Aku dan Teman Kesayangan

Standar


Kalau dihitung-hitung, temanku lumayan banyak, walaupun aku seumur-umur dari lahir sampai saat ini, tidak pernah pindah dari kota Jakarta. Apalagi aku termasuk anak pingitan, menurut teman-temanku. Namun diantara sekian banyak teman, ada beberapa teman yang memang dekat dihati karena berbagai alasan seperti mempunyai hobi dan selera, visi misi, pandangan hidup, nilai-nilai yang sama atau bahkan tidak ada kemiripan tapi asik saja dijadikan teman bicara dan diskusi.

Nah, sebagai bentuk penghargaanku ke teman-teman tersayang ini, aku ingin menyimpan catatan mengenai mereka dalam blogku ini. Mereka tidak punya blog, jadi aku gak bisa mengharap mereka langsung baca kecuali kalau aku minta baca.(Teman-temanku ini perempuan semua)

Aku dan Yudi

Yudi  teman lamaku yang sebenarnya sudah aku kenal lama karena kami kuliah di fakultas yang sama tapi beda angkatan. Aku menjadi dekat semenjak kami bekerja di kantor yang sama dan akhirnya Yudi berpindah kantor beberapa kali, sementara aku menjadi manusia loyalis tetap bekerja di tempat yang sama. Walaupun kami mempunyai banyak pandangan yang sama, tapi secara kepribadian sebenarnya kami lumayan berbeda. Yudi bisa dikatakan lebih ekspresif dan apa yang dirasakan mudah terlihat di penampilan luar. Kalau lagi happy, Yudi terlihat cerah sekali dan wajahnya bersinar-sinar bak matahari. Sedangkan aku, lebih pemalu dan perasaanku tidak bisa ditebak lewat penampilan fisikku. Mau lagi sedih atau ceria, aku cenderung biasa-biasa saja walau tetap berusaha ceria.

Perbedaan paling fatal diantara kami, aku bersuami dengan 3 anak. Sementara, Yudi belum menikah apalagi punya anak. Jadi aku jarang mengadukan masalah parenting ke Yudi, karena pengalamannya lebih payah daripada aku. Tapi, kalau urusan travelling, wisata kuliner, aku senang minta advice Yudi, wong memang itu hobinya dan punya kesempatan lebih banyak untuk melakukan hobinya tersebut. Untungnya masih ada hobi yang nyambung yaitu membaca, kami suka kencan berdua ke toko buku Aksara atau Kinokuniya atau Times, sambil makan snack mendiskusikan buku-buku yang menurut kami menarik.

Kalau dihitung, sudah hampir 20 tahun aku berteman dekat dengan Yudi. Herannya kami tidak pernah bertengkar mulut, walaupun sering ada perbedaan pendapat. Suamiku suka bosan melihat aku asik ngobrol di telpon dengan Yudi sampai satu jam lebih (karena pada dasarnya, kami jarang bertemu). Sampai suatu hari suamiku mengusulkan ‘Bagaimana kalau Yudi aku jadikan istri keduaku, nanti dia tidur di kamar tamu. Jadi kalian berdua bebas deh diskusi apa saja kan sudah tinggal satu rumah. Dan aku berarti menolong seorang  ‘gadis’ mendapatkan jodohnya’.  Wah, benar-benar usul yang ekstrim dan mengesalkan, untungnya cuma bercanda (atau jangan-jangan serius ya).

Tahun 2004 lalu, kami sama-sama naik haji, dengan rombongan yang berbeda, karena Yudi waiting list dari tahun sebelumnya. Beberapa kali aku janjian bertemu dengan Yudi di Masjid Nabawi dan aku sibuk menenangkan dirinya., karena banyak hal-hal yang menyedihkan perasaannya terjadi. Padahal aku sendiri juga mengalami hal-hal yang mengejutkan, tapi kadang-kadang aku bisa bersikap lebih dewasa. Sepertinya berumah tangga bisa menjadi sekolah untuk mendewasakan seseorang.

Masih saja kami jarang bertemu, karena kesibukan masing-masing, tapi kami tetap berkontak-kontak dengan email, telepon dan chatting. Cita-cita kami akan  berteman terus sampai tua, Insya Allah jika ada umur.

