Monthly Archives: September 2012

Batu yang Mengasyikkan

Standar

Pernahkah mendengar daerah  Batu di Malang Jawa Timur? Kalau warga pulau Jawa tentunya sudah sering mendengar. Berlanjut dari kunjungan ke Surabaya, aku sekeluarga berkesempatan mampir di kota Batu bahkan menginap semalam. Sesuai rencana, kami mengunjungi lokasi wisata yang pasti disukai anak-anak karena menyerupai taman bermain. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah BNS atau Batu Night Spectacular. Di BNS, kita disajikan aneka rupa lampion dengan bentuk dan warna yang memikat. Jam buka BNS dari sore hingga malam, memungkinkan kita menikmati keindahan lampion-lampion tersebut. Selain lampion, terdapat juga aneka permainan yang seru untuk anak-anak, remaja maupun orang tua sebut saja rumah hantu, kereta gantung, gokart, dll. Anak-anakku sangat senang bermain disana, belum lagi udara di Batu yang cukup dingin di malam hari sehingga terasa nyaman dan tidak terasa capek.

Malam harinya kami menginap di hotel Jatim Park yaitu hotel yang letaknya persis di sebelah Jatim Park. Jatim Park adalah tujuan kami berikutnya. Jatim Park adalah semacam theme park. Theme park ini cukup lengkap dimana terdapat aneka permainan, taman budaya, sejarah bangsa, sejenis science park, kebun binatang mini. Sudah jelas anak-anak sangat menikmatinya. Jadi jalan- jalan kami ke Batu ini memberi kesan yang menyenangkan bagi anak-anak. Aku merekomendasikan kesana buat teman-teman yang membawa anak-anak.

Ini sebagian dari foto-foto di Batu.

 

 

 

 

Iklan

Jalan-jalan ke Trowulan, Suramadu dan MonKaSel

Standar

Keinginan lama kami, membawa anak-anak keliling pulau Jawa. Salah satu tujuan kami adalah Jawa Timur dan menginap di kota Surabaya.
Akhirnya dalam waktu yang terbatas, kami sempat mengunjungi :
– Trowulan Mojokerto -> melihat musim dan candi peninggalan majapahit
– Monumen Kapal Selam (MonKaSel)  -> melihat isi kapal selam
– Jembatan Suramadu -> melihat jembatan antar pulau
– Jalan Genteng -> beli oleh-oleh

Komentar anak-anak dan suamiku :
– Sayang peninggalan Majapahit belum dirawat secara maksimal
– Bisa saja situs peninggalan Majapahit tidak teridentifikasi dan rusak, karena letaknya di daerah sekitar perumahan penduduk
– Bahan candinya seperti dari batu bata, pasti susah memeliharanya karena gak sekuat batu
– Kapal selam itu sempit tapi lengkap
– Seru, bisa lihat tempat torpedo dalam kapal selam
– Mau lagi, lihat kapal selam yang lain..
– Anginnya sangat kencang di jembatan Suramadu
– Coba ada jembatan yang serupa untuk menghubungkan pulau Jawa dan Sumatra, pulau Jawa dan Bali.
– Pingin jembatan yang lebih panjang
– Bunda kalap kalau belanja oleh-oleh
– Bau bandeng asepnya menggoda sekali

Ini beberapa fotonya.

Negara Tetangga

Standar

Entah bagaimana aku jadi sering berkunjung ke negara tetangga Singapura. Kalau boleh memilih, aku lebih senang diminta ke negara lain atau daerah lain di Indonesia daripada berulang-ulang mengunjungi negeri tersebut. Ada saja kondisi yang mengharuskan aku pergi mulai dari training, seminar, konferensi, mengantar teman, menengok orang, pertemuan, mewakili teman di acara.

Berpuluh tahun yang lalu, pertama kali pergi ke Singapura, aku sangat excited. Kemudian pergi kembali dengan gaji sendiri, tanpa orangtua ikut, baru ada `MRT`, aku excited juga, senang berputar-putar  dengan MRT walaupun jalur masih terbatas dibanding sekarang. Setelah itu, aku merasa sudah cukup berkunjung kesana dengan alasan yang sangat personal. Bagi aku yang sangat suka pemadangan alam yang alami, kebudayaan yang asli, Singapura bukan tempat yang pas untuk itu. Pemandangan alam di negara kita sendiri sangat jauh mempesona dan memikat, asli pula tidak dibuat  dan juga banyaaaaak. Kebudayaan Indonesia, juara deh keragaman dan keindahannya.

