Monthly Archives: Januari 2015

Hiiiiiiii……Lawang Sewu

Standar

Bulan Juli lalu, kami sekeluarga jalan-jalan ke Surabaya dengan memakai mobil sendiri. Berhubung waktu perjalanan dari Jakarta ke Surabaya cukup lama, kami sepakat untuk berhenti dan menginap di Semarang.

Dengan berbekal peta pulau Jawa dan print-out hasil browsing yang berisi nama-nama hotel, rekomendasi hotel dan tempat-tempat menarik, kami berangkat.

Di Semarang, sebenarnya kami tidak berniat jalan-jalan, niatnya benar-benar mau istirahat dan segera berlanjut  ke Surabaya. Tapi begitu mendengar kami mampir di Semarang, anakku ribut minta untuk melihat gedung Lawang Sewu. Terutama mba Hani anak sulungku, penasaran dengan bangunan ini, karena membaca mengenai kisah-kisah seram seputar bangunan tersebut. Aku sebenarnya gak terlalu tau mengenai gedung ini, tapi kalau melihat gedung-gedung tua, aku dan suamiku sangat menyukainya, karena arsitekturnya sering unik.

Kebetulan sekali, hotel tempat kami menginap, letaknya satu jalan dengan gedung Lawang Sewu. Untuk memuaskan rasa ingin tahu anakku dan juga aku sendiri, akhirnya kami niatkan untuk mengunjungi gedung tersebut pagi-pagi sekali sebelum pergi ke Surabaya. Dengan berjalan kaki, kami datang ke gedung tersebut. Dilihat dari luar pagar, memang gedung ini tampak menarik karena pintunya yang memang banyak (sesuai namanya Lawang Sewu alias Pintu Seribu). Ternyata memang kami datang terlalu pagi, sehingga gedung tersebut belum dibuka dan belum ada petugas Akhirnya kami masuk melalui pagar samping yang memang terbuka karena ada orang yang mempunyai bangunan kecil di belakang gedung (mungkin salah satu penjaga).

Sedikit bingung juga, karena di halaman depan ada locomotif kereta api. Saya pikir, apa hubungannya gedung ini dengan kereta api. Ternyata pernah menjadi gedung Jawatan Kereta Api, sesuai info yang aku dapat dari Wikipedia.

“Bunda, gedung ini angker” kata anakku. ‘Orang paling seneng melebih-lebihkan, mungkin kalau gedungnya dirawat dengan baik, penampilannya tidak akan seram’, sahutku. Kata anakku lagi ‘Mbak sering baca cerita-cerita seram mengenai gedung ini, katanya dibawah ada penjara bawah tanah dan banyak napi yang meninggal disitu”. Pantes, anakku tertarik, ternyata ada kisah-kisah yang membuatnya penasaran.

Tentu saja kalau bagi aku pribadi, bukan masalah seramnya yang menarik tapi penampilan gedung itu sendiri.  Dengan pintunya yang banyak dengan model yang sama, kesannya seperti asrama. Model pintunya juga unik, memakai krepyak. Gedung ini mempunyai dua sisi yang sama, dengan bentuk sisi kiri dan kanan yang identik. Tapi selain gedung utama tersebut ada lagi gedung tambahan di samping dan belakang yang terpisah, dengan model yang sama, hanya terdiri dari satu baris. Di gedung tempat pintu masuk utama, ada jendela dengan kaca patri yang tinggi, gambarnya sendiri aku kurang jelas (tapi aku posting juga gambar kaca patri di gedung yang cukup jelas, dari jepretan seseorang). Aku mengambil foto sebisanya, karena kameraku jenis pocket biasa.

