…yang seharusnya tanggal 1 Juli jam 00.00 dini hari, aku dan anak-anak sudah berangkat tetapi aku tidak berangkat dan masih asik bekerja di kantor pagi harinya. Aku mengira jadwal berangkatku tanggal 1 Juli malam. Aku sudah menyiapkan anak-anak untuk menjemput aku di kantor dengan membawa bagasi dan langsung menuju bandara.

Hari itu, jam 14.00 aku ditelfon oleh Tour, menanyakan mengapa aku tidak ada diantara penumpang yang mendarat. Tour leader di Beijing bingung mencari-cari aku. Aku mendadak jantungan, karena yakin sekali seharusnya aku berangkat malam nanti. Akhirnya setelah meneliti dengan seksama terbukalah kecerobohanku…. astaghfirullah, innalillahi …. aku beneran salah tanggal. Petugas travel sampai tidak bisa berkata-kata, mengetahui kelalaianku. Karena sudah terbayang liburan di depan mata, aku tidak mau membatalkan jadwal yang telah disusun.

Teman-teman yang sering travelling pasti tahu konsekuensi perubahan jadwal begini. Aku harus bayar tiket perubahan jadwal dan aku kehilangan satu hari jadwal kunjungan di Beijing. Mau bagaimana lagi… memang kesalahanku sendiri.

Aku kira cukup demikian saja kesulitan perjalanan ini. Jadi semua teratasi, tetaplah aku berangkat tanggal 1 Juli malam. Alhamdulillah, jadwal pesawat ke Beijing, ada setiap hari. Pesawatku tidak langsung ke Beijing tetapi transit dulu di Manila selama 3 jam.

Aku sampai di bandara tepat waktu, 3 jam sebelum berangkat, jam 21.00. Segala administrasi check-in telah aku bereskan. Aku dan 2 anakku, siap menanti panggilan boarding. Tunggu punya tunggu hingga jadwal boarding tidak ada info panggilan. Aku mulai deg-degan lagi, kok seperti gelagat mau ‘delay’ (tertunda). Benar saja, ada pengumuman pesawat ditunda karena ada kendala teknis. Astaghfirullah… apalagi nih, pikirku. Aku cuma cemas, apakah kami bisa terangkut pesawat transit sesuai jadwal dengan tertundanya keberangkatan, kalau tidak berarti menunggu lagi, pesawat berikutnya entah kapan.

Aku berdoa panjang pendek dan juga menenangkan kedua anakku. Akhirnya kami berangkat setelah tertunda 4 jam. Secara logika, kami pasti ditinggalkan pesawat transit dan memang benar sesuai dugaan, begitu mendarat, kami sudah ditinggal. Seharusnya jam 9.00 kami sudah terbang ke Beijing dari Manila. Aku langsung melapor ke petugas dan aku hampir pingsan mendengar info dari petugas. Pesawat berikutnya ke Beijing, berangkat jam 21.00.

Ya begitulah, aku mendarat di bandara Manila jam 9.00 pagi dan harus menunggu keberangkatan berikutnya jam 21.00 malam. Aku gak tau harus menghabiskan waktu bagaimana selama 12 jam. Kondisi Bandara Manila saat itu (tahun 2013), maaaaf jauh banget dibanding bandara Soeta apalagi bandara Changi. Dibanding bandara Juanda dan Ngurah Rai saat ini, juga masih jauh dibawah. Tempat duduk kurang nyaman, tempat terbatas/sempit, tidak ada pertokoan yang asik buat dilihat…. begitu deh.

Kami diberi kupon makan selama menunggu. Masih mending restorannya, kue-kue dan masakannya cukup enak, namun suasana kenyamanan kurang sekali. Jadi selama menunggu, aku dan anak-anak menghibur diri dengan memperhatikan tingkah laku petugas bandara yang sering kali aneh menurut kami. Penglihatan sepintas di bandara, orang Philipina sering berkumpul, banyak mengobrol, menghabiskan waktu.

Setelah penantian panjang, berangkatlah kami ke Beijing, ‘tepat waktu’, jam 21.00 malam. Mendarat di Beijing juga tepat waktu, alhamdulillah. Walau setengah cemas, apakah tour leader menjemput kami jam 2 dini hari….. pasrah dan berdoa lagi. Kok tidak ada yang bawa papan dengan namaku ataupun nama tour. Aku dan anak-anak terduduk lemas dan setelah kurang lebih 15 menit menanti, datanglah seorang perempuan cantik yang ternyata tour leader kami. Alhamdulillah…

Xiu (nama tour leader kami) menjelaskan perubahan program karena keterlambatan kedatangan kami dan juga jadwal ‘bullet train’ (kereta cepat) ke Shanghai yang tidak bisa dirubah. Aku hanya bisa melihat-lihat Beijing dalam sehari. Yah nrimo lagi.. tidak bisa nego karena semua sudah dipesan di awal.  Berubah-rubah, mungkin bisa tapi sudah pasti biaya bertambah.

