Monthly Archives: Mei 2018

Perempuan Menyetir

Standar
Sering sekali aku mendengar suamiku, teman-teman laki-lakiku berkomentar mengenai perempuan menyetir. Komentarnya cenderung negatif. Kalau di jalan ada mobil yang berjalan lambat atau berjalan di garis marka atau belok tanpa lampu sen, mereka berpikiran pasti yang menyetir perempuan. Ini contoh komentar yang terdengar¬† ‘cewe ini nyetirnya kacau banget’ atau contoh komentar lain ‘parah kalau ibu-ibu nyetir’. Padahal mereka belum tahu pasti bahwa yang menyetir mobil tersebut perempuan.
Entah mengapa, para lelaki sering berpikiran bahwa perempuan tidak sepandai laki-laki dalam menyetir. Aku pernah dikirimkan oleh teman, video kumpulan kekacauan berkendara mobil dimana sang supir adalah perempuan. Niat sekali si penyunting video tersebut. Aku yakin kalau mau dicari, banyak juga video kekacauan laki-laki dalam berkendara mobil. Tetapi memang jumlah lelaki yang berkendara juga lebih banyak dari perempuan, jadi wajar juga kalau yang menyetir kurang baik juga lebih banyak.
Ada pendapat bahwa perempuan tidak sehebat laki-laki dalam melihat peta dan dalam membayangkan lokasi atau ruang secara 3 dimensi. Perempuan lebih sering memakai perasaan dibanding logikanya dalam berpikir. Sisi lain, perempuan lebih pintar dalam berpikir maupun bekerja secara multi (pada saat yang bersamaan). Apakah hal-hal ini mempengaruhi gaya menyetir perempuan yang ‘khas’ itu.. entahlah, aku belum pernah mencari penelitiannya. Mungkin di tulisan ilmiah, hal ini bisa dibahas.
Apakah kita perempuan perlu berusaha merubah stereotip mengenai perempuan menyetir. Rasanya gak perlu ya, kita punya banyak kelebihan lain kok dibanding laki-laki. Jadi biar saja untuk urusan menyetir kita dianggap kurang pintar dibanding laki-laki.
Walaupun pendapat umum begitu, ada juga perempuan-perempuan yang ahli menyetir. Seperti pembalap-pembalap perempuan.
Aku sendiri mengakui aku punya kekurangan dalam menyetir mobil. Aku susah sekali memarkir secara paralel. Hitunganku kurang bagus dalam persoalan parkir paralel. Jadi solusi aku (mungkin kurang tepat disebut solusi), berusaha sebisa mungkin menghindari parkir paralel. Mending aku mencari tempat parkir lain, walaupun lebih jauh.
Walaupun kodrat perempuan lebih banyak berurusan dengan urusan domestik atau rumah tangga, tapi bisa menyetir kendaraan sangat membantu kegiatan sehari-hari. Kita bisa ke pasar, supermarket, antar jemput anak/orang tua yang lokasinya tidak jauh dari rumah tanpa menunggu adanya laki-laki yang membantu. Ini menurut pendapat aku pribadi sebagai perempuan.
Jadi biar saja diledek kurang bagus dalam menyetir tapi keahlian menyetir tersebut bisa bermanfaat pada kondisi-kondisi tertentu atau bila diperlukan.

Gambar diambil dari : http://www.gettyimages.co.uk

 

Iklan