Karena tidak ada penjaga, kami hanya melihat-lihat sendiri, tanpa tau sejarah gedung tersebut (belum sempat baca). Anehnya setiap ruangan ada pintu penghubungnya, jadi ruangannya tidak total terpisah oleh tembok. Informasi dari suamiku, gedung tersebut sering juga dijadikan tempat pameran. Tapi kenapa kurang bersih dan terawat ya, …, pikirku, kalau dirawat dengan ‘proper’, aku yakin gedung ini akan indah sekali dan pantas dijadikan landmark kota Semarang.

‘Serem ya bunda’, komentar mba Hani. ‘Apanya yang serem, mungkin kalau malam agak seram, karena suasana yang sepi dan gelap’, tambahku. ‘Ya sudah, bunda foto-foto saja, siapa tau ada penampakan’ kata Ario anak keduaku. ‘Hahaha, ok deh bunda fotoin’…….aku jadi geli, mendengar pendapat anakku yang sudah terkontaminasi cerita-cerita seram dari kakaknya. Disini, aku posting beberapa foto, tapi bukan cuma gedungnya saja, kami juga numpang narcis……seperti biasa……. Lain kali, kalau ada waktu lebih banyak, kami ingin berkunjung kembali ke gedung itu, untuk melihat lebih banyak.

image

image

image

image

image

image

image

Ini cerita yang aku kutip dari Wikipedia mengenai gedung ini.

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1903 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaranTugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memilikipintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampaiseribu, mungkin juga karena jendelabangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945) di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Apimelawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarangdengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Saat ini bangunan yang berusia 100 tahun tersebut kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Sesekali digunakan sebagai tempatpameran, di antaranya Semarang Expo dan Tourism Expo.Pernah ada juga wacana yang ingin mengubahnya menjadi hotel. Pada tahun 2007, bangunan ini juga dipakai untuk film dengan judul yang sama dengan bangunannya.

Foto kaca patri dari http://www.igougo.com/photos/journal_photos/sem_nis_window.jpg

image

Foto Lawang Sewu lama dari  :
http://media.photobucket.com/image/lawang%20sewu/java_89/LawangSewu.jpg

image

*pernah diposting di triajita multiply*

Iklan

Jakarta – Kota Tua

Standar

Sebagai warga asli Jakarta, maksudnya lahir, besar dan mencari nafkah di Jakarta, saya sangat mencintai kota ini. Walaupun secara keturunan saya asli dari suku Minangkabau tapi saya sadar sesadarnya bahwa hidup saya banyak saya dapatkan dan habiskan di kota Jakarta. Salah satu kesenangan saya, rajin melihat-lihat berbagai sisi kota Jakarta terutama kota lama. Kali ini, saya coba mengabadikan Jakarta di bagian kota tuanya. Sebenarnya, Jakarta banyak mempunyai gedung-gedung peninggalan lama dengan arsitektur yang unik. Namun entah kenapa, sepertinya tidak ada peraturan atau mungkin peraturan sudah ada tetapi belum maksimal diterapkan untuk mengkonservasi gedung tua ini. Ingin sekali saya melihat, gedung-gedung lama yang terawat rapi, bersih dan tidak dipakai untuk kegiatan yang kurang mendukung kelestarian gedung ini.

image

Siapa lagi yang menjaga kalau bukan kita warga kota ini. Saya harap warga Jakarta tidak hanya menumpang hidup di Jakarta tetapi juga membantu merawat Jakarta.  Menurut saya, beberapa kota lain, lebih baik dalam merawat gedung dan daerah tuanya seperti Surabaya dan Semarang. Jangan dulu membandingkan dengan tetangga Asean yang kota tuanya cakep seperti daerah Raffles di Singapura atau Melaka dan Penang di Malaysia. Aih ini bikin ngiri, Jakarta juga bisa seperti itu, saya harap suatu hari.