Aku tidak akan menceritakan wisata kami di Beijing dan Shanghai di tulisan ini ya teman. Mungkin di blog lain. Disini aku lebih ingin berbagi ketidakberuntungan aku dalam urusan perjalanannya.

Alhamdulillah, perjalanan dari Beijing ke Shanghai lancar jaya, tepat waktu dan mengagumkan. Pengalaman pertamaku naik kereta cepat, 300km per jam dan gak terasa ‘jagjigjug’ seperti kereta di Indonesia. Mulus jalannya.

Kami pulang ke Indonesia dengan pesawat dari bandara Shanghai. Aku banyak berdoa lagi, mengharap perjalanan lancar. Harapan tinggal harapan, lagi lagi pesawat kami tertunda. Dari awal check-in sudah ada gejala. Sistem komputer Philippines Airlines saat itu sedang bermasalah, sehingga boarding pass tidak tercetak mesin namun di tulis dengan tangan seperti tiket bis malam yang kuno.

Aku mulai cemas lagi apakah kami bakal tertinggal oleh pesawat transit dari Manila ke Jakarta, yang seharusnya berangkat jam 21.00. Akhirnya pesawat berangkat juga ke Manila setelah tertunda 2 jam. Dan lagi-lagi, begitu mendarat di Manila jam 21.00, pesawat menuju Jakarta baru saja ‘take-off’ tanpa menunggu kami. Benar- benar ujian kesabaran karena ternyata aku harus menunggu pesawat ke Jakarta yang berangkat jam 9 pagi keesokan hari. Apaaa… aku hampir berteriak, aku dan 2 anak harus menunggu 12 jam lagi dan menginap di bandara. Tidak terbayangkan. Menginap di bandara bagus saja, aku gak ingin apalagi di bandara Manila.

Dan aku mengomel panjang lebar di depan petugas, menceritakan kesialanku mengalami 4 kali penundaan dan harus menunggu 12 jam (2x) bersama anakku di bandara. Seharusnya aku mendapat ganti rugi yang layak karena mendapat pelayanan yang tidak wajar.  Petugas hanya meminta maaf dan tidak bisa berkata-kata banyak.

Aku ditawarkan untuk menginap di hotel terdekat dengan biaya ditanggung Airline semua…. tentu saja harus begitu. Alhasil kami harus melewati imigrasi…. (mimpi apa, ke Manila karena kesialan begini, pikirku). Kami diantar ke hotel dengan taxi. Mau gak mau aku mencuri lihat-lihat juga kota Manila yang dilewati. Ternyata ketidakberuntunganku masih berlanjut. Entah di bagian mana kota Manila, jalan dan daerah yang kami lewati, lumayan kumuh dan ruwet. Perasaan masih jauh lebih indah Jakarta. Mungkin suasana hatiku yang amat sangat kesal, mempengaruhi cara pandangku juga.

Di hotelpun, lagi-lagi kami mendapat pelayanan yang kurang baik. Aku terpaksa membeli air mineral di restoran hotel karena di kamar hanya disediakan satu botol. Aku sudah bertanya kepada petugas kalau aku membayar dengan uang dollar apakah kembaliannya dalam bentuk dollar juga. Karena dijawab iya, jadilah aku membeli 1 botol air mineral. Ternyata aku mendapat kembalian uang peso. Luar biasa, aku marah sekali dan complain panjang lebar, aku sama sekali gak ingin menyimpan uang peso karena aku menginap di Manilapun terpaksa karena pelayanan airline mereka yang sangat buruk. Mungkin mereka malu juga dengan pelayanan mereka setelah mendengar amarahku. Akhirnya dikembalikanlah uangku.

Merembet ya, dari masalah transit yang lama berlanjut ke yang lain-lain. Aku sempat berucap, aku gak akan berkunjung ke Philippina sampai kapanpun, kotanya jelek dan pelayanan buruk. Aku rasa wajar untuk orang yang mengalami kejadian seperti aku, berpikir begitu.

Besok paginya, aku berangkat lagi ke bandara. Lagi-lagi, aku berdoa semoga perjalanan lancar. Alhamdulillah hari itu semua sesuai jadwal dan kami sampai dengan selamat di Jakarta.

Hmmm, sampai saat ini, anak-anakku selalu meledek aku. Bunda, kalau nanti aku sudah punya gaji, aku ingin mengajak bunda jalan-jalan ke kota Manila. Suamikupun ikut meledek aku, lumayan ya cutinya tambah jalan-jalan ke Manila dan passpornya ada cap imigrasi Phillippina.

Dari cerita panjang lebarku… ada pelajaran yang bisa diambil :

– Selalu meneliti jadwal pesawat di tiket terutama kalau berangkat jam 12.00 malam atau jam 00.00.  Kalau perlu konfirmasi ke Airline.

– Jika memungkinkan, sebaiknya memilih pesawat tanpa transit, apalagi jika berpergian dengan anak kecil.

Untuk menghibur, aku menyertakan foto kami yang sedang senang di Beijing dan Shanghai.

#transitmanila

#transit12jam