Aku paham teman-teman yang sangat senang berkunjung ke negara tersebut, surga bagi para shoppers,  penggemar clubbing, penggemar pertunjukan musik, penggemar F1, service premium untuk berobat. Aku juga kagum dengan kebersihan, keteraturan transpotasi, kedisiplinan waktu, hiburan dengan teknologi tinggi disana dan konsep mereka untuk menjadikan kota didalam taman. Namun kekagumanku itu tidak mendorong aku untuk terus menerus berkunjung, cukup seperlunya saja.

Walaupun tidak berminat berkunjung lagi, ternyata tetap saja aku berkunjung antara lain untuk menemani anakku ke Universal Studio. Namanya anak (pastinya anakku), sangat menggemari aneka ‘theme park’, kalau perlu berulang-ulang kesana. Sekalian saja aku ajak berkunjung ke Science Centre yang lebih bagus dibanding Musium Iptek di TMII dan di sebelahnya ada Snow World (tidak ada sejenis ini di Indonesia). Aku juga mengajak anakku ke kebun binatang, taman burung, sea/underwater world. Menurut anakku untuk ketiga tempat tersebut, Singapura masih kalah dibanding yang di negara kita. Sudah sepatutnya kalau Indonesia lebih bagus untuk koleksi yang berkaitan dengan alam karena negara kita memang mempunyai keanegaraman hayati yang sangat banyak.

Yaaa begitulah kesanku tentang negara tetangga, memang banyak yang bisa dikagumi tapi negara sendiri jauh lebih mengagumkan…… Viva Indonesia…..

Disini aku sertakan gambar-gambar selama aku berada disana…

Aku dan Teman Kesayangan

Standar


Kalau dihitung-hitung, temanku lumayan banyak, walaupun aku seumur-umur dari lahir sampai saat ini, tidak pernah pindah dari kota Jakarta. Apalagi aku termasuk anak pingitan, menurut teman-temanku. Namun diantara sekian banyak teman, ada beberapa teman yang memang dekat dihati karena berbagai alasan seperti mempunyai hobi dan selera, visi misi, pandangan hidup, nilai-nilai yang sama atau bahkan tidak ada kemiripan tapi asik saja dijadikan teman bicara dan diskusi.

Nah, sebagai bentuk penghargaanku ke teman-teman tersayang ini, aku ingin menyimpan catatan mengenai mereka dalam blogku ini. Mereka tidak punya blog, jadi aku gak bisa mengharap mereka langsung baca kecuali kalau aku minta baca.(Teman-temanku ini perempuan semua)

Aku dan Yudi

Yudi  teman lamaku yang sebenarnya sudah aku kenal lama karena kami kuliah di fakultas yang sama tapi beda angkatan. Aku menjadi dekat semenjak kami bekerja di kantor yang sama dan akhirnya Yudi berpindah kantor beberapa kali, sementara aku menjadi manusia loyalis tetap bekerja di tempat yang sama. Walaupun kami mempunyai banyak pandangan yang sama, tapi secara kepribadian sebenarnya kami lumayan berbeda. Yudi bisa dikatakan lebih ekspresif dan apa yang dirasakan mudah terlihat di penampilan luar. Kalau lagi happy, Yudi terlihat cerah sekali dan wajahnya bersinar-sinar bak matahari. Sedangkan aku, lebih pemalu dan perasaanku tidak bisa ditebak lewat penampilan fisikku. Mau lagi sedih atau ceria, aku cenderung biasa-biasa saja walau tetap berusaha ceria.

Perbedaan paling fatal diantara kami, aku bersuami dengan 3 anak. Sementara, Yudi belum menikah apalagi punya anak. Jadi aku jarang mengadukan masalah parenting ke Yudi, karena pengalamannya lebih payah daripada aku. Tapi, kalau urusan travelling, wisata kuliner, aku senang minta advice Yudi, wong memang itu hobinya dan punya kesempatan lebih banyak untuk melakukan hobinya tersebut. Untungnya masih ada hobi yang nyambung yaitu membaca, kami suka kencan berdua ke toko buku Aksara atau Kinokuniya atau Times, sambil makan snack mendiskusikan buku-buku yang menurut kami menarik.