Kalau ke kota tua Jakarta, jangan lupa mampir ke Stasiun Kota, Meseum Fatahilah, Museum Mandiri, Museum Kesenian, Museum Wayang, Museum Bahari, Menara Syahbandar, Rumah Merah, Pelabuhan Sunda Kelapa -> ini lokasinya berdekatan semua.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

I Left My Heart in Cibadak

Standar

Sejak anak kami bersekolah di asrama lain kota dari tempat tinggalku, kami hampir setiap minggu mengunjunginya di asramanya di kota Cibadak. Sekolah menganjurkan kami untuk tidak setiap minggu berkunjung, tujuannya agar Ario anak kami mengisi juga hari minggunya dengan bergaul dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Jika kami mengunjungi Ario, praktis dari pagi hingga sore di hari Minggu, Ario selalu berkumpul dengan
kami.
Begitu tiba jam kami harus meninggalkan asrama (sesudah sholat ashar), mulailah perasaan nelangsa dalam diriku timbul. Apalagi jika Arionya sendiri kelihatan tidak rela ditinggal (misal sedang sakit atau lagi banyak ulangan). Padahal sudah sering suamiku dan aku saling mengingatkan, perasaan galau kami akan terasa oleh Ario, alhasil dia makin tidak ingin ditinggal.
Banyak teman-teman Ario yang tidak bermasalah walaupun tidak pernah ditengok oleh orangtuanya. Malah ada pula temannya yang menolak ditengok orangtuanya karena ingin konsentrasi belajar. Kami akui Ario tidak mudah beradaptasi dengan sekolah barunya, malah sering tercetus dalam percakapan Ario dengan kami bahwa ia ingin pindah sekolah.
Memang ada juga kesalahan kami sehingga Ario lama beradaptasi. Seharusnya kami jauh-jauh hari telah mempersiapkan Ario untuk bersekolah dan tinggal di asrama, antara lain dengan cara seperti ini:
– Menjelaskan apa visi dan misi kami menyekolahkan dia di sekolah tersebut, juga menanyakan pendapatnya atas penjelasan kami tersebut
– Berdiskusi dengan Ario mengenai kondisi sekolah di asrama serta apa saja hal-hal positif yang didapat dengan bersekolah di asrama. Tentu juga diskusi mengenai negatifnya dan bagaimana mengatasi hal negatif tersebut
Sepertinya kami tidak sempat banyak berdiskusi, sehingga Ario banyak mengalami gegar lingkungan dari terbiasa di lingkugan keluarga yang selalu diperhatikan pindah ke tempat yang memerlukan kemandirian yang tinggi.
Menurut teman-temanku yang anaknya bersekolah di asrama, pada waktunya si anak akan beradaptasi dan sangat senang di asramanya. Ini terutama dipicu jika dia telah menemukan teman atau teman teman yang cocok. Selain itu dia akan betah jika telah menemukan kegiatan selain belajar yang disukainya (seperti bersepeda, futsal, basket, fotografi, dll).
Kami tak putus berdoa agar Ario menjadi ikhlas dan senang bersekolah disitu. Kami juga meminta bantuan sepupu Ario yang bersekolah di asrama juga untuk memberi pencerahan bagaimana bisa betah tinggal di asrama. Insya Allah berbagai upaya kami, guru-guru dan Ario sendiri membuahkan hasil sehingga tidak ada lagi terdengar keinginan untuk pindah sekolah.
Yah sampai saat ini, aku meninggalkan asrama Ario setelah kunjungan mingguan, aku masih merasa meninggalkan separuh hatiku di kota Cibadak. Namun aku rasa memang begini perasaan seorang ibu yang berpisah dengan anaknya apapun penyebab perpisahan itu (bukan hanya gara-gara sekolah di asrama saja).
Saat kami meninggalkan Ario minggu lalu, Ario sempat mengambil foto langit magrib dari masjid di sekolahnya. Foto ini mengingatkan aku kepada setengah hatiku yang tertinggal di Cibadak…. Walaupun seperti tak berhubungan, tapi jiwa romantisku mengatakan foto tersebut menggambarkan langit Cibadak dimana aku meninggalkan separuh hatiku.
Ini ‘foto langit Cibadak’ku…..

image

Model – Orang Tua

Standar

Percakapan I

Bunda   :               Sudah jam tidur Ario, ayo cepat sikat gigi dan cuci kaki.

