Sungguh Tidak Mudah

Standar

Bukan minta pengertian, bukan juga minta ‘excuse’, bukan minta dukungan, aku cuma menceritakan fakta yang aku alami sendiri. Sudah sering aku mendengar komentar beberapa temanku yang sudah bapak-bapak (punya anak, istri). Kok suamimu tega sih membiarkan istrinya bekerja diluar rumah, memang keluarga bisa keurus dengan baik. Ada juga komentar dari teman yang profesinya ibu rumah tangga, wah kalau melihat Tria, kayaknya jadi ikut capek, pagi banget sudah berangkat, malem baru pulang…gimana keluarganya tuh.

Frankly speaking, yup sungguh tidak mudah jadi ibu bekerja. Aku sadar banyak hal yang terlewat karena aku bekerja diluar rumah. Contoh :
– Yang melihat pertama kali anakku bisa jalan bukan aku
– Yang memasak makanan sehari-hari bukan aku
– Yang mengantarkan anakku sekolah bukan aku
– Yang memeriksa tugas sekolah, tidak selalu aku

Tentu bukan keputusan yang mudah, untuk tetap bekerja di luar rumah (dari sebelum menikah aku sudah nguli di luar rumah). Panjang dan alot, sampai akhirnya dapat keputusan untuk tetap bekerja. Suamiku, alhamdulillah, bisa memahami dan sepakat untuk meminimalisir resiko berdua. Gak mungkin aku sanggup, kalau suami gak mendukung.

Aku tetap bekerja, memang ada kebutuhannya. Dulunya aku sering diledekin teman-temanku, kayaknya Tria bekerja untuk kebutuhan ‘self esteem’ ya, untuk dapat pengakuan, untuk dapat respect, aktualisasi diri karena sudah sekolah susah-susah. Ternyata tidak, aku bekerja masih untuk memenuhi kubutuhan keamanan (keuangan, kesehatan, kesejahteraan) -> sedikit diatas kebutuhan pokok. Kalau dilihat teori ‘Hierarchy of Needs’nya Abraham Maslow, ini masuk needs no 2 (safety and security), sedangkan self esteem merupakan needs no 4.
 
Sebagai seorang muslim, aku juga tahu, Islam memperbolehkan wanita bekerja dengan batasan dan kaidah tertentu. Segala sesuatu tergantung niatnya, kata sebuah hadist. Jadi aku niatkan bekerja ini sebagai ibadah untuk mensejahterakan keluargaku. Dengan begini, rasanya langkah menjadi lebih ringan untuk meninggalkan rumah.

Bukan berarti dengan ringan langkah, aku bisa bersantai-santai berangkat kerja. Tadi sudah saya sebutkan tidak mudah, bisa disebut saya jago ‘silat’ (bersilat dalam tindakan dan emosi). Dikala di kantor diomeli bos, di rumah tetap harus tersenyum menghadapi keluarga. Dikala, kepala dan badan mumet mempersiapkan presentasi esok hari, suami dan anak minta didengar curhatnya (bukan berarti asal dengar, tapi juga perhatian dan memberi masukan).

Cerita sedikit pengalamanku, waktu punya anak pertama dan aku harus masuk kerja setelah cuti melahirkan. Rasanya ragu sekali meninggalkan anak bayi 3 bulan, hanya dengan asisten di rumah, apalagi banyak cerita serem mengenai pengasuh anak. Akhirnya setiap hari, sebelum berangkat kantor, aku mengantarkan anakku dan asisten beserta perlengkapannya ke rumah orang tuaku. Harapanku, orang tua dapat mengawasi si asisten dalam bekerja. Hal ini berlangsung selama 3 tahun, dan setelah itu baru aku yakin dan percaya meninggalkan anak beserta asisten.  

Alhamdulillah, sudah lebih dari 15 tahun aku melalui ini semua (jadi ibu bekerja di luar rumah). Kalau ada nilai sebagai ibu, mungkin nilaiku tidak bagus tapi Insya Allah, aku tetap berusaha menjadi ibu yang baik dengan cari ilmu sebanyak-banyaknya (baca buku, browsing, sharing, konsultasi dengan ustadz). Alhamdulillah, urusan rumah tangga terkendali, ini juga berkat dukungan orang-orang terdekat.
 
Hal-hal yang sangat membantu :
– Dukungan suami dan anak (mereka bangga dengan bundanya yang bekerja di luar rumah, Alhamdulillah)
– Bantuan asisten, kadimah, supir, tukang masak dsb yang perlu sering-sering dicoaching supaya sejalan dengan kita
– Dukungan orang tua (terutama do’anya sungguh mustajab)
– Alat-alat seperti telepon, hp, fax sangat memudahkan dan membantu komunikasi
– Organiser (semacam agenda) di rumah untuk mencatat segala rupa yang harus difollow-up
 
Mungkin sekali waktu aku perlu memikirkan untuk mulai bekerja yang tidak perlu meninggalkan rumah atau tidak perlu keluar rumah lama-lama. Rasanya ini jauh lebih baik karena tetap berkarya, tapi keluarga tetap termonitor dengan baik.
 
*saya mulai mengkhayal, jadi guru privat, jadi guru musik, jadi penulis, jadi penterjemah, jadi penjahit baju, jadi pelukis*

Dari blogku triajita.multiply, ditulis tanggal 4 Januari 2009

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s