Kalau dihitung, sudah hampir 20 tahun aku berteman dekat dengan Yudi. Herannya kami tidak pernah bertengkar mulut, walaupun sering ada perbedaan pendapat. Suamiku suka bosan melihat aku asik ngobrol di telpon dengan Yudi sampai satu jam lebih (karena pada dasarnya, kami jarang bertemu). Sampai suatu hari suamiku mengusulkan ‘Bagaimana kalau Yudi aku jadikan istri keduaku, nanti dia tidur di kamar tamu. Jadi kalian berdua bebas deh diskusi apa saja kan sudah tinggal satu rumah. Dan aku berarti menolong seorang  ‘gadis’ mendapatkan jodohnya’.  Wah, benar-benar usul yang ekstrim dan mengesalkan, untungnya cuma bercanda (atau jangan-jangan serius ya).

Tahun 2004 lalu, kami sama-sama naik haji, dengan rombongan yang berbeda, karena Yudi waiting list dari tahun sebelumnya. Beberapa kali aku janjian bertemu dengan Yudi di Masjid Nabawi dan aku sibuk menenangkan dirinya., karena banyak hal-hal yang menyedihkan perasaannya terjadi. Padahal aku sendiri juga mengalami hal-hal yang mengejutkan, tapi kadang-kadang aku bisa bersikap lebih dewasa. Sepertinya berumah tangga bisa menjadi sekolah untuk mendewasakan seseorang.

Masih saja kami jarang bertemu, karena kesibukan masing-masing, tapi kami tetap berkontak-kontak dengan email, telepon dan chatting. Cita-cita kami akan  berteman terus sampai tua, Insya Allah jika ada umur.

Aku dan Entin

Entin adalah teman SMAku. Dia tergolong teman yang serius, karena memang Entin termasuk murid pintar dan rajin belajar. Aku sering berharap ketularan rajin, tapi tetap saja aku gak bisa setekun Entin. Yang menjadikan kami dekat karena, tanggal, bulan & tahun lahir kami sama. Jadi kami tak pernah lupa saling mendoakan saat kami ulang tahun. Waktu kelahiran sama, tidak menjamin kami mempunyai sifat yang sama. Ya itu tadi, Entin tetap dikenal anak yang serius dan rajin sementara aku si ‘cengengesan’ yang senangnya bercanda.

Waktu kelas 2 SMA, kami tidak sekelas namun ruangan kelas bersebelahan. Salah satu cowo teman sekelas Entin, sepertinya senang ke aku. Dan aku dengan bloonnya tidak menyadari dan Entin tahu sekali aku termasuk tipe remaja yang jauh dari centil (julukan aku si  culun). Jadilah aku bulan-bulanan temanku, ada angin apa aku bisa suka-sukaan dengan cowo. Wah ini, jauh dari fakta, yang suka kan bukan aku, walaupun aku jadi gede rumongso (geer) juga, kok yang culun kayak aku gini ada juga yang suka. Entin termasuk yang men’discourage’ aku bisa deket dengan cowo. Belum pantes kata Entin, bukan karena muka elo yang culun, tapi kita tugasnya belajar bukan pacaran, bisa mengganggu keseimbangan. OK bu Entin, memang kau sisi malaikatku, yang rajin menasihati aku.

Sesuai dengan kemampuan Entin, dia diterima di IPB. Semakin rajin dan tekunlah ia, mengingat di IPB, kuliah cukup berat dengan waktu yang sangat cepat. Kami sempat putus hubungan setelah kuliah dan awal-awal bekerja.  Akhirnya kami berhubungan lagi setelah agak lama bekerja, karena sebetulnya kami saling merindu, tapi belum ada kesempatan untuk bertemu. Entin lebih dulu menikah dibanding aku.

Saat ini anak Entin sudah besar-besar, ada yang sudah kuliah. Bolehlah kalau aku minta nasihat megenai  urusan anak. Walaupun kami tidak intens bertemu, kami masih saling kontak melalui telepon dan kalau ada kesempatan kami bertemu.