Ario        :               Sebentar lagi bunda, emangnya bunda sudah sikat gigi.

Bunda   :               Bunda belum mau tidur, nanti saja kalau sudah mau tidur baru sikat gigi.

Ario        :               Beberapa kali, Ario lihat bunda ketiduran, padahal belum sikat gigi.

Bunda   :               Kan bunda sering bangun malam, saat itu bunda sikat gigi (ngeles….)

 Percakapan II

Bunda   :               Mba Hani sudah sholat Isya?

Hani       :               Belum, bunda sudah sholat belum?

Bunda   :               Belum juga….tapi ini bunda sudah mau sholat

Hani       :               Ya sudah, mba sholat setelah bunda

Bunda   :               Hmmm……

 
Percakapan III

Ayah      :               Lo kok, semua anak masih asem alias belum mandi sudah siang begini, mentang-     

mentang hari libur. Tapi bukan berarti sudah jam 12.30 gini, belum ada tanda-tanda mau mandi dong

Anak2   :               Kepala sukunya saja belum mandi, jadi kita juga ikut santai

Ayah      :               Ayah sudah keren kayak gini, dibilang belum mandi…..

Hani       :               Maksudnya bunda tuh, masih duduk santai di teras, dekat tanaman kesayangannya sambil baca cuku, masih pakai baju tidur

Ayah      :               Pantes aja, semua anak bergeming gak mau mandi. Kayaknya bunda dulu ni yang perlu action..

Begitulah menjadi orang tua, kita tidak bisa asal perintah, instruksi, menasehati… Kitanya sendiri perlu menjadi model bahwa nasehat/perintah kita tersebut sudah dipraktekkan. Kita harus konsisten antara omongan dan perbuatan, kalau gak anak-anak susah untuk respek dan ujung-ujungnya susah untuk diberitahu. (Ayah, please let me know ya….kalau aku masih menjadi model yang kurang baik).

 

Seberapa Pentingkah OPK/Ospek/MOS….??

Standar

Bertemu dengan tahun ajaran baru, bertemu lagi dengan orientasi siswa baru untuk yang baru memasuki sekolah baru. Tahun ini, anakku kena giliran mengikuti OPK sebagai mahasiswa baru. Yay, akhirnya anakku ada yang menjadi mahasiswa.

Alhamdulillah, anakku diterima di universitas negeri yang berlokasi masih di sekitar Jakarta melalui jalur undangan. Artinya aku agak-agak berkurang cemasnya dalam menunggu-nunggu hasil ujian, karena sudah diterima lebih awal. Aku pikir anakku ini (mba Hani) bisa rada santai, karena pengumuman penerimaan sudah sejak akhir Mei, sementara kuliah baru dimulai awal September. Terbayang libur 3 bulan sebelum sibuk kuliah.

Ternyata, kami (anakku dan aku) tidak bisa berharap begitu karena universitas sudah menyiapkan berbagai kegiatan yang harus diikuti oleh mahasiswa baru (maba). Kegiatan tersebut antara lain meliputi latihan paduan suara untuk acara wisuda dan sambutan mahasiswa baru, sejenis workshop untuk penyesuaian diri sebagai maba, training metode pembelajaran dan penggunaan sistem dan puncak acara adalah OPK (sejenis orientasi maba yang penuh dengan tugas-tugas).

Sibuknya sudah seperti mahasiswa saja, setiap hari pergi pagi dan pulang malam. Ada saja yang dibeli untuk memenuhi tugas. Tugas-tugas tersebut ada yang merupakan tanggung jawab individu ada pula yang kelompok.

