I Left My Heart in Cibadak

Standar

Sejak anak kami bersekolah di asrama lain kota dari tempat tinggalku, kami hampir setiap minggu mengunjunginya di asramanya di kota Cibadak. Sekolah menganjurkan kami untuk tidak setiap minggu berkunjung, tujuannya agar Ario anak kami mengisi juga hari minggunya dengan bergaul dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Jika kami mengunjungi Ario, praktis dari pagi hingga sore di hari Minggu, Ario selalu berkumpul dengan
kami.
Begitu tiba jam kami harus meninggalkan asrama (sesudah sholat ashar), mulailah perasaan nelangsa dalam diriku timbul. Apalagi jika Arionya sendiri kelihatan tidak rela ditinggal (misal sedang sakit atau lagi banyak ulangan). Padahal sudah sering suamiku dan aku saling mengingatkan, perasaan galau kami akan terasa oleh Ario, alhasil dia makin tidak ingin ditinggal.
Banyak teman-teman Ario yang tidak bermasalah walaupun tidak pernah ditengok oleh orangtuanya. Malah ada pula temannya yang menolak ditengok orangtuanya karena ingin konsentrasi belajar. Kami akui Ario tidak mudah beradaptasi dengan sekolah barunya, malah sering tercetus dalam percakapan Ario dengan kami bahwa ia ingin pindah sekolah.
Memang ada juga kesalahan kami sehingga Ario lama beradaptasi. Seharusnya kami jauh-jauh hari telah mempersiapkan Ario untuk bersekolah dan tinggal di asrama, antara lain dengan cara seperti ini:
– Menjelaskan apa visi dan misi kami menyekolahkan dia di sekolah tersebut, juga menanyakan pendapatnya atas penjelasan kami tersebut
– Berdiskusi dengan Ario mengenai kondisi sekolah di asrama serta apa saja hal-hal positif yang didapat dengan bersekolah di asrama. Tentu juga diskusi mengenai negatifnya dan bagaimana mengatasi hal negatif tersebut
Sepertinya kami tidak sempat banyak berdiskusi, sehingga Ario banyak mengalami gegar lingkungan dari terbiasa di lingkugan keluarga yang selalu diperhatikan pindah ke tempat yang memerlukan kemandirian yang tinggi.
Menurut teman-temanku yang anaknya bersekolah di asrama, pada waktunya si anak akan beradaptasi dan sangat senang di asramanya. Ini terutama dipicu jika dia telah menemukan teman atau teman teman yang cocok. Selain itu dia akan betah jika telah menemukan kegiatan selain belajar yang disukainya (seperti bersepeda, futsal, basket, fotografi, dll).
Kami tak putus berdoa agar Ario menjadi ikhlas dan senang bersekolah disitu. Kami juga meminta bantuan sepupu Ario yang bersekolah di asrama juga untuk memberi pencerahan bagaimana bisa betah tinggal di asrama. Insya Allah berbagai upaya kami, guru-guru dan Ario sendiri membuahkan hasil sehingga tidak ada lagi terdengar keinginan untuk pindah sekolah.
Yah sampai saat ini, aku meninggalkan asrama Ario setelah kunjungan mingguan, aku masih merasa meninggalkan separuh hatiku di kota Cibadak. Namun aku rasa memang begini perasaan seorang ibu yang berpisah dengan anaknya apapun penyebab perpisahan itu (bukan hanya gara-gara sekolah di asrama saja).
Saat kami meninggalkan Ario minggu lalu, Ario sempat mengambil foto langit magrib dari masjid di sekolahnya. Foto ini mengingatkan aku kepada setengah hatiku yang tertinggal di Cibadak…. Walaupun seperti tak berhubungan, tapi jiwa romantisku mengatakan foto tersebut menggambarkan langit Cibadak dimana aku meninggalkan separuh hatiku.
Ini ‘foto langit Cibadak’ku…..

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s