Aku dan Keke

Ini salah satu teman kuliahku. Kami dipertemukan karena absen kami yang berdekatan dan kesukaan yang lumayan mirip. Sama-sama susah berdandan, berat kalau disuruh tampil feminin dan senang bercanda. Menurut orang, banyak cewek-cewek di fakultas kami yang feminin, herannya Keke dan aku tidak ketularan tuh. Tetap saja, kami apa adanya, kurang fashionable.

Lucunya, aku dan Keke, sama-sama type tidak tekun, kami cenderung tidak belajar mati-matian seperti teman sekelas yang lain. Tapi herannya nilai kami cukup bagus dibanding teman-teman. Sampai-sampai aku pernah diancam teman (sambil bercanda tapi ada benarnya) “Triana, kamu asik-asik photocopy catatanku, sementara nilai-nilaimu lebih bagus dari aku. Besok-besok, kalau mau photocopy, aku charge biaya copyright hak paten”. Pernah suatu kali aku dipanggil dosen ke ruangannya, rupanya bu dosen dongkol dengan perilakuku yang asik mengobrol dikala beliau menjelaskan. Tapi beliau juga agak kesulitan mau marah karena ternyata nilai-nilai ujianku termasuk lumayan baik.

Pengalaman cukup konyol, pernah aku dan Keke datang ke suatu kuliah, tapi herannya ruangan kosong tanpa ada pengumuman apapun dan setelah kami cek ke Birpen (Biro Pendidikan) ternyata kuliah dibatalkan dan informasi ini sudah diberikan dari minggu sebelumnya oleh sang dosen. Rupa-rupanya teman sekelas kami yang ‘in purpose’ berniat mengerjai kami. Karena pada minggu sebelumnya, aku dan Keke sudah keluar ruangan sebelum dosen memberi pengumuman perubahan hari kuliah. Mereka sepakat membiarkan aku dan Keke tertipu.

Bukan itu saja, teman-teman kami sebal karena kami berdua selalu lulus dengan nilai yang baik, padahal menurut mereka kami tidak belajar secara maksimal. Ada juga doa buruk buat kami “Triana, Keke, sepandai-pandai tupai melompat, suatu waktu akan jatuh juga”. Lo, jahat juga teman-temanku ini. Allah Maha Kuasa, benar saja kejadian, pada kuliah Teori Akuntasi, kami mendapat nilai E, padahal kuliah ini prasyarat untuk penyusunan skripsi. Gedubrak banget kan……

Teman-temanku malah girang dengan kondisi kami ‘makanya belajarnya yang serius dong, jangan minjem catatan terus, sudah bagus diterima di Ekonomi UI’. Alhasil, kami lulus kuliah 6 bulan lebih lama dari teman-teman yang lain, karena harus mengulang kuliah.

Ya itulah, masa-masa dimana intensitas aku dan Keke sebagai teman cukup tinggi, 4 tahun bersama dengan segala kekonyolan kami.  Nama Keke juga sering kupakai, jika aku minta ijin pergi ke orang tuaku. Maklum orang tuaku termasuk yang sangat ketat menjaga anaknya. Tapi kalau aku katakan perginya bersama Keke, mereka agak lunak walaupun tetap berusaha untuk ikut mendampingi aku.

Setelah kami berkeluarga, masih saja kami berhubungan dan menceritakan hal-hal konyol yang kadang-kadang menurut suamiku kurang cocok untuk jadi topik pembicaraan ibu-ibu (jadi ibu-ibu bukan berarti cuma diskusi soal rumah tangga yang serius saja kan)

Aku dan Muti

Muti teman SD dan SMPku. Ini juga salah satu temanku yang punya selera humor yang sama dan ‘telat dewasa’ menurut banyak orang. Begitulah, kami suka sekali membaca cerita dongeng, humor dan menonton film kartun ataupun film anak-anak.  Kami menghabiskan masa SD dan SMP bersama.  Pada saat SMA kami pisah sekolah, sesuai selera orang tua masing-masing. Dan waktu kuliah, kami sama-sama diterima di UI, tapi Muti di fakultas Psikologi sementara aku di Ekonomi.