Ada tugas-tugas yang memang saya pikir ada manfaatnya, seperti membuat buku angkatan yang berisi data-data pribadi 100 orang maba beserta fotonya. Dengan mengerjakan tugas ini, maba mau tak mau perlu berkenalan dengan teman-teman barunya, cukup baik sebagai awal dari kegiatan kuliah. Ada lagi tugas membuat proposal bisnis yang innovative. Seru juga aku membaca proposal bisnis “veggie ice-cream (es krim sayur)”. Selain itu yang cukup bermanfaat juga, pembuatan essay dengan berbagai tema yang telah ditentukan. Salah satu essay malah harus ditulis dalam bahasa Inggris. Sudah sewajarnya mahasiswa banyak menulis, tugas ini salah satu awal pengenalannya.

Walaupun begitu, masih ada juga tugas-tugas yang tampaknya tidak begitu jelas manfaatnya seperti pembuatan papan nama yang aturannya super njelimet. Dalam waktu dua minggu saja, papan nama tersebut tidak beres-beres saking susahnya, padahal sudah dibuat bersama-sama satu kelompok (lebih kurang dua belas orang). Mungkin hikmah tugas ini, mendukung kerjasama kelompok. Ada juga, tugas membawa makanan jenis tertentu, berbaris di panas terik. Ini terlihat seperti arogansi kakak senior.

Jadi teringat masa lalu, di masa orientasiku sebagai maba. Saat itu tahun pertama ospek diisi dengan kegiatan P4 (aku lupa kepanjangannya, sejenis pembahasan Pancasila).  Kelihatan sekali, saat itu kakak senior tidak puas melihat kegiatan orientasi yang diselenggarakan oleh universitas karena kegiatannya lebih banyak dalam kelas. Mungkin kakak senior ingin ‘mengerjai’ maba seperti mereka ‘dikerjai’ pada tahun-tahun sebelumnya. Akhirnya, entah bagaimana koordinasinya, kami maba satu fakultas diminta datang ke suatu tempat dan disanalah mulai terjadi pembataian dengan baris berbaris, perintah-perintah aneh dibawah terik matahari. Dilalahnya, terungkap beberapa bulan setelah itu, acara tersebut belum mendapat ijin universitas maupun fakultas, yang ujung-ujungnya ketua Senat (BEM istilah sekarang) dan sekretaris umumnya diskors dari kegiatan belajar selama satu semester.

Ya begitulah dari tahun ke tahun, perkenalan siswa baru selalu saja berlangsung di berbagai sekolah dengan bermacam  kegiatan. Namun masih ada juga yang memanfaatkannya sebagai ajang menunjukkan arogansi dan kekuasaan, yang sebenarnya jauh dari esensi perkenalan itu sendiri. Jangan lagi ada korban fisik maupun mental karena kegiatan-kegiatan ini, tidak ada yang megharapkan kejadian buruk terutama di sekolah baru yang sepatutnya penuh dengan harapan yang manis untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan berguna.

Kalau aku pribadi, menilai kegiatan perkenalan ini tetap diperlukan dengan memperhatikan koridor tertentu seperti harus diketahui oleh universitas, untuk setiap kegiatan tujuan akhirnya diungkapkan secara jelas. Jadi tidak ada kegiatan yang berkesan seperti ajang balas dendam dan pertunjukan arogansi kekuasaan.

-ditulis saat hanifah masuk universitas tahun 2013-

I Feel Blue

Standar

Aku merasa kecil hati karena dikritik suami. Memang berat menerima kritik apalagi harus mengakui kita salah, rasanya tidak menerima disalahkan. Harusnya dia melihat sisi pandangku, tapi apakah aku sudah melakukan hal yang sama, melihat dari sisi pandangnya. Oh susahnya untuk berpikir jernih, kalau hati dibalut emosi negatif. Kadang aku lupa mempraktekkan hadist Rasul, kalau kau marah cobalah untuk merubah posisi dari berdiri jadi duduk, dari duduk jadi berbaring atau berwudu atau sholat 2 rakaat.