Aku dan Entin

Entin adalah teman SMAku. Dia tergolong teman yang serius, karena memang Entin termasuk murid pintar dan rajin belajar. Aku sering berharap ketularan rajin, tapi tetap saja aku gak bisa setekun Entin. Yang menjadikan kami dekat karena, tanggal, bulan & tahun lahir kami sama. Jadi kami tak pernah lupa saling mendoakan saat kami ulang tahun. Waktu kelahiran sama, tidak menjamin kami mempunyai sifat yang sama. Ya itu tadi, Entin tetap dikenal anak yang serius dan rajin sementara aku si ‘cengengesan’ yang senangnya bercanda.

Waktu kelas 2 SMA, kami tidak sekelas namun ruangan kelas bersebelahan. Salah satu cowo teman sekelas Entin, sepertinya senang ke aku. Dan aku dengan bloonnya tidak menyadari dan Entin tahu sekali aku termasuk tipe remaja yang jauh dari centil (julukan aku si  culun). Jadilah aku bulan-bulanan temanku, ada angin apa aku bisa suka-sukaan dengan cowo. Wah ini, jauh dari fakta, yang suka kan bukan aku, walaupun aku jadi gede rumongso (geer) juga, kok yang culun kayak aku gini ada juga yang suka. Entin termasuk yang men’discourage’ aku bisa deket dengan cowo. Belum pantes kata Entin, bukan karena muka elo yang culun, tapi kita tugasnya belajar bukan pacaran, bisa mengganggu keseimbangan. OK bu Entin, memang kau sisi malaikatku, yang rajin menasihati aku.

Sesuai dengan kemampuan Entin, dia diterima di IPB. Semakin rajin dan tekunlah ia, mengingat di IPB, kuliah cukup berat dengan waktu yang sangat cepat. Kami sempat putus hubungan setelah kuliah dan awal-awal bekerja.  Akhirnya kami berhubungan lagi setelah agak lama bekerja, karena sebetulnya kami saling merindu, tapi belum ada kesempatan untuk bertemu. Entin lebih dulu menikah dibanding aku.

Saat ini anak Entin sudah besar-besar, ada yang sudah kuliah. Bolehlah kalau aku minta nasihat megenai  urusan anak. Walaupun kami tidak intens bertemu, kami masih saling kontak melalui telepon dan kalau ada kesempatan kami bertemu.

Aku dan Keke

Ini salah satu teman kuliahku. Kami dipertemukan karena absen kami yang berdekatan dan kesukaan yang lumayan mirip. Sama-sama susah berdandan, berat kalau disuruh tampil feminin dan senang bercanda. Menurut orang, banyak cewek-cewek di fakultas kami yang feminin, herannya Keke dan aku tidak ketularan tuh. Tetap saja, kami apa adanya, kurang fashionable.

Lucunya, aku dan Keke, sama-sama type tidak tekun, kami cenderung tidak belajar mati-matian seperti teman sekelas yang lain. Tapi herannya nilai kami cukup bagus dibanding teman-teman. Sampai-sampai aku pernah diancam teman (sambil bercanda tapi ada benarnya) “Triana, kamu asik-asik photocopy catatanku, sementara nilai-nilaimu lebih bagus dari aku. Besok-besok, kalau mau photocopy, aku charge biaya copyright hak paten”. Pernah suatu kali aku dipanggil dosen ke ruangannya, rupanya bu dosen dongkol dengan perilakuku yang asik mengobrol dikala beliau menjelaskan. Tapi beliau juga agak kesulitan mau marah karena ternyata nilai-nilai ujianku termasuk lumayan baik.

Pengalaman cukup konyol, pernah aku dan Keke datang ke suatu kuliah, tapi herannya ruangan kosong tanpa ada pengumuman apapun dan setelah kami cek ke Birpen (Biro Pendidikan) ternyata kuliah dibatalkan dan informasi ini sudah diberikan dari minggu sebelumnya oleh sang dosen. Rupa-rupanya teman sekelas kami yang ‘in purpose’ berniat mengerjai kami. Karena pada minggu sebelumnya, aku dan Keke sudah keluar ruangan sebelum dosen memberi pengumuman perubahan hari kuliah. Mereka sepakat membiarkan aku dan Keke tertipu.

Bukan itu saja, teman-teman kami sebal karena kami berdua selalu lulus dengan nilai yang baik, padahal menurut mereka kami tidak belajar secara maksimal. Ada juga doa buruk buat kami “Triana, Keke, sepandai-pandai tupai melompat, suatu waktu akan jatuh juga”. Lo, jahat juga teman-temanku ini. Allah Maha Kuasa, benar saja kejadian, pada kuliah Teori Akuntasi, kami mendapat nilai E, padahal kuliah ini prasyarat untuk penyusunan skripsi. Gedubrak banget kan……

Teman-temanku malah girang dengan kondisi kami ‘makanya belajarnya yang serius dong, jangan minjem catatan terus, sudah bagus diterima di Ekonomi UI’. Alhasil, kami lulus kuliah 6 bulan lebih lama dari teman-teman yang lain, karena harus mengulang kuliah.