Aku sangat surprised, Muti berminat menjadi psikolog, padahal yang suka membaca buku-buku perilaku orang adalah aku. Aku membayangkan sulitnya mengevaluasi prilaku manusia, bagiku agak abstrak untuk dipelajari, makanya aku tidak bernyali mendaftar ke jurusan psikologi.

Pada dasarnya, temanku yang satu ini tidak bisa diam, ada saja kegiatannya. Waktu kuliah, sibuk dengan kegiatan marching bandnya. Sesudah kuliah, selain bekerja, Muti rupanya senang travelling ke berbagai pelosok dunia. Kegiatan tersebut masih berlanjut sampai sekarang, yang terkadang membuat aku sedikit iri. Tapi aku sadar diri, bahwa aku belum mampu seperti itu. Selain tabungan yang terbatas dan banyak prioritas lain, aku juga punya buntut empat orang yang harus dirawat (suami dan 3 anak). Jadi seharusnya aku gak perlu iri ya, aku ikut dengar sharing cerita-ceritanya sajalah.

Ya itu, perbedaan mendasar kami, Muti masih ‘sorangan wae’ sampai detik ini. Sementara aku, ibu sibuk (haha mengaku sibuk). Walaupun begitu, kalau ketemu, kami selalu ngobrol dengan asik, selalu kelupaan waktu. Inginnya ketemu dan ngobrol terus, tapi masing-masing punya kesibukan. Jadi kami selalu niatkan untuk bertemu dari sebulan sebelumnya. Paling sering telfonan, apalagi kalau ada undangan temen-temen lama…….tiada kesan tanpa kehadiran Muti……… Seringkali temen-temen yang tidak terlalu kenal tertukar memanggil aku Muti dan memanggil Muti dengan namaku. Muka kami tidak mirip-mirip amat…..tapi tetap sering tertukar, mungkin karena waktu sekolah, kemana-mana kami selalu berdua.

Biarpun Muti seorang psikolog, tapi aku pantang ceritain masalah rumah tanggaku ke dia, malu………aku malah sering keasikan denger pengalaman Muti membantu client………Dan hebatnya Muti, dia tidak pernah ikut campur masalahku, kecuali aku yang minta saran.

Sebenarnya masih ada teman-teman akrabku yang lain, yang relatif lebih baru aku kenal, namun sudah sangat akrab. Tapi postingan sudah terlalu panjang. Lain waktu, kalau ingat, akan aku ceritakan,  teman-teman tersayangku lainnya.

Dari http://triajita.multiply.com/journal/item/17, ditulis tanggal 17 September 2010

Gambar diambil dari : http://kids-help-kids.blogspot.com/2010/07/case-for-cartoons.html

Selera TV

Standar

Tiap orang mempunyai selera tontonan yang berbeda. Di rumahku saja yang membernya cuma 5, punya acara TV kesukaan masing-masing. Kecuali mba Hani si sulungku, yang lebih suka komputer daripada menonton TV.
Dibilang suka, keluargaku juga tidak termasuk maniak TV. Jatah nontonnya cuma malam (kalau sempat) atau wiken. Jadi jangan tanyakan acara TV ke aku ataupun keluargaku…..maaf gak terlalu update…
Walaupun jarang-jarang nonton, aku berlangganan TV Kabel yang harganya lumayan, karena aku langganan beberapa channel premium…(Gak tau kenapa disebut premium..)
Tetap saja mau channel premium kek…channel apa….nontonnya jarang juga. Terus kalau nontonnya jarang, kenapa aku bikin tulisan ini ya. Itulah inti ceritanya…aku survey kecil-kecilan yang respondennya keluargaku saja.. Untuk menentukan apakah aku masih perlu berlangganan TV kabel atau apakah paket TV langganan kami sudah dimanfaatkan secara maksimal.

