Ikatan Batin Dengan Majenang

Standar

Mungkin aku mengikuti jejak orang tuaku atau aku mendapat pengalaman yang indah di masa kecilku atau aku ingin anakku lebih peka dengan asisten rumah atau aku ingin ikut-ikutan mudik. Aku gak tau, alasan mana yang lebih tepat sehingga membuat aku dan keluargaku pergi ke Majenang untuk menjemput asisten rumah. Sama sekali bukan alasan karena takut mereka tidak balik atau ingin mengambil hati para asisten agar tetap berminat kerja di rumahku tapi lebih tepat ke alasan-alasan yang aku sebutkan di pembuka tulisan ini. Sedikit unsur romantisme memang ada dalam rencana kepergian kami ini.

Bermula dari kelahiran anak pertamaku 14 tahun yang lalu. Karena aku ibu bekerja, aku sangat membutuhkan asisten untuk membantu mengurus bayi. Setelah mencoba 3 asisten yang tak cocok, bertemulah aku dengan mba Wiwik si asisten baru. Perjalanan panjang untuk memutuskan bahwa asisten ini cocok dengan aku & suami & anakku. Kelihatannya aku tidak salah duga, karena memang ia rajin, helpful dan tulus dalam melayani anak. Untuk asisten rumah tangga, saat itu aku tak menemukan yang cocok. Entah berapa saja keluar masuk dengan berbagai alasan. Padahal aku juga perlu bantuan untuk membersihkan rumah dan mengurus dapur. Benar-benar masalah klasik, tapi cukup mengganggu. Pada suatu hari mba Wiwik, menawarkan keponakannya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga dan ia berjanji akan membantu mengajarkan. Tentunya kondisi ini menjadi lebih mudah bagiku, karena mereka berhubungan keluarga, mereka kompak dalam bekerja. Selain itu si asisten baru, menurut bila diajarkan oleh bibinya. Lumayan kan untukku, cukup satu orang yang aku percaya dan wanti-wanti, selanjutnya disampaikan oleh mba Wiwi ke keponakannya.

Aku tidak berlama-lama dengan urusan rumah tanggaku. Ya, tahun berganti tahun, anakku menjadi 3. Asisten rumah tanggaku berganti-ganti karena umumnya mereka berhenti untuk menikah. Tetapi benang merah yang terus berlanjut, asisten rumah tanggaku selalu keponakan mba Wiwi (rupanya dia punya banyak stok keponakan). Jadi aku tidak pernah mengalami ‘revolusi besar’ dalam urusan klasik asisten rumah tangga…..Alhamdulillah.

Bayangkan mba Wiwi membantu mengurus anak pertamaku selama 5,5 tahun. Kemudian lahir anak keduaku, bersambung lagi dibantu diurus oleh mba Wiwi selama 2 tahun sampai anak ketigaku lahir. Anak bungsuku ini dibantu diasuh oleh mba Wiwi selama 2 tahun. Nah, cukup lama bukan, aku berkolaborasi dengan mba Wiwi selama 9 tahun.

Yang menjadikan romantisme aku & suamiku dalam berhubungan dengan mba Wiwi, ya tentu saja karena begitu lama dia bekerja sama dengan kami. Suka, duka, senang, susah, kebodohan kami dalam mengurus anak……bagaimana buku-buku mengenai anak, majalah ayah bunda, poster-poster mengenai anak……….kami geluti bersama. How grateful we are…..to mba Wiwi. Kami penanggung jawab utama dalam pengurusan anak, namun kekurangan-kekurangan kami lumayan teratasi dengan bantuan mba Wiwi. Dia akan mempraktekkan……..hal-hal yang aku temukan dibuku…..dengan pendidikan SMPnya dia berusaha memahami kemauanku…..dengan berbagai pertanyaan yang aku terima………aku juga sekalian belajar……

Mba Wiwi ini berasal dari daerah Majenang……yang sungguh dulu aku tidak tahu dimana letaknya di peta, Jawa Baratkah atau Jawa Tengahkah……aku bingung. Perjalanan hidup mba Wiwi, sedikit banyak kami ketahui. Dia cerai dengan suaminya yang ada main dengan perempuan lain (dalam pikiran aku dan suamiku, apakah ini kontribusi kami karena mempekerjakan mba Wiwi di rumahku), kemudian dia menikah lagi dengan suami kedua, susah payahnya dia mengurus ibunya yang sakit-sakitan. Inilah yang membuat kami berniat berkunjung ke Majenang. Awalnya permintaan anak pertamaku Hani, yang ingin sekali melihat rumah mba suster (panggilannya kepada mba Wiwi). Sekali waktu kami mengantarkan mba Wiwi pulang kampung dan menjemputnya kembali……Hani anakku memanfaatkan momen itu untuk melihat-lihat kampung mba Wiwi dan juga numpang mancing.

Pada waktu aku kecil, aku juga sering kali diajak oleh kedua orangtuaku untuk mengantar dan menjemput asisten. Aku mengingatnya sebagai pengalaman indah karena melihat daerah yang berbeda dari rumahku (yang seumur-umur di Jakarta terus). Mungkin anakku, mengalami perasaan yang sama seperti aku dulu. Waktu mba Wiwi menikah lagi, kami juga datang ke kampungnya.

Saat ini, mba Wiwi sudah tidak bekerja lagi di rumahku. Lima tahun yang lalu dia berhenti karena harus mengurus ibunya yang sakit dan dia merasa tidak terlalu dibutuhkan lagi untuk membantu mengurus anak-anakku. Namun demikian, jejaknya masih tersisa di rumahku, salah satu keponakannya masih bekerja sebagai asisten rumah tanggaku. Jadwal dan jobdesc (kalau bisa disebut job description) para asisten, masih mengikuti aturan yang aku dan mba Wiwi buat dulu.

Liburan lebaran tahun ini, lagi-lagi terlintas rasa romantis kami, ingin menengok kampung si asisten di Majenang. Malahan anak ke 2 dan 3, menginap di rumah mba Wiwi di kampung (betapa senangnya mereka ketemu mba susternya) karena ingin langsung memancing di pagi hari. Sementara aku dan suami, menginap di hotel di Majenang.

Begitulah ikatan batinku terhadap kota Majenang, bagaimanapun aku tidak bisa menghapus lintasan hidupku yang pernah mempunyai kisah-kisah spesial dengan asisten-asistenku yang berasal dari kota ini.

 

Tulisan dibuat pada 30 September 2009 untuk http://triajita.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s