Ya itulah, masa-masa dimana intensitas aku dan Keke sebagai teman cukup tinggi, 4 tahun bersama dengan segala kekonyolan kami.  Nama Keke juga sering kupakai, jika aku minta ijin pergi ke orang tuaku. Maklum orang tuaku termasuk yang sangat ketat menjaga anaknya. Tapi kalau aku katakan perginya bersama Keke, mereka agak lunak walaupun tetap berusaha untuk ikut mendampingi aku.

Setelah kami berkeluarga, masih saja kami berhubungan dan menceritakan hal-hal konyol yang kadang-kadang menurut suamiku kurang cocok untuk jadi topik pembicaraan ibu-ibu (jadi ibu-ibu bukan berarti cuma diskusi soal rumah tangga yang serius saja kan)

Aku dan Muti

Muti teman SD dan SMPku. Ini juga salah satu temanku yang punya selera humor yang sama dan ‘telat dewasa’ menurut banyak orang. Begitulah, kami suka sekali membaca cerita dongeng, humor dan menonton film kartun ataupun film anak-anak.  Kami menghabiskan masa SD dan SMP bersama.  Pada saat SMA kami pisah sekolah, sesuai selera orang tua masing-masing. Dan waktu kuliah, kami sama-sama diterima di UI, tapi Muti di fakultas Psikologi sementara aku di Ekonomi.

Aku sangat surprised, Muti berminat menjadi psikolog, padahal yang suka membaca buku-buku perilaku orang adalah aku. Aku membayangkan sulitnya mengevaluasi prilaku manusia, bagiku agak abstrak untuk dipelajari, makanya aku tidak bernyali mendaftar ke jurusan psikologi.

Pada dasarnya, temanku yang satu ini tidak bisa diam, ada saja kegiatannya. Waktu kuliah, sibuk dengan kegiatan marching bandnya. Sesudah kuliah, selain bekerja, Muti rupanya senang travelling ke berbagai pelosok dunia. Kegiatan tersebut masih berlanjut sampai sekarang, yang terkadang membuat aku sedikit iri. Tapi aku sadar diri, bahwa aku belum mampu seperti itu. Selain tabungan yang terbatas dan banyak prioritas lain, aku juga punya buntut empat orang yang harus dirawat (suami dan 3 anak). Jadi seharusnya aku gak perlu iri ya, aku ikut dengar sharing cerita-ceritanya sajalah.

Ya itu, perbedaan mendasar kami, Muti masih ‘sorangan wae’ sampai detik ini. Sementara aku, ibu sibuk (haha mengaku sibuk). Walaupun begitu, kalau ketemu, kami selalu ngobrol dengan asik, selalu kelupaan waktu. Inginnya ketemu dan ngobrol terus, tapi masing-masing punya kesibukan. Jadi kami selalu niatkan untuk bertemu dari sebulan sebelumnya. Paling sering telfonan, apalagi kalau ada undangan temen-temen lama…….tiada kesan tanpa kehadiran Muti……… Seringkali temen-temen yang tidak terlalu kenal tertukar memanggil aku Muti dan memanggil Muti dengan namaku. Muka kami tidak mirip-mirip amat…..tapi tetap sering tertukar, mungkin karena waktu sekolah, kemana-mana kami selalu berdua.

Biarpun Muti seorang psikolog, tapi aku pantang ceritain masalah rumah tanggaku ke dia, malu………aku malah sering keasikan denger pengalaman Muti membantu client………Dan hebatnya Muti, dia tidak pernah ikut campur masalahku, kecuali aku yang minta saran.

Sebenarnya masih ada teman-teman akrabku yang lain, yang relatif lebih baru aku kenal, namun sudah sangat akrab. Tapi postingan sudah terlalu panjang. Lain waktu, kalau ingat, akan aku ceritakan,  teman-teman tersayangku lainnya.

Dari http://triajita.multiply.com/journal/item/17, ditulis tanggal 17 September 2010

Gambar diambil dari : http://kids-help-kids.blogspot.com/2010/07/case-for-cartoons.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s