Pagi-pagi, berangkat kerja dengan perasaan sendu, merasa kurang dihargai. Aku berangkat kerja sambil mengantarkan anak sulungku sekolah. Ya Allah, ternyata muka anakkupun muram, seperti tidak bergairah untuk berangkat sekolah. Ada apa ini…… apakah perasaanku mengkontaminasi anakku, sehingga dia merasa muram juga.

Aku tersadar, bahwa aku pemimpin anakku. Aku seharusnya memberi contoh yang baik, aku seharusnya memberi arahan yang baik kepada anak-anakku. Ini tanggung jawabku sebagai orang tua. Bukan berarti aku harus jaim, karena aku juga manusia biasa, yang hatinya sering terbolak balik.

Alhasil, pagi itu di mobil, aku bicara hati ke hati dengan anakku. Aku mulai curhat duluan, menceritakan kepada anakku bahwa aku sedih dikritik ayahnya semalam. Aku masih tidak rela, mengakui salah, aku ingin mengelak dan berteriak bahwa aku tidak salah. Setelah melewati beberapa waktu (aku sempat sholat isya, tahajud, subuh), sebenarnya perasaanku sudah lebih ringan, walaupun belum plong………..oh ini lagi kelemahanku……kebanyakan mikir…… Nah disini, aku melakukan peranku sebagai orang tua dan salah satu pemimpin keluarga, aku harus mengurangi rasa ‘blue’ itu, mari berubah menjadi kuning atau oranye……agar dunia cerah……..

Bagaimana mau memberi semangat anak, bila aku sendiripun kurang bersemangat……

Setelah mendengar bundanya curhat bla bla bla, mulailah sulungku yang curhat, cerita klasik remaja, sekolah baru, teman baru dan merasa menjadi ‘outsider’, karena semua teman sudah ‘ngegank’….

Treeeeng…….babak baru hidupku, menghadapi anak remaja……..cepat sekali waktu berlalu, perlu cari referensi sebanyak-banyaknya untuk menghadapi sulungku yang baru masuk SMA…..

Ya Allah, permudahlah aku dalam mencari ilmu, agar dapat membimbing aku dan keluargaku, mencari dan mendapatkan  ridhomu……….

Diambil dari blogku triajita multiply, ditulis tanggal 30 April 2010

Sungguh Tidak Mudah

Standar

Bukan minta pengertian, bukan juga minta ‘excuse’, bukan minta dukungan, aku cuma menceritakan fakta yang aku alami sendiri. Sudah sering aku mendengar komentar beberapa temanku yang sudah bapak-bapak (punya anak, istri). Kok suamimu tega sih membiarkan istrinya bekerja diluar rumah, memang keluarga bisa keurus dengan baik. Ada juga komentar dari teman yang profesinya ibu rumah tangga, wah kalau melihat Tria, kayaknya jadi ikut capek, pagi banget sudah berangkat, malem baru pulang…gimana keluarganya tuh.

Frankly speaking, yup sungguh tidak mudah jadi ibu bekerja. Aku sadar banyak hal yang terlewat karena aku bekerja diluar rumah. Contoh :
– Yang melihat pertama kali anakku bisa jalan bukan aku
– Yang memasak makanan sehari-hari bukan aku
– Yang mengantarkan anakku sekolah bukan aku
– Yang memeriksa tugas sekolah, tidak selalu aku

Tentu bukan keputusan yang mudah, untuk tetap bekerja di luar rumah (dari sebelum menikah aku sudah nguli di luar rumah). Panjang dan alot, sampai akhirnya dapat keputusan untuk tetap bekerja. Suamiku, alhamdulillah, bisa memahami dan sepakat untuk meminimalisir resiko berdua. Gak mungkin aku sanggup, kalau suami gak mendukung.