Ini hasilnya :
Keluarga saya, rata-rata menonton TV 2 sampai 4 jam perhari.
Paling jarang nonton mba Hani (kurang dari 1 jam per hari) dan ayah (maksimal 2 jam).
Hari paling lama menonton Sabtu dan Minggu

Channel TV atau acara favorit :
– Ayah – TVRI, Kompas TV, National Geography Channel. Acara : berita, budaya, jalan-jalan, agama, alam
– Bunda (aku) – Fox, TVRI, Metro TV,Fox Movies, HBO, AXN. Acara : berita, sepak bola, berita olahraga, film seri detektif, film layar lebar
– Hani – National Geography Channel. Acara : Alam, budaya
– Ario – National Geography Channel, Nat Geo Wild, Nickledeon. Acara : Alam, binatang, film kartun
– Arin – Disney Channel, Disney Junior, Animax. Acara : film kartun film anak.

Kesimpulannya :
Keluargaku lebih banyak menonton TV luar (Internasional). Alasannya : acaranya lebih sesuai dengan selera, sedikit iklan, banyak pilihan acara. Berarti aku masih akan tetap berlanjut berlangganan TV Kabel.

Pertanyaannya kalau selera berbeda begitu, bagaimana cara menontonnya sementara TV hanya dua. Yaitu bertoleransi dan berbagi, kalau hari ini aku sudah banyak menonton, besoknya gantian jatah yang lain. Memang menonton TV harus dibatasi, untuk menghindari kita hanya melakukan satu jenis kegiatan. Coba lihat, kalau seperti gambar diatas, setiap anggota keluarga memegang remote control….kacau…..

Pertanyaan selanjutnya, apakah tidak terlalu boros berlangganan TV Kabel kalau jarang menonton TV. Menurut aku tidak, karena kita mempunyai lebih banyak pilihan yang sesuai dengan selera dan bisa jadi acaranya lebih baik. Habis, melihat TV lokal, banyak acara sinetron yang tidak sesuai untuk dilihat anak-anak atau acara berita selebriti yang tidak bermanfaat. Tapi ini hanya pendapat pribadi aku, bukan hasil riset canggih.

So,jangan cerita OVJ (yang terkenal itu) denganku yaaa, karena pasti aku tidak tau ceritanya sama sekali..la aku gak pernah menonton…. 🙂

Gambar diambil dari :http://www.laughparty.com/print.php?id=225

Balada si Ular

Standar

Aku merasa binatang peliharaan di rumah kami sudah banyak banget. Aku pernah cerita disini aneka piaraan kami. Memang itu sudah keputusan bersama, mengajarkan anak-anak bertanggung jawab atas hewan piaraan masing-masing selain memang kami pencinta binatang. Tapi itu lo, lama-lama kok repot juga sih. Dari ceritaku yang dulu itu, kami sudah punya tambahan lagi 2 kodok pacman dan 2 gecko (alias tokek). Hiiii, kata temen-temen yang datang ke rumah kami, kayak kebun binatang amatiran, untung gak ada binatang buas….

Dilalah, pada suatu ketika, entah dapat ilham dari mana, anakku Ario ingin sekali memelihara ular. Ario sudah mengumpulkan berbagai buku bacaan miliknya yang menyatakan bahwa ular-ular tertentu aman untuk dipelihara. Keinginannya ini diback-up pula oleh sang ayah, mba Hani si sulung ikut mendukung. Tinggal si bungsu Arin yang abstain, tapi terus dipengaruhi kakak-kakaknya untuk ikut mendukung. Bukan apa-apa, aku merasa piaran kami sudah kebanyakan, repot….tau sendiri melihara mahluk hidup kayak begitu perlu diberi makan teratur, dimandiin, dibersihkan kotorannya, terus butuh kasih sayang juga, kalau gak persis kayak orang stress , penyakitan dan bau, mati segan hidup tak mau.

Selain itu, sebenarnya ini alasan utama…….ular itu kesannya seram, buas, jijaj, geli dll. Aku sendiri  gak takut kalau memang jinak, tapi ya itu, tamu, saudara, teman yang berkunjung bisa ketakutan kan banyak orang yang ngeri melihat ular…. Ibu mertuaku, salah satu orang yang paling takut dengan ular, melihat gambarnya di TV saja, sudah pingin kabur…….’geloooo aku’…kata beliau. Tapi tetep saja sang anak alias suamiku bergeming ingin membelikan anaknya ular. Warna dan motifnya keren bun (bunda/aku), ada yang dasarnya kuning dengan loreng hitam, hmm indah bener….kata suamiku ke aku. Motif seperti apapun, tetep aja ular, pikirku.

Once upon a time setelah rayuan pembelian ular dilancarkan ke aku tetapi tidak berhasil, anak dan suamiku mengantarkan eyang (mertaku) ke Yogya. Sekembalinya  mereka dari Yogya, aku merasa ayah dan Ario menjadi ramah dan baik hati, murah senyum dan selalu berusaha menyenangkanku. Ternyata oh ternyata, ada udang dibalik bakwan, mereka sudah membeli ular jenis piton yang ukurannya kecil (diameter 2 cm)…..tanpa sepengetahuanku…fait accompli nih….. Mengharap aku jatuh kasihan. Yoweslah, aku terima juga peliharaan baru, dengan berbagai syarat….

Ternyata, tidak cukup satu, sebulan kemudian datang lagi (maksudnya dibeli lagi), ular baru yang lebih besar dengan motif sesuai gambaran suamiku……..aduh dikasih hati kok keterusan……walaupun diam-diam aku senang juga melihat penampilannya yang anggun. Luluh juga hatiku, melihat sekeluarga senang melihat anggota baru. Ario sibuk menjelaskan ke aku jenis apa ularnya dan bagaimana penurutnya dia. Tambah pula kesibukan baru, mencari tikus putih atau hamster yang kecil untuk makanannya…. ampun deh.

Kalau wiken, ular tersebut digendong oleh anakku, untuk dijemur di matahari. Ini dilakukannya di taman depan rumah kami, bisa dibayangkan, oleh penduduk sekitar, ular dan anakku menjadi tontonan layaknya penari ular. Waktu aku arisan, bertemu dengan bu Nina, bendahara RT,  bertanya ‘Tria, denger-denger anakmu melihara ular ya, gak serem tuh. Sudah dikurung dengan benar kan, jangan sampai lepas lo’. ‘Hehe bu Nina, kalau lolos gak jauh-jauh kok, paling mau kenalan dengan tetangga’, kataku.

Ular yang lebih besar, suka bersembunyi di tempat gelap dan teduh. Pernah suamiku lupa mengunci kandangnya dan menghilanglah dia. Akhirnya ditemukannya di lemari bukuku, asik melingkar di buku seri tafsir Quranku….kurang ajar dia…..itu kan termasuk buku suciku.

Rupanya suamiku sering amnesia dalam mengurus piaraan, lupa mengunci kandang lagi. Hilanglah dengan sukses si ular….dan kali ini dia juga sudah bosan dengan buku tafsirku. Seisi rumah selain aku termasuk supir, satpam kompleks dikerahkan untuk mencari. Hasilnya nol. Perasaanku bingung antara senang tapi kasihan melihat Ario bermuram durja. Aku gak mau menawarkan ular baru, cukup 1 ular kecil yang sudah ada saja.

Baru saja aku pulang kantor,  aku disambut suamiku ‘bun, ularnya sudah ditemukan’. ‘Hah, dimana, jadi 2 minggu hilang, masih bisa ditemukan, ajaib juga’. ‘Itu, sudah dikandangin’ kata suamiku. Aku melihat dari kejauhan, tapi kenapa warnanya berubah ya agak hijau gelap dan lorengnya gak jelas lagi. Dengan bloonnya aku bertanya ‘kenapa warnanya beda ya yah, kok lorengnya jadi hilang, jadi agak jelek nih’. ‘Dia baru ganti kulit….di barito’ jawab suamiku dengan muka tanpa dosa. Sadarlah aku kalau aku tertipu, ternyata ini ular baru yang dibeli di jalan barito juga…..ooooooh ular baru…..what can I do now???

Ini gambarku dan si ular

Piaraan

Standar

Berhubung aku dan suamiku suka sekali sama binatang, alhasil gak jauh-jauh, semua anak kami juga suka.Lihat saja ‘pet’ kami lumayan banyak. Maunya anak-anak sih nambah terus petnya, tapi repot juga karena gak punya karyawan khusus untuk mengurus (maaf ni, mbak pengurus rumah tangga jadi tambah kerjaan).

Ini yang bikin betah di rumah, seru banyak mainan hidup…….

(diambil dari blogku  http://triajita.multiply.com/photos/album/4/Piaraan#, ditulis 19 Juli 2008)

.…..