Aku tetap bekerja, memang ada kebutuhannya. Dulunya aku sering diledekin teman-temanku, kayaknya Tria bekerja untuk kebutuhan ‘self esteem’ ya, untuk dapat pengakuan, untuk dapat respect, aktualisasi diri karena sudah sekolah susah-susah. Ternyata tidak, aku bekerja masih untuk memenuhi kubutuhan keamanan (keuangan, kesehatan, kesejahteraan) -> sedikit diatas kebutuhan pokok. Kalau dilihat teori ‘Hierarchy of Needs’nya Abraham Maslow, ini masuk needs no 2 (safety and security), sedangkan self esteem merupakan needs no 4.
 
Sebagai seorang muslim, aku juga tahu, Islam memperbolehkan wanita bekerja dengan batasan dan kaidah tertentu. Segala sesuatu tergantung niatnya, kata sebuah hadist. Jadi aku niatkan bekerja ini sebagai ibadah untuk mensejahterakan keluargaku. Dengan begini, rasanya langkah menjadi lebih ringan untuk meninggalkan rumah.

Bukan berarti dengan ringan langkah, aku bisa bersantai-santai berangkat kerja. Tadi sudah saya sebutkan tidak mudah, bisa disebut saya jago ‘silat’ (bersilat dalam tindakan dan emosi). Dikala di kantor diomeli bos, di rumah tetap harus tersenyum menghadapi keluarga. Dikala, kepala dan badan mumet mempersiapkan presentasi esok hari, suami dan anak minta didengar curhatnya (bukan berarti asal dengar, tapi juga perhatian dan memberi masukan).

Cerita sedikit pengalamanku, waktu punya anak pertama dan aku harus masuk kerja setelah cuti melahirkan. Rasanya ragu sekali meninggalkan anak bayi 3 bulan, hanya dengan asisten di rumah, apalagi banyak cerita serem mengenai pengasuh anak. Akhirnya setiap hari, sebelum berangkat kantor, aku mengantarkan anakku dan asisten beserta perlengkapannya ke rumah orang tuaku. Harapanku, orang tua dapat mengawasi si asisten dalam bekerja. Hal ini berlangsung selama 3 tahun, dan setelah itu baru aku yakin dan percaya meninggalkan anak beserta asisten.  

Alhamdulillah, sudah lebih dari 15 tahun aku melalui ini semua (jadi ibu bekerja di luar rumah). Kalau ada nilai sebagai ibu, mungkin nilaiku tidak bagus tapi Insya Allah, aku tetap berusaha menjadi ibu yang baik dengan cari ilmu sebanyak-banyaknya (baca buku, browsing, sharing, konsultasi dengan ustadz). Alhamdulillah, urusan rumah tangga terkendali, ini juga berkat dukungan orang-orang terdekat.
 
Hal-hal yang sangat membantu :
– Dukungan suami dan anak (mereka bangga dengan bundanya yang bekerja di luar rumah, Alhamdulillah)
– Bantuan asisten, kadimah, supir, tukang masak dsb yang perlu sering-sering dicoaching supaya sejalan dengan kita
– Dukungan orang tua (terutama do’anya sungguh mustajab)
– Alat-alat seperti telepon, hp, fax sangat memudahkan dan membantu komunikasi
– Organiser (semacam agenda) di rumah untuk mencatat segala rupa yang harus difollow-up
 
Mungkin sekali waktu aku perlu memikirkan untuk mulai bekerja yang tidak perlu meninggalkan rumah atau tidak perlu keluar rumah lama-lama. Rasanya ini jauh lebih baik karena tetap berkarya, tapi keluarga tetap termonitor dengan baik.
 
*saya mulai mengkhayal, jadi guru privat, jadi guru musik, jadi penulis, jadi penterjemah, jadi penjahit baju, jadi pelukis*

Dari blogku triajita.multiply, ditulis tanggal 4 Januari 2009